---------- Forwarded message ----------
From: RM Danardono HADINOTO <[EMAIL PROTECTED]>
Date: Jun 14, 2008 6:39 PM
Subject: [ppiindia] Kebangkitan Neo-Wahabi
To: [EMAIL PROTECTED]

  Kebangkitan Neo-Wahabi

Oleh Rizqon Khamami

Duta Masyarakat, 2005.
Sejak bergulir Reformasi dapat kita tandai dengan adanya kebangkitan
berbagai aliran gerakan. Tidak terkecuali Islam. Pada umumnya,
gerakan-gerakan baru Islam ini mengusung faham Salafi. Tercatat
sejumlah gerakan dalam aliran ini: Fron Pembela Islam (FPI), Lasykar
Jihad (LJ), Majelis Mujahidin Indonesia (MMI), Hizbut Tahrir
Indonesia (HTI), Lasykar Ahlussunah wal Jamaah, dan lain-lain.
Beberapa di antaranya sudah membubarkan diri. Bahkan, Partai Keadilan
Sejahtera (PKS) masuk kategori gerakan ini.

Bagaimana pengelompokan ini didasarkan? Dalam tradisi Islam, aliran
Salafi mengacu pada pandangan madzhab salaf. Karakteristik menonjol
aliran ini, di antaranya, seruan kembali ke Al Qur'an dan Sunnah Nabi
dengan kecenderungan penafsiran secara tekstual dengan mengabaikan
konteks, dan semangat meniru generasi salaf al-shalih yang dielu-
elukan sebagai masa paling ideal.

Ibnu Taymiah dikenal sebagai penggagas awal teologi Salafi. Istilah
Salafi, bisa dikatakan, muncul sejak Ibnu Taymiah ini. Kata "salafi"
merujuk ke generasi salaf al-shalih. Sepeninggal Ibnu Taymiah,
teologi Salafi makin berkembang. Beberapa kurun selanjutnya, di tanah
Najd, Semenanjung Arabia, Muhammad bin Abdul Wahab mengembangkan
teologi Salafi dengan lebih spesifik dan makin tajam. Pengembangan
teologi oleh Muhammad bin Abdul Wahab dikenal dengan aliran Wahabi.
Bagi pengikut Wahabi, istilah ini terdengar kurang baik. Mereka lebih
suka disebut pengikut Salafisme.

Pada awal abad 20, pemikiran Ibnu Taymiah dan Muhammad bin Abdul
Wahab, sedikit banyak, menjadi pemantik pemikiran Muhammad Abduh.
Berangkat dari perpaduan ajaran Ibnu Taymiah dan pencarian Muhammad
Abduh, gerakan salafi lantas dikembangkan dengan lebih tertata
melalui gerakan Ikhwanul Muslimin. Tokoh paling penting pemberi warna
ideologi gerakan ini adalah Sayyid Qutub. Di kalangan islamisis
(pakar kajian keislaman), pemikiran Sayyid Qutub disebut dengan
istilah Salafi Modern.

Di Indonesia, pemikiran-pemikiran Salafi dibawa oleh KH Ahmad Dahlan.
Muhammadiyah berdiri. Organisasi ini menyebut dirinya sebagai
persyarikatan kaum Puritan Islam. Untuk pertama kali, dalam disertasi
doktornya, Deliar Noer menyematkan Muhammadiyah sebagai gerakan
Modernis. Sebuah istilah, yang saya duga, untuk menstigma organisasi
sejawatnya, Nahdlatul Ulama (NU) agar identik dengan gerakan
kampungan.

Hal menarik dari perjalanan Muhammadiyah, selama beberapa dasawarsa
awal, organisasi ini lebih cenderung mengadopsi Salafisme Wahabi.
Perubahan penting terjadi menjelang tahun 80-an beberapa saat setelah
terjadi Revolusi oleh para mullah Syiah di Iran. Keberhasilan
Revolusi Iran tahun 1979 menciptakan kegairahan baru dunia Islam.
Dimana-mana orang menganggap bahwa Revousi ini adalah awal dari
kebangkitan dunia Islam yang selama beberapa abad mengalami
kemunduran. Muslim Indonesia tidak terkecuali. Meski Revolusi itu
terjadi di Iran, tetapi Ikhwanul Muslimin, yang bersumber di Mesir,
mendapat berkah. Ikhwanul Muslimin mendadak populer. Di Indonesia,
terjemahan buku-buku Sayyid Qutub laris. Apa sebab? Bagi kalangan
Muslim Indonesia, pemikiran Sayyid Qutub lebih bisa diterima, karena
sama-sama Sunni. Selain itu, Sayyid Qutub mampu meramu pemikirannya
dengan amat tertata. Bersamaan dengan tren ini, Muhammadiyah
mengadopsi pemikiran Salafi Modern. Sebuah pemikiran yang lebih
moderat dibanding Salafi Wahabi. Apa alasannya? Wahabi gampang
menyalahkan dan membid'ahkan kaum Muslim yang tidak sepaham. Saya
kurang sepakat dengan pendapat Karen Armstrong yang menyatakan bahwa
Qutubisme (merujuk ke pemikiran Sayyid Qutub) lebih radikal dibanding
Wahabi, seperti tulisannya di The Guardian, 11 Juli 2005. Yang lebih
tepat, sebaliknya.

Pilihan Muhammadiyah ini tidak terlepas dari peran anak-anak muda
kala itu. Kemunculan tokoh seperti Amien Rais, Kuntowijoyo, Syafi'I
Maarif, Affan Ghafar, Syafiq Mughni, M Amin Abdulla, Abdul Munir
Mulkhan, Moeslim Abdurrahman -–untuk menyebut beberapa nama saja--
adalah penanda kebangkitan Muhammadiyan baru. Di tangan mereka,
Muhammadiyah menjadi organsisasi Islam moderat dan makin disegani.
Diperkuat lagi dengan akomodasi politik Suharto dalam perlakuannya
terhadap organisasi-organisasi Islam, dengan memanjakan organisasi
Islam Puritan ini. Wajah keras Wahabisme di tangan mereka perlahan
luntur. Apa buktinya? Perang TBC (Taqlid, Bid'ah & Churafat) yang
selama bertahun-tahun menjadi agenda utama, perlahan-lahan mereda.
Bahkan beberapa tahun lalu, sebagian warga Muhammadiyah mulai
mempertanyakan keefektivan cara dakwah "keras" ini. Mereka
mengusulkan dakwah kultural, yang tidak lagi dengan gampang menyebut
orang lain bid'ah hanya karena berdakwah dengan pendekatan budaya
setempat. Di tangan tokoh-tokoh moderat ini pemikiran Ikhwanul
Muslimin tidak serta merta dijiplak utuh. Mereka membuang jauh-jauh
ide pan-Islamisme, mengambil hanya sisi pemikiran gerakan sosialnya.
Suatu saat, Amien Rais mengatakan: Tidak ada negara Islam.

Apakah usaha mereka berhasil? Selama beberapa dekade, iya. Namun, di
tataran massa Muhammadiyah, kegandrungan pada pemikiran Sayyid Qutub
tidak hanya terbatas pada pemikiran sosialnya, tetapi juga pada
politisnya. Pada saat suara-suara warga ini tidak ditampung oleh elit-
elit Muhammadiyah, mereka lebih memilih bermain di luar area. Gerakan
usroh, tarbiyah, halaqah, dan sejenisnya, yang menjamur di lingkungan
kampus dan masjid, merupakan bentuk luapan kegelisahan anak-anak muda
dan suara protes tidak langsung. PKS berkembang dari gerakan protes
ini.

Di samping itu, kepulangan para veteran perang Afghanistan pasca
kejatuhan Uni Soviet memberi warna baru. Persentuhan langsung dengan
para pejuang dari negara lain selama perang pembebasan Afghanistan
makin memperteguh Wahabisme mereka. Pengalaman tempur di medan perang
menambah keyakinan bahwa otot dan senjata menjadi identitas baru.
Sebuah identitas kekerasan.

Akan tetapi, sekembali mereka di Tanah Air, ide Wahabisme yang mereka
bawa tidak diberi tempat oleh elit Muhammadiyah kala itu. Mereka
lantas mendirikan atau berkumpul dalam organisasi-organisasi baru,
seperti Lasykar Jihad, Fron Pembela Islam, Majelis Mujahidin
Indonesia dan Hizbut Tahrir. Organisasi ini adalah diantara
organsisasi yang menjadi pilihan warga Muhammadiyah yang menganggap
organisasi ini terlalu lembek dalam menyuarakan kepentingan baru
mereka. Bahkan, dalam kaitan dengan Syariat Islam, Muhammadiyah
pernah dituduh sebagai banci oleh warganya yang radikal. Dulu, warga
Muhammadiyah garis kanan, seperti Ali Imran, Amrozi, Ja'far Umar
Thalib dan Abu Bakar Baasyir, tidak mendapat tempat di Muhammadiyah.
(Ahmad Najib Burhani, Menebak Masa Depan Liberalisme di Muhammadiyah,
Islam Progresif, message no. 1519). Mereka inilah Neo-Wahabi itu,
gerakan Wahabi baru yang dipadu dengan kemampuan tempur yang
dibawanya ke tengah-tengah masyarakat.

Kini, sejak Muktamar Muhammadiyah ke-45 di Malang, 3-8 Juli 2005,
para veteran itu sudah kembali menguasai Muhammadiyah. Tokoh-tokoh
moderat tersingkir. MUI pun sepertinya sudah mulai direngkuhnya. Apa
indikasinya? Fatwa-fatwa keluaran MUI baru-baru ini terlihat memiliki
kesan terwarnai oleh tangan-tangan Neo-Wahabi tersebut. Mereka
mengagungkan teks secara berlebihan dengan mengabaikan konteks Mereka
mudah membid'ahkan dan mensesatkan segala bentuk perbedaan. Gampang
menyerbu bukan kelompok sepaham, tanpa toleransi. Gampang mencibir
kalangan Islam yang bukan pengikut mati generasi salaf al-shalih.
Kata-kata "bid'ah", "kafir", "musuh Islam", "penghancur Islam dari
dalam", dan seterusnya, mudah menjadi ungkapan harian.

Dengan kebangkitan Neo-Wahabi ini, kita bisa menebak arah perjalanan
Islam Indonesia ke depan. Wajah Islam Indonesia mulai memunculkan
ketidak-ramahan. Akankah semua ini dibiarkan?

Sumber: Duta Masyarakat


Kirim email ke