Perempuan Dalam Budaya Patriarki
[Hitung-hitunglah diri]

Perempuan selalu menjadi obyek penderita dalam persepsi patriarki.
Bahkan agama yang suci juga tak luput dikotori dengan budaya patriarki.
Perempuan selalu dan sering benar-benar menderita sedangkan laki-laki menjadi 
subyek pelaku yang
"serbatahu dan serbakuasa" Perempuan selalu menjadi korban KDRT, misalnya.
Demikian juga dalam persoalan seks, terkadang istri menjadi alat dan simbol 
kekuasaan bagi suaminya.
Padahal fungsi rekreasi antar isteri-suami saat bersanggama sangat ditekankan 
oleh Nabi SAW. 
Beliau menganjurkan agar suami tidak menghampiri isteri dengan semangat 
mementingkan diri sendiri. 
Ciuman dan pelukan adalah komunikasi dialogis tubuh sebagai hidangan awal 
sehingga sang istri 
siap memasuki hidangan utama.
Jika hal ini diabaikan para istri tidak akan merasa nyaman dan akan merasa 
hanya dimanfaatkan layaknya benda.

Suami adalah pemimpin di rumahtangganya. Namun bias budaya patriarki yang telah 
berurat berakar; membuat 
kepemimpinannya tidak disertai tanggungjawab dan cinta.
Ayat QS An Nisaa;4:34 dicabut ruhnya. Memimpin adalah berarti mencintai yang 
dipimpin. Mencintai 
berarti memberi bukan mengambil.
Dalam perspektif patriarki yang kental, menjadi pemimpin dianggap sebagai hak. 
Padahal dalam perspektif yang seimbang 
sesuai tuntunan Islam, menjadi pemimpin adalah kewajiban. Setelah kewajiban 
terlaksana barulah hak diterima.
Cinta yang tulus murni bahkan tidak menuntut hak sama sekali. Ia hanya sibuk 
memberi. Dengan demikian 
terjadi hubungan timbal balik yang harmonis saling melindungi jiwa dan raga 
antara suami dan istri.

Pada QS Al Baqarah; 2:187- -laki-laki adalah pakaian bagi perempuan dan 
perempuan pakaian bagi laki-laki.
Seharusnya peran suami istri adalah saling melekati, melindungi, menghormati, 
memperindah.
Tetapi dalam budaya masyarakat patriarki petunjuk Islam ini tanpa disadari 
banyak diselewengkan!
Lihat saja dalam film, sinetron yang bertema horor atau religi. Pencerahan, 
nasihat, ceramah rohani selalu dilakukan 
oleh kaum laki-laki -agamawan, ustadz. Adapun Mak Lampir, Kuntilanak, Suster 
Ngesot, Sundel Bolong, Hantu bangku kosong, 
semuanya adalah perempuan. Mengapa tak ada Pak Lampir, Mantri ngesot?
Mengapa hantu-hantu kebanyakan selalu perempuan???? Dan mengapa pengusir hantu 
selalu laki-laki????
Kenyataannya, pada produk budaya patriarki segalanya dilihat dari perspektif 
laki-laki.

Bila ada mantan pecandu narkoba, perampok, penjahat yang bertobat lantas 
menjadi ustadz, maka masyarakat menyambut hangat.
Apakah perlakuan yang sama diberikan pada perempuan mantan pelacur yang kembali 
kejalan yang benar, mendalami agama?
Berita ini hampir tidak pernah terdengar; lagipula jikapun ada, apakah 
masyarakat sanggup menerimanya?
Seringkali kita sendiri yang merasa lebih bersih menghalangi saudari-saudari 
kita yang berlumur noda untuk kembali ke jalan yang suci. 
Dengan memakai standar ganda. "Perempuan harus lebih bisa menahan diri dan 
lebih suci daripada laki-laki". 
Pria berdosa ditoleransi karena 'manusiawi' ; namun jika wanita berdosa 
dicacimaki bahkan oleh kaum wanita sendiri.
Razia lokasi prostitusi selalu perempuan penjaja seks yang dipermalukan, 
laki-laki penikmat seks dibiarkan bebas melenggang.

Dosa kejatuhan Adam ke bumi dipersalahkan pada Hawa. Perempuan selalu dianggap 
sebagai penyebab bencana.
Padahal Adam dan Hawa sama-sama tidak bisa menahan diri, Qur'an Al A'raaf; 7: 
19-25. 
Di film, sinetron, sumber bencana ketakutan adalah perempuan yang berwujud 
setan, hantu-hantu.
Bayi dan anak-anak pengidap HIV/AIDS makin merebak, para ibu-istri juga yang 
selalu  lebih dahulu dipersalahkan.

Selayaknya jika diri sendirilah yang disesali atas semua akibat yang menimpa. 
Tidak perlu menyalahkan siapapun diluar diri.
Tengoklah dahulu  kedalam diri sendiri. "Hitung-hitunglah diri", demikian 
wasiat sang sufi, Abdul Harits Al-Muhasibi.
[Sumber : Dikutip sebagian dari tulisan Ilham D Sannang editor penerbitan di 
Bandung]
----------------------------------------------------------------------------------------------
l.meilany
160608


Kirim email ke