Dilahin pihak, seperti pengalaman saya, tanpa agama juga orang indonesia gak
terlalu takut ama hukum kesepakatan bersama.
Malah "lembaga"-nya terkesan melindungi dengan embel2 "masalah pribadi"
padahal jelas2 si "oknum" ini menggunakan "peralatan" mereka.
Akhirnya, tidak bisa cara baik2 seperti manusia biasa, yah pakai "all
available means".

Rizal

----- Original Message ----- 
From: "Yanto R. Sumantri" <[EMAIL PROTECTED]>
To: <[EMAIL PROTECTED]>
Sent: Friday, February 27, 2004 9:15 AM
Subject: [yonsatu] Re: yonsatu Digest V4 #53 & Sorga/Neraka- tanggapan buat
mas Herrmansyah


> Wah asyik juga membaca diskusi antara Hudaya (Ekek XIII) dan Hermansyah
> (Ekek XIV) , mengenai pandangan agama dalam kehidupan "nyata" ,khususnya
> di Indonesia.
>
> Saya samapai sekarang memang masih bertanya - tanya : Ada apa gerangan
> atau apakah ada hubungan(ndak tahu apa linier , hyperbol,kwardat
> terbalik . logorithmic atau apapun) antara banyaknya mesjid , gereja ,
> wihara , majlis ta'lim , pengajian ibu ibu ,bertambahnya wanita
> berjilbab ,  perayaan keagamaan , jumlah jemaah haji yang membludak dst
> dengan tingkat kehancuran republik , tingkat korupsi yang masih tinggi ,
> tingkat ketidak percayaan antar warga , tingkat perkelahian antar
> kelompok  , tingkat perkelahian antar RT ,tingkat pengangguran dsb.
>
> Apakah ada ?
>
> Nah Mas Hudaya , berangkali bisa memberikan pencerahan kepada saya (Ekek
> - III) , bagaimana ????
>
> Mas Hermansyah : Anda merupakan orang yang sangat berfikiran sekuler ,
> dan saya senang bahwa Anda berani mengemukakan hal ini secara  terbuka .
>
> Saya setuju sekali bahwa banyak yang "beramal" kemudian "mencuri" atau
> bahkan mungkin kebanyakan "mencuri" dulu , sambil beramal "malu-malu" ,
> kemudian setelah banyak hasilnya baru kemudian  "beramal - saja".
> Ya macam macam lah, pergi haji berkali - kali , buat pengajian , sedekah
> , dan lain lain yang memperlihatkan 'kesolehan" nya.
>
> Banyak tuh yang begitu disekeliling kita !!!
>
> Jadi Mas Hudaya :
> Jangan salahkan siapapun kalau orang kayak Mas Hermansyah itu bertambah
> banyak ?
> Sebagai orang "beragama' ya harus takut juga doong sama hukum dunia
> (atau istilahnya Mas Hermansyah hukum yang telah disepakati oleh kita
> semua) , jangan takut sama hukum Akhirat saja.
>
> Anda mengambil contoh Singapura dimana hukum dilaksanakn secara
> konsisten !
> Untuk informasi Anda Mas Hudaya  : Orang Singpura itu tidak begitu
> peduli koq sama agama !!!!
>
> Sekali lagi mohon pencerahan atas pertanyaan saya diatas.
>
> Yanto R.Sumantri
> (Ekek - III)
> [EMAIL PROTECTED] wrote:
> >
> > Hallo lagi mas Hudaya,
> > Senang mendapat tanggapan anda.  Disamping itu, sayapun jadi mengenal
> > anda, nggak tahu kalau anda ternyata Ekek XIII, berarti kakak angkatan
> > saya.
> >
> > Melihat subject email anda adalah tanggapan buat saya, tadinya saya mau
> > balas langsung ke japri anda, .  Tapi, karena anda menanggapi saya
secara
> > terbuka, maka saya pikir, saya akan menanggapi juga dulu deh secara
> > terbuka.  Nanti kalau ada kebutuhan untuk diskusi lanjut, barangkali
dapat
> > kita lakukan diantara kita saja, kecuali kalau rekan2 yang lain ingin
> > saling bertukar pikiran juga.
> >
> > Saya coba menanggapi pernyataan2 anda ya mas Hudaya.
> >
> > >Ah Mas Herman ini.., maaf ......kalau diperhatikan, Mas Herman kok
sangat
> > >"naif"  sekali  tentang agama,dan kelihatannya  memang "cenderung"
> > apriori
> >
> > Oo saya terkesan naif ya.  Yah, barangkali karena saya terlalu
> > menyederhanakan masalah ya, dengan mengatakan bahwa kalau sehabis
> > melanggar hukum lalu beramal ibadah, maka segala dosa dihapuskan, dst.,
> > dst.  Saya tahu ini pernyataan yang tidak benar, karena bukan yang
begini
> > yang diajarkan oleh agama bukan?  Tapi, yang banyak terjadi di negeri
kita
> > ini kan ya seperti itu?  Kita nggak bisa lagi membedakan mana amal
ibadah
> > yg murni dan mana yang kotor.  Dan ini sudah berpuluh2 tahun terjadi.
> > Melanggar hukum iya, melakukan amal ibadah dan saling nasihat menasihati
> > dalam hal keimanan juga iya.  Secara umum kelihatannya kan begitu,
persis
> > seperti contoh yang rekan Rizal Ahmad tulis:  "...Bagaimana mungkin
mereka mencoba menulis tentang hukum dan norma
> > tetapi sekaligus melanggarnya."
> >
> > Lantas, apa yang musti kita semua lakukan untuk menyembuhkan penyakit
> > 'berkepribadian ganda' itu?  Karena Indonesia adalah negara republik yg
> > berdasarkan konstitusi, maka saya berkesimpulan bahwa hanya hukumlah
yang
> > dapat dijadikan sebagai obatnya, disamping karena hukum Tuhan toch
> > ternyata nggak mempan juga, padahal gereja, mesjid, candi, kelenteng,
> > vihara ada dimana-mana.  Tapi karena sistem hukum kita ternyata
> > 'carut-marut', segala lubang dan celah dicari-cari agar hukum itu dapat
> > terus menerus dilanggar, maka alih alih dapat dijadikan sebagai obat
> > mujarab, malah kita membutuhkan orang2 yang punya nyali untuk dapat
> > meluruskan pelaksanaan hukum itu.  Ditengah carut marutnya sistem hukum
> > itu, kita pada sisi lain, dari hari kehari, semakin dibanjiri oleh
> > pelbagai macam siraman rohani.  'Berjalanlah di jalan yang benar,
> > sucikanlah hati dan pikiranmu, berbicaralah yang baik2 saja,
> > berperilakulah yang baik2 saja, maafkanlah mereka , doakanlah mereka,
> > takutlah hanya kepada Tuhan saja, dst., dst".
> >
> > Yaa, tentu bagus siraman rohani itu.  Tapi, apakah ini dapat memecahkan
> > persoalan yang kita hadapi saat ini sebagai bangsa?   Apakah ia dapat
> > memecahkan masalah sistem hukum yang carut marut itu?
> >
> > Karena saya mengeluarkan kata sindirian yang seolah2 memojokkan agama
dan
> > terkesan naif itu, maka andapun menduga saya apriori terhadap agama.
Kalau
> > boleh saya jawab, saya nggak pernah apriori terhadap agama, mas Hudaya.
> > Tapi, saya memang tidak mudah percaya sama orang2 yang dengan dalih
agama
> > mencoba mempengaruhi dan/atau mengintimidasi orang lain.  Kita sudah
lihat
> > sendiri, nggak sedikit orang2 yang berkedok 'ulama' itu ternyata
menjilat
> > ludahnya sendiri.  Saya bependapat, bahwa agama tidak jelek dan jahat,
> > akan tetapi, manusia yang menginterpretasikan dan menyebar luaskan agama
> > itulah yang berpotensi membuat agama itu terkesan jelek dan jahat.
> > Terhadap segala kesengsaraan yang kita derita itu, manusialah yang
> > seringkali menjadi penyebab utamanya, diluar bencana alam.  Manusialah
> > yang berpotensi memperbodoh, memperbudak, menipu daya, menyengsarakan
dan
> > menginjak-injak hak azasi manusia, bukan agama!
> >
> > Ini ternyata cocok dengan temuan pak ABS yang berbunyi: 'Soal korupsi
dan tindakan melanggar hukum lainnya, menurut statistik
> > tidak ada hubungannya dengan agama. Secara relatif proportional, tingkat
> > korupsi makin parah terjadi di negara-negara miskin. Makin miskin sebuah
> > negara, relatif makin tinggi tingkat korupsi nya dan tentunya
proporsional
> > dengan tingkat pelanggaran hukum lainnya'.
> >
> > Jadi, tingkat kesengsaraan itu tenyata makin tinggi kalau suatu
masyarakat
> > makin bodoh.  Dan, bodohnya masyarakat itu, menurut saya, karena
kebodohan
> > masyarakat itu sendiri.  Salah satu kebodohan itu adalah misalnya,
mencoba
> > memecahkan masalah2 duniawi dengan hanya ayat2 suci.  Dengan
mengingatkan
> > orang untuk selalu berbuat baik, tidak berbuat kejahatan, selalu
bertakwa
> > kepada Tuhan, dlsb.  Hanya mengingatkan lho ya, tanpa sangsi.  Tapi,
> > dilain pihak anda sendiri mengatakan bahwa: 'Ayat-ayat Tuhan memang
tujuannya bukan untuk membuat manusia jera kok,
> > dia hanya memberi bimbingan hal baik dan buruk dalam kehidupan dunia dan
> > bukan untuk di akhirat , anggap sama aja deh dengan UU negara . Kalau
> > tidak diikuti? ya nggak apa-apa'. Jadi, memang bukan ayat2 suci yang
bisa memecahkan masalah kan?  Akan
> > tetapi, kita dari hari kehari kita selalu diingatkan dengan ayat2 suci.
> > Tanpa konsekuensi hukum negara sedikitpun, sementara kita semua hidup
> > sengsara akibat perilaku orang2 yang 'berkepribadian ganda' itu.  Ini
kan
> > aneh?
> >
> > Oleh karena itu, saya mengusulkan, nggak usah dulu deh bicara soal
agama.
> > Sudah cukup.  Ini sudah berabad2 terjadi.  Keyakinan terhadap Tuhan
sudah
> > menjadi bagian dari budaya bangsa Indonesia.  Nggak usah khawatir bangsa
> > Indonesia tidak bertuhan dan tidak bisa membedakan mana yang baik mana
> > yang buruk.  Lagi pula, masyarakat kita sudah jenuh dengan segala macam
> > siraman rohani.  Yang mereka inginkan adalah hidup aman, damai,
sejahtera
> > dan berkeadilan.  Itu hanya bisa dicapai, menurut saya, hanya melalui
> > langkah2 kongkrit, yang salah satunya adalah terus menerus mengencourage
> > kita semua untuk sebanyak mungkin dan dalam tempo yang sesingkat2nya
> > menjadi orang2 yang punya nyali untuk melaksanakan hukum secara
konsisten
> > dan tidak pandang bulu.
> >
> > Bahwasanya orang2 yang punya nyali itu adalah 'manusia amanah' seperti
> > yang rekan Sodik katakan seperti berikut ini: "Menurut saya, Indonesia
bukan hanya butuh pemimpin yang bernyali tetapi
> > yang utama adalah Indonesia butuh "manusia amanah" apapun tingkat sosial
> > dan kedudukannya serta tidak "alergi" atau mengingkari ayat-ayat Allah
> > swt...", siapa yang tidak mau.  Idealnya tentu demikian.
> >
> > Anda selanjutnya mengatakan:  'Peraturan bukan satu-satunya mas Herman,
coba mas Herman perhatikan,
> > kondisi pelanggaran hukum banyak terjadi di negara  yang penduduknya
> > miskin dan tingkat pendidikannya masyarakatnya rendah. Yang kaya dan
> > pintar akan mengexploitir yang miskin dan bodoh, si kaya dan si pintar
> > akan mengendalikan sistem dan hukum sesuai kebutuhannya.'.  Saya setuju
peraturan bukan satu2nya penyebab.  Pendidikan yang buruk,
> > kemiskinan yang dimana-mana, korupsi yang merajalela, dlsb., juga turut
> > menjadi penyebab.  Tapi, kalau kita coba telusuri lagi kenapa semua
> > kesengsaraan itu dapat terjadi, maka kita akan menemukan jawaban, bahwa
> > itu diakibatkan oleh pelaksanaan hukum yang tidak konsisten.
> >
> > Hukum yang berinduk ke konstitusi negara itu, kalau kita lihat secara
> > lebih umum kan berarti 'kesepakatan'.  Kalau konstitusi adalah
kesepakatan
> > umum dari rakyat yang mendirikan negara itu, maka hukum adalah
> > kesepakatan2 rakyat yang lebih spesifik yang mengatur kehidupan sehari2
> > kehidupan bernegara.  Maka kita kenal hukum (UU) mengenai pendidikan,
> > kesehatan, kehakiman, kerukunan beragama, ketertiban umum, dlsb., dlsb.
> > Lalu, kita sekarang bertanya, buat apa sih hukum itu dibuat?  Ya kan
untuk
> > mencapai cita2 negara itu seperti yang tertuang didalam Konstitusinya.
> > Setahu saya, nggak ada konstitusi yang bertujuan membuat suatu negara
> > menjadi negara paling miskin dan paling korup di dunia.  Maka, kalau
semua
> > kesepakatan yang telah dibuat dipelbagai bidang kehidupan itu kita
> > laksanakan dengan konsisten, maka menurut teorinya cita2 konstitusi akan
> > tercapai.
> >
> > Nah, kalau mayoritas masyarakat suatu negara bodoh, hidup miskin,
> > sementara korupsi meraja lela, ini mengindikasikan bahwa di negara itu,
> > hukum dipelbagai bidang nggak diterapkan dengan konsisten.  Dan hukum
yang
> > nggak diterapkan itu, bukan hukum Tuhan, karena kita kan melihat juga
> > bahwa suatu negara bisa miskin tapi masyarakatnya ternyata taat beragama
> > (Iran, Irak, Afganistan, Indonesia, Senegal), yang berarti mereka
mematuhi
> > hukum Tuhan.  Hukum yang nggak mereka terapkan itu adalah 'janji' dan
> > 'kesepakatan' mereka sendiri terhadap satu sama lain yang mereka
tuliskan
> > didalam UU dan peraturan yang mereka buat itu.  Janji dan kesepakatan
> > inilah yang dilanggar, sehingga suatu negara akhirnya bisa terperosok
> > menjadi negara yang paling miskin didunia.
> >
> > Menurut saya, satu2nya cara untuk meraih cita2 konstitusi itu adalah
> > dengan melatih kita semua untuk 'taat' pada kesepakatan yang telah kita
> > buat bersama itu, ya hukum itu.  Rasanya, ketaatan pada hukum itu pasti
> > akan semakin tebal, kalau seseorang itu patuh pula pada ajaran2
agamanya.
> > Tapi, sayangnya kenyataan menunjukkan bahwa kepatuhan kepada Tuhan, toch
> > tidak meningkatkan kepatuhan seseorang pada hukum.  Apalagi kalau kita
> > setuju pada pendapat anda yang mengatakan bahwa sifat kedua hukum itu
> > berbeda, seperti yang anda tulis: 'UU negara kalau anda bersalah
melanggar hukum, tertangkap, diadili dan
> > kemungkinan dihukum. UU Tuhan cukup "bijaksana" dia tidak akan langsung
> > menghukum anda.'  Kalau begini maka patuh pada hukum Tuhan akan
memberikan efek kontra
> > produktif pada patuh pada hukum negara.  Wong, Tuhan saja 'bijaksana'
kok,
> > tidak langsung menghukum, ini manusia kok malah berani2nya langsung
> > menghukum.  Maka hukum manusia ini pasti salah, sehingga harus dicari
> > lubang dan celah untuk dilanggar!
> >
> > Kalau kita bisa sepakat bahwa hukum negaralah yang hanya bisa dijadikan
> > obat untuk mengangkat suatu negara dari jurang kehancuran, maka barulah
> > kita bisa menentukan aspek kehidupan yang mana dulu berikut hukumnya
yang
> > harus dibenahi.  Aspek dan Hukum pendidikankah?, aspek dan hukum
> > kehakimankah?, aspek dan hukum kehidupan beragamakah?, dlsb.  Apakah
hukum
> > seluruh aspek kehidupan bernegara itu dapat dibenahi secara sekuensial
> > atau harus secara paralel?
> >
> > Kalau saya boleh melangkah maju sedikit, dan menyorot aspek kehidupan
> > beragama, maka saya ingin mengusulkan, agar hukum (UU) kehidupan
beragama
> > disempurnakan dengan menambahkan sebuah kesepakatan yang mengatur gelar
> > dan fungsi ulama, dimana seseorang boleh disebut sebagai ulama, dan/atau
> > bertingkah laku sebagai ulama, kalau ia telah lulus pendidikan ulama dan
> > mendapatkan sertifikat ulama dari Majelis Agamanya masing2.  Ulama yang
> > memperbodoh, mengagitasi dan mengintimidasi umatnya akan terkena jerat
> > hukum.  Penyempurnaan hukum ini menurut saya perlu sekali dilakukan,
> > mengingat, seperti saya sebutkan sebelumnya, manusialah yang
mengakibatkan
> > suatu agama itu terkesan jelek dan jahat, sehingga oleh karena itu,
> > penyebaran dan pengajaran agama haruslah dilakukan oleh orang2 yang
telah
> > memenuhi suatu persyaratan.  Dengan demikian pengajaran dan penyebaran
> > keyakinan suatu agama dapat berjalan dengan murni dan tepat, mengikuti
> > kaidah2 pendidikan modern, tidak melanggar HAM, yang pada akhirnya hanya
> > akan mendukung tercapainya cita2 konstitusi.
> >
> > Saya amat mengerti bahwa pikiran2 saya ini dapat membuat emosi pada
orang2
> > yang keyakinan beragamanya merasa terusik.  Untuk itu saya mohon maaf,
> > karena saya tak punya niat sedikitpun untuk mengusik keyakinan2 itu,
sama
> > halnya pula bahwa saya tidak mau orang2 itu memaksakan keyakinan
> > keagamaannya itu kepada saya.  Pun, saya sama sekali tidak berkehendak
> > untuk menggusur agama seperti yang anda tulis berikut: 'Kalau ada yang
tidak beres dengan sistem sosial masyarakat, bukan agama
> > nya yang mesti digusur, agama nggak salah mas ,barangkali perlu
> > ditingkatkan pemahaman agama pemeluknya supaya  tidak dangkal dan
> > konsisten.' Justru, saya sangat mendukung kalimat terakhir anda, yaitu
'perlu ditingkatkan pemahaman agama pemeluknya supaya  tidak dangkal dan
> > konsisten.', yang salah satu realisasinya adalah dengan mewajibkan ulama
> > bersertifikat itu.
> >
> > Senang dapat berkenalan dengan anda, mas Hudaya.
> > Salam hangat,
> > HermanSyah XIV.
> >
> > <[EMAIL PROTECTED]>
> > 02/26/2004 09:11
> > Please respond to yonsatu
> >
> >
> >         To:     [EMAIL PROTECTED]
> >         cc:
> >         Subject:        [yonsatu] Re: yonsatu Digest V4 #53 &
Sorga/Neraka- tanggapan buat mas
> > Herrmansyah
> >
> > Ah Mas Herman ini.., maaf ......kalau diperhatikan, Mas Herman kok
sangat
> > "naif"  sekali  tentang agama,dan kelihatannya  memang "cenderung"
apriori
> > .
> > Mudah-mudahan anda tidak punya pengalaman "traumatik" dengan agama
dimasa
> > kecil atau saat ini.
> >
> > Tindakan pelanggaran hukum dan pelaksanaan amal ibadah jangan dicampur
> > aduk
> > mas Herman, mungkin mas Herman berpikir tentang konsep pahala dalam amal
> > ibadah, konsep "impas" dengan adanya pahala dalam amal ibadah dan
> > perbuatan
> > tercela.
> >  Amal ibadah  dalam agama bukan seperti  transaksi  mas Herman, setelah
> > melanggar hukum-kemudian melakukan ibadah, terus..... impas? Ulang lagi,
> > impas lagi? Ah... Mas Herman ini naif sekali.
> > Pelanggaran hukum dan amal ibadah seseorang dihadapan Tuhan punya
> > hitungannya sendiri, punya hakim sendiri, bukan disini.
> >
> > Mas Herman  mengatakan karena mereka mengerti semua itu, mereka
> > melakukannya dan menjadi pemeluk agama yang saleh.
> > Dalam islam kita tidak bisa menjustifikasi diri kita sendiri, menjadi
> > hakim
> > yang bisa menilai posisi diri dihadapan Tuhan.
> >  Seseorang yang beragama islam selama dia masih hidup dia tidak bisa
> > mengklaim dirinya lebih baik atau shaleh dari yang lain.
> > Seseorang  yang sejak  usia 5 tahun sudah melakukan amal ibadah secara
> > rutin, dihadapan Tuhan belum tentu lebih baik dari teman Mas Herman yang
> > barangkali baru dua tahun melaksanakan ibadah.
> >
> > Salah satu   konsep pelaksanaan amal ibadah   dalam agama islam,
adalah
> > karena "cinta",  you do it because you love to do it, and you don't
expect
> > anything  by doing it.
> > Gampangnya gini, di dunia yang kita cintai siapa, anak/istri/orang
> > tua/teman, kalau mereka meminta sesuatu, kita akan dengan senang hati
> > melakukannya  dan tidak  mengharapkan imbalan dari  mereka.
> > Kalau amal ibadah kita karena cinta, kita tidak akan "berhitung" mas
> > Herman
> > ( mudah-mudah ini tidak terlalu absurd buat mas Herman).
> >
> > Mas Herman pernah lihat ayat-ayat Tuhan dalam  kitab suci, nggak?
> > Al-Qur'an
> > misalnya,
> > Di Al-Qur'an, dijelaskan, bahwa Mas Herman terbentuk dari setetes mani,
> > bagaimana bumi terjadi dan berputar dalam orbitnya, dlsb.
> > Di dalam Al-Qur'an diberikan pengetahuan yang sangat luas kepada manusia
> > (yang sudah dirangkum 14 abad yang lalu), kalau mas Herman punya
Al-Qur'an
> > coba  jangan hanya dilihat isinya, coba dibaca anggap saja dulu sebagai
> > pengetahuan umum bagi mas Herman.
> > Kalau Mas Herman gak punya Al-Qur'an, beli dulu atau pinjam sama teman.
> > Kalau  tertarik yang sedikit ilmiah, cari "The Bible, Science and Al
> > Qur'an" oleh Dr. Maurice Bacall
> >
> > Ayat-ayat Tuhan memang tujuannya bukan untuk membuat manusia jera kok,
dia
> > hanya memberi bimbingan hal baik dan buruk dalam kehidupan dunia dan
bukan
> > untuk di akhirat , anggap sama aja deh dengan UU negara .
> > Kalau tidak diikuti? ya nggak apa-apa
> >  And...as a person, you are free to choose ,to be good or bad people.
> > UU negara kalau anda bersalah melanggar hukum, tertangkap, diadili dan
> > kemungkinan dihukum. UU Tuhan cukup "bijaksana" dia tidak akan langsung
> > menghukum anda.
> > Saya kutip kata Mas Herman dibawah : "Yang akan membuat manusia jera
> > didunia adalah peraturan yang dibuat oleh manusia sendiri (dengan
> > inspirasi
> > dari Tuhan(masih butuh , nih?)) yang diterapkan  dengan sungguh dan
> > konsisten".
> > Peraturan dibuat oleh siapapun tentu tujuannya pasti baik, tapi seberapa
> > besar sih kemampuan manusia menerapkan secara konsisten?
> >
> > Peraturan bukan satu-satunya mas Herman, coba mas Herman perhatikan,
> > kondisi pelanggaran hukum banyak terjadi di negara  yang penduduknya
> > miskin
> > dan tingkat pendidikannya masyarakatnya rendah.
> > Yang kaya dan pintar akan mengexploitir yang miskin dan bodoh, si kaya
dan
> > si pintar akan mengendalikan sistem dan hukum sesuai kebutuhannya.
> > Perhatikan tetangga kita Singapura, Malaysia, atau negara maju,kalau
basic
> > needs masyarakat sudah tercapai, penegakan hukum secara konsisten
> > sebagaimana harapan mas Herman akan menjadi suatu kebutuhan.
> > Sabar ya dulu mas.....,
> >
> > Dan satu lagi mas Herman,  jangan under estimate terhadap agama mas.
> > Kalau ada yang tidak beres dengan sistem sosial masyarakat, bukan agama
> > nya
> > yang mesti digusur, agama nggak salah mas ,barangkali perlu ditingkatkan

> > pemahaman agama pemeluknya supaya  tidak dangkal dan konsisten.
> >
> > Percaya deh mas Herman, sooner or later agama itu akan menjadi kebutuhan
> > personal seseorang, kalau mas Herman belum, mungkin nanti..
> > Pemahaman agama secara mendalam harus mulai  dari diri sendiri, itupun
> > kalau kita mau.
> >
> > Salam Kenal
> > Hudaya
> > Ekek XIII
> >
> >
> >
> > --[YONSATU - ITB]---------------------------------------------
> > Arsip           : <http://yonsatu.mahawarman.net>  atau
> >                   <http://news.mahawarman.net>
> > News Groups     : gmane.org.region.indonesia.mahawarman
> > Other Info      : <http://www.mahawarman.net>
> >
>
>
> --[YONSATU - ITB]--------------------------------------------- 
> Arsip : <http://yonsatu.mahawarman.net>  atau
>                   <http://news.mahawarman.net>
> News Groups : gmane.org.region.indonesia.mahawarman
> Other Info : <http://www.mahawarman.net>
>
>



--[YONSATU - ITB]---------------------------------------------      
Arsip           : <http://yonsatu.mahawarman.net>  atau   
                  <http://news.mahawarman.net>   
News Groups     : gmane.org.region.indonesia.mahawarman     
Other Info      : <http://www.mahawarman.net> 
   

Kirim email ke