Hi Gank! Kok banyak cocoknya dg tulisan Locianpwe Djoni Sales dulu hari ya ? Hebat memang sumbernya Locianpwe kita :-)
Begin forwarded message: Date: Tue, 08 Jul 2003 22:49:04 +1000 From: Arry Kusnadi <[EMAIL PROTECTED]> To: Milis Keuangan <[EMAIL PROTECTED]> Subject: [Keuangan] 5M & 1I vs. Suara Hati Nurani Harmoko Bilang SARS (Saya Amat Rindu Soeharto) oleh Christianto Wibisono SELAMA dua hari, Jumat dan Sabtu yang lalu, saya bersama Gus Dur di Washington DC. Kami dijamu makan malam oleh Dubes Soemadi di Wisma Indonesia, Sabtu (5/7) malam. Hari Minggu saya berada di New York bersama Dr Steven Tong dalam acara diskusi masyarakat Kristen di New York. Senin sore saya berada di Boston bersama Dr Sri Mulyani dan DR Ginandjar Kartasasmita. Selasa petang selesai acara presentasi Sri Mulyani di depan Faculty Harvard Asia Center, di toko buku Brentano saya dan Sri Mulyani bertemu dengan mantan Ketua MPR/DPR dan Ketua Umum Golkar Harmoko. Harmoko masih tetap bersemangat dalam berbicara. "Bung Chris, apa Anda sudah tahu bahwa setelah WHO mengumumkan Singapura dan lain-lain bebas SARS, maka wabah SARS justru merebak di Indonesia secara sangat dahsyat," kata pemilik harian Pos Kota itu dengan mimik serius. "Ah, yang benar Bung Harmoko, saya kok tidak membaca berita itu di koran." "Nah Anda ketinggalan zaman, SARS yang saya maksud adalah gejala Saya Amat Rindu Soeharto." "Siapa yang akan jadi capres Golkar?" "Bung Chris tahu, sekarang ini dan juga sejak dulu berlaku kriteria 5 M dan 1 I untuk capres." "Apa itu, Bung Harmoko?" "M yang pertama, militer. Kalau tidak didukung militer pasti akan terjungkal seperti dulu Bung Karno didongkel Soeharto. Dan Gus Dur juga digusur karena berani memecat Wiranto dan memojokkan militer. M yang kedua massa, jadi perlu kendaraan politik yang memobilisasi massa seperti Golkar dan partai politik. M yang ketiga, media massa karena itu dulu Soeharto lewat Ali Moertopo cs menguasai media massa. M yang keempat, mahasiswa. Dulu KAMI/KAPPI menurunkan Bung Karno mengangkat Soeharto. Lalu tahun 1998 mahasiswa menolak Soeharto, ya Soeharto turun. M yang kelima money, fulus, dana, uang, kalau tidak punya ini jangan mimpi mau jadi presiden Indonesia." "Lalu I-nya apa, intel?" "Bukan, I-nya itu dukungan internasional, restu terutama superpower." "Kalau begitu Mbak Ani (Sri Mulyani) ini sudah punya akses hebat kepada International Monetary Fund (IMF) dia pegang 1 I yang penting itu." "Ya, tapi masih harus cari 4 M lagi," kata Harmoko. Situasi "SARS" dan gejala 5M+1I sebetulnya merupakan rahasia umum dan kejengkelan serta ketidakberdayaan masyarakat menghadapi tingkah polah elite politik yang mempermainkan massa. Tapi dampaknya malah elitenya sendiri saling ketakutan dan selalu membiarkan haluan negara terbajak oleh preman politik yang mengatasnamakan massa tapi hanya memperdalam kesengsaraan rakyat. Fatwa Harmoko tentang restu internasional itu merupakan fakta sejarah. Ketika Indonesia berjuang merebut kemerdekaan dari Belanda, maka restu AS dalam Dewan Keamanan PBB sangat vital bagi pengakuan eksistensi RI. Delegasi Indonesia dipimpin Sutan Syahrir yang memberikan jaminan bahwa Indonesia akan menjadi negara demokrat sekuler yang bukan boneka bikinan fasisme Jepang. Tanpa faktor dukungan AS yang mengancam akan mencabut bantuan dana Marshall Plan untuk Belanda, maka tidak akan semudah itu Belanda mengakui Negara Kesatuan RI (NKRI). Dalam perjuangan mengembalikan wilayah Irian Barat ke dalam NKRI, Presiden Kennedy merestui transisi dan mendesak Belanda untuk menyerahkan wilayah itu melalui pemerintah peralihan PBB (UNTEA) tahun 1963. Bung Karno memang membeli persenjataan berat sehingga AURI dan ALRI menjadi salah satu yang terkuat di antara seluruh Negara Berkembang waktu itu. Tapi penyerahan Irian Barat dilakukan dengan restu AS melalui PBB sehingga tidak perlu perang pertumpahan darah dengan Belanda. Ketika Bung Karno melonjak arogansinya dan mengganyang Malaysia serta keluar dari PBB, Bank Dunia dan IMF, maka vonis terhadap dirinya dipermudah oleh kudeta misterius G-30-S. Lalu muncul Soeharto sebagai "Hamid Karzai Indonesia" untuk membendung komunisme di Asia Tenggara akhir 1960-an Setelah 32 tahun, Soeharto kejangkitan penyakit megalomania dan mau benar sendiri, menang sendiri, kuasa sendiri, mengabaikan HAM, mengeliminasi lawan politik dan meng-go to hell-kan peranan internasional. Soeharto terbius politik membohongi rakyat dan percaya kepada kebohongannya. Antara lain juga kebohongan dukungan rakyat yang menurut Harmoko pada bulan Maret 1998 masih solid sehingga Soeharto diangkat lagi jadi Presiden. Yang akan bertahan hanya dua bulan sampai 21 Mei 1998 sebab dukungan I sudah mulai dicabut ketika Soeharto ingin "mengemplang IMF" bermain mata dengan Steve Hanke memakai kartu CBS (Currency Board System). Kabar mutakhir, Soeharto marah kepada Tutut karena tidak sabar mau mengorbitkan Wiranto jadi capres 2004. Padahal faktor I belum favorable kepada Cendana, siapa pun yang diorbitkan dari situ entah Wiranto, Prabowo atau siapa saja yang mengandalkan Cendana. Setelah lengser, Soeharto justru menjadi ahli strategi mengatur come back dengan memanfaatkan atau menciptakan wabah "Saya Amat Rindu Soeharto". Ada saja operator yang sok canggih dengan culik model Pius, bunuh model Theys dan teror model Timika. Sukhoi-gate dan Timika-gate akan menggoyahkan Megawati walaupun punya direct access ke Gedung Putih melalui Karen Brooks. Karena kaum neokonservatif kurang suka sikap yang arogan mau menekan AS (Sukhoi) atau menewaskan warga AS (Timika). Karena janda korban Timika terus me-lobby Kongres dan Senat secara intensif. Peringatan Harmoko yang pernah menjadi kingmaker terakhir Soeharto (Maret 1998) dan ikut menjadi Brutus pada Mei 1998, merupakan fatwa generik yang harus diperhatikan oleh semua capres termasuk Wiranto, Prabowo, Amien Rais dan lain-lain - tidak terkecuali Megawati. Bahwa nasib Indonesia seperti juga nasib Afghanistan, Irak, Iran, Arab Saudi, bahkan Prancis maupun Rusia dan Cina tergantung pada geopolitik global dan superpower AS. Semua pidato yang diucapkan oleh para elite calon presiden yang sok "nasionalis" antiasing, anti-Barat, antiimperialis, anti-AS, anti-IMF pada saatnya akan diuji dan yang paling benar sebetulnya adalah fatwa Harmoko. Secara diam-diam sebetulnya seluruh elite Indonesia menyadari ampuhnya faktor I. Siapa saja yang mau bertahan di tahta puncak kepemimpinan Indonesia harus tahu diri terhadap faktor I sebagai determinan yang sangat vital bagi survival seorang presiden. Kasihan rakyat Indonesia yang tidak tahu apa-apa, dan sekadar dihasut oleh elite untuk saling menjatuhkan dan mengadu domba mendemo anti-ini anti-itu. Padahal elitenya sendiri tergantung mati hidupnya pada "restu 1-I". Dan jika elitenya konyol seperti Sukarno dan Soeharto yang sok nekat sudah menyengsarakan rakyat dan menimbun utang malah maki-maki meng-go to hell-kan kreditor, maka nasib seperti Mullah Omar dan Saddam Hussein akan menjadi cermin seperti juga kedua presiden RI yang melecehkan 1I dan ditinggalkan oleh 5M. Satu kata kunci yang tidak disebut oleh Harmoko bahwa hati nurani akan menghakimi dan mewakili Tuhan menulis riwayat hidup elite atau presiden, apakah mereka direstui oleh keadilan, kebenaran, kejujuran dan punya moralitas yang sesuai dengan bisikan terdalam hati nurani yang bersih dari kemunafikan dan politik preman. Suara hati nurani itu saya yakin lebih dahsyat dan lebih dalam dari SARS dan 5M+1I. * (Suara Pembaruan online 8 July 2003) -- syafril ------- Syafril Hermansyah<syafril-at-dutaint.co.id> . --[YONSATU - ITB]---------------------------------------------------------- Online archive : <http://yonsatu.mahawarman.net> Moderators : <mailto:[EMAIL PROTECTED]> Unsubscribe : <mailto:[EMAIL PROTECTED]> Vacation : <mailto:[EMAIL PROTECTED]>
