Sidang ‘Sedeng’

Oleh
Audifax
Research Director di SMART Human Re-Search & Psychological Development




Saiki jaman edan, yen ora edan ora keduman. Demikian bunyi salah satu idiom 
Jawa. Barangkali idiom Jawa tentang kegilaan jaman itu paralel dengan gambaran 
posmodernisme tentang jaman silang-sengkarut tanda. Friedrich Nietzche, pembuka 
jalan bagi banyak pemikir posmodernisme, juga menggunakan sosok orang gila 
dalam aporianya. Kegilaan jugalah yang tampaknya tengah dinarasi-ulang oleh Ayu 
Utami dalam buku berjudul ’Sidang Susila – Naskah Komedi dan Catatan Perihal 
RUU Pornografi’. Kegilaan yang membuat perbedaan dimarjinalkan dan perempuan 
adalah salah satu dari perbedaan itu.


Hélène Cixous, psikoanalis Perancis, pernah mengemukakan pemikiran agar 
perempuan menulis untuk mengekspresikan diri keluar dari konstitusi budaya yang 
menjebak dalam peran yang “membisukan” perempuan. Cixous mengatakan: “Tulislah 
dirimu sendiri. Tubuhmu harus bisa didengar”. Apa yang ditulis Ayu dalam 
’Sidang Susila’ adalah upaya menulis tubuh perempuan agar bisa didengar. Tak 
bisa dipungkiri, dalam banyak aspeknya, RUU ini bisa ’membisukan’ tubuh 
perempuan yang ada dalam kultur di mana kita hidup saat ini. Kultur di mana 
kegilaan dan kewarasan tak bisa lagi dibedakan. Kultur di mana perbedaan 
’mesti’ disamakan.


Sebuah Pembacaan-Ulang
Buku ini menarasikan pembacaan-ulang terhadap RUU Pornografi. Ketika kita 
menerima segala sesuatu secara taken-for-granted, seringkali hal-hal yang 
tersembunyi namun esensial justru terlewatkan. Di sinilah sebuah 
pembacaan-ulang diperlukan. Sebuah pembacaan terhadap realita yang plural tak 
bisa hanya sekali dan dari sudut pandang tunggal, melainkan harus terus-menerus 
dan memperhitungkan keragaman sudut pandang. Tanpa itu semua, pluralitas dan 
kebhinnekaan tak akan lebih dari sekedar karnaval hari Kartini atau tujuh 
belasan.


Setelah menerbitkan novel ’Saman’ dan ’Larung’, kali ini Ayu menerbitkan naskah 
drama berikut beberapa eseinya yang menyoroti masalah RUU Pornografi. ’Sidang 
Susila’ adalah naskah drama pertama Ayu Utami. Naskah ini diselesaikan pada 
Maret 2006. Semula naskah ini ditujukan untuk dipentaskan oleh Butet 
Kartaredjasa. Namun, seiring waktu naskah ini kemudian dipentaskan oleh Teater 
Gandrik di Jakarta dan Yogyakarta pada bulan Februari dan Maret 2008. Di bulan 
Februari 2008, penerbit [EMAIL PROTECTED] & vhrbook menerbitkan naskah ini 
dalam bentuk buku.


Apapun kualitas dari naskah drama ini, satu aspek yang barangkali esensial 
adalah langkah Ayu untuk mengangkat persoalan pluralitas ke dalam bentuk naskah 
drama yang juga dibukukan. Dalam ruang masyarakat yang kerap menempatkan 
perbedaan untuk mengekslusi individu dari ke-Kita-an, naskah drama ini jelas 
merupakan sebuah satire yang layak menjadi perenungan.


Drama dan Realita
Dalam naskah drama ini tokoh utamanya adalah terdakwa bernama Susila. Nama 
aslinya adalah Susilo Parno. Takut dikira menyindir, maka nama Jawa itu dirubah 
menjadi Susila Parna, seperti nama orang Sunda. Namun nama Sunda itu kalau 
dibaca dengan logat Jawa malah menjadi Susilo Porno. Susila adalah tipikal 
lelaki umur 40-an kelas bawah yang menjadi gemuk karena pola makan murah: 
gorengan, gorengan, gorengan.


Tokoh kedua adalah Pak Hakim. Wajah dan perkataannya mirip salah satu raja 
dangdut. Ia tak terlalu peduli dengan nasib orang. Ia kerap terbayang-bayang 
pada bagian tubuh tertentu yang sensual, yang membuat ia menelan ludah gleg 
gleg.


Tokoh ketiga adalah Bu Jaksa. Ia bisa berbicara dengan tempo dan intonasi yang 
berbeda-beda, yang barangkali menunjukkan bahwa ia, di luar pekerjaannya di 
pengadilan, adalah seorang penceramah ulung. Beginilah ritme bicara Bu Jaksa: 
mula-mual tenang bijak bestari seperti ibu pendakwah di televisi, lalu mulai 
berapi-api hingga menjerit-jerit seperti ibu pengkhotbah, juga di televisi.


Tokoh keempat adalah Bu Pengacara. Cara bicaranya yang teatrikal dan olah 
vokalnya yang prima seolah menunjukkan bahwa ia juga seorang pemain drama yang 
handal. Ia tipikal seorang aktivis yang juga pemimpin teater yang keras kepala, 
berani melawan, pantang menyerah dan suka menang sendiri. Baginya, tak ada yang 
benar selain dirinya sendiri. Bahkan kesaksian terdakwa pun kerap ia bantah 
karena menurut dia salah


Tokoh-tokoh pendukung lainnya adalah para Tukang Celetuk. Mereka diperankan 
oleh musisi atau penonton bayaran. Di antaranya ada Tukang Celetuk yang 
cenderung untuk selalu berbahasa Jawa.


Itulah berbagai peran dalam naskah drama komedi ’Sidang Susila’. Membacanya 
seakan melihat karikatur kehidupan masyarakat di mana kita ada di dalamnya. Ada 
perasaan lucu tapi sekaligus juga mengenaskan karena sejatinya kita ada di 
tengah-tengah kekonyolan seperti dalam naskah drama tersebut. Inilah barangkali 
sebuah dunia yang tak bisa dibedakan antara realita dan panggung komedi. Sebuah 
dunia yang menipiskan batas antara kengerian dan kelucuan. Sebuah realita yang 
melampaui realita itu sendiri.


Intertekstualitas dalam Menyidangkan Susila
Julia Kristeva, psikoanalis posfreudian, pernah mengemukakan mengenai 
intertekstualitas sebagai sebuah cara pembacaan. Dalam intertekstualitas, 
sebuah teks tak pernah memiliki arti yang terlepas dari teks lain. Suatu teks 
bisa memiliki begitu banyak kemungkinan makna dan berjalin kelindan dengan 
teks-teks lain di luar dirinya.


Intertekstualitas ini ada dalam naskah drama ’Sidang Susila’. Penggambaran 
karakter para tokoh misalnya, jika anda jeli maka anda akan melihat bahwa teks 
pada masing-masing tokoh merujuk pada ’teks’ yang menggambarkan tokoh-tokoh 
lain di realita. Namun Ayu cukup jeli menempatkan sebuah penggambaran sehingga 
teks yang ada dalam naskahnya tak secara nyata menunjuk seseorang melainkan 
hanya menempatkannya sebagai sebuah kemungkinan untuk merujuk pada seseorang.


Demikian pula dengan berbagai kejadian yang ada dalam narasi, Ayu banyak 
mengajak pembacanya untuk melihat bahwa kejadian-kejadian banyolan dalam narasi 
drama itu mungkin secara mengenaskan telah terjadi juga di realita.


Pada bagian lampiran terdapat draft RUU Pornografi dan Pornoaksi yang teksnya 
dibaca ulang oleh Ayu. Ada berbagai selipan komentar di sela-sela teks RUU 
asli. Di sini kembali kita bisa melihat apa itu intertekstualitas. Berbagai 
pasal, karena ’permainan kata’ menjadi absurd dan potensial menjadi pasal karet 
karena maknanya bisa dirujukkan ke berbagai kepentingan.


Setelah lampiran yang berisi draft RUU Pornografi dan Pornoaksi, masih ada 
lampiran lain lagi. Lampiran yang diberi judul ”Nota Ketidaksepahaman” terhadap 
RUU Pornografi dan Pornoaksi ini, berisikan esei-esei Ayu yang pernah dimuat di 
media cetak. Esei-esei itu berjudul: ’Berbahasa Indonesiakah RUU Anti 
Pornografi?’, ’Kera Porno’, ’Pusar dan Rokok’, ’Pak Marta’, ’Pawai’, ’Semboyan 
35’ dan ’Pornografi Niat Luhur’. Semua esei itu berisi cermatan dan analisa Ayu 
seputar fenomena RUU Pornografi dan Pornoaksi.


Mencermati struktur buku ’Sidang Susila’, agaknya Ayu berniat mengajak kita 
merenungkan secara serius apa yang tengah terjadi di masyarakat. Dan barangkali 
jika kita mau membaca secara intertekstualitas, barangkali persoalannya bukan 
sekedar disahkan atau tidaknya RUU Pornografi dan Pornoaksi. Ada persoalan lain 
yang lebih serius yang terjadi di masyarakat dengan semboyan ’Bhinneka Tunggal 
Ika’ ini. 


Membaca Perbedaan
Meski tema yang diangkat adalah RUU Pornografi dan Pornoaksi, namun momentum 
keluarnya buku ini terasa tepat karena pada intinya buku ini mengangkat masalah 
penghargaan terhadap perbedaan. Barangkali saat ini kita perlu bertanya pada 
diri sendiri: ”Adakah sebuah ruang dalam masyarakat kita, di mana satu orang 
dengan yang lain tahu sama tahu mereka berbeda dan bertolak belakang namun 
tetap bisa merasa sebagai sesama warga?”. Ini adalah pertanyaan serius bagi 
bangsa ini.


Pertanyaan ini adalah juga sebuah pembacaan-ulang terhadap apa yang saat ini 
berlangsung di masyarakat kita. Pembacaan-ulang yang akan memberi kemungkinan 
pada hidupnya perbedaan atau yang-lain (liyan) di setiap ruang kehidupan. 
Pembacaan-ulang yang akan selalu memperhitungkan adanya intertekstualitas. 
Bahwa sebuah teks tak akan bisa menjadi kebenaran tunggal karena maknanya mesti 
bertaut-kelindan dengan teks-teks yang lain dari teks tersebut. 


Sekali lagi perlu saya tekankan, ketimbang sebagai perlawanan, buku ini lebih 
merupakan sebuah ’pembacaan-ulang’ atas apa yang barangkali perlu secara bijak 
kita sikapi, yaitu Perbedaan. Meski Ayu berbicara sebagai perempuan, namun 
naskah ini lebih merupakan renungan bagaimana menyikapi perbedaan, yang bisa 
apapun termasuk perempuan. Buku ini dapat menjadi sebuah bacaan menarik bagi 
mereka yang memiliki concern pada bagaimana perbedaan mendapat tempat di negeri 
yang bhinneka ini.


Bagi anda yang berminat mendiskusikan esei ini, kami mengundang anda untuk 
bergabung dalam diskusi di milis Psikologi Transformatif.








Sekilas Mailing List Psikologi Transformatif
Mailing List Psikologi Transformatif adalah ruang diskusi yang didirikan oleh 
Audifax dan beberapa rekan yang dulunya tergabung dalam Komunitas Psikologi 
Sosial Fakultas Psikologi Universitas Surabaya. Saat ini milis ini telah 
berkembang sedemikian pesat sehingga menjadi milis psikologi terbesar di 
Indonesia. Total member telah melebihi 2200, sehingga wacana-wacana yang 
didiskusikan di milis inipun memiliki kekuatan diseminasi yang tak bisa 
dipandang sebelah mata. Tak ada moderasi di milis ini dan anda bebas masuk atau 
keluar sekehendak anda. Arus posting sangat deras dan berbagai wacana muncul di 
sini. Seperti sebuah jargon terkenal di psikologi ”Di mana ada manusia, di situ 
psikologi bisa diterapkan” di sinilah jargon itu tak sekedar jargon melainkan 
menemukan konteksnya. Ada berbagai sudut pandang dalam membahas manusia, bahkan 
yang tak diajarkan di Fakultas Psikologi Indonesia.


Mailing List ini merupakan ajang berdiskusi bagi siapa saja yang berminat 
mendalami psikologi. Mailing list ini dibuka sebagai upaya untuk 
mentransformasi pemahaman psikologi dari sifatnya selama ini yang tekstual 
menuju ke sifat yang kontekstual. Di milis ini anda diajak untuk mengalami 
psikologi. 


Anda tidak harus berasal dari kalangan disiplin ilmu psikologi untuk bergabung 
sebagai member dalam mailing list ini. Mailing List ini merupakan tindak lanjut 
dari simposium psikologi transformatif, melalui mailing list ini, diharapkan 
diskusi dan gagasan mengenai transformasi psikologi dapat terus dilanjutkan. 
Anggota yang telah terdaftar dalam milis ini antara lain adalah para pembicara 
dari simposium Psikologi Transformatif : Edy Suhardono, Cahyo Suryanto, Herry 
Tjahjono, Abdul Malik, Oka Rusmini, Jangkung Karyantoro,. Beberapa rekan lain 
yang aktif dalam milis ini adalah: Audifax, Leonardo Rimba, Mang Ucup, 
Goenardjoadi Goenawan, Prastowo, Prof Soehartono Taat Putra, Bagus Takwin, 
Amalia “Lia” Ramananda, Himawijaya, Rudi Murtomo, Felix Lengkong, Kartono 
Muhammad, Ridwan Handoyo, Dewi Sartika, Jeni Sudarwati, FX Rudy Gunawan, Arie 
Saptaji, Radityo Djajoeri, Tengku Muhammad Dhani Iqbal, Anwar Holid, Elisa 
Koorag, Kidyoti, Priatna Ahmad, J.
 Sumardianta, Jusuf Sutanto, Stephanie Iriana, Lulu Syahputri, Lan Fang, Yunis 
Kartika, Ratih Ibrahim, Nuruddin Asyhadie, Arif Nurcahyo, Sinaga Harez Posma 
dan masih banyak lagi.


Jika anda berminat untuk bergabung dengan milis Psikologi Transformatif, klik:


www.groups.yahoo.com/group/psikologi_transformatif


Perhatian: Tidak ada moderator dalam milis ini sehingga upaya untuk masuk atau 
keluar dari milis ini mutlak tanggung jawab anda sendiri.




SEKILAS TENTANG AUDIFAX
Audifax adalah salah satu pendiri sekaligus owner milis Psikologi 
Transformatif. Milis ini adalah milis psikologi dengan jumlah member terbesar 
di Indonesia. Saat ini ia bekerja sebagai Research Director di SMART – Center 
for Human Re-Search & Psychological Development yang beralamat di: Jl. Taman 
Gapura G-20 Kompleks G-Walk Citraland Surabaya. Telp (031) 7410121. e-mail: 
[EMAIL PROTECTED]


Beberapa karya tulis telah ia hasilkan. Di antaranya adalah empat buku: Mite 
Harry Potter (2005, Jalasutra), Imagining Lara Croft (2006, Jalasutra), 
Semiotika Tuhan (2007, Pinus) dan bersama Leonardo Rimba menulis Psikologi 
Tarot (2008, Pinus).


Ia juga merupakan anggota Forum Studi Kebudayaan ITB (FSK-ITB). Beberapa 
eseinya dimuat dalam sejumlah antologi yang diterbitkan FSK ITB. Saat ini 
minatnya lebih terarah untuk mendalami kecerdasan jamak (Multiple Intelligence) 
dan sisi psikologis berbagai bentuk ’Kisah’ dalam kaitannya dengan kehidupan 
psikis manusia.


      

Kirim email ke