AKU PERNAH pesan bir di sebuah hotel internasional di Brunei Darussalam.
Aku kaget ketika pelayan membawa sebuah 'teko' - 'Teapot'. Aku bilang
kpdnya bhw aku tidak pesen teh, tapi bir.

Dia bisik2 dan mengatakan bhw birnya sudah dia tuangkan kdlm teko supaya
jangan menyolok! Soalnya anda seorang wanita. Kalo ada yg ngelaporin
hotel bisa ditutup.

Aku bilang:"Tapi aku bukan Muslimah!" Dijawabnya "Tak masalah, puan. Di
sini pihak Polis selalunya mencari pasal guna menutop hotel/restaurant
kerana tuduhan melanggar Hukom Syariah."

Rupanya mereka di Brunei sangat hati2 ttg penampilan ('appearances') -
minum bir atopun minuman keras laen is OK asal jangan keliatan oleh
ramai. Dasar ajaran munafiq.

Gabriela Rantau
--- In zamanku@yahoogroups.com, "mediacare" <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
>
> Apakah ini jadi pertanda bakal luluh lantaknya dunia pariwisata
Indonesia? Dunia pariwisata akan maju kalau tidak berembel-embelkan
agama.
>
>
> Serambi Indonesia - Rabu, 18 Jun 2008 | 03:32:43 WIB ARSIP :
>
> 17/06/2008 09:46 WIB
>
> Hotel dan Restoran Diminta Patuhi Syariat
>
> BANDA ACEH - Pengelola hotel  dan restoran di Banda Aceh diminta untuk
mengikuti dan mematuhi
> ketentuan Qanun-qanun Syariat Islam (QSI), dalam menjalankan 
usahanya. Misalnya, tidak menyediakan makanan dan minuman yang dilarang
agama dan menyediakan mushala atau tempat shalat. Pengelola hotel dan
restoran juga harus menjaga kebersihan, ketertiban, dan keamanan
lingkungan sekitar.
>
> "Keberhasilan pelaksanaan syariat Islam sangat ditentukan oleh peran
serta semua pihak. Terutama
> pelaku pelayanan jasa baik perhotelan maupun restoran yang selalu
dikunjungi banyak orang," kata Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan
Kota Banda Aceh, Drs Ramli Rasyid, saat membuka
> Pembekalan Qanun SI bagi pengelola hotel dan restoran se-Banda Aceh,
> di Wisma Diana, Senin (16/6) kemarin.
>
> Kepala Dinas Syariat Islam dan Keluarga Sejahtera Kota Banda Aceh, Drs
M Natsir Ilyas MHum
> mengatakan, kegiatan pembekalan qanun syariat Islam itu bertujuan
> agar pengelola hotel dan restoran di Banda Aceh lebih memahami isi
> dari qanun-qanun yang ada. "Kami mengharapkan pengelola hotel dan
> restoran dapat menjadi partner pemerintah dalam mensukseskan
> pelaksanaan dan penerapan Syariat Islam di Banda Aceh," ujarnya.
>
> Ia menyebutkan, materi yang diberikan antara lain mengenai
implementasi QSI bagi pengelola hotel dan
> restoran di Banda Aceh dan pelaksanaan konsep pariwisata dalam
> bingkai SI. "Materi koordinasi stakeholders guna menunjang visi
> bandar wisata Islami, dan pelaksanaan Syariat Islam bagi warga asing
> dan non muslim juga diberikan," rinci Natsir.(ami)
>

Kirim email ke