Pak Aden, pak Suryadi Siregar dkk yang lagi "gregetan" tentang korupsi.

Berikut ini dari milis tetangga yang memperlihatkan ketidak adilan di negeri
kita tercinta ini. Di satu pihak orang asing mendapat perlakuan istimewa,
tetapi di pihak lain kawan/kerabat/saudara kita yang saat ini mencari nafkah
di PTDI terancam kelangsungan masa depannya.....

Setelah selesai membaca smoga gregetannya hilang atawa sebaliknya...?

Salam
Asodik

----- Original Message -----
From: <[EMAIL PROTECTED]>
To: <[EMAIL PROTECTED]>; <[EMAIL PROTECTED]>
Sent: Friday, November 14, 2003 8:57 AM
Subject: [ekonomi-nasional] TEXMACO- UNTOLD STORY


> Is this a true story of TEXMACO?
> If it is so, what would be happening to all BUMN which were sold to
balance
> our APBN?
>
> ============================================================
>
> Kepada Yth:
> Ketua BPPN (Badan Penyehatan Perbankan Nasional)
> di Jakarta
> Tembusan:
> 1. Ketua DPR  RI
> 2. Ketua MPR RI
> 3. Media massa
>
> KASUS DI BALIK HUTANG TEXMACO GROUP
> Kepada Yth. Ibu/Bapak sekalian, Kami segenap karyawan dan ex karyawan 
> Texmaco Group memohon bantuan kepada Bapak/Ibu untuk dapat ikut 
> mengungkap Kasus Di Balik Hutang Texmaco Group.
>
> Kami sangat sedih dan tidak rela kalau pemerintah dengan gampang dan 
> tanpa pertimbangan matang mengucurkan kredit baru kep erusahaan di 
> bawah Texmaco group karena kami merasa yakin bahwa itikad baik dari 
> pihak manajemen/pemilik perusahaan sama sekali tidak ada.
>
> DIBALIK RENCANA DEMO KARYAWAN TEXMACO.
> Karyawan Texmaco berdemo diatur dengan rapi oleh pihak Manajemen 
> (Expatriat). Dengan adanya rencana demonstrasi karyawan Texmaco Group, 
> kami sebagian di antara ex karyawan dan karyawan Texmaco sangat yakin 
> kalau
demo
> ini benar-benar bukan aspirasi dari mayoritas karyawan Texmaco. 
> Tuntutan yang diajukan sangat tidak masuk akal. Jika murni dari 
> aspirasi karyawan Texmaco seharusnya yang dituntut adalah pimpinan 
> Texmaco Group sendiri untuk membubarkan/memulangkan karyawan Expatriat 
> yang jumlahnya sangat banyak.
>
> Berikut adalah sekilas gambaran pemborosan yang terjadi di Texmaco 
> Group yang sudah berjalan lebih dari 30 tahun. Gambaran gaji dan 
> fasilitas apa saja yang mereka dapatkan berikut perkiraan biaya yang 
> kami ambil secara rata-rata perbulan. Data ini kami dapatkan dari 
> rekan yang masih bekerja di Texmaco dan memiliki akses informasi 
> Expatriat secara
mendetail.
> 1.  Gaji rata-rata: $4 000/bulan (= 34 juta/bulan)
> 2.  Rumah/Apartemen (perabot lengkap): Rp 4 Juta/bulan
> 3.  Telepon, Listrik, PAM: 3 Juta/bulan
> 4.  Mobil dinas: 5 Juta/bulan
> 5.  Pengemudi: 1.5 Juta/bulan
> 6.  Telepon Genggam: 3 Juta/bulan
> 7.  Transportasi: 2 Juta/bulan
> 8.  Pelayanan Kesehatan: 2 Juta/bulan
> 9.  Sekolah Anak (Internasional): 2 Juta/bulan
> 10. Tiket pesawat untuk cuti (1 bulan dalam setahun): 3 Juta/bulan (36
> Juta/tahun)
> 11. Tiket pesawat, hotel, perpanjangan KIM S di Singapura: � 
> Juta/bulan
(6
> Juta/tahun)
>
> Total biaya yang dikeluarkan per orang Expatriat: 60 Juta/bulan 
> Dikalikan jumlah Expatriat 400 orang = 60 Juta x 400 = Rp 24 Miliar (3
Juta
> Dollar/bulan).
>
> Jumlah Expatriat yang 400 orang berarti hanya 1% (SATU PERSEN) dari 
> total seluruh karyawan Texmaco Group yang berjumlah 40.000 orang.
>
> Sedangkan biaya yang dikeluarkan untuk mereka (Expatriat) lebih dari 
> 70% dari total pengeluaran gaji/fasilitas seluruh karyawan Texmaco 
> yang  40.000 orang!!!
>
> Ini jelas-jelas merupakan pemborosan uang yang akhirnya rakyat 
> Indonesia juga yang harus menanggungnya (hal ini mengingat hutang 
> Texmaco Group merupakan beban seluruh rakyat Indonesia).
>
> Tanpa memojokkan etnis tertentu (dalam hal ini etnis India), Expatriat 
> yang jumlahnya lebih kurang 400 orang tersebut 95% adalah warga negara
> India yang disinyalir kuat adalah keluarga, saudara, kerabat dll dari
> pendiri Texmaco Group (Sinivasan).
>
> Kami tidak keberatan bila Expatriat menduduki posisi 
> strategis/struktural dengan jangka waktu tertentu berdasarkan keahlian 
> yang dimilikinya, tetapi Expatriat di Texmaco Group dapat kami 
> jelaskan ceritanya sebagai berikut :
>
> 1. Sebagian besar dari mereka yang tidak kompetences
> 2. Mayoritas menduduki/menjalankan pekerjaan administrasi (dengan gaji 
> Dolar!!) 3. Banyak di antara mereka yang sudah bekerja lebih dari 5 
> tahun bahkan banyak yang sudah lebih dari 15 tahun tanpa kejelasan 
> kapan mereka akan dipulangkan setelah alih keahlian/teknologi.
> 4. Mereka tidak didampingi karyawanI ndonesia untuk diposisikan
> menggantikan mereka.
> 5. Bahkan yang kami sangat sesalkan, mereka sama sekali tidak
> mendidik karyawan Indonesia.
> 6. Yang lebih parah lagi, sangat sering dijumpai Expatriat asal
> India ini yang baru direkrut ke texmaco TANPA SKIL/KEAHLIAN, sehingga
lebih
> banyak keahlian justru mereka dapatkan sewaktu bekerja di perusahaan 
> ini. Melalui berbagai pengamatan, kami berkesimpulan bahwa Expatriat 
> yang dipekerjakan di Texmaco Group sbb:
>
> 1. Mereka digunakan untuk memperkuat posisi pemilik (keluarga 
> Sinivasan) karena jelas loyalitas mereka akan lebih besar ke pemilik 
> karena ditunjang dengan gaji & fasilitas yang sangat besar 2. Mereka 
> dapat menutupi kecurangan-kecurangan permainan uang dalam perusahaan
> 3. Dengan jumlah Expatriat yang besar dan loyal terhadap pemilik
> maka mereka dapat meredam gejolak-gejolak karyawan Indonesia di dalam
> perusahaan.
>
> KESIMPULAN
> 1. Texmaco sudah beroperasi lebih dari 30 tahun. Bayangkan saja 
> sebelum krisis moneter tahun 1997, jumlah Expatriat lebih dari 800 
> orang. Jika selama 25 tahun (1972 s/d 1997) kita coba hitung secara 
> kasar biaya yang dikeluarkan untuk menggaji Expatriat adalah sebagai 
> berikut: Rp 60 Juta/bulan per satu Expatriat = $ 7000/bulan/Expatriat 
> (dikonversikan ke Dolar dengan nilai uang riil seperti saat ini = 
> 8.500
> rupiah)
> 800 orang x $7000 x 12 bulan x 25 tahun = $ 1.680.000.000 (1,68 Miliar
> Dolar!!!)
> (dengan konversi yang sama) berarti 14 TRILLIUN RUPIAH!! uang hasil
> hutang Texmaco Group telah melayang untuk menggaji Expatriat India.
>
> Jumlah ini sendiri sudah SEPARUH DARI total hutang Texmaco Group yang 
> sebesar 29 TRILLIUN RUPIAH.
>
> Dalam istilah Finance ini bisa disebut CAPITAL FLIGHT secara 
> BESAR-BESARAN!! baru melalui arus gaji Expatriat saja (yang saat ini 
> kami amati)
>
> 2. Untuk skenario kucuran dana (bila dikeluarkan oleh pemerintah atas 
> desakan demo tunggangan tersebut) untuk ke depannya, maka bisa 
> diperhitungkan bahwa tiap $ 120 Juta (sekitar hampir 1 Trillin Rupiah)
dana
> dari pemerintah hanya akan dihabiskan untuk menggaji Expatriat selama  
> waktu 3 tahun saja!!
>
> Bayangkan saja kucuran dana dari pemerintah dalam program 
> restrukturisasi hutang yang lalu sebesar `hanya' 25 Juta Dolar (tahap 
> I)t entunya sudah dihabiskan hanya untuk membayar gaji/fasilitas 
> Expatriats elama kurang dari 9 bulan !!
>
> 3. Lucunya bila hal mengenai Expatriat ini ditanyakan ke Direktur HRD 
> kami, kami yakin dianya sendiri tidak mempunyai akses informasi karena 
> (lucunya lagi) administrasi untuk pegawai Expatriat ditangani oleh 
> departemen khusus yang dikendalikan ole seorangE xpatriat manajer 
> (dengan staf-staf yang juga Expatriat) di mana Direktur HRD (yang 
> merupakan pegawai
> Indonesia)
> tidak membawahi Manager Expatriat tersebut. Tentunya dengan demikian 
> direktur HRD kami juga tidak mengetahui besar biaya/gaji/fasilitas 
> yang dibayarkan Texmaco Group untuk Expatriat.
>
> 4. Pengerukan uang rakyat dari kucuran dana hutang nampaknya telah 
> menjadi PROFESI dari Manajemen Texmaco Group, terbukti dari 
> ketidakpedulian Manajemen untuk melakukan perbaikan-perbaikan di dalam 
> perusahaan ataupun paling tidak melakukan pengiritan biaya dengan 
> memulangkan Expatriat. Setiap kali terjadi kekurangan modal kerja 
> (yang tentunya akibat dari pemborosan tersebut), penyelesaian yang 
> dilakukan selalu melalui
pendekatan
> politik uang ke pejabat negara agar memberikan kucuran hutang terus 
> menerus. Bahkan kali ini mereka tidak malu-malu menggunakan 
> keroncongan  perut 40.000 karyawannya untuk mendapatkan kucuran hutang 
> lagi.
>
> 5. Texmaco Group hanya layak dioperasikan lagi bila organisasi di
manajemen
> dihapuskan dari unsur-unsur manajemen/Expatriat yang korup dan 
> pembuangan uang sia-sia tanpa imbalan keahlian yang sepadan.
>
> 6. Kami bersedia membeberkan seluruh nama-nama Expatriat yang bisa 
> ditindaklanjuti dengan penyelidikan lebih lanjut untuk membuktikan 
> kebenaran pernyataan kami di atas. Untuk keperluan informasi lebih 
> lanjut, seterusnya kami akan menggunakan email 
> [EMAIL PROTECTED] <mailto:[EMAIL PROTECTED]>
> hingga dilakukan perubahan email bila diperlukan.
>
> 7. Kami juga 100% yakin bahwa putra-putri bangsa yang sekarang masih 
> bekerja di Texmaco BISA menjalankan perusahaan ini tanpa Expatriat 
> satupun. Kami juga mengharapkan bila Texmaco ini dihidupkan lagi oleh 
> pemerintah,  putra-putri terbaik bangsa (yang bukan pegawai Texmaco
> sekarang)
> bisa ditarik untuk membangun Texmaco untuk menjalankan laju perusahaan
aset
> nasional ini.
>
> 8. Kami tidak rela melihat ribuan rekan-rekan kami (karyawan 
> Indonesia) yang dirumahkan dan terkena PHK namun hingga sekarang uang 
> pesangon mereka  tidak dibayarkan( dengan alasan kekurangan uang kas). 
> Di lain pihak, jumlah Expart tidak dikurangi satupun, bahkan cenderung 
> bertambah makin banyak, di mana gaji Expatriat tetap dibayarkan penuh.
>
> Seharusnya karyawan yang sekarang masih bekerja di Texmaco lebih rela 
> berkorban kehilangan pekerjaan daripada hidup melihat uang rakyat 
> Indonesia dihisap habis-habisan oleh ketidakadilan yang kami telah 
> gambarkan di atas. Kami juga berdoa agar para karyawan dapatb erpikir 
> jernih, dapat menerima pahitnya (bila Texmaco terpaksa ditutup 
> selamanya) demi berhentinya kecurangan-kecurangan yang dilakukan 
> Manajemen Texmaco.
>
> Namun tentunya kami bisa lebih berbahagia bila Texmaco dapat kembali 
> berjalan baik, bagaimanapun sebagian besar dari kami telah 8-12 tahun
> bersama Texmaco. Tentunya setelah dilakukan perombakan dan perampingan
> manajemen besar-besaran yang bisa membawa Texmaco menjadi perusahaan
> terkemuka dan sebenar-benar aset nasional (bukan slogan "aset nasional"
> rekayasa
> pihak manajemen/pemilik Texmaco saat ini).
>
> Bila Texmaco kelak bisa bangkit kembali, kami yang sudah dikenakan 
> PHKmaupun dalam status dirumahkan bersedia dipanggil kembali bila 
> diperlukan (sehubungan dengan pengetahuan & pengalaman teknis dan 
> system kami di perusahaan), bila pun tidak bukan masalah karena 
> kebanyakan dari kami sudah mendapatkan pekerjaan di tempat lain.
>
> Hormat kami,
> Korps ex karyawan dan karyawan Texmaco yang berintegritas dan tidak 
> mempan sogokan.
>
>
> Kampanye open-source Indonesia - http://www.DariWindowsKeLinux.com 
> Solusi canggih, bebas ikatan, dan bebas biaya 
==========================================================

-----Original Message-----
From: Suryadi Siregar [mailto:[EMAIL PROTECTED] 
Sent: Friday, November 14, 2003 10:52 AM
To: [EMAIL PROTECTED]
Subject: [yonsatu] Re: Re Re: Iran (Re: Re: Sekularisme) & Korupsi

Bang Aden  dkk
Maaf numpang lewat, kalau diskusi tentang korupsi aku ikut gatal untuik 
nulis. Biang kerok dari semua permasalahan dinegara kita ini ada pada 
pembinaan SDM yang amburadul. Coba lihat institusi yang bertanggung jawab 
dalam pembinaan intelektualitas dan moral bangsa adalah yang paling korup di

republik ini. Juara dari tahun ke tahun selalu Depdiknas atau Departemen 
Agama. Untuk Depdiknas sendiri, Media Indonesia kemarin(rabu atau 
kamis?)mengungkapkan korupsi terbanyak ada di Direktorat Pendidikan Tinggi. 
Jadi biang kerok semua ini ternyata didominasi oleh golongan terpelajar,yang

banyak bergelar Prof.Dr.KH .. Kasihan bangsa ini sudah membiayai PT 
lulusannya ternyata banyak jadi...maling, he..he
Salam
Suryadi 

Aden Ottoloewa writes: 

>  
> 
>> Saya ingin kembali pada "kepercayaan" saya dan pernah saya kemukakan
>> dalam milis ini, bahwa sumber ketidak beresan di Tanah Air tercinta ini
>> adalah KEMISKINAN. 
>> 
>> >Tidak semuanya, mas. Yang paling membikin Tanah Air tercinta ini 
> _berantakan_ adalah hampir semua (sorry)yang menjadi: pejabat, pemimpin, 
> wakil rakyat _bermental buruk_ , yang penting aing mah dapat .... 
> teruskan sendiri, perioda berikut masih/harus dipilih lagi oleh ...gang 
> gue. sorry yaa mas-mas, akang-akang pemimpin, komamdan, dan pejabat. 
> please... pikirkan dan tengoklah hati nurani anda. 
>>  
>> 
>>  
>> 
>> -----Original Message-----
>> From: Syafril Hermansyah [mailto:[EMAIL PROTECTED] 
>> Sent: Thursday, November 13, 2003 4:30 PM
>> To: [EMAIL PROTECTED]
>> Subject: [yonsatu] Re: Iran (Re: Re: Sekularisme) & Korupsi 
>> 
>> 
>> On Thu, 13 Nov 2003 11:48:57 +0700
>> Abdullah Sodik <[EMAIL PROTECTED]> wrote: 
>> 
>> [ ... ] 
>> 
>> > Jadi menurut hemat saya, gambaran kasar tersebut memberi indikasi 
>> > bahwa tinggi-rendahnya korupsi tidak banyak berkait dengan agama, 
>> > tetapi lebih terkait dengan tatanan hukum yang jelas dan tegas yang 
>> > diiringi penegakan hukum berat terhadap para koruptor. 
>> 
>> Mungkin benar begitu ...tp adakah yg tahu kriteria "korupsi" yg
>> digunakan oleh Global Corruption Index atau Transparency International
>> Index seperti apa ? 
>> 
>> Tolok ukur kita terhadap sesuatu sangat dipengaruhi oleh lingkungan.
>> Misalkan saja orang-2x yg lama bekerja di rumah sakit, maka kriteria
>> (dan tolok ukur) dia dalam menentukan seseorang sakitnya "parah" atau
>> tidak parah akan berbeda dg orang biasa; shg sering kita jadi "gemes"
>> melihat perawat yg lamban beresponse padahal pasiennya sudah parah. 
>> 
>> Kita sering mendengar akhir-2x ini mengenai betapa malangnya negeri ini
>> krn departemen yg mendidik kita (depdiknas), yg mengurusi soal moral
>> (dep. agama), yg mengurusi kesehatan (DepKes) dan mengadili
>> benar/tidaknya (DepKeh dan Kejaksaan) mrpkan departemen terkorup di
>> negeri ini. Tentu saja mereka tidak berpendapat seperti itu, dan ini
>> akibat perbedaan kriteria (tolok ukur). 
>> 
>> Saya dulu sempat berpendapat bahwa kalau kita bisa berantas korupsi
>> (KKN) maka produktifitas anak negeri ini akan meningkat, tp setelah
>> saya
>> pikir ulang pendapat itu tidak bagus. Dg pola berpikir seperti itu maka
>> kita jadi terperangkap kepada hal-2x negatif yg justru merusak
>> produktifitas. 
>> 
>> Mestinya semua orang berpikir soal pencapaian target, dan membuat tolok
>> ukur pencapaiannya; shg semua orang berlomba-lomba mencapai tolok ukur
>> tsb dan tidak lagi punya waktu untuk melakukan korupsi. Transparansi
>> juga akan mencegah niatan berkorupsi, plus meningkatkan semangat
>> kompetisi dalam pencapaian target. Siapa yg tidak bisa memenuhi
>> kriteria
>> produktifitas dalam kurun waktu tertentu, ya langsung mundur jabatan
>> ...
>> terlihat jelas ukurannya, terlihat jelas maslahatnya bagi orang banyak. 
>> 
>> 
>> -- 
>> syafril
>> -------
>> Syafril Hermansyah 
>> 
>> 
>> --[YONSATU -
>> ITB]----------------------------------------------------------
>> Online archive : <http://yonsatu.mahawarman.net>
>> Moderators     : <mailto:[EMAIL PROTECTED]>
>> Unsubscribe    : <mailto:[EMAIL PROTECTED]>
>> Vacation       : <mailto:[EMAIL PROTECTED]> 
>> 
>> 
>> --[YONSATU -
>> ITB]----------------------------------------------------------
>> Online archive : <http://yonsatu.mahawarman.net>
>> Moderators     : <mailto:[EMAIL PROTECTED]>
>> Unsubscribe    : <mailto:[EMAIL PROTECTED]>
>> Vacation       : <mailto:[EMAIL PROTECTED]> 
>> 
>> 
>  
> 
> 
> --[YONSATU -
ITB]----------------------------------------------------------
> Online archive : <http://yonsatu.mahawarman.net>
> Moderators     : <mailto:[EMAIL PROTECTED]>
> Unsubscribe    : <mailto:[EMAIL PROTECTED]>
> Vacation       : <mailto:[EMAIL PROTECTED]> 
> 
> 
 


Dr. Suryadi Siregar DEA
Department of Astronomy
Bandung Institute of Technology
Jl. Ganesha 10
Bandung 40132
tel:+62-22-2511576; fax : +62-22-2509170
mp: +62-818-212178 ; e-mail:[EMAIL PROTECTED]
 ----------------------------------------------------------------- 


--[YONSATU - ITB]----------------------------------------------------------
Online archive : <http://yonsatu.mahawarman.net>
Moderators     : <mailto:[EMAIL PROTECTED]>
Unsubscribe    : <mailto:[EMAIL PROTECTED]>
Vacation       : <mailto:[EMAIL PROTECTED]>


--[YONSATU - ITB]----------------------------------------------------------
Online archive : <http://yonsatu.mahawarman.net>
Moderators     : <mailto:[EMAIL PROTECTED]>
Unsubscribe    : <mailto:[EMAIL PROTECTED]>
Vacation       : <mailto:[EMAIL PROTECTED]>


Kirim email ke