Selasa, 17 Juni 2008

Misi 'Berani Mati' Menuju Matahari



Matahari yang berada 150 juta kilometer dari Bumi, panasnya sangat
menyengat. Bagaimana rasanya panas Matahari itu jika didekati hingga jarak
tujuh juta kilometer saja?

Itulah yang kini sedang dirancang Badan Antariksa Nasional Amerika Serikat
(NASA). Lebih dari 400 tahun, astronom mempelajari perilaku Matahari dari
jarak jauh. Sekarang, saat bagi NASA mengamati Matahari langsung ke
sumbernya. Buat apa mengamati Matahari dari Bumi kalau memang bisa mendekat,
begitulah mungkin yang dipikirkan NASA.

''Kami akan mengunjungi bintang yang bernapas itu untuk kali pertama,
langsung ke pusatnya,'' kata ilmuwan NASA, Lika Guhathakurta, pekan lalu.
Bagi astronom, Matahari merupakan wilayah yang relatif belum terjamah
dibanding anggota tata surya yang lain. Bulan, satelit Bumi, sudah sejak
1969 didarati manusia. Dan, tak terhitung banyaknya didarati misi tak
berawak.

Terakhir, wahana antariksa tak berawak milik NASA, Phoenix, mendarat di
kutub utara Mars, 25 Mei 2008. Wahana itu akan memulai tiga bulan masa
penelitian terhadap planet terdekat dengan Bumi itu.

Seolah ingin mengulang kesuksesan Phoenix, wahana antariksa tak berawak yang
diberi nama Solar Probe+ (baca Solar Probe Plus) akan diluncurkan. Misinya
tak tanggung-tanggung, menyentuh atmosfer Matahari. Sebuah misi 'berani
mati', sekali datang, tak akan kembali.

Bagaimana bisa pesawat mendarat di Matahari? Apakah materialnya tidak
menyusut diisap panasnya sang bintang? Tampaknya, semua pertanyaan itu sudah
disiapkan jawabannya oleh NASA.

Karena diskenariokan *nyemplung* ke dalam atmosfer Matahari --di mana
jilatan angin Matahari (*solar wind*) dan badai magnet bakal mengancam--
pesawat Solar Probe+ yang merupakan pengembangan dari wahana sebelumnya,
Solar Probe, akan didesain tahan panas.

NASA akan menyiapkan material pesawat yang bisa bertahan terhadap panas
hingga jarak tertentu dari Matahari. Memang, persiapannya tidak *ujug-ujug*.

Adalah John Hopkins' Applied Physics Lab (APL) yang menyiapkan rancangan
pesawat tersebut. APL punya riset pendahuluan atas kebutuhan pesawat model
yang didesain tahan panas Matahari.

Pada Januari 2008, pesawat APL bernama MESSENGER telah menyelesaikan misinya
mengitari Merkurius, planet terdekat dengan Matahari. Berkaca dari
MESSENGER, Solar Probe+ pun akan dibentengi dengan teknologi tahan panas
serupa. Untuk diketahui, siang hari di sana panasnya 467 derajat Celcius.

Solar Probe+ akan dijaga supaya jarak maksimal terdekatnya tujuh juta km
dari Matahari atau sembilan kali radius Matahari. Matahari akan terlihat 23
kali lebih lebar dibanding dipandang dari Bumi.

Di ketinggian itu, material pesawat harus tahan panas lebih dari 1.400
derajat Celcius. Tak hanya itu, pesawat juga mesti kebal terpaan radiasi
pada tingkatan yang belum pernah dibuat sebelumnya. ''Kami punya banyak
pekerjaan yang harus dipikirkan. Kendati demikian, ini sangat
menyenangkan,'' kata Guhathakurta.

Diharapkan, pesawat sudah dapat diluncurkan pada 2015. Misi pesawat
ditargetkan berakhir tujuh tahun kemudian, dengan sasaran memecahkan dua
misteri besar astrofisika serta menemukan hal-hal baru sepanjang perjalanan.

Dua misteri itu, pertama, mengetahui suhu korona Matahari. Korona merupakan
lapisan terluar atmosfer Matahari. Paling dalam disebut fotosfer, berikutnya
kromosfer.

Bila termometer ditaruh di permukaan Matahari, jarum penunjuk akan mengarah
ke 6.000 derajat Celcius. Anehnya, makin keluar, suhu lapisan atmosfer
bertambah panas.

Sejauh ini, suhu korona diperkirakan mencapai satu juta derajat Celcius,
lebih panas ratusan kali daripada suhu di lapisan dalam atmosfer Matahari.
Tingginya temperatur ini menyisakan misteri selama 60 tahun terakhir.
Misteri kedua, angin Matahari (*solar wind*). Ledakan akibat reaksi berantai
di pusat Matahari, mengakibatkan terlontarnya partikel bermuatan dengan
kecepatan jutaan meter per detik (mph).

Partikel ini terlontar hingga dirasakan planet-planet, asteroid, dan komet.
Perhatikan, ekor komet terbentuk karena adanya angin Matahari itu. Yang
menarik perhatian, bagaimana angin itu terbentuk hingga dapat mementalkan
partikel menuju ke seluruh sistem tata surya?

''Untuk menyingkap misteri ini, Solar Probe+ benar-benar akan memasuki
korona. Tempat di mana aksi itu terjadi,'' kata Guhathakurta. Guna membuka
tabir itu, sejumlah peralatan turut dibawa serta. Semisal, magnetometer,
sensor gelombang plasma, pendeteksi debu angkasa, penganalisis elektron dan
ion, serta *hemispheric imager* (HI). ''Perlengkapan itu akan membantu
mengurai fisik pemanasan korona dan kecepatan *solar wind*.''

Sementara itu, HI merupakan teleskop yang dipakai untuk membuat gambaran
tiga dimensi korona. Tekniknya dikenal dengan *coronal tomography*.

Diluncurkan pada Mei 2015, Solar Probe+ akan memulai misi utamanya ketika
akhir *solar cycle* 24 dan selesai ketika maksimum *solar cycle* 25 pada
2022. *Solar cycle* adalah aktivitas maksimum-minimum energi Matahari dengan
rata-rata kejadian 11 tahun sekali.

Efek *solar cycle* bisa dilihat pada lapisan kambium pohon yang bisa menjadi
parameter usia tanaman. Solar Probe+ juga akan meneliti sejumlah badai
Matahari di akhir misinya. *Solar energetic particle* yang menjadi ancaman
bagi kesehatan dan keamanan astronot juga akan diselidiki Solar Probe+.

Sebelum mencapai korona, Solar Probe+ akan dilempar dengan menggunakan gaya
gravitasi planet Venus. Pesawat tak berawak ini akan mengitari Venus tujuh
kali dalam enam tahun untuk mendapatkan gaya lempar, sehingga mendekat ke
atmosfer Matahari.

Bayangkan permainan lempar cakram. Sang atlet akan berputar untuk memperoleh
gaya lontar maksimal. Di Venus, kendati bukan misi primer, astronom akan
mempelajari hal-hal baru dari planet tersebut ketika sebuah alat dilemparkan
menggunakan efek gravitasi Venus. ''Solar Probe+ adalah misi eksplorasi luar
biasa, penemuan, dan pemahaman. Kami tak sabar menunggu untuk segera
memulainya,'' kata Guhathakurta.
(has )

sumber ; republika


-- 
**********************************
Memberitakan Informasi terupdate untuk Rekan Milist dari sumber terpercaya
http://reportermilist.multiply.com/
************************************

Kirim email ke