Ass.Wr.Wb.
 
Yth. P' Hermansyah, P' Priyo dan juga rekan-rekan lainnya.
Mohon ma'af kalau saya terkesan menggurui, 'sungguh' saya tidak bermaksud begitu.  
Saya sangat menyadari bahwa anda semua para praktisi 'management' yang sudah sangat 
'expert' di bidang masing-masing dan  tidak diragukan lagi kemampuan berorganisasi-nya.
 
Mengapa saya mengatakan perlu untuk melakukan survey/questionare kepada para mahasiswa 
dalam menganalisa 'root cause'/ 'akar masalah' menurunnya minat mahasiswa ITB masuk ke 
batalyon I/ITB, karena mereka adalah 'customer'-nya  batalyon yang sangat perlu untuk 
diketahui persepsi/pandangan/opini-nya sehingga corective action yang kita lakukan 
lebih 'tepat sasaran' dan perlunya untuk segera merancang 'strategi' dan 'pola' 
recruitment yang lebih efektif/jitu.
 
Yang perlu dilakukan terhadap batalyon bukan hanya sekedar 'pernafasan buatan' yang 
bersifat sementara tapi juga 'penyelamatan' jangka panjang, karena seperti yang 
dikatakan P' Priyo, sakit-nya sudah 'kronis'/menahun sehinggga setelah keluar dari 
'ICU' masih perlu 'rawat jalan'.
 
Itu sebabnya pembenahan yang dilakukan bukan hanya pada 'proses pendidikan' dalam 
tubuh batalyon melalui perbaikan mekanisme prosesnya (kurikulum/pola pendidikan/pola 
pengembangan) tapi juga diarahkan pada perbaikan pada 'fungsi control' dari 
penyenggara ITB bahkan pemerintah melalui regulasi/kebijakan yang scope-nya lebih luas.
Dan itu pula sebabnya perlu didesign konsep pendidikan/pengembangan batalyon yang 
lebih berorientasi pada peningkatan kompetensi untuk menjadi manusia 'unggul' dengan 
pendekatan management system dan design organisasi yang yang lebih ''flexible', 'maju' 
dan 'berkembang' sesuai dengan tuntutan dan perubahan jaman.  Dan konsep-konsep tsb 
perlu segera dijabarkan dalam program-program yang 'real/konkrit' dan secara 
'terus-menerus'/'continuous' disosialisasikan/dipromosikan/dipublikasikan ke dalam 
lingkungan kampus dan juga 'publik' lewat SG-SG, forums, workshops, seminars agar 
segera ada 'feedback' yang 'positif' dari semua pihak.
 
Wass.Wr.Wb.
[EMAIL PROTECTED] wrote:
Bagus dan saya setuju sekali dengan pendapat anda.
Dalam bentuk pointers barangkali jadinya begini:
1- Cari akar masalah. Caranya bisa brainstorming, sebarin questionaire, 
wawancara, dsb.
2- Cek ulang Visi dan Misi, apakah masih cocok dengan kebutuhan dan jaman, 
kalau tidak adjust.
3- Tentuin goals yang akan dicapai dengan mengacu kepada Visi dan Misi, 
misalnya: Membuat Rektorat dan Mahasiswa sadar akan pentingnya Menwa,
Memasukkan program ROTC ke Rektorat, dsb., dsb. Buat Action Plans 
atau Strategic Planning untuk mencapai goals itu. Dalam perencanaan, 
terapkan: 
5W + 1H.
4- Lalu execute plansnya dan continuously monitoring. Execute plans 
dengan berpedoman pada prinsip2 leadership dan management yang up to date, 

dan yang cocok dengan situasi.
5- Kalu result yang dihasilkan agak melenceng, adjust plans nya, lalu 
balik lagi ke point 4. Kalo jalannya bagus ya maju terus sampai goals 
tercapai.

Ah, prosedur seperti ini mah menurut saya semua rekan alumni sudah pada 
'khatam', sudah pada jago.
Mungkin yang jadi masalah adalah siapa yang mau ngelaksanainnya. Saya 
sendiri cuman bisa dukung dari jauh dalam bentuk pendapat.

Salam hangat,
HermanSyah XIV.






EVY ARYANTI 
08/13/2003 12:10
Please respond to yonsatu


To: [EMAIL PROTECTED]
cc: 
Subject: [yonsatu] Re: Klarifikasi untuk Rekans2 ,...Strategi Penyelamatan Batalyon 
I/ITB


Ass.Wr.Wb.'

Penjelasan mas Priyo, sudah 'sangat clear' bagi saya, thanks.
Pada prinsipnya visi dan misi kita sudah sama.
Tinggal bagaimana menterjemahkannya dalam program-program 'real/konkrit' 
untuk tujuan/sasaran jangka pendek, menengah dan panjang.
Karena itu dalam tulisan saya sebelumnya, saya mengusulkan perlunya 
dilakukan survey/questioner untuk menganalisa root cause/akar permasalan 
dari menurunnya minat mahasiswa ITB untuk masuk menwa/batalyon, dan juga 
promosi secara terus menerus/'continuous promotion' mengenai konsep 
pendidikan/pengembangan Batalyon I/ITB lewat SG-SG (studium general) 
maupun forum-forum lainnya, jadi konsep kurikulum/pendidikan 'dijual' 
/disosialisasikan/dipublikasikan agar para mahasiswa bisa mengetahui apa 
'nilai tambah/added value' yang didapat jika ia masuk menwa-ITB. Setelah 
mengetahui root cause/akar bermasalahan dari hasil survey/questioner tsb 
di atas, lalu dibuat 'action plans' sebagai corrective action/preventive 
action dan juga mulai merancang pola-pola recruitment yang baru dan lebih 
efektif lagi.
Mengenai pola pendidikan, mungkin kita perlu memadukan antara pola 
pendidikan yang lama dengan perkembangan konsep-konsep pendidikan 
'leadership dan manajemen' yang baru dan juga konsep-konsep 'pembelajaran' 
sehingga batalyon bisa tumbuh dan berkembang sebagai 'Learning 
Organization'.

Wass.Wr.Wb.
Evy Aryanti.



Priyo Pribadi Soemarno 
wrote:
Assalamu'alaikum Rekans sekalian ,

On Tue, 12 Aug 2003 04:44:47 -0700 (PDT) Evy wrote ,

Kondisi Batalyon saat ini sedang 'sakit' karena itu perlu 'dirawat'
> dulu (dengan intensive care), strateginya antara lain seperti yang
> sudah saya sampaikan. Jika organisasi itu sudah 'sembuh' dan 'sehat'
> maka barulah kita lepas untuk tumbuh dan berkembang sendiri. Jadi
> peran aktif alumni hanya bersifat sementara, sampai batalyon bisa
> bernafas lagi dengan baik. Program-program yang saya usulkan bukan
> bermaksud untuk mendapatkan nilai plus bagi alumninya, tapi para alumni
> hanya 'menularkan' nilai plusnya lewat knowledges dan experiences untuk
> membantu batalyon mendesign organisasinya menjadi organisasi yang lebih
> 'flexible', 'maju' dan 'berkembang' sesuai tuntutan/perubahan jaman.
> Kelihatannya anda semua tidak menangkap maksud saya. 

(PPS) Evy benar , memang barangkali ada komunikasi yang belum pas . 
Sebagai fasilitator yang dipercayakan untuk mengkomunikasikan hasil2 
pertemuan CORPS yang lalu , saya mohon maaf , kalau ternyata kesimpulan 
pertemuan tersebut belum "kena dihati" ,..
Dalam milis yang lalu , saya mengambil analogi , keadaan Batalyon I masa 
kini sedang memerlukan "pernapasan buatan" , kalau bahasa 
kita2 "rescue" , perlu bantuan , karena dihadapkan pada masalah kronis 
yang tak kunjung selesai ,..
Karena itulah kita mengumpulkan alumni dan para sesepuh Batalyon I yang 
juga notabene adalah para pendiri Resimen Mahasiswa di Indonesia , untuk 
mendengar langsung inti permasalahannya dari DAN YON dan para pembina 
yang ada di Kampus ITB . Bahwa ternyata kemudian kesimpulan pertemuan di 
interpretasikan berbeda-beda , yaa , harap maklum karena memang 
rumusannya sedang disusun oleh Team yang ditetapkan dalam pertemuan tadi .

Tetapi untuk lebih mempertajam apa yang akan kita lakukan untuk "rescue" 
maka menjadi kewajiban saya untuk memberikan beberapa pointers penting 
yang dapat dijadikan referensi Rekans sekalian untuk membantu mengatasi 
masalah ini . Berikut ini klarifikasi kami :

1) Persoalan Batalyon I ITB dan juga persoalan Resimen Mahasiswa dan 
secara luas masalah pembinaan generasi muda ada saling kait mengaitnya , 
karena itu perlu pandangan dan wawasan yang lebih luas dalam mencari akar 
permasalahan .

2) Khusus di ITB , perubahan status ITB memerlukan pula perubahan dalam 
pembinaan kegiatan mahasiswa di Batalyon I . Ketika SKB 3 Menteri tentang 
pembinaan Resimen Mahasiswa dibatalkan dan pembinaan selanjutnya 
diserahkan pada pimpinan perguruan tinggi masing2 , saat itulah 
sebenarnya kita harus sudah menemukan pola pembinaan yang baru ,tetapi , 
mungkin baru saat inilah persoalan yang menumpuk tersebut menjadi sangat 
berat bagi Batalyon , karena menyangkut kelangsungan hidup organisasi 
yang sudah mencetak ribuan alumninya . 

3) Hal lain yang sudah kita sadari pula adalah menurunnya kualitas 
anggota , karena program latihan dan pengalaman organisasi bagi 
anggotanya sangat merosot jauh . Program Diksar , Dinas Staf , latihan2 
dll. sudah dibawah standard , yang disebabkan karena keterbatasan waktu , 
fasilitas latihan dan dana pembinaan . Hal ini oleh sebagian alumni 
menjadi perhatian khusus , karena kita tetap menghendaki anggota CORPS 
yang sesuai dengan tuntutan jaman .

4) Oleh karena itu , pertemuan CORPS kemudian menyimpulkan perlunya 
pendekatan sistim , dengan membuat rumusan penyelesaian masalah dari tiga 
persoalan pokok yang saat ini dianggap paling strategis , yaitu :
(*) kembalikan pendidikan Resimen Mahasiswa sebagaimana konsep awal 
pembentukannya dulu , artinya latihan dasar kemiliteran dll sesuai 
standard sehingga bisa menjadi Cadangan Nasional .Untuk itu , konsep 
ROTC dianggap yang paling sesuai , seperti yang dilakukan Malaysia maupun 
Singapore . Tetapi , karena hal ini memerlukan perjuangan panjang , maka 
ditugaskan pada TEAM ROTC utnuk menyusun rumusan dan program nya .
(**) Pembinaan didalam Kampus , perlu lebih disesuaikan dengan kondisi 
saat ini . Kerjasama dengan ITB diperlukan , agar eksistensi Batalyon I 
dapat lebih mantap , bahkan diusahakan sejajar , selaku komponen penting 
di ITB , bukan sekedar mahasiswa biasa ataupun malahan HANSIP . Peranan 
CORPS untuk menjembatani hubungan ini , adalah juga sebagai balas budi 
alumni pada almamater yang telah melahirkannya . Untuk itu , ditugaskan 
TEAM ITB yang terdiri dari Pak Tutuka Ariadji , Pak Iftikar ZS dan Pak 
Krishna Suryanto , yang juga staf pengajar di ITB . Team ini akan 
menghimpun seluruh potensi alumni yang ada di ITB untuk berperan dalam 
kerjasama yang terhormat ini . 
(***) Untuk bisa mencapai tujuan yang akan diupayakan oleh kedua TEAM 
diatas , diperlukan sasaran dekat , yang bisa dilakukan saat ini juga , 
misalnya kerjasama CORPS dengan ITB menyelenggarakan LTC atau berbagai 
program pelatihan singkat , dimana anggota aktif Batalyon I akan 
dilibatkan sebagai para Asisten yang akan belajar sambil bekerja dalam 
Team tersebut . Bahwa sekarang hanya tersisa anggota dalam jumlah kurang 
dari sepuluh , sudah dapat diartikan bahwa mereka memerlukan 
kerjasama "tandem" dengan CORPS . Team "crash program" juga dapat 
menjajagi kemungkinan pemberian beasiswa , membuat program pengenalan 
dunia militer bagi mahasiswa baru itb seperti yang diusulkan beberapa 
alumni .

Dengan adanya tiga (3) Team yang akan bekerja secara konsepsional , 
tetap terbuka kesempatan bagi anggota Batalyon aktif untuk mengambil 
bagian dalam perumusan tersebut , sebagaimana para sesepuh Mahawarman 
dulu menyusun konsep Resimen Mahawarman yang akhirnya menjadi konsep 
nasional .
Kami berharap klarifikasi ini dapat menghindarkan Rekans2 dari salah 
tafsir dan menyurutkan langkah untuk perbaikan generasi Batalyon pada 
masa yang akan datang . Saya setuju pula dengan pendapat mas Koni , bahwa 
perlu ada tindakan nyata , langsung dan tepat sasaran . Marilah kita 
sama2 berupaya agar Batalyon I tetap menjadi tempat penggemblengan para 
mahasiswa yang nantinya dapat menjadi sarjana yang menguasai medan 
persoalan dan bukan sarjana yang bisanya hanya minta bantuan sana-sini .

Kami tetap menunggu saran konkrit dari Rekans sekalian dan jangan pula 
segan mengkritik kami , karena kita punya tujuan yang sama .

WIDYA CASTRENA DHARMA SIDDHA , 

Wassalam ,
Priyo PS.
--------------------


> --[YONSATU -
> ITB]----------------------------------------------------------
> Online archive : 
> Moderators : 
> Unsubscribe : 
> Vacation : 


--[YONSATU - 
ITB]----------------------------------------------------------
Online archive : 
Moderators : 
Unsubscribe : 
Vacation : 



---------------------------------
Do you Yahoo!?
Yahoo! SiteBuilder - Free, easy-to-use web site design software

--[YONSATU - 
ITB]----------------------------------------------------------
Online archive : 
Moderators : 
Unsubscribe : 
Vacation : 






--[YONSATU - ITB]----------------------------------------------------------
Online archive : 
Moderators : 
Unsubscribe : 
Vacation : 



---------------------------------
Do you Yahoo!?
Yahoo! SiteBuilder - Free, easy-to-use web site design software

--[YONSATU - ITB]----------------------------------------------------------
Online archive : <http://yonsatu.mahawarman.net>
Moderators     : <mailto:[EMAIL PROTECTED]>
Unsubscribe    : <mailto:[EMAIL PROTECTED]>
Vacation       : <mailto:[EMAIL PROTECTED]>


Kirim email ke