>Saya malah lebih
tertarik pada pemikiran  dan upaya2 mencari energi alternatif yang murah
dan
tidak tergantung dari BBM , seperti energi  angin , geotermal dll , yang
menjadi bagian dari tugasnya pak LULUK selaku Dirjen Listrik dan
Pengembangan Energi .

Saya setuju dengan idenya Pak Priyo ini, terutama untuk kebutuhan listrik
pedesaan, dimana bisa dicarikan solusi untuk pembangkit dan distribusi yang
stand alone untuk kebutuhan kecil tersebut. Katakanlah mulai dari ukuran 40
KW sampai dengan 1 MW. Tidak perlu harus interkoneksi dengan jaringan PLN.
Saya fikir, sebagai negara kepulauan, salah satu cara tercepat untuk
menyediakan infrastruktur energy di pulau-pulau dan desa-desa terpencil
adalah dengan "scattered power generation" semacam wind turbine atau hybrid
antara Wind Turbine dengan Solar cells. Dengan cara demikian ketergantungan
terhadap diesel fuel untuk penyediaan energy di daerah-daerah terpencil
akan dieliminir. Demikian juga biaya pembangunan saluran transmissi yang
sangat besar kalau supply ke daerah terpencil ini harus disediakan dari
eksisting jaringan PLN.

Apalagi kalau kita kaitkan dengan konsep ketahanan nasional dan keutuhan
NKRI. Masih sangat segar dalam ingatan lepasnya Sipadan Ligitan, yang kalau
tidak salah tafsir utamanya karena Malaysia telah lama menggarap
pulau-pulau ini. Kita sendiri masih sangat banyak 'mengabaikan' pembangunan
di pulau-pulau kecil, terutama yang berdekatan dengan perbatasan dengan
negara lain. Kalau pembangunan di frontier area ini difokuskan, pertumbuhan
ekonomi daerah tersebut akan membaik, dan keterikatan masyarakatnya kepada
NKRI akan semakin baik (moral contract).

Saya ingat waktu saya anak-anak dulu, di kampung saya radio yang bisa
diterima dengan jelas adalah Radio Malaysia, sehingga orang-orang tidak
banyak dapat info mengenai Indonesia. Saya yakin di daerah daerah
perbatasan semacam di kepulauan di SULUT, di utara Aceh (daerah Sabang dan
Sinabung), di kepulauan Natuna dan pulau-pulau kecil sekitar selat Malaka
atau di NTT dan Maluku hal-hal semacam ini masih ada.

Dalam hal energy pedesaan ini, saya ingat ada program Rural
Electrification, salah satunya melalui Scattered Diesel (contoh RE-II) yang
juga dibawah kendali PLN waktu itu. Meskipun cepat dan relatif murah dan
mudah pembangunannya, tapi masalah supply diesel adalah masalah yang sangat
besar bagi daerah terpencil, apalagi dengan kenaikan BBM sekarang. Dengan
wind turbine atau solar atau hybrid yang meskipun sedikit lebih mahal tapi
ketergantungan bahan bakarnya tidak ada.

Saya pernah bicara dengan salah satu colega dari salah satu negara maju,
biaya pembangunan wind turbine power station di bawah 2000 USD per kW.
Kalau kita asumsi untuk kebutuhan per rumah tangga sekitar 0,5 kW di
pedesaan, maka dengan 40 kW bisa disediakan kebutuhan sekitar 80 rumah
tangga dengan investasi kira-kira 80 KUSD. Biaya operasional murah, biaya
bahan bakar nol (angin dan matahari gratis koq). Kalaulah dana kompensasi
subsidi BBM ini secara bertahap sebagian diarahkan ke sini, plus sebagian
dana dari alokasi DAU plus juga dari dana asli daerah (otonomi), saya fikir
rakyat yang selama ini hanya jadi penonton akan merasakan nikmatnya
kemerdekaan ini. Disamping itu konsumsi BBM bisa dihemat untuk kebutuhan
yang lain.

Bagaimana Pak Luluk ? Mungkin sudah ada ya Pak ide-ide semacam ini.


--[YONSATU - ITB]----------------------------------------------------------
Online archive : <http://yonsatu.mahawarman.net>
Moderators     : <mailto:[EMAIL PROTECTED]>
Unsubscribe    : <mailto:[EMAIL PROTECTED]>
Vacation       : <mailto:[EMAIL PROTECTED]?BODY=vacation%20yonsatu>


Kirim email ke