Ditulis Dewi Kitri di Blogberita,sebagai respond atas  Mustahil orang 
kristen bisa menjawab:


Saudara-saudaraku,

Sebenarnya, baik pemeluk agama Islam maupun Kristen pada dasarnya ada 
3 kelompok manusia berdasarkan pengalaman, pengertian, dan kedewasaan 
iman masing-masing sebagai individu maupun jemaat.

Kelompok 1 adalah mereka yang hanya beragama Islam atau Kristen 
tetapi hanya sebatas KTP nya saja karena di Indonesia orang HARUS 
punya agama. Titik. Kelompok ini tidak suka membicarakan agama, agama 
orang lain maupun agamanya sendiri. Begitu ada orang beragama lain 
yang datang dengan baik dan penuh kasih, sehingga menggerakkan 
hatinya, akan sangat mudah bagi kelompok ini untuk pindah agama. Bisa 
karena memang hati yang tergerak (dan kalau ini saya percaya ada 
camour tangan Tuhan sendiri) ada pula yang hanya melihat karena lebih 
menguntungkan.

Kelompok 2 adalah mereka yang mengaku setia kepada agama sebagai 
ideologi yang harus dibela, disakralkan (agamanya yang disakralkan 
dan dimuliakan), mengaplikasikan agama secara logika, sebatas ritual, 
dan emosional, tetapi sebenarnya tidak mengenal Allah dan 
kebenaranNya, sifat dan karakterNya, kehendakNya, melalui apa yang 
difirmankanNya di dalam kitab suci masing-masing.

Kelompok ke 3 adalah mereka hatinya benar-benar melekat kepada Allah, 
yang mencari Allah dengan segala kebenaranNya, kemuliaanNya, sifat-
sifatNya, karakterNya, kehendakNya, melalui semua yang difirmankanNya 
di dalam kitab suci masing-masing. Kelompok ini lebih asyik 
mendengarkan apa kata Tuhan daripada apa kata manusia melalui 
pengalaman rohaninya menikmati kebaikan dan kemuliaan Tuhan di dalam 
perjalanan hidupnya.

Sama dengan ketika pemeluk agama Islam dilecehkan oleh kartunis 
Denmark, melalui film Fitna, dan masih banyak lagi peristiwa-
peristiwa pelecehan agama Islam, reaksi pemeluk agama Islam inipun 
juga berbeda-beda. Orang Islam kelompok 1 reaksinya cuek, kelompok 2 
demo besar besaran bahkan ada yang menghalalkan darah orang yang 
sudah melecehkan, tetapi kelompok 3 tetap asyik menjalankan ibadahnya 
kepada Tuhan karena percaya kemuliaan Allah tidak akan sedikitpun 
berkurang hanya karena ulah manusia, dan tetap menjaga hati masing-
masing agar tetap bersih dan berkenan bagiNya.

Demikian pula ketika kekristenan dilecehkan atau diserang, 3 kelompok 
yang mengaku Kristen ini mengambil sikap berbeda-beda sesuai level 
kedewasaan iman mereka.

Saya mengatakan "kelompok" ini bukan dalam pengertian sebagai 
organisasi gereja tertentu, tetapi lebih pada pengalaman dan 
kedewasaan iman dan pengertian masing-masing orang Kristen sebagai 
individu, yang saya lihat memang ada 3 kelompok besar, terlepas dari 
gereja atau organisasi kekristenan manapun.

Orang Kristen kelompok 1 yang hanya sebatas Kristen KTP, akan cuek 
karena tidak tahu menahu, wis embuh, terserah orang mau ngomong apa, 
EGP, ATAU kemudian pindah agama lain ketika ada orang lain yang 
menawarkan agama lain yang dia lihat lebih menguntungkan.

Kelompok orang Kristen no 2, karena melihat kekristenan sebagai agama 
dan ideologi yang harus dibela tetapi sebenarnya tidak pernah mencoba 
mengerti apa yang benar dihadapan Allah, akan bereaksi keras, seolah-
olah sudah didzolimi. Mereka akan ganti menjelek-jelekkan agama orang 
yang melecehkan, bersikap sama menjadi arogan dan seolah-olah dia dan 
agamanya yang paling benar dari konteks manusia.

Kelompok orang Kristen yang ke 3 memandang kekristenan bukan sebagai 
agama, tetapi lebih pada relationship with the Living God. Kelompok 
Kristen yang seperti ini (again, terlepas dari organisasi dan gereja 
kristen yang manapun) lebih tertarik mencari hadirat Allah, 
mendengarkan Tuhan mengatakan apa daripada apa yang dikatakan manusia 
dan dunia, sehingga pada saat hatinya tergoda untuk berontak tidak 
terima dengan pelecehan itu, mereka merefer kembali kepada bagaimana 
dan apa sikap Yesus pada saat dihina, dilecehkan, dipermalukan, 
disiksa, dan dibunuh oleh orang-orang Yahudi dan Romawi.

Kelompok ini bukannya tidak merasa gusar dengan semua penyerangan dan 
pelecehan, bukannya takut membalas karena minoritas, tetapi mereka 
percaya bahwa Yesus sudah mengalami yang lebih dasyat, lebih sakit, 
lebih memalukan, tetapi Yesus setia sampai mati dan bangkit lagi, 
demi melepaskan mereka [yang percaya] dari cengkeraman kuasa dosa dan 
maut. Itu sebabnya secara rohani, walaupun mereka gusar dan 
sebenarnya bisa berbuat sesuatu, mereka bertahan untuk taat kepada 
kemimpinan Yesus, tidak membalas kejahatan dengan kejahatan, tetapi 
mengampuni orang-orang yang melecehkan karena orang-orang ini tidak 
mengerti, dan menjaga agar hati tetap bersih dari segala kepahitan. 
Kelompok orang Kristen yang ini, justru berkeyakinan bahwa bila 
mereka membalas dengan ganti melecehkan apalagi sampai menumpahkan 
darah, itu akan menyedihkan Tuhan, itu adalah pemberontakan terhadap 
perintah Allah Yang Maha Tinggi, bahwa hanya Allah saja yang berhak 
untuk membalas.

Ini pula sebabnya, di kalangan orang Kristen tidak ada ajaran untuk 
menganggap orang Yahudi sebagai musuh, walaupun secara perhitungan 
manusia, harusnya orang Kristen lah yang lebih benci kepada orang 
Yahudi karena orang Yahudi lah (selain orang Romawi) saat itu yang 
merendahkan, mempermalukan, menghina, melecehkan, dan membunuh Yesus 
dengan cara seperti orang terkutuk.

Selain karena ketaatan kepada keteladanan Yesus, orang Kristen 
kelompok ini memahami dan percaya bahwa secara rohani melalui Abraham 
(Ibrahim) sebagai bapa rohani mereka, orang Yahudi dan orang Islam 
adalah saudara. Orang Kristen yang membaca Alkitab akan tahu sejarah 
dan akan menghormati sesama pemeluk agama Allah sejak mulai Abraham. 
Kekristenan lahir justru setelah kematian Yesus, demikian pula Islam 
ada setelah ada Nabi Muhammad.

Pada awalnya hanya ada 2 kelompok bangsa yaitu bangsa yang menyembah 
dan mengorbankan persembahan darah kepada banyak dewa (kafir), dan 
bangsa yang menyembah satu Tuhan, Yang Maha Kuasa Allah Abraham, 
Allah Ismael, Allah Iskak, Allah Yakub (Israel). Catatan: Israel 
tidak identik dengan Yahudi. Disebutkan di Alkitab maupun Al Quran, 
bahwa yang disebut sebagai Israel adalah Yakub (jadi berbeda dengan 
Negara Israel jaman sekarang ini), yang disebut bangsa Israel di 
Alkitab maupun AL Quran adalah Yakub, anak Iskak, cucu Ibrahim, dan 
bangsa keturunannya. Yakub (Israel) sendiri punya 12 keturunan dan 
dari 12 keturunan inilah ke 12 bani Israel ada, salah satunya Yehuda 
(Yahudi).

Ismael anak Abraham dari Ibu Hagar (Hajar) dan Iskak anak Abraham 
dari Ibu Sara. Iskak menurunkan Yakub (Israel) Yakub menurunkan Yusuf 
(selain 11 saudara lainnya, salah satunya Yehuda yang menurunkan 
bangsa Yahudi). Dari keturunan Yusuf ini setelah kesekian puluh lahir 
Daud AS, yang menurunkan Salomo (Sulaiman AS) dan pada keturunan ke 
14 setelah Daud lahirlah Yesus melalui perawan Maria (Maryam).

Israel artinya "Pangerannya Elohim/Allah" (maksudnya yang disayang 
oleh Allah), Ismael artinya Yang didengarkan oleh Allah. Seperti 
keturunan Abraham yang lain, Ismael juga diberkati sebagai bapa dari 
bangsa yang besar, dan setelah sekian puluh keturunan, dari Ismael 
ini lahir Muhammad yang mengajarkan Islam.

Jadi menurut hemat saya, orang Kristen yang menjadi gusar termasuk 
yang menjadi pahit dan mengeluarkan kata-kata hujatan di forum ini, 
sebenarnya sudah mengingkari identitas kekristenannya.

Secara keimanan memang ada beberapa hal fundamental yang berbeda, 
tetapi orang Kristen dan Islam, (termasuk pemeluk agama Yahudi) bila 
berhadapan satu sama lain hendaknya mengingat sejarah bukan hanya 
sejak jaman Musa, Yesus atau jaman Muhammad, tetapi ditarik lagi jauh 
ke belakang pada jaman Ibrahim, dan ditarik lagi jauuuh ke depan 
bahwa kita sama-sama menantikan kedatangan Yesus (Isa al Masih) yang 
ke dua kalinya untuk memerintah dengan kasih dan damai sejahtera. 
Orang Islam maupun Kristen sama-sama mengimani bahwa kelak Setan 
(Dajjal) akan dikalahkan oleh Isa (Yesus).

Pada saat itulah semua kebenaran yang sejati akan terbuka dan 
menjembatani semua perbedaan selama ini, kita akan dikembalikan lagi 
seperti jaman Ibrahim, dipersatukan lagi sebagai satu jemaat umat 
Allah Yang Maha Kuasa. Dengan begitu kita akan melihat satu sama lain 
sebagai saudara, bukan saingan, bukan musuh, bukan untuk dijelekkan, 
bukan untuk direndahkan satu dari yang lainnya, tetapi untuk dikenal 
dan dipahami satu sama lain tanpa menghakimi. Allah sendiri yang akan 
menghakimi.

Demikian saudara-saudaraku. Terima kasih.




--- In zamanku@yahoogroups.com, "jundillah2001" <[EMAIL PROTECTED]> 
wrote:
>
> FYI
> 
> KOMPAS Jateng-DIY, Selasa, 17 Juni 2008
> 
> *Suara-suara yang Bertahan
> *
> Perjuangan antikekerasan - ahimsa - yang dihembuskan Mohandas 
> Karamchand
> Gandhi mengambil bentuknya lagi awal Juni ini. Langit Jakarta 
> memayungi
> ketika mimpi setiap anak bangsa akan dunia nirkekerasan dipasung 
> lagi.
> 
> Semua media massa mewajahkan kekerasan yang dilakukan oleh 
> sekelompok orang
> lewat suara, gambar, dan tulisan. Persis pada peringatah Hari 
> Kelahiran
> Pancasila, sesama saudara sebangsa memulai perangnya.
> 
> Namun, di tengah hiruk-pikuk siapa tuding siapa, siapa membeking 
> siapa,
> suara-suara korban makin sayup terdengar. Padahal, rintihan itu 
bisa 
> jadi
> ekspresi paling jujur di tengah pipa besi, pentungan, dan tangan-
> tangan yang
> membekap mulut korban.
> 
> Masih diselubungi trauma Juni lalu, Nyoman Aisanya Wibuthi, salah 
> seorang
> korban yang ikut berpartisipasi dalam Aliansi Kebangsaan untuk 
> Kebebasan
> Beragama dan Berkeyakinan (AKKBB), memulai pengakuannya, Sabtu 
> (14/6).
> 
> Perempuan yang akrab dipanggil Oming ini hadir bersama Nino 
Grasiano 
> dan
> Bernardus Winarno yang juga menjadi korban dalam peristiwa di Monas.
> Ketiganya bergabung sebagai relawan National Integration Movement 
> (NIM).
> 
> "Saya benar-benar merasaseperti terapi kejut ketika kepala bagian 
> belakang
> saya dipukul,"ujar Oming yang sehari-hari bekerja di Jakarta. Dalam 
> kondisi
> chaotic seperti itu, ujarnya, ia teringat bahwa dia perempuan. 
Dalam 
> sebuah
> perang, tuturnya, ada sebuah kode etik bahwa perempuan dan anak 
> kecil tidak
> boleh disakiti.
> 
> Lahir di keluarga Hindu, kata Oming, meyakinkannya bahwa perempuan 
> adalah
> Ibu. Namun, bangsa ini sekali lagi telah menyesah seorang ibu 
dengan 
> pipa
> besi dan kemarahan.
> 
> Bagi Oming, kekerasan yang terjadi di Monas bukan semata kekerasan
> fisik."Ada yang salah dengan masyarakat kita. Bagaimana bisa 
> seseorang punya
> kebencian begitu besar terhadap yang lain?" tanyanya.
> 
> Kekerasan fisik kemudian menjadi sebuah senjata untuk mengobarkan 
> kebencian,
> meniadakan yang lain, memastikan diri sebagai pemenang.
> 
> Padahal, Oming percaya, kekerasan 1 Juni menjadi bukti berapa kali 
> bangsa
> ini sudah kalah karena lingkaran kekerasan.
> 
> *Kedamaian.*
> "Semua wanita dan anak-anak dipukul. Sekujur tubuh saya luka. Sampai
> sekarang dada masih sakit kalau bernafas,"ujar Nino Graciano. 
> Ingatannya
> masih segar tentang peristiwa yang membuatnya makin percaya gerakan
> antikekerasan harus terus digulirkan. Bagi Nino, apa yang terjadi 1 
> Juni
> lalu bukanlah isu penodaan agama. Dengan tegas, ia mengatakan, 
inilah
> kekerasan terhadap sesama anak bangsa.
> 
> Untuk meretasnya, tak ada cara lain selain berdialog? "Oh, tentu, 
> Mengapa
> tidak?" tegas Nino. Gandhi dan gerakan ahimsa-nya yang menggerakkan 
> seluruh
> India, kata Nino, mewujud lagi sekarang di Indonesia. Bukan dengan 
> diam,
> namun dengan bersuara, dengan bertahan pada hal-hal yang kecil.
> 
> Pria yang sehari-hari bekerja di sebuah event organizer di Jakarta 
> ini
> percaya, lingkaran kekerasan bisa dipatahkan lewat hal-hal kecil. 
> Bersama
> NIM, ia menggiatakan "hal-hal kecil" itu, seperti menggelar pusat 
> pemulihan
> stres keliling pascagempa.
> 
> Nino percaya semua orang bisa mencintai Indonesia dengan cara 
masing-
> masing.
> Bahkan , 1 Juni lalu, ia dan teman-teman seharusnya bernyanyi Damai
> Indonesia/ Bersatu Indonesia/yo yo yo Indonesia...
> 
> Lagu itu bahkan tak sempat digaungkan, keburu pipa besi menghantam
> mulut-mulut yang masih menyuarakan harapan. Nino tetap percaya 
cinta 
> tidak
> diwujudkan lewat kekerasan. Siapa pun yang cinta negeri ini, 
> walaupun hanya
> pada identitas-identitas suku, agam, ras, kelamin, dan golongan, 
> tidak akan
> mencetak kekerasan pada kulit sesamanya. (A11)
>


Kirim email ke