Hello Gank! Ini ada pendapat menarik dari salah satu sobat saya yang orang Aceh, buat nambah2 info.
Salam hangat, HermanSyah XIV. Menarik, Banyak benarnya statement teman elu di bawah. Info yang gue tahu, setelah Atjeh Oorlog berakhir (sekitar 1904), maka Belanda berusaha "mengurangi" kekuasaan Sultan Acheh di Kutaraja (nama dulu dari Banda Acheh). Caranya adalah membagi Acheh atas sekitar beberapa daerah "zelf bestuurder", yang dipimpin oleh para Oeleebalang yang bergelar teuku. Kakekku sendiri adalah Teuku Djohan Alamsyah, tetapi karena dia Oelebalang daerah Peusangan, dia disebut juga Teuku Tjhik Peusangan. Anak anak para Teuku ini biasanya disekolahkan ke sekolah modern, seperti Europese Lagere School, MULO, AMS hingga Recht Hogeschool di Batavia. Untuk menandingi para teuku ini, ada organisasi namanya POESA (Persatuan Oelama Seluruh Aceh) dipimpin oleh para Teungku (gelar ulama) [ jangan dicampur baur dengan Tengku, gelar bangsawan Melayu/Malaysia]. Orang nomor satunya adalah Teungku Daud Bereuh. Di tahun sebelum Jepang masuk ada usaha para Teungku mendekati kelompok Teuku. Karena kelompok Teuku adalah "administrator" ulung, dekat dengan Belanda dan punya uang. Kira kiranya sama dengan PPP deketin Golkar :-). Usahanya adalah mencari seorang Perdana Menteri dari pihak Teuku (ahli administrator), sementara real power ada di pihak Teungku (seperti Khomeini, gitu). Kalau dulu hal ini sempat terjadi, maka sejarah mungkin tidak seperti sekarang. Setelah Jepang masuk hingga tahun 46, maka terjadilah Revolusi Sosial, dimana terjadi banyak pembunuhan kaum bangsawan. Setelah itu kaum ulama berusaha "menempel" ke RI nya Soekarno, dengan membuat traktat di sekitar November 45 yang menyatakan Acheh bergabung dengan RI. Demikianlah sedikit inputan dari gue. Karena gue juga "grow up" tidak di Acheh, gue tidak tahu perkembangan selanjutnya. Boleh lu share ke rekan yang lain, as long as you don't need to reveal my e-mail. Aku nggak mau berpolemik masalah ini. Rekanmu, Teuku M. Syamaun Peusangan -----Original Message----- From: [EMAIL PROTECTED] [mailto:[EMAIL PROTECTED] Sent: Monday, June 02, 2003 2:21 PM To: Peusangan, Syamaun Subject: FYI! [yonsatu] Re: Strategi Anti Perang Gerilya Oen, FYI. Mungkin loe punya any comments? Mansyah. ----- Forwarded by hermansyah/Tjipdo1 on 06/02/2003 09:32 ----- "Abas F Soeriawidjaja" <[EMAIL PROTECTED]> 05/31/2003 13:43 Please respond to yonsatu To: <[EMAIL PROTECTED]> cc: Subject: [yonsatu] Re: Strategi Anti Perang Gerilya Pak Syafril Yth, Berikut ini, pandangan saya yang subyektif, maafkan pada rekan2 dari Aceh, apabila ada hal2 yang bersifat subyektif adalah semata-mata pandangan pribadi dengan pengetahuan terbatas yang belum tentu benar. Masyarakat Aceh pada zaman Penjajahan Belanda, terkelompok dalam prefektur2 atau daerah2 yang sedikit banyak terisolasi satu sama lain, baik secara fisik maupun lingkungan kekuasaan. Prefektur2 ini dipimpin oleh para Ulebalang yang bergelar bangsawan Teuku. Dan sebagaimana umumnya prefektur, para Bangsawan/Teuku, didampingi oleh para Tengku yang merupakan tokoh Agama (Islam). Kalau di Jawa Barat, para bangsawan prefektur2 adalah Bupati2 yang didampingi oleh para Panghulu. Kalau di Inggris barangkali setara dengan the King and the Bishop. Melalui para Teuku/Ulebalang inilah Penjajah Belanda mengendalikan kekuasaannya di Aceh. Sebagaimana para bangsawan di Jawa, mereka dimanjakan oleh Penjajah Belanda dan mendapat prioritas dalam pendidikan, demikian juga para Teuku. Pada zaman itu intelektual lahir dari para Teuku dan kerabatnya. Ketika Penjajahan Belanda berakhir 1945 - 1950 ( Revolusi Kemerdekaan), para Teuku tidak disukai masyarakat dan katanya bahkan terjadi pembantaian (?) terhadap para Teuku oleh rakyat Aceh, karena dipandang sebagai "kaki tangan" Penjajah. Katanya terjadi pengungsian besar2an dari para Teuku/Ulebalang dan keluarganya ke Pulau Jawa. Setelah Kemerdekaan, kekuasaan para Ulebalang berakhir, dan kepemimpinan sosial diambil alih oleh para Tengku sebagai "The Second Leader" di masyarakat. Perubahan drastis beralihnya kepemimpinan masyarakat ke para Tengku, menimbulkan kekosongan Kepemimpinan Sosial, mereka ini tidak mempunyai pengalaman sebagai Pemimpin Sosial, karena mereka adalah para Pemimpin dalam bidang Agama. Akibatnya para Tengku yang lahir dari "bangunan" struktur masyarakat dibawah Ulebalang, sering gagal memecahkan masalah2/konflik2 sosial di masyarakat.Mereka hanya pandai memberi fatwa2 yang tidak/belum tentu menyelesaikan realitas persoalan/konflik. Contoh dari pengalaman saya, masalah2 konflik sosial maupun orang-perorang sering tidak jelas benar-salahnya, karena konflik2 didalam masyarakat diselesaikan melalui "upara perdamaian" yang disebut "Peusijuk" ( pesejuk = membuat yang panas menjadi sejuk )dan disertai dengan do'a bersama, kadang2 disertai dengan Wejangan/Siraman Rohani. Dan menurut pengalaman saya,akibatnya konflik2 yang sama berulang dan terus menerus terjadi tanpa ada penyelesaian yang jelas, karena selalu berakhir dengan Peusijuk yang sifatnya hanya perdamaian formal yang hanya menunda persoalan. Kegagalan para Tengku, kemudian melahirkan "Informal Leaders" yang berani dan tegas serta bisa mengambil keputusan. Dan celakanya , biasanya mereka, "Informal Leaders" ini adalah "jagoan2 kampung", mereka lebih didengar dan dimintai untuk menyelesaikan masalah2 oleh masyarakat, meskipun sebenarnya masyarakat sendiri, sehari-harinya tidak menyukai para jagoan tersebut. Sebagaimana tingkah laku para jagoan kampung, mereka juga sering bertidak sewenang-wenang terhadap masyarakat. Patut diketahui, Gelar Teuku, Cut (untuk bangsawan wanita) adalah diturunkan,artinya gelar ini diturunkan ke anak. Sedangkan Tengku, adalah gelar yang diberikan oleh masyarakat kepada seseorang pemimpin, jadi tidak diturunkan ke anak. Jagoan2 kampung itu kemudian secara langsung kemudian "mengambil alih" Tengku2 yang lahir dari struktur bangunan prefektur Ulebalang dan menjadi "Tengku2 baru" yang berkuasa di kampungnya ( atau beberapa kampung yang berdekatan). Segini dulu deh, mudah2an bermanfaat. Wassalam, -----Original Message----- From: Syafril Hermansyah [mailto:[EMAIL PROTECTED] Sent: Saturday, May 31, 2003 4:46 PM To: [EMAIL PROTECTED] Subject: [yonsatu] Re: Strategi Anti Perang Gerilya On Fri, 30 May 2003 17:48:20 +0700 Abas F Soeriawidjaja (AFS) wrote: > Segini dulu deh. Nanti saya coba juga menjelaskan mengapa para > pemimpin pemberontakan Gam adalah para Tengku. Dan apa bedanya Teuku > dengan Tengku. Pak Abas, kata Tengku juga dipakai di Riau, itu adalah gelar Bangsawan. Yg saya tahu kata Teuku (dibaca Tengku) di Aceh juga gelar Bangsawan, apa benar ? -- --[YONSATU - ITB]---------------------------------------------------------- Online archive : <http://yonsatu.mahawarman.net> Moderators : <mailto:[EMAIL PROTECTED]> Unsubscribe : <mailto:[EMAIL PROTECTED]> Vacation : <mailto:[EMAIL PROTECTED]>
