Widya �astrena Dharmasiddha !

At 22:52 12-11-2003 +0700, "Edy Christiono" wrote:

>saya muslim, istri dan anak2 saya kristen.......sejauh ini aman-aman
>saja...........

Ayah saya Muslim, Ibu saya Protestan. Saya dan adik dipersilakan memilih apa
yang akan dianut. Sampai dengan SMA, saya suka mengikuti Mata Pelajaran
Agama Islam, walau pada usia SD sudah dibaptis di gereja. Bagi saya,
mempelajari apa pun ada manfaatnya. Lagi pula, kami dibesarkan dalam komplek
sebuah BUMN, yang heterogen dalam hal agama.

Sepengetahuan saya -entah pada surah apa dinyatakan dalam Al Qur'an- memang
pria Muslim tidak boleh menikah dengan wanita ahli kitab. Kalau boleh tahu,
bagaimana tahapannya, sehingga Anda menikah dengan wanita Kristen ?


>saya yakin jika memang Tuhan ada tentunya di
>kehidupan kekal nanti nggak bagi-bagi kapling seperti real estate

Sampai saat ini, masih merupakan misteri bagi saya, bagaimana tiap-tiap
orang bisa meyakini mengenai sesuatu yang berada di luar dirinya. Termasuk
dalam hal ini adalah yang atheis. Bagi saya, komunis atau sosialis tidak
berarti tidak beragama atau tidak memiliki keyakinan mengenai kekuatan lain
di luar dirinya. Sebaliknya, yang menyatakan diri beragama -dst...- belum
tentu mengikuti syariat yang seharusnya mereka patuhi.

Masih dalam nada yang sama, saya pernah bertanyatanya, bagaimana mungkin ada
tentara -yang salah satu kewenangan yang diberikan padanya adalah boleh
membunuh dalam menjalankan tugasnya- yang menjalankan kehidupan sesuai
keyakinannya.


>kalau sudah kemaleman dan masih nyanyi keras-keras
>ngganggu tetangga....."jumpmaster"nya  sukris keluar..........turun ke bawah
>dan berkata "maaf saudara-saudara sekalian sudah malam jangan keras-keras
>nyanyinya , cukup sudah,   sekarang waktunya saudara-saudara  pulang !!!!!!"
>pulang...........

Dalam mengikuti ibadah-ibadah keluarga -mingguan, dibagi dalam sektor sesuai
pengelompokan tempat tinggal, merupakan rangkaian ibadah umum pada hari
Minggu- saya sering merasa kurang sreg ketika seusai ibadah -sekitar 20:30-
diikuti dengan berlatih paduan suara. Tidak begitu menjadi masalah -menurut
saya- kalau para tetangga juga Kristen. Tapi kalau bukan, maka saya
menganggap hal itu sudah mengganggu.

Pada kesempatan Hari Raya Idul Fitri, saya menyadari bahwa warga sektor yang
saya kenali ternyata tidak mengunjungi warga Muslim yang tinggal bertetangga
dengan gereja. Saya kira hal itu kurang baik, sehingga pada tahun berikutnya
saya berprakarsa mengunjungi keluarga Ketua RT.

Bangsa kita memang masih membutuhkan didikan mengenai bagaimana caranya
hidup saling menghargai. Paling tidak Korps bisa diharapkan untuk berjalan
paling depan dalam hal ini. Dengan demikian, tugas para penerus kita akan
menjadi lebih mudah karena kita sudah memulainya. Okeeh ?
:-)


Sharif Dayan


--[YONSATU - ITB]----------------------------------------------------------
Online archive : <http://yonsatu.mahawarman.net>
Moderators     : <mailto:[EMAIL PROTECTED]>
Unsubscribe    : <mailto:[EMAIL PROTECTED]>
Vacation       : <mailto:[EMAIL PROTECTED]>


Kirim email ke