Mas Hermansyah

Wah tanggapan dan ulasan Anda menunjukan bahwa Anda mempunyai pendapat
yang sangat didukung oleh suatu yang sangat mendasar , dan dapat
berimajinasi sebagaimana saya seorang Geologist membayngakan sesuatu yan
ada didalam perut bumi , Anda alumni dari jurusan apa ?

Saya tidak sepenuhnya sependapat dengan Anda mengenai bahwa agama
(apapun agamanya" - lah yang menjadikan masyarakat menjadi bodoh dan
menjadi  miskin. Lebih tepat  bahwa "pemimoin agama" lah yang membiarkan
masyarakat bodoh agar mereka dapat dan tepat menjadi peminpin dalam
golongan agamanya , sehingga mereka meng"haram'kan pendapat yang tidak
"persis"  dengan apa yang ada dalam Kitab kitab Suci mereka .

Ingat bagaimana nasib Galeli Galileo , Syeh Siti Jenar  dan banyak para
pembaharu dalam agama bernasib  menyedihkan .

Bahwa kita mengatur  kehidupan dunia dalam kaidah kaidah agama itu saya
setujui , akan tetapi harap diingat bahwa seluruh kitab suciapapun dalam
aplikasinya meerukan tafsir (ingat bahwa dalam hal Al Quran saja ad
berbagai macam tafsir , say tidak tahu dalam Kitab Suci 
[EMAIL PROTECTED] wrote:
> 
> Hallo mas Hudaya,
> Menarik sekali tanggapan anda buat mas Yanto.  Sekalipun tanggapan anda
> itu ditujukan buat mas Yanto, boleh kan saya nimbrung memberikan reaksi?
> Dengan demikian saya berharap bisa belajar lebih banyak lagi dari anda,
> mas Yanto, dan rekan2 lain yang ingin bertukar pikiran.
> 
> Mas Hudaya, dari tanggapan anda yang panjang lebar itu, anda menyimpulkan:
> >Jadi...menurut saya sih , akar dari semua ini permasalahan ini adalah
> >"KEMISKINAN"  yang berakibat    "KEBODOHAN".
> 
> Saya bertanya2 dalam hati, mana yang datang duluan ya?  Miskin dulu lalu
> jadi bodoh, atau bodoh dulu, lalu jadi miskin?
> 
> Kalau kita lihat sejarah peradaban umat manusia, maka rasanya kita bisa
> menarik kesimpulan bahwa yang duluan itu adalah 'bodoh', baru kemudian
> 'miskin'.
> 
> Lho kok bisa?
> 
> Untuk sampai kepada kesimpulan itu, saya musti membawa diri saya masuk ke
> terowongan waktu menuju ke ribuan tahun sebelum masehi, untuk mencoba
> membayangkan hidup bersama2 dengan manusia purba, yang berpindah2 dari
> satu tempat ke tempat lain, dari satu gua ke gua lain.
> 
> Di keluarga purba saya yang berjumlah 10 orang itu, harta benda yang kami
> miliki tidak ada yang aneh2 dan sama semua.  Rumah kami hanya sebuah gua
> yang gelap gulita.  Pakaian kami hanya kulit binatang yang dililitkan
> begitu saja.  Makanan kami adalah daun2an dan buah2an yang tumbuh
> disekitar kami, dan binatang buruan atau ikan yang dibunuh dengan tombak
> dari batu.  Kami tidak tahu apakah kami miskin atau kaya.  Yang jelas apa
> yang kami butuhkan untuk hidup tersedia disekitar kami.  Tinggal sedikit
> bersusah payah, maka kami bisa makan.  Kalau daun2an, buah2an dan hewan
> buruan terasa semakin berkurang untuk kebutuhan hidup, maka kami mencari
> gua baru yang alam sekelilingnya bisa menopang hidup kami.  Ditempat baru
> itu, kami juga masih tidak tahu apakah kami miskin atau kaya.
> 
> Sampai pada pencarian gua berikutnya, kami ternyata menemukan gua yang
> berdekatan dengan gua sebuah keluarga purba lainnya.  Bentuk fisik mereka
> sama dengan kami.  Mereka punya kepala, mata, telinga, mulut,  tangan dan
> kaki.  Tapi, baju kulit mereka lebih berbentuk baju, karena dijahit dengan
> serat2 tumbuhan.  Mereka ternyata juga bisa membuat api untuk memanggang
> binatang buruan mereka sekaligus digunakan untuk penghangat dan penerangan
> didalam gua mereka.  Karena harta benda kami tidak secanggih mereka, maka
> mereka mengolok-ngolok kami ketika mengetahui bahwa kami harus tidur
> berdempet-dempet dengan gelap didalam gua agar tidak kedinginan, dan harus
> menggigit serta mengunyah daging mentah dengan bersusah payah, karena
> dagingnya tidak dibakar.
> 
> Saya merasa sedih dengan olokan mereka itu.  Tiba2 saya mendapat ilham
> untuk mengekspresikan kesedihan saya ini.  Saya menemukan kata 'bodoh'.
> Ya, saya merasa bodoh, karena ternyata harus menggigit dan mengunyah
> daging bersusah payah.  Merasa bodoh, karena tak bisa membuat baju kulit
> sebagus yang mereka punya.  Merasa bodoh, karena tidak tahu bahwa api
> ternyata bisa dibuat.  Ya, memang keluarga saya lebih bodoh dari keluarga
> purba tetangga itu.  Karena kami bodoh, maka harta benda kami tak lebih
> dari baju kulit yang compang camping, gua yang gelap gulita dan hanya satu
> jenis tombak berburu, sementara tetangga kami itu, memiliki baju kulit
> dengan mode bermacam2, punya gua yang hangat dan terang dan punya berbagai
> macam alat berburu.   Maka, saya menemukan kata kedua, ...'miskin'.  Ya,
> saya miskin karena ternyata saya 'nggak punya apa2' dibandingkan tetangga
> saya itu.  Kenapa saya miskin?  Karena saya tidak sepandai tetangga itu.
> Jadi, karena saya nggak sepinter mereka, maka saya menjadi lebih miskin
> dari mereka.  Atau dengan kata lain saya miskin karena tidak pandai, alias
> bodoh.
> 
> Keluarga kami yang lebih bodoh ini, akhirnya pada suatu waktu dapat
> diperbudak oleh keluarga purba 'kaya' itu, dan lengkaplah sudah kegetiran
> hidup keluarga kami, yang berawal dari bodoh, lalu miskin, dan akhirnya
> terjajah.
> 
> Kalau kita berjalan terus sepanjang terowongan waktu, maka kita bisa
> melihat bahwa kesengsaraan hidup seperti ini, akhirnya berkembang dari
> kelompok kecil manusia2 gua, menjadi bangsa.  Maka kita kemudian dengar
> bagaimana Musa membebaskan bangsa Israel dari penjajahan bangsa Mesir 7
> abad sebelum masehi, dengan mukjizat Tuhan.
> 
> Di India, juga  sekitar abad yang sama (kalau tidak salah), muncul
> masyarakat Hindu, suatu masyarakat  yang meyakini bahwa manusia memang
> ditakdirkan hidup dengan status kaya, miskin, bodoh, terpelajar, sesuai
> karmanya masing2.  Setelah mati, manusia akan lahir kembali dalam wujud
> baru dan status baru yang lebih baik, tergantung perbuatannya dalam
> kehidupan sebelumnya.  Demikian seterusnya secara berulang2, sampai si
> manusia akhirnya mencapai Moksa, kesempurnaan hidup, yang berarti tempat
> selanjutnya setelah kematian yang kesekian kalinya adalah Nirwana, alias
> sorga.  Berbeda dengan Musa, masyarakat Hindu (yang diajarkan oleh para
> resi) dapat menerima perbedaan status sosial ini, sehingga tidak muncul
> revolusi 'penghapusan' kasta Sudra.  Melalui ajaran Hindu yang mengakui
> eksistensi 4 Kasta itu, kita bisa lihat sampai sekarang ini bahwa segala
> ketimpangan sosial yang terjadi di India ternyata lebih mudah deterima
> oleh masyarakatnya, maupun didalam masyarakat2 Hindu lainnya di seluruh
> dunia.
> 
> Sidharta Gautamalah, yang tidak puas dengan ajaran Hindu, yang seolah2
> tidak membela rakyat miskin yang selalu terinjak2 itu.  Setelah berkelana
> dan bertapa bertahun2, akhirnya Ia mendapat pencerahan yang intinya adalah
> bahwa susah, senangnya manusia itu diakibatkan oleh perbuatan manusia
> sendiri, bukan karena keturunan atau karma.  Juga berbeda dengan Musa,
> Sidharta Gautama juga tidak membangkitkan semangat memberontak dari kaum
> miskin, akan tetapi lebih banyak memberikan ajaran untuk bangkit sendiri
> dari kenistaan hidup dengan berbekal hati nurani dan akal sehat.
> 
> Berikutnya, kita lihat Israel yang dijajah bangsa Romawi, dan seorang
> Jezus yang tidak bisa melihat penindasan dan penjajahan manusia atas
> manusia ini.  Maka, dengan berbagai mukjizat dari Tuhan, seperti Musa, Ia
> mengajarkan manusia untuk tidak saling menindas.  Sayangnya bangsa Israel
> yang dijajah itu menganggap Jezus adalah 'raja' mereka, sementara para
> ulama Yahudi tidak menerimanya karena menilai bahwa Jezus bukanlah mesias
> yang ditunggu-tunggu.  Maka, atas desakan ulama2 Yahudi itu, Pontius
> Pilatus, penguasa Romawi waktu itu, menjatuhkan hukuman salib bagi Jezus.
> Sama dengan Hindu dan Budha, Jezus tidak memimpin bangsa Yahudi
> membebaskan diri dari penjajahan Romawi, akan tetapi memberikan ajaran
> kepada manusia bahwa penjajahan dan penindasan atas manusia itu adalah
> perbuatan yang salah.  Demi keyakinannya itu, Ia rela mengorbankan dirinya
> mati di kayu salib.
> 
> 6 Abad kemudian, Muhammad mengajarkan Islam kepada bangsa Arab.  Penyebab
> munculnya Islam, lagi2 karena seorang Muhammad tidak bisa menerima
> kehidupan masyarakat arab yang 'barbar' pada saat itu, dengan penindasan
> manusia atas manusia disana sini.  Disamping itu, Muhammad yang mengakui
> eksistensi Musa (dan Jezus), melihat bahwa perilaku masyarakat Arab pada
> saat itu sudah kembali lagi seperti zaman Musa ketika harus menyampaikan
> 10 perintah Tuhan kepada bangsa Israel, yang pada saat itu kembali
> menyembah berhala dan hidup secara anarki.  Berbeda dengan Jezus, Muhammad
> berhasil menyebarluaskan keyakinannya itu dilingkungannya, yang meluas ke
> masyarakatnya, dan akhirnya berhasil membentuk pemerintahan berikut
> kekuatan bersenjatanya, sehingga dengan perang Islam berhasil di tegakkan
> di tanah Arab.  Dengan perang pula, Islam kemudian sempat mencapai daratan
> Eropa (Spanyol), akan tetapi kemudian terdesak kembali ke timur tengah
> karena serangan balik kaum Kristen yang pengikut ajaran Jezus itu.
> 
> Dari cerita 'pencetus' agama2 besar itu, kita lihat bahwa munculnya agama
> seiring dengan adanya kebodohan, kemiskinan dan penindasan di dalam
> masyarakat.
> 
> Pada masa itu, konsep2 negara demokrasi belum ada (kecuali mulai jaman
> Romawi), sehingga apalagi yang dapat dipakai untuk menyadarkan manusia
> untuk tidak berbuat buruk kalau bukan hukum 'keyakinan', alias hukum
> Tuhan.  Dengan takut dan sujud kepada Tuhan, manusia diajarkan dan
> berharap dapat hidup secara harmonis, aman, damai, tenteram, adil dan
> sejahtera didalam masyarakatnya.
> 
> Tapi, manusia berkembang terus. Ilmu pengetahuan berkembang terus, apakah
> hal itu diinspirasi oleh agama maupun tidak.  Bahkan di negara2 maju,
> agama (Kristen) yang tadinya memboncengi kekuasaan negara, kini berdiri
> terpisah dari pemerintahan.  Pemisahan ini muncul semata2 karena
> masyarakatnya ingin merdeka dari segala sesuatu yang bersifat dogmatis,
> yang berbau keyakinan, yang tidak bisa dijelaskan oleh akal.  Kenapa kok
> bisa begitu?  Karena, masyarakat yang ingin memisahkan 'negara' dari
> 'geraja' itu hidup di abad 18, dimana daya nalar mereka jauh berkembang
> jadi berpuluh-puluh bahkan beratus-ratus kali dari daya nalar keluarga
> purba saya tadi yang hidup didalam gua.  Dengan mendaya gunaan akal
> pikiran mereka secara bebas merdeka, masyarakat negara2 maju itu semakin
> pintar dan pintar, karena mereka melakukan penelitian dan eksplorasi
> ilmiah sampai limit kemampuan manusia, tanpa dipatok dengan larangan2
> Tuhan.  Satu2nya yang mengerem kebebasan berpikir mereka hanyalah
> moralitas, yang sedikit banyak ini dipengaruhi oleh agama juga.
> 
> Disisi lain, kita melihat bahwa cukup banyak negara yang menerapkan
> penyatuan antara agama dengan kekuasaan pemerintahan.  Ini terutama
> terjadi pada negara2 Islam.  Keputusan pemerintah harus mengacu kepada
> ayat suci.  Keputusan tertinggi bukanlah keputusan pemerintah akan tetapi
> keputusan khalifah, atau pemimpin umat.  Sehari2 yang dibicarakan hanya
> ayat2 suci dan sejarah nabi.  Manusia tidak boleh ini, tidak boleh itu,
> harus begini, harus begitu, karena Tuhan menyuruh demikian.  Akibatnya,
> negara2 dengan sistem pemerintahan dan sifat masyarakat yang seperti ini
> nggak maju2, karena yang dibicarakan hanya sekitar itu-itu saja dan
> kreatifitas mereka terkekang.  Hukum dunia kalau perlu tidak usah diurusi,
> karena hukum Tuhan melalui kitab suci toch sudah sempurna.  Walhasil,
> sekalipun mereka hanya jalan ditempat misalnya, tingkat kemajuan dan
> kepintaran mereka akan semakin jauh tertinggal dari hari ke hari,
> dibandingkan dengan negara2 sekuler yang berkembang terus itu.
> Pengecualian hanya ada pada Arab Saudi, yang masyarakatnya relatif 'bodoh'
> tapi kaya karena minyak dan Kaabah.
> 
> Karena negara2 maju itu lebih pandai, maka mereka menjadi lebih kaya dari
> negara2 yang pengetahuan penduduknya 'jalan ditempat' itu, karena mereka
> bisa menciptakan produk2 yang menghasilkan uang, yang dijual keseluruh
> dunia.  Sementara negara2 'jalan ditempat' itu, semakin miskin dan miskin,
> karena hanya bisa membeli produk2 yang dibuat oleh negara2 maju itu, nggak
> bisa membuat sendiri.  Untuk bisa membeli produk2 yang dibuat oleh negara2
> sekular itu, mereka bahkan harus sampai menguras sumber daya alam
> negaranya, yang mentoknya sampai menggadaikan negara .  Disisi lain,
> korupsi merajalela karena hukum dunia tidak ditegakkan, yang mengakibatkan
> rakyat mereka jadi kurus2 dan gepeng2 seperti wayang kulit.
> 
> Lalu, bagaimana dong caranya mengangkat negara2 (bangsa2) yang tertindas
> itu dari penderitaan?  Apakah harus ada Musa abad 21 yang memimpin bangsa2
> tertindas keluar dari penjajahan abad kini yang berupa penjajahan ekonomi
> itu?  Atau, apakah harus ada Jezus abad 21 yang mengklaim dirinya sebagai
> nabi agama terakhir, yang pasti akan memicu kemarahan umat Islam diseluruh
> dunia, sehingga dia harus disalib, tapi akibatnya semangat pengorbanannya
> menyebar keseluruh penjuru dunia?  Atau, apakah harus ada Muhammad abad 21
> yang memimpin umat Islam (yang paling menderita di dunia ini) untuk
> berjihad menghancur leburkan kaum kafir yang pintar2 dan kaya2 itu?  Atau,
> kita terima saja keaneka warnaan hidup ini, seperti ajaran Hindu.  Toch,
> itu sudah nasib masing2, yang dengan sendirinya akan berakhir jika Moksa
> sudah tercapai.  Atau, kita ikuti ajaran Budha, untuk bangkit dari diri
> sendiri dengan berbekal hati nurani dan akal sehat, keluar dari belenggu
> kebodohan dan jurang kemiskinan ini?
> 
> Menurut saya, pendekatan yang terakhirlah yang paling realistis dari ke 4
> alternatif diatas.  Jadi, harus diri kita sendiri yang bertekad bulat
> untuk mengenyahkan kebodohan yang mengakibatkan kemiskinan itu.
> 
> Lantas kita bertanya, apa sih yang menyebabkan kebodohan itu?
> Menurut saya, yang menyebabkan kebodohan itu adalah segala informasi,
> keyakinan, aturan, kesepakatan yang menyebabkan kemampuan kreatifitas kita
> tertekan dan terpasung, dan yang menihilkan harkat diri kita sebagai
> manusia merdeka.
> 
> Kalau kita setuju dengan difinisi diatas, maka oleh karena keyakinan
> termasuk sebagai salah satu penyebab kebodohan itu, maka kita perlu
> memberikan perhatian yang sangat serius pada penyebaran dan pengajaran
> agama, jangan sampai ia disebarkan dan diajarkan oleh ulama atau orang2
> yang bertingkah laku sebagai ulama dengan menggunakan kaca mata kuda. Pun,
> umat perlu diajarkan bahwa dengan patuh dan mengandalkan diri pada ayat2
> suci belaka, bukan merupakan jaminan bhw kita akan terbebas dari belenggu
> kebodohan dan jurang kemiskinan itu.
> 
> Disamping itu, agama menurut saya, cukup didiskusikan dalam forum2
> keagamaan saja, tidak perlu dibawa-bawa dalam pergaulan sehari-hari,
> karena ini bukan saja mendukung terciptanya kebodohan itu, tapi juga punya
> andil sangat besar dalam membentuk manusia2 yang bermuka dua.
> 
> Nah mas Hudaya, dan mas Yanto, dan rekan2 yang turut mengikuti diskusi
> kami bertiga ini, buat saya kesimpulannya adalah:
> Bodohlah yang datang duluan, baru kemudian kemiskinan.  Kebodohanlah yang
> menyebabkan Kemiskinan.  Kemiskinan pada gilirannya menyebabkan
> Ketertindasan.  Oleh karena itu Kebodohan harus diberangus.  Karena kita
> sekarang hidup di abad ke 21, bukan lagi diabad 7 sebelum Masehi, atau
> abad 1 Masehi atau 6 Masehi, maka untuk memberangus kebodohan itu (berikut
> kemiskinan dan ketertindasan yang dihasilkannya itu), bukan agama lagi
> yang dijadikan sebagai alat atau penuntun gerakan, akan tetapi
> kesepakatan2 manusia modernlah yang menjadi senjatanya, yang dibuat
> berdasarkan teori2 ilmu pengetahuan modern.  Agama yang berpotensi sebagai
> salah satu penyebab timbulnya kebodohan itu harus dibatasi ruang geraknya,
> yaitu hanya diforum-forum keagamaan saja.  Dalam pergaulan sehari2, kita
> tidak perlu lagi mengingatkan orang lain akan ayat2 suci, akan tetapi jauh
> lebih baik kalau kita mengingatkan mereka pada UU pasal berapa, ayat
> berapa, atau KUHP pasal berapa ayat berapa.
> 
> Saya tidak akan kaget kalau pendapat saya ini lagi2 akan membangkitkan
> emosi pada orang2 yang merasa keyakinan beragamanya terusik.  Untuk itu,
> saya mohon maaf lagi, karena lagi2 saya tidak bermaksud mendiskreditkan
> agama manapun juga.  Saya hanya ingin mencoba berpikir dan menyumbang
> saran tanpa dibatasi oleh dogma2 agama, yang saya harapkan dapat
> memberikan kontribusi, walau sebesar debupun, kepada segala upaya kita
> semua dalam mengangkat  republik ini dari derita yang berkepanjangan.
> 
> Salam hangat,
> HermanSyah XIV.
> 
> <[EMAIL PROTECTED]>
> 03/02/2004 11:04
> Please respond to yonsatu
> 
> 
>         To:     [EMAIL PROTECTED]
>         cc:
>         Subject:        [yonsatu] Re: tanggapan buat mas Yanto R. Sumantri
> 
> Mas Yanto,
> Terimakasih  atas responsnya,  maaf  agak telat soalnya  nulis sambil
> ngantor sih.
> Jangan dikatakan saya akan memberikan  pencerahan kepada Mas Yanto, anggap
> saja ini  obrolan ringan sesama almamater.
> 
> *Perbuatan  baik  dan buruk yang  terus berjalan (jadi kayak ngejawab
> ujian
> sekolah aja nih)
> 
> Gak usah pusing-pusing dengan grafik deh mas, biarin itu ada jaman kita
> kuliah aja ( Jadi ingat Pak Goenarso, dosen matematika lanjut).
> Pakai ilmu tukang buah aja Mas, pisahkan yang buah baik dan yang
> rusak/busuk.
> Jangan dicampur aduk semua, nanti kebolak-balik  gak ketahuan mana yang
> baik dan mana  yang busuk, kalau sudah dipisah melihatnya kan lebih jelas.
> Kita cari dan periksa penyebabnya utamanya kerusakan atau kebusukan,
> seberapa banyak jumlahnya ,  sebaliknya yang baik juga begitu.
> Kemudian kita lihat hubungan antara yang baik dan buruk, satu arah, atau
> bolak balik, bagaimana dampak hubungan ini.
> 
>  Beberapa hal yang bisa jadi penyebab yang Mas Yanto uraikan dibawah,
> 1).Tingkat Kemiskinan (berharta)
> Kesadaran  apa yang kita harapkan dari orang  yang sedang lapar Mas?
> Memikirkan makan kemarin, hari ini dan besok saja sudah menjadi tekanan
> bagi hidup mereka, sikap manusia yang sedang lapar akan mempengaruhi sikap
> mental dan emosionalnya.
> Orang kalau lapar sering "bermasalah", contohnya barangkali ada diantara
> kita sendiri , pas pulang kerumah lapar berat, mau makan di meja gak ada
> apa-apa atau makanan gak cocok. "Spaning" bisa naik tuh
> 
> Didalam agama Islam, kemiskinan itu sangat berbahaya mas, dikatakan "
> Kemiskinan akan membawa kamu kepada kesesatan/kemunkaran" (maaf, kata
> terakhir saya rubah supaya tidak terlalu "sensitif")
> Dalam kenyataan disekitar kita, memang ada kelompok yang memanfaatkan
> kemiskinan masyarakat  untuk kepentingan pribadi/kelompok yang berakibat
> burukpada kita semua.
> Kemarin saya mendengar di radio Pak Ahmad Syafie Ma'arif berkata bahwa
> peradaban Indonesia sekarang adalah peradaban "Sembako", mungkin ini ada
> benarnya  juga.
> 2). Tingkat Pendidikan (berilmu)
> Pemahaman apa yang kita harapkan dari orang yang tidak/kurang berilmu Mas?
> Kebodohan yang timbul karena kemiskinan
> 3). Pemimpin yang buruk
> Harapan apa yang bisa kita berikan kepada pemimpin seperti ini Mas?
> Manusia mempunyai sisi buruk  yang namanya hawa nafsu atau nafsu jahat ,
> nafsu  harta atau kekuasaan.
> Nabi Muhammad bersabda: "Musuhmu yang terbesar, ialah nafsu"jahat"-mu yang
> berada dalam dirimu", jangan-jangan nafsu jahat inilah yang banyak
> bercokol
> dalam diri pemimpin kita
> Tiga hal buruk diatas  berputar-putar terus dalam kehidupan masyarakat ,
> yang membuat kita frustrasi melihat dampaknya  pada pembusukan dan
> pengrusakan bangsa.
> Terus, dimana peranan agama ? Amal ibadah meningkat tapi maksiat jalan
> terus?
> 4). Kesadaran beragama (keimanan)
>  Pemahaman generasi muda sekarang tentang agama jauh lebih baik dari kita
> dulu lho .Dulu ,khususnya kita yang tumbuh di kota besar  beragama   hanya
> dengan modal "kul-hu" doang, kalau sampai tua tidak meningkatkan diri atau
> mencari lagi, ya segitu-gitu aja.
> Tumbuhnya  sekolah pendidikan dasar dan menengah  umum yang berbasis agama
> ( misalnya Al-Azhar, Al-Izhar , Al-al lainnya), mempercepat proses
> pemahaman yang lebih baik tentang agama kepada generasi muda,ditambah lagi
> dengan  banyak beredarnya  buku-buku  tentang Islam .
> 
> Kalau sekarang banyak generasi muda yang berjilbab, termasuk selebritis ,
> pergi haji diwaktu muda, banyak amal ibadah, dlsb,itu  karena mereka paham
> dan sadar betul dengan apa yang mereka lakukan, mereka mencari dan memang
> menemukannya .
> Beda dengan kita,  dulu  atau sekarang,  bisa jadi kita menjadi islam
> karena kultur atau tradisi orang tua, dengan pemahaman ala kadarnya.
> Kesadaran  pemeluk agama yang terus terus meningkat di masyarakat?
> Peningkatan amal ibadah yang terjadi saat ini  harus disyukuri , walaupun
> barangkali  ada yang melakukan ibadah itu adalah sebagai "pelarian"  dari
> sebagai orang-orang  " tertindas" atau   sebagai  "penindas", itu masih
> jauh lebih baik dari pada tidak ada sama sekali.
> Semua agama pasti menuju kebaikan, dan kebaikan dan keburukan punya jalan
> masing-masing pada setiap orang.
> Dalam suasana seperti ini ,  kayak apa jadinya  masyarakat, sudah miskin,
> bodoh, dan tidak beriman pula.
>  Agama bisa dijadikan oasis bagi  orang orang yang dahaga, tempat berteduh
> bagi musafir yang letih (puitis aja lagi),
> 
> Terus bagaimana dong kita memandang semua  keruwetan /semarawutan  yang
> terjadi ini?
> Kalau menurut saya sih, selama mayoritas rakyat kita  masih miskin dan
> yang
> berakibat pada kebodohan, kita akan begini terus.
> Kalau melihat realitas sekarang, kita  pakai ilmu tukang buah aja lagi,
> yang bagus-bagus harus di elus-elus, di baek-baek-in, diusap-usap ,
> dipelihara supaya gak jadi busuk.
> Yang busuk kalau memang sudah parah, ya harus disingkirkan, kalau kate
> tukang buah orang betawi , itu buah harus "di gejik" supaya hancur.
> 
> * *Masalah "maling yang beramal" yang banyak di sekeliling kita
> 
> Bingung  ya mas , kok bisa kayak gini ? Ya pantas bingung mas, karena
> mereka sendiri memang  orang yang sedang bingung.
> Mondar-mandir dari satu penampilan ke penampilan lain, Tuhan sudah
> mengenal
> jenis orang seperti ini  , sebagaimana dikatakan dalam Al -Qur'an:
> " Dan (ada pula ) orang-orang yang mengakui dosa-dosa mereka, mereka
> mencampurbaurkan pekerjaan yang baik dengan pekerjaan lain yang buruk.
> Mudah-mudahan Allah menerima tobat mereka. (Q.9:102)"
> " Dan Dia mendapatimu sebagai orang yang bingung, lalu Dia memberikan
> petunjuk. (Q.93:7)"
> 
>  Aku kasih jokes tentang perokok berat yang ingin berhenti merokok,
> mudah-mudahan Mas Yanto belum pernah dengar:
> " Ada seorang perokok berat yang berusaha keras untuk menghentikan
> kebiasaan merokoknya, dia sudah mencoba  tapi selalu gagal .
> Di mass media seringkali disampaikan  bahayanya merokok bagi kesehatan.
> Untuk memberi dorongan kepadanya untuk berhenti merokok, dia mencoba
> mendengarkan, menonton dan membaca   semua penjelasan mengenai  bahayanya
> rokok .
> Setelah sekian lama mengikuti , mendengar, membaca dan melihat penjelasan
> bahaya merokok , akhirnya dia paham betul betapa besarnya bahaya rokok
> bagi
> kesehatan dirinya,  dia menjadi sadar dan kemudian  membulatkan tekadnya
> untuk segera berhenti .
> Berhenti merokok? Ya nggak mas, dia  memutuskan "berhenti" , untuk
> melihat,
> mendengarkan atau membaca  segala sesuatu yang berkaitan dengan bahaya
> merokok. Rokoknya,  ya jalan terus! "
> Selain merokok ,  olahraga juga ,vitamin jalan juga, supaya......sehat.
> (Boleh dong.... namanya juga usaha.)
> 
> Mas Yanto pernah dengar  nggak, bahwa didalam kehidupan kita ini , ada: "
> kebaikan yang membinasakan , dosa yang paling mencelakakan dan dosa yang
> bermanfaat " ?
> Ini adalah sebuah dialog antara guru sufi dengan muridnya, (aku kutip
> sebagian):
> Murid : Wahai guru, dosa apakah yang paling mencelakakan?
> Guru  : Dosa yang tidak kamu sadari bahwa itu suatu dosa. Yang lebih
> celaka
> lagi adalah menganggapnya suatu kebajikan, pada hal itu dosa.
> Murid : Lantas, apakah ada  dosa yang bermanfaat,,guru ?
> Guru  : Ada !  Yaitu dosa yang selalu kau sesali, kau tangisi sampai mati,
> hingga tak berbuat dosa lagi. Itulah tobat nasuha, namanya
> Murid : Sebaliknya guru, apakah ada kebajikan yang justru akan
> membinasakan?
> Guru :  Dialah kebajikan yang membuatmu lupa akan perbuatan-perbuatan
> kejimu; kebajikan yang selalu kau ingat-ingat,  kau bangga-banggakan , dan
> terlalu yakin hingga kau  tak gentar lagi terhadap dosa yang telah kau
> perbuat.
> (Saya tambah satu lagi dialognya , bonus buat mas Yanto, karena menurut
> saya ini yang paling absurd dan indah )
> Murid : Wahai Guru, mohon dijelaskan, rahmat Allah manakah yang paling
> menguntungkan?
> Guru : Bilamana Allah melindungimu dari ketidakpatuhan kepada-Nya, dan
> menolongmu untuk taat kepada-Nya.
> 
> Menyikapi orang yang seperti Mas Yanto gambarkan sebagai maling yang
> beramal, menurut saya, kalau maling ya tetap maling, ditangkap, diadili
> dan
> harus dihukum.
> Ibadah dia nggak ada urusa sama hukum dunia, itu urusan  dia dengan Tuhan.
> Manusia memang unik mas, dengan segala kelebihan dan kekurangannya ia
> berusaha keras  " menjalani dan mensiasati "  hidupnya,  sebagaimana
> ilustrasi dan dialog tersebut di atas..
> 
> ***Masalah hukum dunia dan hukum akhirat
> 
> Saya punya  sebuah ilustrasi,  kisah di jaman Rasulullah (ditulis menurut
> versi saya).
> " Dijaman Rasul , ada seorang  yang  taat beribadah,  pada saat  dia akan
> meninggal, nafasnya gak putus-putus juga. berhari-hari nggak mati-mati
> juga. Orang-orang heboh ,kok orang sealim ini bisa bermasalah dengan
> kematiannya.
> Rasulullah dipanggil, diceritakan masalahnya ,Rasul manggut-manggut
> kemudian rasul bertanya apa masih ada keluarganya.
> Selainnya istrinya, ternyata ibunya masih hidup. Rasul mendatangi ibu
> orang
> tersebut dan menceritakan bahwa anaknya sakit parah hampir meninggal, si
> ibu dengan cueknya ber kata : "Oh ,ya....? Biarin aja, mau mati kek!".
> Rasulullah faham, pasti ada masalah nih antara anak dan ibu.
> Setelah di selidiki lebih jauh ternyata si ibu marah berat karena merasa
> ditelantarkan oleh si anak setelah dia menikah, Rasul meminta si ibu
> memaafkan anaknya yang sudah akan meninggal, si ibu tetap keukeuh nggak
> mau
> memaafkan anaknya.
>  Wah, runyam juga nih urusannya, si ibu ngotot gitu. Akhirnya Rasul
> meminta
> sahabat untuk mengumpulkan kayu bakar di depan rumah si ibu, setelah
> cukup,
> lalu rasul menyuruh si sakit dibawa kesana. Lalu Rasul berkata pada si
> ibu,
> bahwa anaknya  harus di hukum di dunia untuk melepaskan dosanya,
> hukumannya
> adalah hukuman mati dengan dibakar. Mendengar hukuman berat buat anaknya,
> si ibu shock ,  dia pasti nggak tega lagi. Akhirnya, dia memaafkan si
> anak,
> dan si anak  akhirnya menghembuskan nafas terakhirnya dengan lega...."
> 
> Dalam islam, urusan dunia yang menyangkut hubungan manusia dengan manusia
> memang harus diselesaikan di dunia mas Yanto, termasuk juga penerapan
> hukum
> yang harus dijalankan.
> Masalah hukum dunia (yang kita disepakati oleh kita semua)  pasti akan
> akan
> diikuti oleh umat Islam ,  hukum islam itu  paripurna  ia akan dapat
> mencakup hukum dunia yang dibuat oleh manusia.
> Saya setuju banget kalau koruptor-koruptor , perampok/pembunuh/pemerkosa
> dan bandar narkoba kelas berat untuk dihukum mati, saya rasa begitu juga
> dengan  umat islam lainnya.
> Tapi itu mah terserah ibu Mega aje, namenye juge dia yang lagi kuase. Itu
> kepikir nggak ame die ye?
> 
> ****Penerapan Hukum di Singapura
> 
> Itulah yang ingin saya sampaikan Mas,  bahwa agama  pasti tidak akan
> mengeliminasi (Jadi ingat Akademi Fantasi-Indosiar)  penerapan hukum
> dunia,
> karena agama  akan mengikuti semua peraturan  baik yang telah dibuat
> manusia (akomodatif).
> Saya yakin sekali,  bahwa apabila mayoritas suatu masyarakat  tidak lagi
> miskin , tidak lagi kelaparan , tidak lagi pusing dengan kebutuhan primer
> (walaupun barangkali kurang berilmu), beragama apapun dia , penerapan
> hukum
> pasti  bisa berjalan,
>  Mas mencontohkan Singapura yang mengabaikan agama, saya mencontohkan
> Malaysia, Brunei,  negara Arab (barangkali   kurang berilmu), mereka
> negara
> kaya dan beragama, hukum disana juga bisa ditegakkan.
> Menurut saya , negara  yang  beragama apapun , kalau kemiskinan yang
> menjadi kendala , maka penegakan hukum tidak akan berjalan dengan baik.
> 
> Penutup nih mas,
> Jadi...menurut saya sih , akar dari semua ini permasalahan ini adalah
> "KEMISKINAN"  yang berakibat    "KEBODOHAN".
> Di ITB dulu, Kemal Taruk bekas Ketua DM ITB pernah mencanangkan "Gerakan
> Anti Kebodohan" ,  sekarang ini perlu ada  yang mencanangkan lagi "Gerakan
> Anti Kemiskinan dan Kebodohan" bagi rakyat Indonesia, dengan konsep dan
> implementasi tentunya.
> 
> Sekian dulu dari saya  yang bodoh ini Mas Yanto,  sekali lagi ,ini  bukan
> pencerahan ya mas Yanto, ini sekedar obrolan ringan dengan "Aa" saya ekek
> angkatan III .
> Mohon dimaafkan  untuk kata yang salah  dan yang  tidak berkenan  bagi Mas
> To (sok akrab) atau teman-teman lainnya.
> 
> Salam Hormat
> Hudaya
> Ekek XIII
> 
> --[YONSATU - ITB]---------------------------------------------
> Arsip           : <http://yonsatu.mahawarman.net>  atau
>                   <http://news.mahawarman.net>
> News Groups     : gmane.org.region.indonesia.mahawarman
> Other Info      : <http://www.mahawarman.net>
>


--[YONSATU - ITB]---------------------------------------------      
Arsip           : <http://yonsatu.mahawarman.net>  atau   
                  <http://news.mahawarman.net>   
News Groups     : gmane.org.region.indonesia.mahawarman     
Other Info      : <http://www.mahawarman.net> 
   

Kirim email ke