Kenangan untuk Priyono

Sebagai tambahan mengenai yang telah disampaikan oleh Djoni ada beberapa hal
yang ingin saya ceritakan.
Beliau dan saya serta rekan lainnya pada tahun 1964 masuk Batalyon Inti
sebelum terbentuknya Mahawarman, yang kemudian setelah dibentuknya
Mahawarman dikukuhkan sebagai anggota Mahawarman angkatan II.

Yang melatih kita adalah Batalyon inti angkatan I yang kemudian menjadi
Mahawarman angkatan I, diantaranya adalah Haryanto, Tjipto Sukardono dll,
bersama beberapa orang dari Resimen Induk Siliwangi yaitu Capa (berbintang
satu tapi bolong ditengahnya) Siman dan Sersan Triman ?

Kemudian kami sama sama melatih angkatan III, IV dan V yang selama itu
Proyono menangani bagian logistik untuk menunjang latihan tersebut.

Sekitar tahun 1994 sampai 1998 kami mengikuti olahraga pernafasan Pandawa
Padma sampai akhirnya beliau terserang strook akibat tekanan darah tinggi
yang berkepanjangan (tekanan darah diatas 200 untuk beliau sudah biasa).

Satu hal lagi, mobil yang saya pakai sekarang langsung saya beli dari beliau
sejak masih barunya.

Inna lillahi wa inna illaihi rojiun.
Selamat jalan Priyono
Semoga diterima Iman Islamnya, dilancarkan jalannya serta diterima disisi
Nya.
Kepada keluarga yang ditinggalkan, semoga diberi kekuatan rohani dan
jasmani.

Wasalam.


----- Original Message -----
From: "Akhmad Bukhari Saleh" <[EMAIL PROTECTED]>
To: <[EMAIL PROTECTED]>
Cc: "Yon-I/ITB, Internal" <[EMAIL PROTECTED]>; "Yon-1/ITB"
<[EMAIL PROTECTED]>
Sent: Saturday, April 05, 2003 3:13 PM
Subject: [yonsatu] Re: KHABAR DUKA CITA.......


> ----- Original Message -----
> From: Hendry Akbarputra Nasution
> To: [EMAIL PROTECTED]
> Cc: [EMAIL PROTECTED]
> Sent: 05 April 2003 7:47
> Subject: [yonsatu] KHABAR DUKA CITA.......
> > TELAH BERPULANG KE RAHMATULLAH,
> > SALAH SEORANG ALUMNI YON I/ITB, YAITU :
> > PAK PRIYONO SUMIDJAN (ANGKATAN III/TAHUN 196X),
> > MANTAN WADANYON I/ITB.
> > BELIAU MENINGGAL DUNIA PADA
> > SABTU DINIHARI TADI PUKUL 01.00 WIB
> > DAN AKAN DIMAKAMKAN HARI INI JUGA,
> > DI BANDUNG PADA PUKUL 14.00 WIB.
>
> ================================================
>
> EULOGY BAGI SANG MAHAGURU
>
> Yon Priyono adalah seorang sahabat dekat saya.
> Beliau satu tahun lebih dahulu masuk ITB (1962), masuk Menwa (1963),
> maupun masuk PMB (1963) daripada saya.
> Ketika Tjipto Soekardhono, yang sebagai DanYon dapat jatah mengikuti
> pendidikan para di Batujajar, memilih tidak mengikutinya, maka Priyono
> sebagai WaDanYon menggantikannya, dan masuk Batujajar tepat satu
> angkatan sebelum saya.
> Karena saya selalu mengikuti beliau satu langkah di belakangnya
> itulah, maka kami akrab sekali.
> Tetapi kami juga akrab karena almarhum adalah seorang "mahaguru" bagi
> saya.
>
> Ketika Harjanto Dhanutirto menjadi DanYon-I (1964), Priyono menjadi
> KaSie-IV (Log.).
> Ketika itulah saya mulai banyak belajar dari beliau mengenai
> seluk-beluk mengurus logistik, suatu jenis aktivitas di mana orang
> musti "lihay" tetapi sekaligus juga jujur, untuk dapat berhasil.
> Bekal "kemahiran" ini kemudian menjadi "pegangan" saya yang sangat
> bermanfaat, sampai sekarang. Karena tidak ada kegiatan apa pun yang
> akan berhasil, tanpa keberhasilan bagian logistiknya.
>
> Ketika Harjanto diminta mendirikan SkoMen (akhir 1965), dan lalu
> menjadi KasMenwa Mahawarman pertama, sebetulnya Harjanto ingin Priyono
> ikut pindah ke SkoMen, membantunya di urusan logistik (hubungan
> seorang komandan dengan perwira logistik, memang di mana-mana
> merupakan hubungan erat yang sulit dipisahkan, karena menyangkut
> masalah trust yang khusus).
> Tetapi Tjipto Sukardhono, WaDanYon yang menggantikan Harjanto sebagai
> DanYon-I, mempertahankan Priyono di Yon-I. Karena tahu betul kapasitas
> seorang Priyono akan sangat dibutuhkannya.
> Bahkan Tjipto lalu mempromosikan Priyono sebagai WaDanYon-nya.
>
> Ketika itu, dalam urusan logistik, Priyono punya dua "murid", Arifin
> Panigoro dan saya.
> Kami berdua jaman itu, antara lain sampai tahu setiap jengkal sudut
> gudang senjata Kodam Siliwangi, karena mengikuti beliau.
> Sehingga Priyono kemudian menunjuk Pipin menjadi penggantinya sebagai
> KaSie-IV Yon-I dan saya menjadi substitute-nya dalam membantu Harjanto
> di SkoMen, yaitu sebagai WaAss-IV.
>
> Kemudian di awal 1966, mahasiswa Bandung ramai-ramai berdemo ke
> Jakarta dalam rangka perjuangan Tritura menjatuhkan rezim Orde Lama.
> Rombongan mahasiswa Bandung ini tergabung dalam apa yang waktu itu
> disebut sebagai "Kontingen Mahasiswa Bandung".
> Kebetulan sebagian besar anggota Kontingen tersebut para anggota
> Mahawarman (Fakta sejarah ini yang kemudian hari, di tahun 1998,
> mendorong saya untuk menganjurkan para anggota Yon-I dan Yon-II untuk
> tidak ragu-ragu ikut berdemo menurunkan rezim Orde Baru).
>
> Walaupun pimpinan Kontingen, Rudianto Ramelan (sekarang alm.) dan Fred
> Hehuwat (sekarang dosen ITB), bukan orang Mahawarman, tetapi reputasi
> Priyono ketika itu begitu terkenalnya, sehingga ketika harus menunjuk
> seorang penanggung-jawab urusan logistik bagi ribuan mahasiswa Bandung
> yang menjadi muhajirin di Jakarta, pilihan mereka pun tidak lain
> adalah Priyono.
> Maka jadilah rumah Priyono di Jakarta (rumah orang tuanya, di Jalan
> Mangunsarkoro), salahsatu "markas" Kontingen Bandung.
>
> Waktu itu, ketika berangkat dari Bandung, Pipin dan saya, bersama
> Edibowo (Prabowo Trisno Edhie) dan Dompit (Adnan Mokodompit),
> sebetulnya bertugas di bagian Operasi pada Kontingen Bandung ini.
> Tetapi begitu Priyono ditunjuk jadi penanggungjawab logistik, kami
> langsung ditariknya untuk membantunya.
> Maka "ketempuhan" lah kami berempat menjadi petugas Logistik yang
> sehari-hari mengangkut ribuan nasi bungkus bagi demo mahasiswa dari
> berbagai lokasi supply ke barisan depan demonstrasi.
>
> Karena itu, ketika di tahun 1998, 32 tahun kemudian, kami mengurusi
> lagi supply nasi bungkus dari rumah Pipin di Jalan Jenggala, yang
> menjadi pangkalan nasi bungkus untuk demonstrasi mahasiswa, maka
> kenangan masa muda, berjuang bersama Priyono, mencuat kembali dengan
> manisnya...
>
> Walaupun kami hanya mengamati kondisi sakit Priyono dari jauh, dan
> tidak banyak membantunya, tetapi selama 10 tahun terakhir ini kami
> sangat prihatin pada keadaan fisiknya.
> Karena itu, pada saat wafatnya ini, dari sudut pandang mana pun,
> terutama dari "sudut pandang logistik", di samping sangat berdukacita,
> kami juga terhibur dengan keyakinan bahwa keputusan Allah s.w.t. ini
> adalah solusi yang terbaik bagi almarhum.
>
> Inna lillahi wa inna illaihi rojiun.
>
> Selamat jalan sang mahaguru.
> Insya Allah kami akan bertemu lagi denganmu dalam ke-ridhla-an Illahi.
>
> Wasalam.
>
>
> --[YONSATU -
ITB]----------------------------------------------------------
> Online archive : <http://yonsatu.mahawarman.net>
> Moderators     : <mailto:[EMAIL PROTECTED]>
> Unsubscribe    : <mailto:[EMAIL PROTECTED]>
> Vacation       : <mailto:[EMAIL PROTECTED]>
>


--[YONSATU - ITB]----------------------------------------------------------
Online archive : <http://yonsatu.mahawarman.net>
Moderators     : <mailto:[EMAIL PROTECTED]>
Unsubscribe    : <mailto:[EMAIL PROTECTED]>
Vacation       : <mailto:[EMAIL PROTECTED]>


Kirim email ke