Ah Mas Herman ini.., maaf ......kalau diperhatikan, Mas Herman kok sangat
"naif"  sekali  tentang agama,dan kelihatannya  memang "cenderung" apriori
.
Mudah-mudahan anda tidak punya pengalaman "traumatik" dengan agama dimasa
kecil atau saat ini.

Tindakan pelanggaran hukum dan pelaksanaan amal ibadah jangan dicampur aduk
mas Herman, mungkin mas Herman berpikir tentang konsep pahala dalam amal
ibadah, konsep "impas" dengan adanya pahala dalam amal ibadah dan perbuatan
tercela.
 Amal ibadah  dalam agama bukan seperti  transaksi  mas Herman, setelah
melanggar hukum-kemudian melakukan ibadah, terus..... impas? Ulang lagi,
impas lagi? Ah... Mas Herman ini naif sekali.
Pelanggaran hukum dan amal ibadah seseorang dihadapan Tuhan punya
hitungannya sendiri, punya hakim sendiri, bukan disini.

Mas Herman  mengatakan karena mereka mengerti semua itu, mereka
melakukannya dan menjadi pemeluk agama yang saleh.
Dalam islam kita tidak bisa menjustifikasi diri kita sendiri, menjadi hakim
yang bisa menilai posisi diri dihadapan Tuhan.
 Seseorang yang beragama islam selama dia masih hidup dia tidak bisa
mengklaim dirinya lebih baik atau shaleh dari yang lain.
Seseorang  yang sejak  usia 5 tahun sudah melakukan amal ibadah secara
rutin, dihadapan Tuhan belum tentu lebih baik dari teman Mas Herman yang
barangkali baru dua tahun melaksanakan ibadah.

Salah satu   konsep pelaksanaan amal ibadah   dalam agama islam,   adalah
karena "cinta",  you do it because you love to do it, and you don't expect
anything  by doing it.
Gampangnya gini, di dunia yang kita cintai siapa, anak/istri/orang
tua/teman, kalau mereka meminta sesuatu, kita akan dengan senang hati
melakukannya  dan tidak  mengharapkan imbalan dari  mereka.
Kalau amal ibadah kita karena cinta, kita tidak akan "berhitung" mas Herman
( mudah-mudah ini tidak terlalu absurd buat mas Herman).

Mas Herman pernah lihat ayat-ayat Tuhan dalam  kitab suci, nggak? Al-Qur'an
misalnya,
Di Al-Qur'an, dijelaskan, bahwa Mas Herman terbentuk dari setetes mani,
bagaimana bumi terjadi dan berputar dalam orbitnya, dlsb.
Di dalam Al-Qur'an diberikan pengetahuan yang sangat luas kepada manusia
(yang sudah dirangkum 14 abad yang lalu), kalau mas Herman punya Al-Qur'an
coba  jangan hanya dilihat isinya, coba dibaca anggap saja dulu sebagai
pengetahuan umum bagi mas Herman.
Kalau Mas Herman gak punya Al-Qur'an, beli dulu atau pinjam sama teman.
Kalau  tertarik yang sedikit ilmiah, cari "The Bible, Science and Al
Qur'an" oleh Dr. Maurice Bacall

Ayat-ayat Tuhan memang tujuannya bukan untuk membuat manusia jera kok, dia
hanya memberi bimbingan hal baik dan buruk dalam kehidupan dunia dan  bukan
untuk di akhirat , anggap sama aja deh dengan UU negara .
Kalau tidak diikuti? ya nggak apa-apa
 And...as a person, you are free to choose ,to be good or bad people.
UU negara kalau anda bersalah melanggar hukum, tertangkap, diadili dan
kemungkinan dihukum. UU Tuhan cukup "bijaksana" dia tidak akan langsung
menghukum anda.
Saya kutip kata Mas Herman dibawah : "Yang akan membuat manusia jera
didunia adalah peraturan yang dibuat oleh manusia sendiri (dengan inspirasi
dari Tuhan(masih butuh , nih?)) yang diterapkan  dengan sungguh dan
konsisten".
Peraturan dibuat oleh siapapun tentu tujuannya pasti baik, tapi seberapa
besar sih kemampuan manusia menerapkan secara konsisten?

Peraturan bukan satu-satunya mas Herman, coba mas Herman perhatikan,
kondisi pelanggaran hukum banyak terjadi di negara  yang penduduknya miskin
dan tingkat pendidikannya masyarakatnya rendah.
Yang kaya dan pintar akan mengexploitir yang miskin dan bodoh, si kaya dan
si pintar akan mengendalikan sistem dan hukum sesuai kebutuhannya.
Perhatikan tetangga kita Singapura, Malaysia, atau negara maju,kalau basic
needs masyarakat sudah tercapai, penegakan hukum secara konsisten
sebagaimana harapan mas Herman akan menjadi suatu kebutuhan.
Sabar ya dulu mas.....,

Dan satu lagi mas Herman,  jangan under estimate terhadap agama mas.
Kalau ada yang tidak beres dengan sistem sosial masyarakat, bukan agama nya
yang mesti digusur, agama nggak salah mas ,barangkali perlu ditingkatkan
pemahaman agama pemeluknya supaya  tidak dangkal dan konsisten.

Percaya deh mas Herman, sooner or later agama itu akan menjadi kebutuhan
personal seseorang, kalau mas Herman belum, mungkin nanti..
Pemahaman agama secara mendalam harus mulai  dari diri sendiri, itupun
kalau kita mau.


Salam Kenal
Hudaya
Ekek XIII






,


                                                                                       
                                       
                      [EMAIL PROTECTED]                                                
                                        
                      com                      To:      [EMAIL PROTECTED]              
                                  
                                               cc:                                     
                                       
                      02/24/2004 06:07         Subject: [yonsatu] Re: yonsatu Digest 
V4 #53 & Sorga/Neraka                    
                      PM                                                               
                                       
                      Please respond                                                   
                                       
                      to yonsatu                                                       
                                       
                                                                                       
                                       
                                                                                       
                                       




Ah cak Sodik ini, maaf,  'naif' sekali...  Mereka2 yang melakukan korupsi
itu (dan tindakan2 melanggar hukum lainnya) apakah lupa sama amal ibadah?
Apakah lupa sama sembahyang 5 waktu?  Apakah lupa pergi naik haji? Apakah
lupa sembahyang jumat atau ibadah minggu di gereja,dlsb?
Justru karena mereka mengerti semua itu, mereka menjadi pemeluk agama yang
saleh.  Setelah melanggar hukum, mereka lalu beribadah.  Yaa, mirip katak
saja, siang2 cari makan didalam air, malam2 cari makan didaratan.

Menurut saya, ayat2 Tuhan nggak akan membuat manusia jera didunia ini
(lain hal di akhirat, tapi ini baru terjadi di waktu dan di alam lain,
sementara korban atas perbuatan ybs. telah bergelimpangan).  Yang akan
membuat manusia jera didunia adalah peraturan yang dibuat oleh manusia
sendiri (dengan inspirasi dari Tuhan) yang diterapkan dengan sungguh2 dan
konsisten.

Indonesia perlu orang2 yang punya nyali untuk menerapkan hukum secara
konsisten dan tanpa pandang bulu.  Menurut saya hanya inilah resep
utamanya.  Yang lain2nya adalah obat tambahan atau vitamin.

Salam hangat,
HermanSyah XIV.






Abdullah Sodik <[EMAIL PROTECTED]>
02/24/2004 10:03
Please respond to yonsatu


        To:     "'[EMAIL PROTECTED]'" <[EMAIL PROTECTED]>
        cc:
        Subject:        [yonsatu] Re: yonsatu Digest V4 #53 & Sorga/Neraka


Pak Harry Kusna, yth.

Bagaimana kalau rangkaianya dibuat sesuka hati kita, misalnya:

1). Malas-bodoh-miskin-jahat-merampok(karena terpaksa/sengaja)- lolos dari
dipenjara-kaya-beramal-......masuk surga...?.

Atau,
2). Malas-bodoh-miskin-jahat-merampok(karena terpaksa/sengaja)-
dipenjara-miskin....masuk neraka...?


Sedangkan kalau
3). Rajin-pintar-kaya-korupsi (karena
terpaksa/sengaja)-dipenjara-miskin....masuk neraka...?

Atau,
4). Rajin-pintar-kaya-korupsi (karena terpaksa/sengaja)-lolos dari
dipenjara-kaya-beramal-....masuk surga...?

5). Dsb... dsb

Jadi ternyata tiket ke surga/neraka itu bukan tergantung pada pandai/bodoh
atawa kaya/miskin yah pak, tetapi "beriman serta beramal saleh" serta
"bertakwa".

"Dan orang-orang yang beriman serta beramal saleh, mereka itu penghuni
surga; mereka kekal di dalamnya" (QS Al Baqarah: 82).

"Dan bersegeralah kamu kepada ampunan dari Tuhanmu dan kepada surga yang
luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan untuk orang-orang yang
bertakwa" (QS Ali Imran: 133).

Orang kaya/miskin itu ibarat masuk supermarket, ketika di pintu kasir maka
orang kaya lebih lama "dihitung (dihisab) belanjaannya", karena lagi
"mborong". Sementara orang miskin relative cepat "dihitung belanjaanya"
karena yang dibeli cuma sepotong roti.....

Salam
Asodik



--[YONSATU - ITB]---------------------------------------------
Arsip             : <http://yonsatu.mahawarman.net>  atau
                  <http://news.mahawarman.net>
News Groups : gmane.org.region.indonesia.mahawarman
Other Info  : <http://www.mahawarman.net>







--[YONSATU - ITB]---------------------------------------------      
Arsip           : <http://yonsatu.mahawarman.net>  atau   
                  <http://news.mahawarman.net>   
News Groups     : gmane.org.region.indonesia.mahawarman     
Other Info      : <http://www.mahawarman.net> 
   

Kirim email ke