Dua Jam Pak Harto Bertemu Roeslan Abdulgani, Apa Saja yang Dibicarakan? 
Jumat, 5 Desember 2003

 
Jakarta,- 
Senin, 24 November lalu, tokoh nasional Roeslan Abdulgani yang tepat
berulang tahun ke-89, kedatangan tamu istimewa. Mantan Presiden
Soeharto mendadak mengunjungi Cak Roes di rumahnya Jalan Diponegoro 11,
Jakarta Pusat. Selama sekitar dua jam, mereka terlibat pembicaraan
akrab. Apa saja yang dibicarakan? 



BAHARI, Jakarta 



Usia uzur tidak menghalangi Dr H. Roeslan Abdulgani untuk terus
beraktivitas. Bahkan, aktivitasnya saat ini boleh dibilang masih sangat
padat. Seperti kemarin siang saat ditemui koran ini masih ngantor di
bekas Gedung BP7 Jalan Pejambon, Jakarta Pusat. 

Di situ Cak Roes --sapaan akrab Roeslan Abdulgani, tampak sibuk membaca
beberapa buku dan catatan. Di sini, Cak Roes tercatat sebagai Anggota
Badan Pertimbangan Perintis Kemerdekaan dan Anggota Dewan Tanda-Tanda
Kehormatan Repubik Indonesia. 

Di ruangan kantornya yang cukup luas, Roeslan selalu ditemani
sekretarisnya, Rohanna, seorang asisten pribadi, dan sopir yang siap
mengantar kemana pun Cak Roes pergi dengan Volvo tuanya. 

Selain fisiknya terus digerogoti usia hingga cara berjalannya sedikit
membungkuk, pendengarannya pun jauh menurun. Tetapi, memori dan daya
pikir Cak Roes tampak masih jernih. Begitu pun daya ingatnya luar biasa
tajam untuk orang seusia Cak Roes. 

Terbukti selama wawancara, beberapa kali Cak Roes mengeluarkan bukunya
berisi kutipan pidato teks Soeharto di Pasar Klewer tahun 1971. Maupun
buku 'Bagawat Gita' buku bacaan tokoh besar dunia antara lain Mahatma
Gandhi, Jawaharal Nehru, Bung Karno, Dr Tjipto Mangunkusumo, dan tokoh
besar lainnya. Di mana isi buku tadi sering dikutip Soeharto saat
berpidato semasa berkuasa. "Ojo rumongso biso. Tapi, sing biso rumongso
(Jangan merasa bisa. Tapi, harus bisa merasa, Red.),'' ujar Cak Roes
sambil membolak-balik bukunya. "Yang penting-penting saya tandai dengan
stabilo,'' tambah tokoh kelahiran Kampung Plampitan, Surabaya 24
November 1914 itu. 

Dengan kaca mata minusnya, pandangan Cak Roes masih awas dan bisa
membaca secara baik. Ini tentu sulit dilakukan orang seusianya. "Agar
tak jadi pelupa resepnya harus rajin membaca. Ini kebiasaan saya sejak
muda. Buku apa apa saja saya baca yang penting bisa menambah wawasan,''
akunya memberi resep. 

Tak heran, dalam usianya yang sudah senja Cak Roes masih rajin menulis
artikel bertema kebangsaan dan nasionalisme. Tulisan Cak Roes sering
dimuat di beberapa media terbitan Medan, Ujungpandang, dan Bali. 

Buku 'Begawat Gita' itulah yang pernah diberikan Cak Roes kepada
Soeharto. Tepatnya, 20 Juli 2000. Tujuannya, agar Mas Harto --begitu
Cak Roes memanggil penguasa orde baru itu-- mau mempelajari, mendalami
ajaran-ajaran luhur yang ada didalamnya. 

Tak hanya itu, di saat orang-orang mencaci maki, menjahui Soeharto
setelah lengser 1998, Cak Roes yang dikenal dekat sama Bung Karno
justru menaruh simpati kepada nasib Soeharto. Apalagi, setelah jatuh
sakit. "Setiap ulang tahunnya 8 Juni saya datang ke rumah Mas Harto
memberi ucapan selamat. Bahkan saat Mas Harto dirawat di RS PP saya pun
ikut menjenguk. Mungkin sudah lima kali saya nyambangi Mas Harto,'' aku
Cak Roes. 

Uniknya justru saat Lebaran di mana para mantan pejabat orba sowan
ramai-ramai ke Cendana, Cak Roes memilih tidak datang. Itu terkait
budaya ketimuran di mana Cak Roes lebih tua beberapa tahun dari
Soeharto. Di mana adat ketimuran mengharuskan mereka yang lebih
soyogyanya mendatangi yang lebih tua. "Saya tidak enak. Yok opo-opo aku
lebih tuwo soko (bagaimana pun juga saya lebih tua dari, Red.) Mas
Harto,'' ungkap Cak Roes. 

Tidak takut dituduh masyarakat yang tidak-tidak, atau dicap orangnya
Soeharto? "Mengapa harus takut. Yang penting itu niatnya. Saya
nyambangi Mas Harto semata silahturahmi, menguatkan hati orang yang
lemah,'' ungkapnya. 

Selain itu, Cak Roes mengaku selama Soeharto berkuasa dirinya tidak
pernah memberi fasilitas seperti yang diterima bekas pejabat lain.
Diakui Cak Roes, Soeharto memang pernah mengutus Menteri Kehutanan yang
saat itu dijabat Soedjarwo. 

Dia didampingi seorang pejabat lain Waluyo. Sesuai titah Soeharto,
kedua pejabat tadi menawarkan ribuan hektar hak penguasaan hutan (HPH)
kepada Cak Roes. Kedua pejabat tadi menambahkan, beberapa mantan
pejabat pun sudah diberi HPH oleh Soeharto. Cak Roes bengong. "Apa itu
HPH,'' tanya Cak Roes sambil berucap. "Sampaikan sama Mas Harto rasa
terimakasih saya. Hubungan saya dengan Mas Harto akan lebih baik kalau
tidak ada pemberian apa-apa,'' katanya untuk disampaikan ke Soeharto.
"Saya butuh duit tapi bukan begitu caranya,'' aku Cak Roes. 

Bagaimana reaksi Soeharto? "Mas Harto tidak marah. Justru menghargai sikap 
saya. Makanya, hubungan saya terus baik,'' akunya. 

Sementara untuk membalas kunjungan Cak Roes setiap kali ulang tahunnya,
Pak Harto pun menyempatkan hadir di rumah Cak Roes Jalan Diponegoro 11,
Jakarta Pusat saat Cak Roes berulang tahun ke 89 tepatnya, 24 November
2003 kemarin. "Saya sempat kaget kok ujug-ujug datang. Saya tidak tahu
dari mana Mas Harto tahu hari kelahiran saya,'' akunya. Soeharto saat
itu ditemani bekas Menteri Sekretaris Negara Sa'adilah Mursyid. 

"Mas Harto kok repot-repot datang ke rumah saya,'' ujar Cak Roes begitu
Soeharto menjejakkan kakinya di rumahnya. "Saya...ucapkan selamat,''
ujar Soeharto dengan kata terputus-putus seraya menyerahkan seikat
bunga kepada Cak Roes. 

Cak Roes lalu mengajak Soeharto ke ruang tamu. Tapi, karena saat itu
dalam suasana puasa, tidak ada suguhan makanan maupun minuman. Itu
karena, baik tamunya Pak Harto maupun Cak Roes sama-sama melaksanakan
ibadah puasa. "Kita ngobrol saja selama dua jam lebih,'' aku Cak Roes.
Selama ngobrol baik Pak Harto maupun Cak Roes lebih banyak menggunakan
bahasa Jawa. 

Sebenarnya Pak Harto saat itu sudah memesan nasi tumpeng untuk
diberikan Cak Roes. Tapi, karena suasana puasa, nasi tumpeng baru
dikirim sore harinya menjelang buka puasa. "Mursyid ingat nanti sore.
Jangan lupa tumpengnya,'' ujar Soeharto dengan kata putus-putus sambil
menoleh ke arah Sa'adilah Mursyid. "Mas Harto nggak usah repot-repot,''
ujar Cak Roes menimpali. "Aku sudah pesen tumpeng,'' jawab Soeharto. 

Selama ngobrol dua jam lebih, Cak Roes menangkap kalau memori Soeharto
jauh menurun. Banyak kejadian yang sudah tidak diingatnya lagi. Karena
itu, selama ngobrol Cak Roes terus berupaya mengingatkan kembali
ingatan Soeharto atas berbagai hal yang pernah dialami, dilakukan
Soeharto baik sebelum berkuasa, maupun saat berkuasa. Misalnya,
bagaimana Soeharto berjuang melawan Belanda, memberantas PKI. Biasanya,
sesudah Cak Roes bercerita Pak Harto baru bisa merespon dan ingat. "Oh,
iya. Saya ingat,'' jawab Soeharto pendek. 

Cak Roes pun mengungkapkan kembali pidato tanpa teks Soeharto di Pasar
Klewer, Solo, tahun 1971. Di mana Soeharto saat itu pidato panjang
lebar di hadapan semua lapisan masyarakat Solo soal rencana pembangunan
Indonesia ke depan. Di mana Soeharto menitikberatkan pembangunan sektor
pertanian. Dan industri yang mendukung pertanian, baik menengah, sampai
berat. "Jadi, titik beratnya pada sektor pertanian,'' ungkapnya. 

Pidato tanpa teks Soeharto di Solo tadi, kata Cak Roes, merupakan salah
satu buah pemikiran Soeharto yang sangat hebat. Bahkan Cak Roes
menyamakan kualitasnya setara dengan isi pidato tanpa teks Bung Karno
menjelang kelahiran Pancasila. "Dua pidato presiden Bung Karno dan
Soeharto itu sama hebatnya. Sama-sama tanpa teksnya,'' tuturnya. 

Pidato tanpa teks Soeharto di Solo itu kemudian oleh Bappenas
dijabarkan rencana pembangunan lima tahunan yang dikenal Rencana
Pembangunan Lima Tahun (Repelita) I sampai V. Di mana sektor pertanian
mendapat prioritas utama yang didukung industri yang mendukung
pertanian. Seperti, industri pupuk, semen, tekstil, dan mesin.
"Terbukti selama 20 tahun Indonesia bisa memenuhi kebutuhan beras,
tekstil dari dalam negeri. Tak perlu impor. Meski jumlah penduduk
Indonesia terus meningkat,'' puji Cak Roes. 

Cak Roes mengaku mendengar pidato Soeharto tanpa teks di Pasar Klewar
dari radio saat baru pulang dari London. Karena menilai pidato bagus,
Cak Roes berusaha mencari salinannya. Tapi, tidak ada karena pidato
tanpa teks. Cak Roes akhirnya mendatangi RRI dan meminta menulisnya.
"Ini buku kutipan pidatonya sampai sekarang saya masih simpan,''
akunya. 

Apa reaksi Soeharto saat Anda bercerita soal pidato di Pasar Klewer?
"Mas Harto hanya tersenyum seraya bertanya Sampeyan sik nyimpen (Anda
masih menyimpannya, Red.). Iya, ini pidato paling bagus yang pernah
sampeyan sampaikan tanpa teks. Sama seperti pidato tanpa teks Bung
Karno saat menjelang hari kelahiran Pancasila,'' puji Cak Roes. 

Selama obrolan, Pak Harto terkadang nyeletuk, menanyakan situasi
terkini yang dihadapi bangsa Indonesia, maupun berbagai rumor yang
menyangkut Presiden Megawati dan suaminya. "Presidene saiki yok opo.
Opo bener (Bagaimana presidennya sekarang. Apa benar, Red.) kabar-kabar
suaminya begitu,'' tanya Pak Harto kepada Cak Roes. 

Mendengar pertanyaan seperti itu Cak Roes tertawa. "Sudahlah Mas Harto
nggak usah ngomong-ngomong begitu,'' ujar Cak Roes berusaha mengalihkan
perhatian Pak Harto. Tapi, jawaban Cak Roes itu sepertinya, kurang
memuaskan Soeharto. Terbukti, Soeharto kembali bertanya. Kali ini soal
ekonomi yang membelit bangsa ini. "Saiki ekonomi yok opo (Sekarang
ekonominya bagaimana, Red.),'' tanya Soeharto lagi. ''Sudah lah Mas
Harto, nggak usah mikir begitu. Kita-kita ini sudah tua,'' jawab Cak
Roes. Cak Roes mengaku sengaja tidak menjawab secara gamblang karena
tidak mau berbicara yang berat-berat. "Saya lebih suka berbicara
hal-hal yang mengingatkan dan menyegarkan kembali ingatan Mas Harto.
Bukan hal-hal yang berat. Saya khawatir justru membebani pikiran Mas
Harto,'' aku Cak Roes. (*)
----

Bung Karno-Soeharto Sama-sama Kepala Batu
Sabtu, 6 Desember 2003

DIAM-diam tanpa sepengetahuan Soeharto maupun keluarga Cendana, Cak
Roes mengirim buku 'Bagawat Gita' ke Tommy Soeharto di LP Batu
Nusakambangan. Agar tidak dituduh macam-macam, atau dianggap mencari
muka, Cak Roes pun menelepon Menkeh dan HAM Yusril Ihza Mahendra.
Intinya, Cak Roes minta tolong agar Dirjen Lembaga Pemasyarakatan
bersedia membawa buku Bagawat Gita untuk diberikan ke Tommy langsung. 

Tak lama kemudian Dirjen LP Adi Sujatno pun datang ke Kantor Cak Roes.
''Saudara, saya punya buku Bagawat Gita. Saya minta tolong sampaikan
ini ke Tommy Soeharto. Sengaja saya tidak melalui keluarga Cendana,
atau saya kirim sendiri. Tapi lewat saudara biar tidak ada masalah di
kemudian hari. Wocoen sik opo isine (Red: baca dulu, apa isinya). Saya
tidak mau dituduh lewat belakang. Buku ini juga pernah saya berikan ke
Mas Harto. Apakah saudara sanggup?'' tanya Cak Roes kepada Adi Sujatno. 

Adi Sujatno tampak tertegun. Kaget tidak menyangka akan dimintai tolong
Cak Roes mengirim buku tadi ke terpidana 15 tahun Tommmy Soeharto.
''Sanggup, Pak!'' jawab Adi Sujatno. 

Tak lupa Cak Roes menyelipkan surat terbuka, diketik di kertas folio,
lalu ditempelkan di belakang cover buku 'Bagawat Gita' yang akan
dikirim ke Tommy. Surat terbuka berkop Jakarta itu tertanggal, 20
Agustus 2002. Ditujukan kepada Ananda Tommy Soeharto di LP Batu,
Nusakambangan, Cilacap. 

Isi surat; ''Sebagai pengisi waktu terimalah buku 'Bagawat Gita'
sekaligus sebagai tatap muka meski kita berjauhan. Ananda supaya
bersabar. Buku ini juga pernah saya berikan ke Mas Harto 29 Juli 2000
lalu. 

Kidung Ilahi 'Bagawat Gita' ini dulu sering dibaca Mahatma Gandhi,
Jawaharlah Nehru, Dr Tjiptomangoenkusuma, Bung Karno dll. Ayahmu juga
selalu mengutip isi buku Bagawat Gita di sela pidatonya. 'Ojo rumngso
biso. Tapi, sing bisa rumongso' 

Selamat membaca. Anggap saja ananda sekarang dalam pertapaan. Cobaan
yang menimpa ananda hendaknya dapat lebih mendekatkan diri kepada Allah
SWT'. Pengirim tertanda Dr H Roeslan Abdulgani. 

Saat Soeharto sowan ke rumahnya, Cak Roes pun menceritakan kepada
tamunya bahwa dia pernah kirim buku 'Bagawat Gita' ke Tommy Soeharto.
Soeharto pun tampak kaget karena selama ini tidak pernah diberitahu Cak
Roes maupun anak-anaknya. ''Oh, ya. Terima kasih. Terima kasih. Kok
nggak lewat kami saja,'' tanya Soeharto dengan kalimat patah-patah.
''Sengaja kami tidak kirim lewat sampeyan Mas Harto maupun keluarga
Cendana agar tidak ditafsirkan macam-macam,'' kilah Cak Roes. Soeharto
pun mahfum. 

Apakah sampeyan yakin buku itu sudah sampai di tangan Tommy Soeharto?
''Saya tidak tahu. Tapi, kalau tidak sampai sing nyahut biso kuwalat
(yang mengambil bisa kuwalat),'' ujar Cak Roes seraya tertawa. 

Soeharto pun masih ingat kalau Cak Roes sangat dekat dengan Presiden
Bung Karno ketika berkuasa. Berbagai jabatan pernah disandangnya antara
lain Sekjen Penerangan, Sekjen Deplu, Sekjen Konferenasi Asia Afrika di
Bandung yang termashur itu. Sebelas tahun menjadi Menlu mulai 1956
sampai 1967. Wakil DPA, Menko Hubungan Rakyat merangkap Menteri
Penerangan, Wakil Perdana Menteri dan terakhir menempati pos Dubes
tetap RI di PBB, New York. 

Kesempatan pertemuan itu digunakan Soeharto untuk menanyakan bagaimana
pandangan Bung Karno terhadap dirinya. ''Mas Roes, yok opo pandanganya
Bung Karno karo aku (Red; Mas Roes, bagaimana pandangan Bung Karno
terhadap saya),'' tanya Soeharto dengan kata terputus-putus. 

Cak Roes pun mengungkapkan percakapan dirinya dengan Bung Karno
menyangkut Soeharto di suatu waktu. ''Cak Roes, Pak Harto itu wong Jawa
Tengah awakmu sing ati-ati. Wong Jawa tengah itu halus-halus. Tapi, Mas
Harto itu keras kepala,'' ujar Bung Karno menasehati Cak Roes. 

Di luar dugaan Cak Roes bukan saja tidak mengiyakan pendapat Bung Karno
tadi, malah balik mengkritik Bung Karno. ''Sampeyan dhewe opo nggak
kepala batu (Anda sendiri apa tidak kepala batu),'' tanya Cak Roes
kepada Bung Karno. Mendengar itu Bung Karno malah tertawa. ''Iyo yo aku
ini juga kepala batu,'' guman Bung Karno. Mendengar cerita itu Soeharto
tertawa. ''Ha... ha.'' 

Meski dekat sama Bung Karno, Cak Roes mengaku tak pernah memanfaatkan
posisinya, apalagi minta-minta ini, itu kepada Bung Karno. ''Justru
sebaliknya Bung Karno iku sering njaluk dhuwik nang aku (Red; minta
uang kepada saya),'' tutur Cak Roes. Untuk apa Bung Karno minta uang
kepada sampeyan? ''Biasa tuku (beli) lukisan,'' ungkapnya. 

Sebaliknya Cak Roes juga sering mengingatkan Bung Karno terhadap orang
di sekitarnya yang memanfaatkan kekuasaannya. ''Eh Bung, orang-orang di
sekitar sampeyan yang manthuk-manthuk itu tukang copet kabeh. Ati-ati
sampeyan,'' ingat Cak Roes. 

Termasuk terhadap keberadaan Soebandrio yang menjabat Wakil Perdana
Menteri, pun Cak Roes mengingatkan Bung Karno agar hati-hati karena
Soebandrio dinilai Cak Roes dekat dengan komunis. ''Ambek Bandrio
(Soebandrio) yo ati-ati. Bandrio ngono idhek ambek komunis (Sama
Bandrio juga hati-hati. Bandrio itu dekat sama komunis),'' ingat Cak
Roes. 

Apa reaksi Bung Karno? Kali ini Bung Karno kurang bisa menerima
kritikan Cak Roes terhadap salah satu orang kepercayaannya itu. ''Cak,
sampeyan ojok kurangajar. Ojok menentang Bandrio yo (Cak, Anda jangan
kurangajar. Jangan menentang Bandrio),'' ingat Bung Karno. 

Cak Roes bukannya mengkeret dimarahi Bung Karno. Sebaliknya tetap
bersikukuh pada pendapatnya. ''Bandrio wonge pancen ngono kok Bung. Aku
ngerti persis siapa dia (Bandrio orangnya begitu kok. Saya tahu persis
siapa dia),'' aku penerima tiga doktor honorus causa dari Unair, Unpad
Bandung, dan IAIN Sunan Kalijaga Jokjakarta itu tak mau kalah. Bung
Karno pun akhirnya memilih diam. 

Ketika bertemu dengan Soeharto saat masih berkuasa pun Cak Roes pernah
mengingatkan kepadanya tentang keberadaan orang sekitarnya yang
manthuk-manthuk tapi nyahuti (menyambar) apa saja menumpuk kekayaan
dengan memanfaatkan kekuasaan Soeharto. Apa reaksi Soeharto saat itu?
''Mas Harto hanya mesem saja,'' ungkap Cak Roes. 

Sebaliknya, saat itu Soeharto menyindir Cak Roes yang menerima bekas
Pangkomkamtib Jenderal Sumitro dan bekas Gubernur Ali Sadikin di
rumahnya. ''Sampeyan menerima Jenderal Sumitro dan Ali Sadikin ya,''
tanya Soeharto kala itu. Cak Roes menjawab iya. ''Hati-hati, mereka
nakal,'' ingat Soeharto. Tapi, Cak Roes tak mau didikte. ''Mereka
mungkin nakal tapi tidak jahat,'' ujar Cak Roes berusaha meluruskan.
Soeharto kala itu pun tidak bertanya lagi.(jpnn)


      

Kirim email ke