*PENYERANGAN FPI TELAH MERUSAK IMAGE MUSLIM DI INDONESIA*

(ref:
http://www.thejakartapost.com/news/2008/06/20/fpi-attacks-damage-ri-muslims039-image-muhammadiyah-chairman.html
)

Kekerasan yang dilakukan oleh sebuah kelompok Islam radikal pada awal
bulan ini telah menghancurkan persepsi/gambaran dunia internasional
terhadap muslim di Indonesia, kata pemimpin kelompok Muslim terbesar
ke dua di negara ini.

Penyerangan yang dilakukan oleh Front Pembela Islam (FPI) pada sebuah
kelompok massa yang mengusung pluralisme telah merusak 5 tahun kerja
keras untuk menghilangkan gambaran kekerasan pada Muslim di Indonesia
setelah pemboman atas nama agama dan konflik-konflik horizontal, kata
Ketua Muhammadiyah Din Syamsuddin pada hari Kamis lalu.

"Kita harus memulai dari titik awal lagi untuk membenahi gambaran
damai dan moderat tentang Muslim di Indonesia setelah penyerangan itu,
" Din bercerita kepada The Jakarta Post.

Beliau mengatakan bahwa konflik-konflik horizontal di Sulawesi Tengah,
Maluku dan Kalimantan Barat, begitu juga konflik-konflik vertikal di
Aceh dan beberapa pemboman yang dilakukan para teroris di Bali dan
Jakarta, Muslim di Indonesia mengalami waktu-waktu yang berat untuk
meyakinkan dunia bahwa mereka sangat moderat dan sebenarnya hanya
beberapa kelompok saja yang radikal.

Gambaran moderat ini telah terhapuskan begitu saja karena ulah anggota
FPI bersenjatakan tongkat bambu yang memukul dan menendang para
aktivis dari Aliansi Kebangsaan untuk Kebebasan Beragama dan
Berkeyakinan (AKKBB) ketika melangsungkan Aksi Damai pada Tugu Monas 1
Juni 2008, yang mengakibatkan 70 orang terluka.

Aksi Damai ini diadakan untuk memperingati Hari Lahirnya Ideologi
Negara Pancasila ke-63 dan untuk menunjukkan dukungan bagi Kebebasan
Beragama untuk minoritas Ahmadiyah

Sebelum episode penyerangan ini, Din berkata, Muslim Indonesia telah
menunjukkan posisi moderat dan damai mereka.
"Tetapi dengan media massa secara global sedang mempublikasikan berita
dari penyerangan ini dan stasiun-stasiun TV dengan jelas menyiarkan
gambar-gambar penyerangan tersebut, saya tidak dapat lagi memprediksi
gambaran/persepsi apa tentang kita (muslim di Indonesia) sekarang
ini," beliau mengatakan.

Beliau juga mengakui bahwa kritikan-kritikan terhadap organisasi
mainstream seperti Nahdlatul Ulama (NU) dan Muhammadiyah karena
kegagalan mereka untuk bersuara keras terhadap elemen-elemen ektrimis
dan konservatif sebagian adalah benar, tapi penyerangan-penyerangan
itu seharusnya tidak dihubungkan pada agama.

"Sebuah penyerangan dengan menggunakan kekerasan adalah murni sebuah
tindakan kriminal dan negara seharusnya mengambil tindakan tegas
terhadap hal ini. Kekerasan tidak mempunyai akar dalam islam.
Kekerasan adalah penyalahgunaan dalam beragama," Din berkata.
"Alasan bahwa kita sepertinya tidak berbuat apa-apa karena kita tidak
mau terprovokasi."

Para pengamat telah mengkritisi organisasi-organisasi Muslim moderat
untuk kegagalan mereka menampilkan tolerasi beragama setelah keputusan
pemerintah mengeluarkan SKB Ahmadiyah.

Mereka berpendapat bahwa NU dan Muhammadiyah telah membiarkan
kelompok-kelompok garis keras berpeluang dalam mengambil tempat publik
dan mengklaim bahwa mereka mewakili semua Muslim di Indonesia.
SKB Ahmadiyah telah diputuskan dan dikeluarkan oleh pemerintah pada
awal bulan ini karena tekanan intensif dari beberapa kelompok ektrim,
termasuk FPI dan Hizbut Tahrir Indonesia.

Din mengkritisi media massa yang gagal melaporkan tindakan dan
perbuatan para Muslim moderat dibandingkan dengan liputan
kelompok-kelompok radikal.

Beliau mengatakan bahwa organisasi-organisasi moderat seperti NU dan
Muhammadiyah telah sangat aktif mengembangkan gambaran Islam yang
merupakah berkah/berkat bagi semua orang.

"Kita telah berupaya menjangkau mayoritas dengan ajaran-ajaran yang
wajar dan tidak berlebihan. Kita telah berperang melawan kemiskinan,
ketidakadilan, dan kebodohan dengan pendidikan dan kegiatan-kegiatan
budaya," beliau menambahkan.

Abdul Khalik
The Jakarta Post

Kirim email ke