Wah, goblok sekali si Gracebarus ini,

Anda bilang 'sering' itu tanpa data berarti ngawur. 
Harusnya anda kasih data berapa persen TKW Indonesia yang ada jadi 
korban perkosaan dan pelecehan seksual? Katakanlah berapa jumlah 
korban perkosaan dan pelecehan dari TKW yang bekerja di Timur Tengah 
per seratus ribunya? 

Nyatanya, tidak setiap minggu, apalagi setiap hari kita membaca atau 
mendengar kabar TKW kita jadi korban perkosaan atau pelecehan. Itu 
artinya, sebagian besar (bisa sampai 99 persen) TKW menikmati 
pekerjaannya sebagai babu di rumah orang Arab. 

Bahwa akan selalu ada dampak sosial dalam hubungan majikan lelaki-dan 
babunya, itu hal wajar. Dan itu bisa terjadi dimana saja. Di negeri 
muslim atau pun kafir seperti Amerika dan Eropa. 

Sekarang kalau mau bicara data. Baca nih tulisan tentang fenomena 
anak tanpa ayah di Eropa dan Amerika. Anda tahu Amerika dan Eropa 
adalah negeri mayoritas Kresten. Amerika dan Eropa juga terkenal 
negeri Freeseks dan serba permisif. Korbannya dari Negeri Amerika dan 
Eropa adalah anak-anak yang lahir hasil zina! Baca nih! 


Fenomena Single Parents di Barat
sumber: Indonesia.irib.

Kendati masyarakat Barat di abad ke-21 saat ini tengah berada di 
puncak kemajuan industri, namun ia masih saja tak luput dari pelbagai 
jeratan krisis dan persoalan. Kini, Institusi keluarga di masyarakat 
Barat tengah mengalami proses perapuhan. Sejak dua generasi 
belakangan ini, model perkawainan masyarakat Barat tengah mengalami 
perubahan mendasar yang amat dahsyat. Hingga urgensi persoalan 
menjaga bangunan keluarga telah menjadi isu utama gerakan moral di 
Barat. Beberapa faktor seperti kian meningkatnya angka perceraian, 
gaya hidup bersama tanpa ikatan nikah, makin bertambahnya jumlah anak-
anak yang lahir di luar nikah, dan kian bebasnya hubungan seksual, 
telah menambah pelbagai ragam dan model single parents di Barat.
Meskipun keluarga merupakan unit terkecil struktur masyarakat namun 
ia adalah institusi sosial yang paling penting. Beberapa abad sebelum 
bermulanya revolusi industri, keluarga merupakan institusi sosial dan 
ekonomi yang mandiri, dan biasanya terbentuk dari beberapa generasi. 
Dalam kelompok sosial ini, kakek dan nenek senantiasa berusaha 
memperjuangkan nasib keluarga bersama cucu-cucunya. Pada awal abad ke-
19, posisi lelaki memegang peran sebagai pemberi nafkah keluarga. 
Mereka bekerja di luar rumah, sementara perempuan bertangung jawab 
mengurusi persoalan rumah tangga. Namun, perlahan-lahan di sepanjang 
abad ke-19, tradisi keluarga di Barat mulai berubah.
Pada abad ke-20, khususnya pada dekade 60-an dan 70-an, terjadi 
perubahan fundamental dalam struktur keluarga di Barat, khususnya di 
AS. Gerakan pembebasan perempuan, telah mendorong kaum hawa untuk 
bekerja di luar rumah. Jika sebelumnya keluarga merupakan tempat bagi 
para orang tua mendidik anak-anak mereka, maka saat ini tempat-tempat 
penitipan anak telah menggantikan posisi ayah dan ibu. David H. 
Olson, profesor ilmu sosial di universitas Minnesota dan seorang 
pakar di bidang keluarga, dalam hal ini menuturkan, "Menurut saya, 
pertumubuhan angka perceraian tertinggi terjadi pada masa-masa pasca 
Perang Dunia II. Dalam kondisi pasca perang kala itu, banyak 
perempuan yang berminat untuk bekerja. Perlahan-lahan hubungan suami-
istri pun menjadi kian renggang dan rapuh. Di saat itulah, banyak 
perempuan yang mengajukan perceraian hanya karena berharap untuk 
mendapatkan pasangan yang lebih baik".
Di samping itu, munculnya gerakan yang di awali dengan penentangan 
terhadap budaya dan tradisi tersebut, menciptakan model baru hubungan 
seksual. Hasilnya, banyak terdapat pasangan yang hidup bersama tanpa 
adanya ikatan nikah. Meningkatnya angka perceraian juga semakin 
membantu mengembangkan model keluarga baru semacam itu. Seorang pakar 
sosiologi dan pengamat sosial, Morgan William Sean 
menulis, "Bersamaan dengan semakin banyaknya tenaga kerja wanita, 
angka kehamilan di AS menjadi melorot tajam, dan angka perceraian pun 
semakin meningkat tinggi". Menanggapi angka perceraian yang semakin 
meningkat itu, William Sean menyatakan, "Pada dekade 70-an dan 80-an, 
angka perceraian di AS meningkat dua kali lipat, menurut data yang 
ada, selama setahun telah terjadi lebih dari satu juta kasus 
perceraian." Berdasarkan salah satu penelitian, AS merupakan negara 
dengan angka perceraian paling tinggi. Pada tahun 1997, telah terjadi 
1,2 juta kasus perceraian di negeri itu yang meningkat dua kali lipat 
dibanding dengan tahun 1960.
Semenjak dulu, keluarga dibangun oleh lelaki dan perempuan. Melalui 
ikatan pernikahan mereka pun memperoleh anak-anak dan hidup secara 
bersama-sama. Dengan munculnya revolusi industri, kendati model 
keluarga tradisional yang terdiri dari ayah, ibu dan anak, masih 
bertahan, namun kemudian memunculkan pula beberapa model keluarga 
baru yang hanya bernamakan keluarga. Beberapa model keluarga baru 
seperti single parents, dan keluarga pasangan homoseks semakin 
berkembang meluas.
Model keluarga single parents, semakin marak di Barat sejak dasawarsa 
60-an. Dalam model keluarga semacam ini, anak-anak hanya hidup 
bersama dengan salah satu orang tua mereka, dan dalam banyak kasus, 
mereka hidup dengan ibu mereka saja. Alvin Toffler dalam bukunya yang 
berjudul The Third wave menyebut model baru keluarga ini sebagai 
simbol masyarakat industri baru yang dibangun berdasarkan garis 
matrilinear.
Sosiolog Perancis, Andre Michel mengklasifikasi keluarga AS dalam 
tiga model. Salah satunya adalah model keluarga yang hanya terdiri 
dari ibu dan anak. Sejumlah data statistik di Eropa menunjukkan bahwa 
lebih dari 50 persen penduduk negara-negara Eropa pada dekade 
terakhir abad ke-20 hidup dalam keluarga single parents. Selain itu, 
Lembaga Statistik AS juga melaporkan, jumlah keluarga single parents 
di AS pada tahun 2000 mencapai lebih dari 12 juta keluarga. Sementara 
itu, jumlah janda di AS antara tahun 1970 hingga 2000 mengalami 
peningkatan serius dari 3 juta menjadi 10 juta janda.
Berdasarkan telaah UNESCO, para peneliti sosial menilai, faktor utama 
muncul dan berkembangnya fenomena single parents disebabkan oleh 
beberapa faktor seperti, berkurangnya pernikahan resmi, maraknya gaya 
hidup bersama tanpa tali nikah, individualisme radikal, sikap lari 
dari tanggung jawab, dan meningkatnya kasus perceraian di negara-
negara Barat. Di samping itu, sebagian besar keluarga single parents 
yang hanya terdiri dari ibu dan anak itu ternyata merupakan hasil 
dari hubungan di luar nikah. Majalah newsweek dalam laporannya 
menuliskan, 57 persen dari anak-anak haram kulit putih yang hidup 
bersama Ibu mereka merupakan penyumbang terbesar jumlah keluarga 
single parents di AS.
Di lain pihak, dalam masyarakat Barat saat ini, terdapat banyak 
remaja perempuan yang hamil di luar nikah sehingga mereka pun 
terpaksa hidup dalam model keluarga single parents. Majalah Reader's 
Digest dalam sebuah laporannya pada bulan September 1996 menyebutkan, 
setiap tahunnya sekitar 350 ribu remaja muda perempuan AS yang 
berusia antara 15-19 hamil di luar nikah dan terpaksa melahirkan anak-
anak mereka. Dalam sebuah wawancara dengan salah satu remaja 
perempuan tersebut, Readers Digest mengutipnya demikian: "Andai saja 
aku bisa kembali ke masa lalu, andai aku bisa hidup bersama kedua 
orang tuaku, andai sebelum aku terjerumus dalam hubungan haram masa 
itu, aku sedikit berpikir untuk masa depanku sehingga aku bisa lepas 
dari jalan buntu semacam ini".
Menurut para psikolog sosial dan sosiolog, maraknya hubungan seksual 
yang semakin bebas merupakan faktor utama penyebab berkembangnya 
model keluarga single parents di masyarakat Barat saat ini. dengan 
kata lain, hubungan bebas dan tanpa aturan antara lelaki dan 
perempuan, akhirnya akan berujung pada hubungan seks di luar nikah. 
Sebagai misal, kita bisa merujuk pada teori Karen Horney, seorang 
psikolog AS. Menurutnya, dalam sebuah masyarakat di mana hubungan 
seks berjalan secara bebas, sebagian besar kebutuhan psikologinya 
tidak dilampiaskan lewat jalur yang benar, yang akhirnya berujung 
pada munculnya gairah seksual. Sementara itu, Raeder's Digest 
menuliskan, "Kesedihan dan penyesalan, pengungsian, kriminalitas dan 
kejatahan, runtuhnya keluarga dan ketidakmampuan dalam melihat masa 
depan, merupakan hasil pasti hubungan seks bebas dalam masyarakat AS".
Dengan demikian, berkembangnya keluarga single parents di Barat 
merupakan hasil dari krisis moral di sana. Karena itu, sejumlah 
sosiolog dan psikolog Barat tengah berupaya keras mencari solusi yang 
tepat untuk menekan seminimal mungkin dampak negatif dari model 
keluarga semacam itu dan mencegah hancurnya institusi keluarga di 
Barat. Salah satu peniliti sosial di negara bagian Illinois AS, Adam 
Borrows menyatakan, "Kita harus mewujudkan model keluarga yang 
tradisional dan mapan, yang mampu bertahan selama masa hidup anak-
anak mereka". Menurutnya, tanggung jawab terhadap anak tidak boleh 
hanya diemban oleh salah satu orang tua saja, dan untuk menangani 
dampak negatif dari model keluarga single parent, maka harus ada 
pelarangan lahirnya seorang anak di luar sturuktur keluarga 
tradisional.  
Last Updated ( Monday, 07 January 2008 )  




--- In zamanku@yahoogroups.com, "gracebarus" <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
>
> Ya setuju!
> Buktinya, walaupun di arab sana pakai jilbab, tetap saja sering
> terjadi pemerkosaan dan pelecehan sexual.
> Para TKI kita diperkosa oleh sesama agama mereka sendiri, tak ada
> rasa kasihan walaupun mereka itu kesana tujuan cari nafkah.
> Jadi bukan tergantung pakaian, tapi tergantung moral manusianya.
> Banyak kog yang pakai jilbab tapi dalamnya "busuk".
> Yah bukan maksudnya berpenampilan "mengundang" juga, tapi yah gak
> perlu berlebihan, apalagi yang sampai pakai cadar yg cuma kelihatan
> matanya saja.
> Lucunya, masa masih bayipun sudah pakai jilbab.
> Apa banyak pedophile di Islam??????
> Yang benar aja.........
> 
> 
> 
> 
> 
> --- In zamanku@yahoogroups.com, "Kartono Mohamad" <kmjp47@> wrote:
> >
> > H. Agus Salim, tokoh Syarikat Islam, dalam tulisan yang dimuat di
> majalah
> > Het Licht, tahun 1926 menolak jilbabisasi perempuan Indonesia dan
> menolak
> > pemisahan tempat antara perempuan dan laki-laki dalam persidangan.
> Ia bilang
> > jilbab adalah budaya Arab, bukan budaya Islam.
> > KM
>


Kirim email ke