Untuk Pak Heramnsyah, ini tulisan saya 3 tahun lalu di milis Yon I
tentang resimen teknologi, kelihatannya menggebu-gebu.... hehehehe,
mudah-mudahan sekarang masih nggak kendor ngomongin yon I.

Rifki Muhida

-----------------------------------------------
Date: Wed, 17 May 2000 03:00:26 -0700 (PDT) 
From: "Rifki Muhida" <[EMAIL PROTECTED]> | This is spam | Add to
Address Book 
Subject: [YON-1] Lahirnya generasi V menwa ITB 
To: [EMAIL PROTECTED] 
CC: [EMAIL PROTECTED] 
       
 


Menyambut 41 tahun menwa Indonesia
(Lahirnya menwa ITB generasi V), 
kayak komputer aja ya pakai generasi.

Berlatar belakang isu pembubaran menwa yang ke 8,
bahwa :
Sejarah menwa Indonesia terlalu dikotori
"tangan-tangan jahat" yang membawa menwa pada
"ultraviolet Catastrhope" (bencana ultraviolet). Untuk
menghindari Ultravilet Catastrophe itu menwa Indonesia
harus di kuantisasi, di lokalisasi. Ini mengingatkan
kita pada sejarah lahirnya "New Physics" awal abat 19
yang dipelopori oleh Plank, Einstein dan Niels Bohr.
Menwa ITB harus dilokalisasi dari menwa Nasional
menuju Menwa ITB, Batalyon I/itb memiliki sejarahnya
sendiri, roh sendiri dan akar budaya sendiri, semuanya
menuju ke satu kata, yang sudah merekat dalam sel
darah merah kita. Apa itu "Teknologi". Yang saya
maksudkan "Resimen Teknologi", kita udah sering
mengungkapaknnya, bahkan ketika saya jadi danyon saya
mengusulkan dibangunnya gedung lima lantai dekat kolam
renang ITB yang akan digunakan sebagai Workshop dan
sekaligus markas Batalyon I/ITB.
Sebenarnya kita sudah menemukan kata ini, jauh-jauh
hari, dan sebenarnya sudah ada didalam pikiran para
pendiri dan tokoh-tokoh besar dalam sejarah batalyon
I/ITB yang saya sangat menaruh hormat kepadanya, namun
saat itu kita belum mampu berterus terang karena
tangan-tangan  "gurita" terlalu kuat membelenggu
menwa. Penyelenggaraan Simposium dan Pameran Teknologi
Militer/Hankam, merupakan salah satu karya terindah
dalam sejarah batalyon I/ITB dan ditangan dingin
"orang orang jenius yang penuh pengabdian" kegiatan
besar dengan ide yang sangat cerdas dapat terlaksana. 
Inilah benang merah yang menghubungkan Menwa ITB ke 
masa depannya. Inilah  paradigma itu, titik awal
lahirnya generasi V menwa ITB. 
"Resimen teknologi" buat menwa ITB memiliki masa depan
yang tegas dan dalam rentang waktu yang panjang. 
"Resimen Teknologi" ITB  nantinya akan menjadi
prototipe lahirnya semacam ROTC atau NAVY/NAVAL ROTC
seperti di MIT Amerika.
Ini mengingatkan saya pada "Technology Batalyon" yang
sangat populer ketika meletus perang Amerika-spanyol
akhir abat 18 dimana ketika itu ROTC dari kesatuan MIT
menciptakan  double-action fuse untuk sharpnel pada
peralatan tempur NAVY dan motor control untuk senjata
NAVAL. 

Untuk menuju "resimen Teknologi" itu beberapa langkah
Daramatis yang harus dilewatkan.

Pertama, 
lupakan dulu menwa nasional, "masuk kotakkan" skomen,
campakan SKB, buang jauh-jauh pikiran tentang Kodam,
depdagri beserta aparaturnya.

Kedua,
Lupakan kata "bela negara" untuk sementara waktu,
simpan baik-baik didalam hati, kata-kata itu terlalu
mewah untuk iklim sekarang. Biarkan kata-kata indah
itu seperti udara yang kita hirup setiap waktu.

Ketiga.
Lupakan politik fasif, maksudnya jauhkan dari
tangan-tangan gurita (kodam, Gubernur, ataupun
rektor).
Ikutlah politik praktis, maksudnya ikut memperjuangan
pengembangan teknologi khususnya teknologi hankam.
Memperjuangkan hak prinsipil TNI (negara), yaitu
pengadaan alat alat pertahanan negara. Lakukan
kampanye (presentasi dari instansi keinstansi) kalau
perlu sampai ke DPR , adakan riset tek. hankam yang
berkaitan dengan Teknologi hankam dalam skala
mahasiswa/Tugas akhir dan adakan transaksi (maksudnya
ada konvensasi materikarena penelitian itu). Ada dua
hal yeng memberikan peluang buat Yon I:
1. Dengan turunya Habibie, yang menyebabkan BPPT,
Pindat dkknya bukan anak emas lagi.
2. Peran politik abri dipersempit, sebagai
konvensasinya memoderenkan peralatan TNI.

tips: Untuk menjalankan program ketiga ini, tidak
memrlukan banyak orang yang penting kontinu dan
konsekwen, dan dapat disingkronkan dengan penelitian
kuliah, sehingga dapat lebih enjoy. Saat ini saja
jumlah ROTC di MIT tidak lebih dari 20 orang.
Bahan-bahan penelitian/jurnal ilmiah dapat minta ke
mabes abri, atau ke litbangya (pasti dibantu) kalau
tidak cari di internet dengan memanfaatkan fasilitas
dephankam. Tiap anggota yon I dapat fakuskan ke pada
satu bidang sesuai dengan keahliannnya/laboratorium
dapat juga interdisipliner. Fokuskan pada satu jurnal
ilmiah, kemudian kembangkan. kalau perlu buat alat,
duitnya dengan mengajukan proposal ke mabes abri.
Kalau berhasil publikasikan (kalau tidak ada media
publikasi, buat majalah sendiri, misalnya "jurnal
komunikasi teknologi hankam", lupakan dulu  dengan
istilan hankam yang mengandung konotasi rahsia).
Kalau ini berhasil akan memberikan kejutan yang luar
biasa buat dephankam , dan akan mengharumkan nama
batalyon I/ITB, nah ini kesempatan untuk mengajukan
proyek besar, yang bermandikan uang, hahaha. Seperti
pengadaan internet buat batalyon, pengadaan
perpustakaan, alat-alat penelitian dan sekolah keluar
negeri. Mumpung orang dephankam lagi pusing sekarang
ini soal menwa, ini kesempatan emas untuk menwa ITB
untuk studi banding ke luar negeri, segera buat
proposal "Studi Banding Menwa ITB ke ROTC MIT", segera
hubungi  Robert R Rooney (Dan yon ROTC MIT) ini
emailnya : 
[EMAIL PROTECTED]   minta saran seperlunya, dia pernah 12
tahun bertugas di "engineer batalion ", kalau perlu
minta batalion MIT mengundang Menwa ITB. Surat
undangan itu kemudian dilampirkan dalam proposal untuk
minta dana ke dephankam, jangan lupa lampirkan
proseding Simposium Teknologi Hankam 96, bukti bahwa
Menwa ITB udah punya gigi.
Dahulu waktu saya jadi danyon saya sudah pernah
mencoba surat menyurat dengan kosulat militer AS dalam
rencana studi banding ini, tanggapan mereka sangat
positip, hanya ketika itu sayangnya usia saya di ITB
sudah hampir habis, dihantui oleh "setan DO".

Pemikiran tentang "Resimen teknologi ini" tak ubahnya
menjadikan Menwa ITB sebagai  "Laboratorium" teknologi
Hankam dan memiliki pijakan yang kuat di ITB dan mabes
abri, tapi yang saya maksudkan bukan laboratorium
sebenarnya dimana ada profesornya. Pemikiran semacam
ini mengingatkan saya pada pemikiran kita dulu tetang
cara menyatakan batalyon I/ITB sebagai "laboratorium
kepemimpinan" maupun "laboratorium pembentukan
watak/karakter", latar belakang pemikiran ketika itu
ketertarikan saya pada Sthepen Covey yang mendirikan
Leadership centre. Inilah proses tranformasi pemikiran
yang dinamik, sama halnya dahulu waktu di Rapat
Koordinasi menwa Nasional di subang yang dihadiri
seluruh danyon dan kasmen, ketika saya ditunjuk
sebagai  ketua pokja rencana strategi menwa, saya
mengusulkan strategi untuk mencegah
distorsi/penyeragaman menwa (prilaku, manajemen,
pendanaan dll), yaitu dengan "grand unified"
menwa(penyatuan, bertentangan dengan usulan sekarang
tentang kuantisasi) dalam satu wadah, yaitu mabes
menwa. 
Tapi malangnya pemikiran seperti itu seperti elektron
menabrak dinding potensial tak berhingga, tak ada yang
menembus, semuanya mantul. Peserta sidang lebih
terkesima pada diskusi melelahkan seputar pakaian
seragam dan lambang-lambang.

kempat.
Adakan komunikasi secara luas dengan ROTC, Naval,
ataupun lembaga-penelitian teknologi hankam dalam dan
luar negeri, komunikasi bisa dengan internet, surat
atau pertemuan ilmiah.

kelima
Modernkan batalyon I/ITB, maksudnya anak-anak yon I
harus melek teknologi (seperti internet) dan bagus
bahasa inggrisnya. 

ke enam.
Manfaatkan alumni sebagai media networking dan
bertanya, ini akan melahirkan "e combat"organization ,
bukan e commerse.
Pengalaman: Perlu saya ceritakan, bahwa selama dua
bulan terakhir ini saya ikut terlibat dalam proses
operasional batalyon I/ITB, seperti peminjaman seragam
ke Yon Kaveleri, Pembuatan surat buat Let jend Agus
Wirahadikusumah, dll.
Seperti misalnya dalam peminjaman seragam ke kaveleri,
saya terlibat diskusi dengan stav V, dan staf tersebut
tahu bahwa saya dulu di staf V. Dari proses pembuatan
surat, sampai bagaimana pengembalian. Selama proses
berjalan, staf tersebut selalu melaporkan perkembangan
dan masalah yang dijumpai, saya setiap hari
menyempatkan beberapa menit di laboratorium saya (di
jepang) untuk membahasnya serta memecahkan masalahnya.

Begitupun ketika mereka meminta saran bagaimana
editorial surat untuk untuk Letjend Agus W. K. karena
saya kenal dengan beliau (sama-sama editorial waktu
membuat proseding simposium dan teknologi hankam),
sehingga dimintai saran oleh anak-anak batalyon. 
Menarik sekali!!! (Apanya yang menarik)
dari laboratorium yang sempit karena dijejali dengan
alat-alat penelitian dari laser sampai superkomputer,
dan dari negeri yang jauhnya mencapai ribuan km, saya
bisa membantu menggiring dantim beserta anggotanya
kesasaran dengan tepat, ini mengingatkan saya pada
rudal Tomohawk amerika yang dikendalikan laser
sehingga rudal tersebut dapat melewati lorong-lorong
bawah tanah sehingga dapat sampai ke bungker-bungker
irak.Teknologi bisa membuat segalanya mungkin.
Inilah "e combat organization", 

Ke tujuh
Pembinaan kepemimpinan dan manjemen ditujukan untuk
menpertahankan regenerasi dibatalyon, dan akan
bemanfaat ketika memasuki dunia kerja. Pembinaan fisik
lewat latihan lapangan tetap penting, karena untuk
kesehatan dan kedisiplinan "tidak lebih", namun
porsinya dikurangi.
Lulusan batalyon I/ITB tetap harus memiliki karakter
yang kuat, Never Crack under pressure".
Batalyon I/ITB tetap  harus menjadi "leadership
Centre"  dalam pengembangan karakter, untuk ini saya
merujuk pada buku Stephen Covey, tentang kepemimpinan
yang merujuk pada karakter.

Rifki Muhida, Osaka University, 
Theoretical Computational Physics Lab.
Japan. 

 



__________________________________
Do you Yahoo!?
Yahoo! SiteBuilder - Free, easy-to-use web site design software
http://sitebuilder.yahoo.com

--[YONSATU - ITB]----------------------------------------------------------
Online archive : <http://yonsatu.mahawarman.net>
Moderators     : <mailto:[EMAIL PROTECTED]>
Unsubscribe    : <mailto:[EMAIL PROTECTED]>
Vacation       : <mailto:[EMAIL PROTECTED]>


Kirim email ke