SEX DAN GENDER

Friends, seorang rekan wanita saya, sebut saja bernama
Mbak K menulis tentang SEX DAN GENDER di milis SI
<http://groups.yahoo.com/group/spiritual-indonesia>.
Komentar dari saya (L) ada di bagian bawahnya. (Leo)

+

K = Sex adalah jenis kelamin. Gender (penulisannya
sudah mulai di-indonesiakan menjadi jender) adalah
konstruksi sosial (politik, budaya, ekonomi, … 
negara, agama, adat, pasar, globalisasi….) yang 
dilekatkan kepada seseorang karena sex-nya atau jenis
kelaminnya. Gampangnya, peran yang dilekatkan oleh
masyarakat kepada seseorang karena jenis kelaminnya.

L = Ya, memang seperti itu pengertiannya.

K = Jenis kelamin: terberi, dari sononya, dari Tuhan,
berlaku universal, tidak berubah. Jender: bikinan
manusia, bukan dari Tuhan, tidak berlaku  universal,
dapat berubah, pilihan.

L = Ya, that's true.
        
K = Dari sini bisa dibedakan juga antara kodrat
(terberi, dari sononya, dari Tuhan) dan bukan kodrat
(pilihan), yang di antara keduanya sering rancu dan
salah kaprah.

L = Iyalah, Indonesia ini negeri yang full of SALAH
KAPRAH. Segala macam di salah-kaprahkan, hmmm hmmm
hmmm...

K = KODRAT-PILIHAN adalah kodrat seorang manusia yang
jenis kelaminnya perempuan, memiliki VAGINA yang punya
potensi untuk kawin (proses pembuahan, senang2); RAHIM
yang berpotensi untuk mengandung; PAYUDARA (ukuran 
se-tutup gelas atau se-melon, bukan isunya) yang
berpotensi untuk menyusui; SEL TELUR  yang punya
potensi menjadi manusia baru ketika ketemu sperma;
proses MENSTRUASI  saat sel telur gagal/tidak terjadi
pembuahan. 
 
L = Memang ukuran payudara is NOT an issue for you and
for me, even though I also know that it is quite a big
issue for some people, hmmm hmmm hmmm...

K = Adalah kodrat seorang manusia yang berjenis
kelamin laki2 memiliki PENIS yang berpotensi untuk
kawin (ukurannya se-pipit atau se-garuda, bukan
isunya. Emang ada yang segagah itu? wheleh2….), SPERMA
yang potensial  untuk jadi anak ketika ketemu sel
telur dan terjadi pembuahan. 

L = Ukuran penis matters for some people yang
dibuktikan dengan larisnya Mak Erot dan para
penerusnya, hmmm hmmm hmmm...

K = Adalah pilihan buat perempuan untuk kawin atau
tidak kawin (apalagi menikah/tidak menikah);
mengandung/tidak mengandung; menyusui/tidak menyusui;
punya anak/tidak punya anak, punya anak dengan
mempertemukan sel telur dan sperma dengan cara kawin,
atau inseminasi, proses bayi tabung.

L = Ya, tapi Indonesia ini kan negeri yang full of
SALAH KAPRAH. Katanya semua wanita HARUS menikah, dan
HARUS punya anak. Kalau cuma kawin aja, dan tidak
menikah nanti Allah gimana gituh, hmmm hmmm hmmm...
        
K = Adalah pilihan buat laki2 untuk kawin/tidak kawin
atau menikah/tidak menikah; punya anak/tidak punya
anak, punya anak secara natural atau inseminasi
buatan. 

L = Hmmm... kalau ini lebih umumlah. Laki2 itu umumnya
very easy buat kawin. Kawin aja, hmmm hmmm hmmm...
Kawin (fucking) is a natural process, in my opinion,
dan TIDAK memerlukan segala ridho dari kanan kiri yang
merupakan bentukan budaya doang dan TIDAK natural.
Yang natural is fucking thok. On the other hand,
inseminasi buatan for pria itu yang gimana yah ? 

K = Dan rupanya Tuhan yang mahakreatif dan antik itu
suka juga menciptakan perkecualian2, yang lain dari
yang lain. ada manusia yang  berkelamin ganda, ada
yang berkelamin laki2 tapi berorientasi perempuan 
(waria), ada perempuan atau laki2 yang mandul (tidak
bersel telur, tidak bersperma), dsb.

Dan untuk itu, Tuhan yang siap berkomunikasi dengan
siapa saja dan maha demokratis itu juga siap untuk
diajak bernegosiasi. Dorce yang memutuskan untuk
operasi kelamin itu tentu telah melewati proses
komunikasi dan negosiasi sama Tuhan. Dan konsultasi
sama Gus Dur juga, sih (coba konsultasinya sama MUI,
pasti nggak bakalan jadi, karena dalam fatwanya, waria
adalah semacam manusia yang menyimpang yang harus
dibikin normal kembali).

L = Enak azzah MUI bikin fatwa tentang waria yang
musti dibikin "normal". Emangnya MUI itu waria, hmmm
hmmm hmmm...

K = Trus bagaimana dengan perempuan yang kawin sama
perempuan, laki2 yang kawin sama laki2? Lha,
kawin-tidak kawin saja pilihan masing2 manusia,
kawinnya dengan siapa tentu adalah pilihan “banget”
juga. Memilih kawin ada konsekuensinya. Tidak kawin
juga ada konsekuensinya. Kawinnya dengan siapa, ada
konsekuensinya masing2 pula. Setiap pilihan dalam
hidup ini selalu mengandung konsekuensi, bukan? 

L = Ya, semua hal memiliki konsekwensi. Ada PILIHAN,
dan setiap pilihan memiliki KONSEKWENSI. Kalo sukanya
fucking sama sesama wanita, ya fucking aja, so what
gitu lho ! Kalo sukanya fucking sama sesama pria, ya
fucking aja. As long as alat2 cinta yang digunakan
merupakan milik dhewe, ya orang lain mbok ya nonton
azzah, itupun kalo diperbolehkan, hmmm hmmm hmmm...

K = SEX-GENDER: Seorang manusia yang berkelamin
perempuan, jendernya (konstruksi sosial yang
dilekatkan kepadanya) biasanya: lemah, tidak atau
kurang rasional, gampang menangis, suka memasak, 
pintar merawat bayi, suka belanja, dsb.

L = Ya, itu kan STEREOTYPE doang. Secara sosial
dikonstruksikan seperti itu walaupun benernya BANYAK
juga wanita yang lebih kuat dari laki2, hmmm hmmm
hmmm...

K = Seorang manusia berkelamin laki2, jendernya
biasanya: kuat, rasional, pantang menangis, pantang
ke dapur, tidak ahli merawat bayi atau  malah tabu,
bukan tukang belanja, dsb.

L = Ya, stereotype juga. Cappe deh !!
        
K = Padahal, setiap potensi yang tidak ada hubungannya
dengan kodrat, dapat muncul di kedua jenis kelamin.
tidak membedakan jenis kelamin. Ada laki2 yang lemah,
tidak rasional, cengeng, hobi masak, ahli merawat bayi
(apalagi kalo memang profesinya perawat), maniak
belanja. Begitu juga sebaliknya, ada perempuan yang
kuat, sangat rasional, jarang menangis, tidak  suka
masak, tidak pengen merawat bayi, males belanja. 

L = Ya, sedikit demi sedikit kita BELAJAR bahwa segala
stereotypes itu omong kosong. Konstruksi sosial dari
jaman jahilliyah yang, maybe, masih dipertahankan oleh
sekelompok aliran agama dan tradisi tapi sudah mulai
dibuang jauh2 oleh manusia2 yang ELING bahwa kita
sudah hidup di masa Post Modern. 
        
K = Sex tidak bisa dipertukarkan karena memang sudah
dari sononya, gender (peran) bisa saling dipertukarkan
karena ini masalah pilihan, dan sangat bisa berubah
oleh perkembangan zaman.

L = That's what I have been saying sampe sekarang.
Kalo udah bosen MAEN PERAN sebagai wanita yang gimana
gituh, then you COULD change roles sebagai wanita yang
berbeda. Begitu pula dengan pria. Kalo biasanya di
atas, sekarang bisa di bawah. Kalo biasanya di bawah,
sekarang bisa di atas. So what gitu lho !

K = Bias jender: Sederhananya, perspektif yang tidak
melek jender, yang merancukan antara sex dan gender,
antara kodrat dan pilihan hidup. Contoh: pendapat/
pandangan yang meyakini bahwa laki2 adalah  pencari
nafkah utama dan perempuan adalah ibu rumah tangga
(“yang baik”). 

L = Ya, itu pengetian BIAS GENDER, pandangan yang BIAS
karena konstruksi sosial.

K = Pen-jender-an ini jelas merugikan kedua jenis
kelamin, baik perempuan maupun laki2. Suami yang tidak
bekerja (bukan karena malas, tapi karena 
keterbatasannya), atau berpenghasilan lebih sedikit
dari isterinya, menjadi sangat potensial untuk merasa
tertekan atau malu karena pandangan yang  berkembang
di masyarakat hasil konstruksi sosial adalah bahwa
laki2 merupakan pencari nafkah utama. Bahkan yang
merasa malu bisa jadi bukan hanya si suami, melainkan
juga si isteri, mertuanya, … karena konstruksi sosial
yang kurang  adil ini telah mengakar di setiap kepala.

L = Ya, biasalah. Masyarakat Indonesia MASIH memiliki
pandangan seperti itu which is pandangan only. Karena
pandangan, berarti BISA DIUBAH. Bisa diubah juga kalo
mau, hmmm hmmm hmmm...
     
K = Sebaliknya, seorang isteri, dulu, dituntut untuk
menjadi ibu rumah tangga yang baik, karena masalah
kebutuhan materi sudah dicukupi oleh sang suami yang
adalah pencari nafkah utama. Sesuai dengan
perkembangan zaman, juga seringkali karena masalah
tuntutan ekonomi, si isteri lalu bekerja juga, 
berkarir juga. Masalahnya, tuntutan masyarakat, juga
si suami, seringkali tidak ikut berubah sesuai
perkembangan zaman. Jadinya, sang isteri yang juga
bekerja mencari nafkah, masih juga dituntut menjadi
ibu rumah tangga “yang baik”, harus berperan ganda,
mencari duit sekaligus mengurusi rumah tangga
sepenuhnya: memasak untuk keluarga, melayani suami dan
anak, …. Nah, begini ini yang disebut diskriminasi
jender. 

L = Ya, itu contoh dari DISKRIMINASI JENDER yang,
biasanya menggunakan berbagai Belief Systems juga
untuk MEMAKSAKAN diri. Si istri harus dicekokkin bahwa
Allah mencintai wanita yang gimana gituh supaya
akhirnya si istri mau MENERIMA NASIB melayani
semuanya. Menjadi budak for all. Allah mencintai
wanita yang mau menghambakan dirinya kepada kaum pria,
blah blah blah... says the jahilliyah belief system
yang sadly to say masih dipake sampe sekarang.

K = Yang tidak diskriminatif adalah, jika kedua
suami-isteri  memiliki dan menjalani konsep berbagi
yang adil, termasuk pekerjaan rumah tangga (kerja
domestik). 

L = Ya, mereka yang TERCERAHKAN sudah mau
mempraktekkan hal itu. Mereka yang masih takut2 kalo
nanti Allah marah2, masih bertahan menggunakan the
primitive belief system yang mengatakan bahwa wanita
harus melayani semuanya, cappe dehh !!

K = Dulu ada istilah kesetaraan jender (gender
equality), istilah yang muncul belakangan: keadilan
jender (gender justice).

L = Gender Justice is part of JUSTICE FOR ALL.

K = Lalu, apa itu diskriminasi terhadap perempuan?
Diskriminasi terhadap perempuan adalah diskriminasi
terhadap sex perempuan, atas manusia yang berjenis
kelamin perempuan. 

L = Sure, then ?

K = Memangnya tidak ada diskriminasi terhadap laki2?
Ada, tetapi sama sekali tidak separah yang terjadi
pada perempuan, karena sistem yang masih juga dominan
di dunia kita ini, di zaman ini; tidak di amerika,
tidak di indonesia, dalam kadar berbeda, adalah sistem
 patriakal (patriach, patriarchist). Sehingga
perjuangan perempuan untuk  mendapatkan keadilan jauh
jauh lebih berat ketimbang laki2. 
        
Dan meperjuangkan keadilan bagi perempuan adalah
perjuangan untuk umat manusia, untuk kesejahteraan
bersama, perempuan dan laki2, karena manusia dengan
jenis kelamin yang satu harus hidup bersama dengan
jenis kelamin yang lain di dunia ini. Sebuah
perjuangan kemanusiaan yang universal, baik  untuk
manusia dengan seksualitas perempuan maupun manusia
dengan seksualitas laki2. Karena itu, saya percaya,
bahwa spiritualitas sangat  berhubungan dengan
seksualitas!

L = Sure, nothing comes freely on a silver plate.
Selamat berjuang saudariku, merdeka ! 

Merdeka !

+++

[Leonardo Rimba adalah seorang praktisi Psikologi
Transpersonal. Bersama Audifax, Leo menulis buku
"Psikologi Tarot" (Pinus, Maret 2008). Diskusi dengan
Leo bisa dilakukan di Milis SI; to join just click:
<http://groups.yahoo.com/group/spiritual-indonesia>.
Anybody is welcomed to join.]




Send instant messages to your online friends http://uk.messenger.yahoo.com 

Kirim email ke