Moga-moga anggota Menwa khususnya Yon Satu ITB tidak mengalami hal seperti
di bawah ini. Ataukah justru mengalami yang lebih parah tetapi enggan,
segan, malu dan takut untuk mengungkap ketika itu. wallahu Alam.

salam
Asodik  

-----Original Message-----
From: desiyusuf
To: Desi Yusuf
Sent: 17/09/03 20:48
Subject: Fw: bagai dalam neraka ( Kasus STPDN)

Anggrainy <[EMAIL PROTECTED]> wrote: 

Dari milist tetangga

Sent: Tuesday, September 16, 2003 5:07 PM
Subject: [LoSTA MASTA] [losta_masta]bagai dalam neraka ( Kasus STPDN)
=================================
Bagai Dalam Neraka
SAYA adalah salah satu dari sekian banyak korban kekerasan di Sekolah Tinggi
Pemerintahan Dalam Negeri (STPDN). Saya masuk pada 1996 atau angkatan 08.
Saya memutuskan untuk mundur dan kemudian masuk ke Fakultas Ilmu Komunikasi
Unpad pada tahun 1997.

Salah satu faktor yang melatarbelakangi saya menulis mengenai hal-ihwal
kekerasan yang dilakukan praja STPDN adalah saat ini lembaga STPDN telah
menjadi sorotan publik dan telah menjadi isu nasional, berkaitan dengan
meninggalnya Madya Praja Wahyu Hidayat yang ditengarai sebagai korban
kekeraan yang dilakukan seniornya. Oleh karena itu, saya sebagai orang yang
pernah merasakan bagaimana pahitnya hidup penuh penyiksaan di Ksatriaan
STPDN, mencoba membuka mata dan telinga masyarakat mengenai perilaku dan
mental para praja senior dalam menjatuhkan hukuman.

Waktu itu setelah masuk di STPDN saya berstatus capra (calon praja) masih di
bawah bimbingan tentara. Akan tetapi, justru di bawah bimbingan tentara
tidak ada kekerasan sama sekali. Kemudian setelah itu kami dikukuhkan dan
masuk sebagai praja, otomatis sejak itu kami langsung di bawah senior.

Di bawah bimbingan senior inilah kekerasan-kekerasan mulai timbul. Karena
sistem pendidikan di sana menganut sistem muda praja (tingkat I) di bawah
bimbingan madya oraja (tingkat II), madya praja di bawah bimbingan nindya
praja (tingkat III), dan nindya praja di bawah bimbingan wasana praja
(tingkat IV). Kekerasan itu berlangsung tidak hanya semasa orientasi, tetapi
selama kita masih menjadi junior akan selalu mendapat siksaan dari
seniornya. Apabila kita telah menjadi yang paling senior atau wasana praja,
kita bisa menikmati kehidupan di sana.

Saya waktu itu tinggal di barak DKI Bawah, petak C semasa Ketua STPDN masih
dipegang oleh IGK Manila. Kabid Pengasuhan dipegang oleh Drs.Indrarto. Pada
waktu itu, kami yang berada di barak DKI Bawah dikumpulkan oleh para madya
praja yang memegang kendali barak tersebut. Kami dikumpulkan setelah
mengikuti apel malam yang kemudian dilanjutkan dengan apel barak. Kami
dikumpulkan di lorong barak atau lebih tepatnya di depan lemari yang
berjejer. Kemudian para madya mengoreksi kami, dengan dalih bahwa kami
melakukan kesalahan-kesalahan. Atas dasar itulah pada madya itu dengan
kesombongannya melakukan penyiksaan antara lain pemukulan, tendangan
tamparan, dll.

Pada waktu itu saya sudah bilang kepada penanggung jawab barak bahwa saya
sedang sakit mag, tetapi mereka seakan-akan tidak mau peduli dan menganggap
saya manja. Berbarengan dengan itu, perut saya dihantam beberapa kali,
ditendang, dan ditampar. Posisi waktu itu, kami disuruh buka baju dan
menggantung di lemari menghadap mereka. Setelah beberapa kali dihantam, saya
merasakan perut saya nyeri dan langsung jatuh pingsan. Akan tetapi,
lagi-lagi para praja senior itu seakan-akan tidak percaya bahwa saya
pingsan, kemudian mereka menginjak dan menampar saya (itu pun menurut
rekan-rekan satu barak).

Setelah kejadian itulah saya langsung dibawa ke KSA (poliklinik), untuk
dirawat. Selama perawatan di sana, saya tidak mendapatkan perawatan medis
yang sesuai dengan harapan. Oleh karena itu, orang tua saya membawa saya ke
RS Advent Bandung. Kemudian para dokter di sana menyimpulkan bahwa saya
mengalamipendarahandiselaput perut akibat trauma benda tumpul (pemukulan).
Kemudian saya ditangani dokter ahli bedah digestif untuk mengobati
pendarahan tersebut. Setelah badan saya agak fit, saya kembali ke Ksatrian.
Baru beberapa hari disana, saya disiksa lagi di sana dengan alasan bahwa
praja tidak boleh cengeng. Otomatis setelah kejadian tersebut saya kembali
lagi RS Advent. Hampir empat rumah sakit yang pernah merawat saya yakni RS
Advent, RSU Sumedang, RS Sariningsih, dan RS Dustira Cimahi.

Kenapa bisa sampai dengan empat rumah sakit? Setiap saya baru kembali dari
rumah sakit selalu saja saya disiksa dan dipukuli dengan berbagai macam
alasan. Bahkan, di KSA sendiri saya pernah dihantamdenganalasan saya tidak
melakukan PPM (hormat militer). Berdasarkan hal itu, kedua orang tua saya
menghadap Ketua STPDN IGK Manila. Kedua orang tua saya meminta jaminan
keselamatan akan kehidupan saya. Ketuapun menyetujuinya, tetapi berbeda
dengan kenyataan di lapangan, malahan saya semakin disiksa karena berani
melaporkan pemukulan terhadap ketua. Maka, dengan pemikiran yang masak, saya
bersama dengan orang tua memutuskan untuk mengundurkan diri dari STPDN.
Orang tua saya takut akan kejadian yang lebih parah
 menimpa anaknya.

Bertolak dari kematian Wahyu Hidayat, sebenarnya yang paling bertanggung
jawab adalah pihak Lembaga STPDN karena pada acara Duduk Perkara di TV7 yang
ditayangkan pada tanggal 11 September 2003, Prof. Ryaas Rasyid mengatakan
telah mengingatkan kepada IGK Manila agar segera menghentikan kekerasan yang
ditimbulkan oleh para praja seniornya. Jadi, dalam konteks inilah bahwa
sebenarnya pihak kembaga STPDN mengetahui kekerasan tersebut. Akan tetapi,
hal itu ditutupinya karena akan menghancurkan citra dari STPDN itu sendiri.

Maka, tidaklah heran setiap tahunnya banyak praja yang melarikan diri maupun
yang mengundurkan diri. Hal itu mereka lakukan karena tidak kuat menghadapi
siksaan dari para seniornya. Bahkan, saya menganggap bahwa kehidupan di
STPDN itu sama halnya dengan di neraka, artinya tiada hari tanpa penyiksaan.
Bahkan, ada wanita praja yang harus diangkat rahimnya, ada gendang
telinganya yang hancur, dan bahkan ada teman saya yang di dadanya ada bekas
telapak sepatu PDL.

Kebanyakan para praja mengeluhkan kondisi perutnya karena banyak pukulan
yang diarahkan pada perut. Saya membaca di media massa bahwa kematian Muda
Praja Erri Rahman pun karena ada pendarahan di perut. Patah tulang rusuk,
berak darah, muntah darah adalah fenomena yang sering saya jumpai di STPDN.
Menurut para praja senior, fenomena tersebut merupakan hal yang biasa kerap1
terjadi di STPDN. Bahkan, teman saya pernah mengalami hukuman jungkir dan
guling di aspal panas dengan baju dibuka.

Dengan bercermin terhadap kematian Wahyu Hidayat serta korban-korban
lainnya, sebaiknya para praja itu punya jiwa kemanusiaan dan hati nurani.
Mereka menganggap bahwa hal itu merupakan aspek pembinaan, padahal dari
kacamata orang biasa aspek pembinaan itu sama saja dengan "penyiksaan".

Sebaiknya para praja juga konsekuen akan perbuatan mereka. Jangan hanya
mencari-cari kesalahan praja juniornya dan saya meminta kepada Ketua STPD
turutbertanggung jawab atas semua kekerasan yang ditimbulkan oleh prajanya.
Saya pun meminta kepada Depdagri agar Komnas HAM dan Kontras diizinkan masuk
dan menyelidiki kekerasan-kekerasan yang dilakukan oleh para praja STPDN.

Fenomena kekerasan banyak sekali terjadi di lingkungan STPDN. Sebaiknya
pihak Depdagri untuk sementara membekukan dulu STPDN karena kekerasan di
sana itu sudah membudaya dan tradisi. Oleh karena itu, sangat sulit
menghilangkan budaya kekerasan di STPDN, tanpa usaha yang signifikan.

Tulisan ini sengaja saya buat karena keprihatinan saya terhadap STPDN atas
meninggalnya Wahyu Hidayat. Hal ini dibuat bukan untuk mendiskreditkan
STPDN, tetapi di alam reformasi ini, masyarakat berhak tahu apa yang sedang
terjadi. Selama ini pihak STPDN seakan-akan menutupi mengenai kehidupan
prajanya. Semoga kejadian yang menimpa Wahyu Hidayat benar-benar yang
terakhir kalinya. (Arie Adhitiya)**

--[YONSATU - ITB]----------------------------------------------------------
Online archive : <http://yonsatu.mahawarman.net>
Moderators     : <mailto:[EMAIL PROTECTED]>
Unsubscribe    : <mailto:[EMAIL PROTECTED]>
Vacation       : <mailto:[EMAIL PROTECTED]>


Kirim email ke