Mbak Omie,

Kalau kita belajar dari sejarah bangkitnya paham Wahabi ini, maka ada
beberapa kejadian yg
bisa kita ambil hikmah nya :
1) Pada bulan April tahun 1801, mereka membantai kaum Syi'ah di kota
Karbala'
    (salah satu kota suci kaum Syiah di Irak). Di karenakan kaum syiah
berbeda faham
    dgn kaum wahabi
2) Sejarah berdirinya kerajaan Saudi Arabia - dimana kabilah-kabilah dan
kelompok
    Ahlusunah yang menolak mazhab mereka (Wahaby), di habisi.

Bisa di ambil kesimpulan bahwa metode kaum Wahabi adalah: menuduh
Kabilah-kabilah yang *tidak mau mengikuti* mazhab mereka sebagai*
kafir*, *`yang
halal darahnya'*. Dengan demikian mereka (Wahaby) tidak dinamakan perampok
dan kriminal lagi, tapi kaum `mujahid' yang secara teologis dibenarkan
membunuh kaum `kafir' termasuk wanita dan anakanak, merampok harta dan
memperkosa istri dan putriputri mereka yang dianggap sah sebagai ghanimah
(rampasan perang).

*Kaum Wahabi menganggap mazhab selain Wahaby sebagai sesat* dan menyesatkan
dengan berpatokan pada hadis:
                *"Kullu bid'ah dhalaalah wa kullu dhalaalah fî n-naar". *
*                 (semua inovasi itu sesat dan semua yang sesat itu masuk
neraka)*.
Kata *"bid'ah"* yang mereka tuduhkan hanyalah kata pelembut, untuk `*kafir',
*

Nah coba deh teliti dan cermati posting2 di milis ini (dan mils lain seperti
ppiindia, nasional-list dll), khan
banyak tuh "black campaign" thd tokoh di luar Wahabi (Gus Dur, Guntur
Romli dll) dg macam2 tuduhan,
seperti antek Amerika, menodai Quran dll.

Intinya semua tuduhan Kaum tsb - akan di *arah kan ke satu kata* *"kafir"* -
dan halal untuk di ".........."

(silahkan isi sendiri titik titik nya).


Kalau kita mengikuti alur berfikir kelompok Wahabi ini yang memandang
Ahmadiyah sesat, maka dimanakah

*pola fikir penyesatan ini akan berakhir?*



Menurut saya, ini akan berakhir dalam konflik horizontal ketika satu
kelompok mengklaim mereka adalah

Pengikut Qur'an-Sunnah yang sebenarnya (dalam versi Wahabi- Salafi), karena
dua kelompok inilah yang

mengeksploitasi *pendekatan harfiyah terhadap Qur'an-Sunnah* dan selalu
berkata



      *"di dalam Islam..", "menurut  Islam….", "Islam berkata…" *



sehingga siapa pun yang berbeda pendapat dengan mereka menjadi otomatis
berada di *luar Islam*, sementara yang

lainnya adalah kelompok *sesat atau minimal bid'ah*.



*Dalam sebuah fatwa para ulama Islam Wahabi* di Saudi Arabia yang
dikeluarkan pada tahun *1991*

( jilid 3: halaman 344) oleh al-Lajnah al-Da'imah li al-Buhuts al-`Ilmiyyah
wa al-Ifta'

*dinyatakan bahwa Syaikh Sayyid `Abdul Qadir al-Jailani*

(pendiri thariqat Qadiriyahyang diamalkan oleh banyak ulama Nahdlatul `Ulama
dan juga ulama Islam

tradisionalis lain di Indonesia, Malaysia, dan Thailand Selatan) dan

*Syah Waliyullah Ad-Dihlawi* (ulama reformer di India) sebagai* kafir dan
musyrik*.

Jadi Silahkan di ambil kesimpulan nya sendiri. Mungkin nanti pilihan nya
cuma ada dua :

     menjadi Wahabi atau menjadi kelompok yg (dituduh) sesat, bid'ah,
musryik

Pilihan di tangan anda.

Wass



On 6/17/08, ati gustiati <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
>
>
>
>
>
>
>
>
>
> Hi !
>
>
>
> Teimakasih untuk pencerahan nya, so pertanyaan saya berikutnya, apakah ini
hanya masalah perbedaan antara "Islamism vs Islam" ? kalau Islam is a way of
life, lalu bagaimana kita menyimpulkan mereka yg ingin hidup diatas
prinsipal2 yg legal, sosial, dan political spheres of life adalah bukan
Islam, sedangkan Islamism percaya kepada Islamism, tetapi bukan Islam ?
please advice.
>
>
>
> Perjalanan Islam dengan segala perubahan2 nya memang cukup pelik, seperti
Iman Muhammad Wahhab yg anda jelaskan dibawah, memulai ajaran nya ketika
orang2 Arab masih menyembah batu2 dan kuburan2 atas nama Islam, jadi cukup
jelas kenapa akar2 tradisional Islam begitu kuat dalam gerakan2
fundamentalist di Indonesia.
>
> Kalaupun sejarah Islam dipenuhi bermacam konflik dan kekerasan 3000 thn yg
lalu misalnya, itu masih bisa dimengerti karena manusia berlomba utk
menampilkan gagasan2 agama serta kulture budaya mereka yg sesuai dengan
perkembangan di abad tsb, tetapi utk kondisi abad sekarang, Indonesia punya
segudang masalah yg sudah mencolok mata mendesak utk segera ditangani,
kenapa harus mempersoalkan perubahan2 yg terjadi ribuan thn yg lalu ? what's
the difference ?  who cares ? hiduplah sebagai orang Islam yg baik, kalau
memang pasang  bendera Islam, sebagai kristen yg baik kalau berbendera
kristen, hindu, budha, atau jadilah seorang Atheis yg baik...bukan kah semua
agama mengajarkan kebenaran?
>
> Saya tidak mengerti kenapa NU atau Muhamdiyah harus terancam dengan faham2
Ahmadiyah toh pak Tamrin? bukan kah mereka tumbuh dan berkembang dalam waktu
yg bersamaan ? Ahmadiyah bukan faham baru, aliran2 yg berbendera Islam ini
telah berjalan berdampingan cukup lama .
>
>
>
> Salam sejahtera
>
> omie
>
>
>
> -
>
>
>
> -- On Mon, 6/16/08, M.J Thamrin <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
>
>
>
> Mbak,
>
> Sebenarnya bukan "Islam" secara general yg kayak begini, tapi hanya paham2
fundamentalis saja, yg dimulai dgn ajaran-ajaran Muhammad bin Abdul Wahab,
pendiri gerakan Wahabi di Nejd pada abad ke 18, dan persilangannya dengan
gerakan salafi modernis Islam.
>
>
>
> Muhammad ibn Abd al-Wahhab (1703-1792) memutuskan untuk memisahkan diri
dari Kekhalifahan Turki Usmani dan mendirikan negara sendiri di Arabia
Tengah dan wilayah Teluk Persia.
>
> Ciri khas nya adalah sbb :
>
>
> Kembali kepada Al-Qur'an dan Hadis
>
> membuang semua fiqih-usul fiqih, tasawuf, dan falsafah warisan abad
pertengahan.
>
>
>
> Ibn Abdul Wahhab menyatakan bahwa para Khalifah Turki Usmani adalah kafir,
kerena mereka telah murtad dari Islam.
>
>
>
>
>
> Dari sejak berdirinya hingga sekarang, aliran Wahabi ini melakukan aksinya
dengan dua fokus kerja besar:
>
> 1. Penghancuran ekspresi kultur Islam tradisional.
>
> Kultur Islam tradisional ini dipandang oleh kaum Wahabi sebagai tahyul,
bid'ah, dan khurafat. Ini terentang mulai dari ziarah kubur waliyullah,
kesenian tradisional, praktik sufisme populis, adat istiadat lokal yang
telah membaur dengan ekspresi Islam populis seperti perayaan maulid, dsb.
>
> 2. Pengkafiran dan menuding sesat
>
> (ini adalah bentuk penghancuran kultur Islam tradisionalis dalam ranah
pemikiran) para ulama dalam 4 pilar tradisi intelektual spiritual Islam
(Fiqih-Ushul Fiqih Madzhab, Tasawuf-Thariqat, Filsafat Islam, dan Ilmu Kalam
Asy'ariyah-Maturidiy ah)
>
>
>
> Wahabi inilah yang menjelma menjadi aliran neofundamentalis di seluruh
dunia setelah booming petro dolar Saudi di awal 70-an. Neofundamentalis
Wahabi ini terkadang adalah mereka yang mengalami convert atau "pemurtadan",
dari Islam tradisional lalu dibrainwashed oleh lembaga-lembaga Pendidikan
Islam Wahabi di Saudi Arabia atau filialnya (seperti LIPIA di Warung Buncit
Jakarta) menjadi Wahabi yang kaffah atau minimal memiliki mentalitas Wahabi.
>
>
>
> Di antara pemula ormas Islam neo-fundamentalis penerima dana Saudi yang
beragenda Wahabisme adalah DDII (Dewan Dakwah Islam Indonesia), dari lembaga
inilah pada tahun 80-an kita mulai mendengar adanya kristenisasi di
Indonesia, bersamaan dengan eksploitasi permusuhan dan kebencian kepada
kelompok Nasrani di Indonesia. Dari Majalah Media Dakwah terbitan DDII
inilah semangat kebencian dan permusuhan
>
>
> kepada kelompok yang berbeda dengan mereka mulai disemai dengan baik,
dengan bantuan uang Saudi Wahabi.
>
>
>
> Jadi bukan hanya ajaran-ajaran di luar Islam yg terancam, tapi juga
kelompok2 dalam Islam sendiri (baca NU, Muhammadiyah dll) juga akan terancam
oleh paham2 ini.
>
>
>
> Wass,
>
>
> On 6/15/08, ati gustiati <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
> >
> >
> >
>
>
>
>
>
>
> 

Kirim email ke