Beberapa hari lalu saya bertemu Pak Mattjik, rektor IPB, beliau menceritakan, bagaimana salah satu upaya yang dilakukan IPB adalah dengan mengajak pemerintah-pemerintah kabupaten dan kota (yang notabene sekarang pegang uang) untuk mengirimkan mahasiswa-mahasiswanya dengan ikatan dinas pemerintah lokal tsb.
Meskipun diitung-itung masih agak minim, biaya 9jt pertahun untuk mahasiswa pemda tsb agak mengurangi defisit biaya sesungguhnya yang 18jt/th/mahasiswa IPB. Imam Yon 7 --- Bachtiar Iskandar <[EMAIL PROTECTED]> wrote: > Assalamaualaikum wr wb. > > Sebelum saya urun rembug disini , mohon kepada Pak > Syafril, agar memasukkan teman ke Milis kita , > angkatan 64 Syarif Hidayat dengan Email > [EMAIL PROTECTED], Terima kasih. > > Mengenai Jalur khusus Universitas , sebetulnya yang > dipermasalahkan adalah keadilannya, dengan jalur > khusus ini berarti yang tidak punya dana tidak akan > bisa masuk ITB UI,Gama, IPB,... itu yang > dipermasalahkan. > > > Saya pernah dengar dari Rektor ITB di TV beberapa > bulan yang lalu, mengatakan bahwa "Pendidikan yang > Baik itu memang mahal, tetapi bukan berarti harus > dibebankan kepada mahasiswa saja, yang harus > bertanggung jawab adalah kita semua termasuk > Industri, Perusahaan , dan insitusi yang punya > dana." > > Sedangkan Jalur khusus ini membebankan dana tersebut > kepada Mahasiswanya. > UI sebagai Universitas juga melaksanakan jalur > khusus tsb, tapi dengan alasan yang sangat baik > sehingga bisa diterima oleh pihak pihak yang > terkait. Kelihatannya ITB hanya mengungkapkan > kekurangan Dana yang telah dan akan dihadapi dalam > rangka mencetak Sarjana, seperti tulisan Prof > dibawah ini , tentunya kurang taktis dan tidak > menggunakan alasan lain yang lebih Marketing > strategy. Ternyata Pihak UI lebih arief dalam > memberika alasan , begini alasannya : > > Pihak UI tidak akan mengurangi jatah untuk yang > jalur biasa, berdasarkan data yang lalu ternyata ada > sekitar 10% dari yang diterima tidak mendaftarkan > lagi ( Contohnya Dept Sipil tahun lalu menyediakan > 80 kursi, setelah dipilih 80 calon mahasiswa , > ternyata hanya ada 72 yang mendaftarakan diri) , > berdasarkan inilah maka Jalur khusus bisa diadakan > bahkan Jalur khusus di jatahkan 30 kursi sehingga > total kursi adalah 110 untuk Dept Sipil. Dengan cara > ini maka UI mengutarakan hal hal yang lebih taktis > dan secara marketing bisa mencapai tujuan nya. Rasa > keadilan tetap terpenuhi, tujuan tercapai. > > Barangkali alasan ITB tidak menyentuh rasa keadilan > seperti alasan UI, seperti juga kata Rektor ITB > tersebut , bukankah lebih baik kita katakan bahwa " > Pendidikan yang baik itu tidak murah " dari pada > "Pendidikan yang baik itu memang mahal ". > > Itulah yang bisa saya sampaikan . > Wassalam > Bachtiar Iskandar > > > > -----Original Message----- > From: [EMAIL PROTECTED] > [mailto:[EMAIL PROTECTED] > Sent: Thursday, July 10, 2003 5:07 PM > To: [EMAIL PROTECTED] > Subject: [yonsatu] 'Pendidikan Tinggi Indonesia yang > Mengenaskan' > > > > > Uraian di bawah ini, adalah karya tulisan yang > berasal dari Prof. Yusuf > Affendi*), Gurubesar FSRD-ITB & merangkap Dosen di > Univ. Trisakti. > > *) Di Web ITB --> tertulis nama: "Yusuf Effendi, > Prof. (ITB)" > > [http://www.itb.ac.id/design/faculty.html] > > Di Web Univ. Trisakti --> tertulis nama: "Prof. > Yusuf Affendi" > [ > http://www.usakti.edu/fsrd/infomhs/personalia/dosen_desain.html] > > > ~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~ > > MEDIA INDONESIA, Rabu 9-Juli-2003 > > 'Pendidikan Tinggi Indonesia yang Mengenaskan' > > > > WACANA hangat tentang jalur khusus untuk calon > mahasiswa di perguruan > tinggi negeri (PTN) telah berlangsung di berbagai > media massa sampai ke > DPR. Beberapa pendapat atau kritik cukup menggugah > pemikiran, karena > mengetahui persoalannya, seperti pendapat dari Wakil > Presiden Hamzah Haz. > > > Sebagian lagi kebanyakan 'omong kosong', cenderung > ingin jadi pahlawan > pembela rakyat karena Pemilu 2004 sudah di depan > pintu. DPR dengan > wewenangnya masih terlalu pagi untuk memastikan > berbagai kemungkinan risiko > pembangkangan dan kendala yang akan dialami oleh > masyarakat pendidikan > tinggi. > > > Dalam tulisan ini dikemukakan fakta yang diderita > oleh PTN selama puluhan > tahun di bawah pemerintahan Orde Baru yang > menempatkan pendidikan umum dan > pendidikan tinggi pada peringkat bawah. Tulisan ini > khusus membeberkan > pengalaman penulis di Institut Teknologi Bandung > (ITB) selaku dosen dan > guru besar. Apabila ITB ditempatkan pada urutan 19 > dan Asia Week, maka > dibandingkan dengan kondisi sebenarnya yang > morat-marit itu masih cukup > baik. > > > Para guru besar dan dosen ITB yang tetap memiliki > komitmen terhadap > pendidikan tinggi dengan menjunjung tinggi tradisi > keilmuan di atas > segalanya, termasuk kepentingan pribadi sekalipun. > Pada 1980-an awal, Prof > DR Iskandar Alisyahbana bicara dalam sidang Senat > ITB tentang kemungkinan > Indonesia memiliki silicon valley. > > > Uraiannya sangat membuka pemikiran dan > langkah-langkah baru dalam bidang > teknologi, tetapi apa yang terjadi? Pemerintah Orde > Baru tidak setuju. > Program ini akhirnya lari ke Malaysia dan Singapura, > sekarang sesudah 20 > tahun, Malaysia telah memiliki silicon valley yang > menjadi pondasi > pengembangan teknologi maju. Indonesia ada di mana? > Dan punya apa? > > > Perguruan tinggi teknologi mudah dipantau untuk > mengetahui maju mundurnya, > lihat saja laboratorium, bengkel teknik atau > studionya. Peralatan apa yang > mereka miliki? Lihat pula perpustakaannya di pusat > (institut) dan di > fakultas-fakultas. Contohnya, apakah perpustakaan > fakultas memiliki > internet yang jumlahnya sesuai dengan keperluan > mahasiswa untuk mendapat > informasi. Apakah masih sanggup berlangganan > jurnal-jurnal pengetahuan yang > kini harganya aduhai, sekitar Rp500.000 sampai > Rp600.000 per nomor. > > > Apakah masih sanggup menambah koleksi buku teknologi > dan sains dari satu > dekade terakhir? Bagaimana keadaan di ruangan > kuliah, apakah dosen masih > tetap memakai kapur atau spidol di papan tulis? Atau > sudah lebih maju > dengan menggunakan infocus, komputer > monitor/notebook pada layar yang > khusus, sehingga pelayanan pada mahasiswa terpenuhi > serasi dengan tuntutan > teknologi maju. > > > Jawaban dari pertanyaan itu semua, proses belajar > mengajar masih tetap > menggunakan peralatan 30 tahun yang lalu. Kalau ada > kemajuan, biasanya > peralatan itu dibeli atau dimiliki oleh dosen > pribadi atau laboratorium > yang bisa menabung dengan usaha 'swasta terselubung' > kecil-kecilan. > > > Honor guru besar Rp29.000 > > > Kalimat di atas tidak salah cetak, honorarium > sebesar itu masih berlaku > sampai hari ini di ITB. Utuhnya adalah Rp35.000 > dipotong pajak sebesar 15% > untuk honor bimbingan tesis atau disertasi per bulan > berlaku === message truncated === --[YONSATU - ITB]---------------------------------------------------------- Online archive : <http://yonsatu.mahawarman.net> Moderators : <mailto:[EMAIL PROTECTED]> Unsubscribe : <mailto:[EMAIL PROTECTED]> Vacation : <mailto:[EMAIL PROTECTED]>
