Jadi teringat diskusi tentang industri strategis beberapa waktu yang lalu. Kalau baca artikel di bawah ini, jelas Pindad adalah industri strategis. Membacanya pun membuat kita bangga. Bayangkan ada APC yang tidak sampai US $ 40.000 harganya. Tetapi, dari artikel ini pun terlihat, strategisnya itu hanyalah kalau dilihat dari sudut pandang pertahanan saja. Itu pun hanya pertahanan konvensional saja, bukan pertahanan dalam arti luas, ketahanan nasional.
Kalau dilihat dari sudut ketahanan nasional, maka BUMN Sang Hyang Seri, misalnya, yang memproduksikan bibit padi unggul, tentulah 1000 kali lebih strategis dari IPTN (PT DI). Sementara di lain pihak, banyak orang selalu menyebut-nyebut IPTN sebagai industri strategis. Jadi, memang frasa (phrase) "industri strategis", atau "BUMN strategis", itu hanyalah frasa yang maya... Wasalam. ====================================== SUARA PEMBARUAN DAILY PT Pindad (Perindustrian Angkatan Darat), di Bandung tengah menyiapkan peluncuran kendaraan taktis (rantis) tahan peluru APC (Armored Personnel Carrier) hasil rancangan sendiri untuk ikut berparade pada Hari ABRI 5 Oktober mendatang. Kendaraan taktis untuk pengangkut personel sebanyak 14 orang ini terbuat dari baja anti peluru setebal 10 mm dan menggunakan mesin truk buatan Jerman. Harga kendaraan ini Rp 500 juta per unit. Produksi kendaraan APC buatan Pindad ini bersama dengan senjata laras panjang jenis SS-2 V1 dan SS-2 Marinize (keduanya berkaliber 5,56 x 45 mm), Sniper 7,62 mm, serta General Purpose Machine Gun (GPMG) akan menjadi 4 produk andalan Pindad untuk tahun 2003. Seperti yang diungkapkan oleh Panglima TNI kepada Iptek.Net, saat mengikuti inspeksi dan uji coba keempat produk andalan Pindad itu, mutu produk buatan Pindad kini semakin membaik mutunya. Terpenting lagi dengan kemandirian dalam kemampuan untuk berproduksi alat militer, Indonesia tidak perlu bergantung kepada teknologi persenjataan dari negara asing tertentu. Untuk tahap pertama TNI kini tengah memesan 40 unit kendaraan taktis APC dari 100 unit target yang dibutuhkan dan telah menyiapkan anggaran Rp.20 miliar. Sedangkan order senjata tempur TNI untuk tahapan yang sama baru tersedia dana guna mencukupi kebutuhan peralatan senjata 60 batalion - atau 40 persen dari total 140 batalion TNI yang tersebar di seluruh pelosok negeri - berhubung keterbatasan anggaran yang ada. PT Pindad yang berkantor pusat di Bandung pada akhir tahun 1980-an termasuk dalam kelompok industri strategis yang dibawahi oleh BPIS (Badan Pengelola Industri Strategis), yang kini telah bubar. Bagi pemerintah, industri persenjataan militer dipandang memiliki nilai strategis penting, yakni untuk menjadikan Indonesia berkemampuan menghasilkan produksi peralatan militer secara mandiri. Pada tahap awal Pindad terbatas dapat memproduksi amunisi dan senapan ringan model M-16, senapan tempur prajurit zaman Perang Vietnam akhir tahun 1960-an, di bawah lisensi negara asing pembuatnya. Pindad kini mampu mengembangkan kemampuan sehingga mampu merancang sendiri dan memproduksi peralatan militer berat seperti halnya kendaraan taktis tempur APC. Selama ini pemesan senjata buatan Pindad adalah TNI dan Polri. (YC/L-6) --[YONSATU - ITB]---------------------------------------------------------- Online archive : <http://yonsatu.mahawarman.net> Moderators : <mailto:[EMAIL PROTECTED]> Unsubscribe : <mailto:[EMAIL PROTECTED]> Vacation : <mailto:[EMAIL PROTECTED]>
