WCDS, Sekedar sharing pandangan. Sekitar tahun 1990-an, saya pernah hadir di Magelang pada acara pelantikan perwira wajib militer, yang direkrut dari sarjana2 yang baru lulus. Dari buku lulusan yang dibagikan, saya amati usia, asal universitas dan jurusan dari para sarjana tsb. Saya merasa prihatin, karena dari segi usia, mereka2 yang masuk bukanlah tergolong sarjana yang cepat lulus, dari segi universitas, juga jarang dari antara mereka lulus dari suatu universitas terkemuka, sedangkan dari jurusan, juga saya tidak melihat mereka2 yang berasal dari jurusan yang laku keras di pasaran. Pengecualian saya lihat bagi mereka2 yang berasal dari kedokteran. Dari keadaan ini, saya menyimpulkan bahwa militer kita mungkin tidak mendapatkan sarjana2 yang terbaik dari perguruan tinggi di Indonesia.
Sewaktu SMA Taruna Nusantara dibentuk, saya gembira karena mungkin ini merupakan salah satu usaha untuk menjaring bibit unggul dari bangsa ini. Tetapi sekarang, keliatannya, pemerintahpun tidak kuat menanggung dananya, sehingga SMA Taruna Nusantara sekarang mengharuskan siswanya membayar. Jika dibandingkan dengan dana yang diperlukan untuk membentuk SMA Taruna Nusantara, mungkin biaya untuk meng "ijon" mahasiswa terpilih dari Universitas yang baik akan lebih murah. Hal ini sebenarnya bisa merupakan salah satu justifikasi bagi pemerintah untuk mengeluarkan dana bea-siswa berikatan kepada mhsw dari Universitas terkemuka untuk menjaring mhsw terpilih ke jalur militer atau apapun untuk kegunaan pemerintah. Kalau program bea-siswa Mahawarman ITB berhasil merekrut mhsw ITB yang berprestasi, kemudian program pembinaannya dilakukan sedemikian sehingga menghasilkan lulusan/alumni Mahawarman yang menonjol, mungkin program ini bisa diyakinkan ke Dept. Hankam untuk diambil alih dan dikembangkan. Ini bisa merupakan cikal bakal ROTC di ITB. Wassalam, Harry Kusna Msg: #15 in digest From: "Tino, Ardhyanto" <[EMAIL PROTECTED]> Subject: [yonsatu] Re: ROTC .. Date: Wed, 20 Aug 2003 15:33:59 +0800 WCDS, Program ROTC yang saya ketahui bukan mengarah kepada militerisme di kampus, tetapi lebih banyak pada metoda rekrutmen perwira dari jalur non militer. .... deleted .... Apabila kita lihat dengan apa yang diperlukan untuk memperkuat sistem ketahanan nasional, maka keberadaan perwira-perwira yang handal dari jalur non akademis sangat berarti. Kecanggihan sistem intelijen, perkembangan teknologi sistem peralatan pertahanan, manajemen logistik, konflik internal, dll. sudah seharusnya dapat didukung oleh perwira-perwira dari jalur akademis non militer. Hal ini dapat menjadi dasar perlunya diperkenalkan sistem sejenis ROTC untuk dapat merekrut perwira-perwira yang diharapkan. Saya sudah coba-coba sounding dengan Bp. Marsma Suharsa dari Lemnhanas mengenai hal ini. Beliau sangat tertarik dan mengatakan perlu dilakukan cost comparison dengan jalur akademis militer. Saya kira ini menjadi challenge buat kita bersama untuk dapat menjadikan program ini sebagai pilot project di ITB. Hanya pendapat saja ... Vivat Yon-I, --[YONSATU - ITB]---------------------------------------------------------- Online archive : <http://yonsatu.mahawarman.net> Moderators : <mailto:[EMAIL PROTECTED]> Unsubscribe : <mailto:[EMAIL PROTECTED]> Vacation : <mailto:[EMAIL PROTECTED]>
