Membongkar Jaringan AKKBB (3)  Selasa, 10 Jun 08 19:11 WIB
    Kirim teman
   
  Kejadian rusuh yang diakibatkan provokasi massa AKKBB terhadap para laskar 
Islam siang itu (1/6) di Monas berlangsung cepat. Para korlap dari umat Islam 
berusaha menenangkan massanya yang marah. 
   
  Untunglah korban luka hanya beberapa orang dan tidak ada yang parah. Namun 
oleh media massa cetak maupun teve yang dikuasai jaringan liberal Islam dan 
juga non-Muslim, peristiwa yang sebenarnya biasa saja ini diblow-up sedemikian 
rupa bagaikan sebuah peristiwa genosida yang memakan korban ratusan ribu nyawa. 
Penguasaan media massa, di sinilah titik lemah umat Islam Indonesia.
   
  Sehari setelah peristiwa, Kuasa Usaha Kedubes Amerika Serikat John A Heffern 
menjenguk empat anggota AKKBB di RSPAD, Jakarta. Dalam kunjungannnya, John 
menyalami dan berbincang dengan mereka. Keempatnya adalah Manager Program 
Jurnal Perempuan Guntur Romli (salah satu pentolan JIL), Direktur ICIP Syafii 
Anwar, dan dua anggota kelompok sesat Ahmadiyah yakni Dedi C Ahmad dan Taher.
   
  Pada hari yang sama, dan ini yang mengejutkan, Presiden SBY dengan amat cepat 
merespon peristiwa tersebut. Padahal presiden yang satu ini dikenal sebagai 
seseorang yang lamban dan peragu dalam mengambil sikap. Hanya sehari setelah 
kejadian, SBY menggelar jumpa pers mendadak di Kantor Presiden, Jl Medan 
Merdeka Utara, Jakarta. Sebelumnya, Juru Bicara Kepresidenan Andi Mallarangeng, 
adik dari tokoh JIL Rizal Mallarangeng mengingatkan para jurnalis untuk tidak 
memotong pernyataan presiden dalam medianya. 
   
  “Karena ini menyangkut isu yang sensitif, ” demikian Andi.
  Secara lengkap, ini adalah pernyataan SBY soal bentrokkan di Monas: “Saya 
sangat menyesalkan terjadinya kekerasan di Jakarta kemarin siang. Saya mengecam 
keras pelaku-pelaku tindak kekerasan itu yang menyebabkan sejumlah warga kita 
luka-luka.
  Negara kita adalah negara hukum yang punya UUD, UU dan peraturan yang 
berlaku, bukan negara kekerasan. Oleh karena itu terkait insiden kekerasan 
kemarin, saya minta hukum ditegakkan. Pelaku-pelakunya diproses secara hukum 
diberikan sanksi hukum yang tepat.
  Ini menunjukkan negara tidak boleh kalah dengan perilaku-perilaku kekerasan. 
Negara harus menegakkan tatanan yang berlaku untuk kepentingan seluruh rakyat 
Indonesia. 

  Saya meminta masyarakat luas mengingat akhir-akhir ini banyak kegiatan fisik 
di lapangan, sebagian adalah unjuk rasa sebagian lagi bukan. Tapi di satu kota 
bersamaan sering terjadi berbagai kegiatan fisik dengan tujuan, motif dan tema 
berbeda. Saya harap semua pihak tetap tertib mengendalikan diri. Apa yang 
disampaikan kepada kepolisian, itu dijalankan. Karena itu janjinya kepada 
kepolisian sehingga pengamanan bisa dilakukan. 

  Kalau ada masalah di antara komponen masyarakat, solusinya bukan dengan 
kekerasan, tapi solusi damai. Sesuai dengan semangat kita, UUD, UU dan 
peraturan yang berlaku.
  Kepada kepolisian, saya meminta agar meningkatkan kinerjanya. Tantangannya 
tidak ringan, permasalahannya kompleks. Oleh karena itu kepolisian di seluruh 
tanah air khususnya Jakarta dan kota besar lain, lebih cepat dan profesional 
agar semua bisa ditangani dengan baik. 

  Memang ada dinamika, ada kegiatan yang tiba-tiba datang seperti kekerasan 
yang terjadi kemarin. Tapi kepolisian tetap melakukan pencegahan.
  Tegas! Jangan memberikan ruang untuk keluar dari apa yang kita kehendaki. 
Kepada seluruh rakyat mari kita jaga baik-baik negeri ini, kita jaga kehormatan 
bangsa di negeri sendiri dan dunia internasional. 

  Tindakan kekerasan kemarin yang dilakukan oleh organisasi tertentu, 
orang-orang tertentu mencoreng nama baik negara kita di negeri sendiri maupun 
dunia.
  Jangan mencederai seluruh rakyat Indonesia dengan gerakan-gerakan dan 
tindakan seperti itu. Demikian pernyataan saya, terima kasih.” 
  
 
  Sehari setelah SBY mengeluarkan Lalu (3/6/2008), Kedubes AS mengeluarkan 
rilis yang disampaikan kepada berbagai media massa Indonesia. Kedubes AS 
menyatakan jika tindak kekerasan seperti yang terjadi di Monas menimpa massa 
AKKBB akan memiliki dampak yang serius bagi kebebasan beragama dan berkumpul di 
Indonesia dan akan menimbulkan masalah keamanan. Kedubes AS juga prihatin 
terhadap para korban yang terluka dan pihaknya pun menyambut baik sikap SBY 
agar para pelaku tindak kejahatan segera ditindak secara hukum. Tidak sampai di 
sini, Kedubes AS pun mendesak pemerintah SBY untuk terus menjunjung kebebasan 
beragama bagi para warga negaranya sebagaimana tercantum dalam Undang-Undang 
Dasar Negara Republik Indonesia. 
  
 
  Di sebagian besar media massa, cetak maupun teve, peristiwa ini mendapat 
porsi pemberitaan yang sangat besar dengan pemihakan yang sangat kentara. Yang 
sangat kasar dalam hal ini adalah Metro TV. Dalam aneka acara, Metro TV 
menyebut Habib Rizieq hanya dengan “Rizieq Shihab”, sedangkan Abdurrahman Wahid 
dengan sebutan Gus Dur atau KH. Abdurrahman Wahid. Angle pemberitaan pun terasa 
sekali, bahkan kasar, mencitra-burukkan FPI sebagai organisasi massa yang haus 
darah, beringas bagaikan preman, dan wajib dibubarkan.
   
  Apa yang dilakukan Metro TV sebenarnya tidaklah aneh karena stasiun teve ini 
memang sejak lama telah mengakomodir orang-orang dari kelompok liberal dan 
bukan rahasia umum lagi jika banyak siarannya sangat Americanized. Bagi 
sebagian kalangan, stasiun teve ini adalah CNN-nya Indonesia.
   
  Lantas, di manakah letak hubungannya dengan kepentingan Zionis-Yahudi, apakah 
itu bernama Zionis Amerika atau Zionis Israel? 
  
 
  Jika kita jeli, maka AKKBB ini merupakan sebuah aliansi cair dari dua kubu 
yakni kaum Liberal seperti JIL dan juga kubu non-Muslim seperti KWI dan PGI. 
   
  Bukan rahasia umum lagi jika JIL merupakan perpanjangan tangan kepentingan 
Zionis di Indonesia untuk menghancurkan Islam dari dalam. Keterangan tentang 
hal ini tidak perlu dibahas lagi. Salah satunya silakan lihat situs 
www.libforall.com dan juga tulisan di eramuslim.com, rubrik Nasional dengan 
judul “Di mana Habib Rizieq dan Abdurrahjan Wahid Sebelum Kasus Monas” (Ahad, 
8/6) tentang Abdurrahman Wahid.
   
  Arah dan strategi pemberitaan sebagian besar media massa kita—cetak maupun 
teve—secara kasar memang terlihat tidak profesional dan memihak kubu 
pro-Ahmadiyah. Hal ini sebenarnya berangkat dari strategi Rand Corporation, 
sebuah lembaga think-tank Amerika yang ingin menghancurkan Islam di Indonesia.
   
  Dalam tulisan keempat akan dipaparkan isi dari strategi Rand Corporation yang 
ditulis oleh Cheryl Bernard. (bersambung/rizki)

    

   

       
---------------------------------
Get the name you always wanted with the new y7mail email address.

Kirim email ke