---------- Forwarded message ----------
From: Rumadi <[EMAIL PROTECTED] com>
Date: 2008/6/25
Subject: [akkbb]: Kesaksian Imdad Tragedi Monas
To: aliansi-kebebasan@ yahoogroups. com



Kawan-kawan. ..

Meski agak terlambat, ini saya kirim kesaksian Imdadun Rahmat atas tragedi 
Monas.

Salam,

Rumadi

Kesaksian Korban 
Tragedi Peringatan Hari Pancasila

Oleh Imdadun Rahmat, 
(Aktivis NU, wakil sekretaris ICRP dan Direktur Yayasan PARAS)

Saya
datang di sudut tenggara Monas pada jam 12.30. Rombongan yang hadir
bersama saya adalah para Relawan PARAS sebanyak 14 orang (2 perempuan
12 laki-laki) plus 2 orang anak saya (Rausyan, 11 th. dan Satya 8 th.)
dan Khamami Zada (LAKPESDAM NU) yang membawa anaknya, Aria 4 th. Kami
datang dengan suasana hati gembira dan penuh semangat karena kami akan
bersama-sama tokoh-tokoh nasional merayakan hari lahir Pancasila dan
menyerukan penghargaan pada kebhinekaan. Saya datang sebagai anggota
panitia sekaligus sebagai koordinator relawan PARAS yang mendapatkan
tugas dari Aliansi untuk mengisi persembahan musik perdamaian yang akan
ditampilkan di sela-sela pidato para tokoh dan sebelum acara dimulai
(menunggu peserta hadir semua). Kami datang dengan 3 mobil. Semula,
mobil-mobil kami parkir di sudut tenggara Monas sambil menunggu peserta
lain yang belum datang. Ketika kami menunggu, kami bertemu dengan para
peserta lain di antaranya sekitar 20 orang dari LAKPESDAM NU Society. 

Setelah sebagian peserta telah masuk area Monas, maka kami putuskan
untuk menuju ke sana. Karena ingin cepat-cepat sampai untuk segera
tampil, maka tiga mobil kami bawa masuk ke Monas, dan kami parkir tak
jauh dari mobil Sound System. Maka saya bersama tim musik segera
menurunkan peralatan-peralatan musik dan satu set mini amply dan
kemudian mensetnya serta menghubungkannya dengan soun sistem utama yang
dimuat di atas truk. 

Ketika kami sedang mencek suara gitar, bas, dan mikrofon, korlap
saat itu Saudara Saidiman mempersilahkan para peserta untuk merapat ke
sound komando dan meminta mereka untuk duduk. Para peserta yang
sebagian besar kaum perempuan itupun duduk. Ada sebagian yang masih
berjalan merapat, dan tiba-tiba ada suara gaduh, "FPI datang". Saidiman
meminta kepada para hadirin untuk tenang dan jangan terprofokasi. Pada
saat itu, rombongan sekitar 200 an orang FPI semakin mendekat. Suasana
makin tidak tenang, karena FPI meneriakkan suara-suara bernada ancaman. 

Tak lama kemudian pasukan FPI dengan pentungan bambu mengepung dan
melontarkan sumpah serapah "Ahmadiyah kafir", "hancurkan", "habisin"
dan sebagainya. Sementara anggota FPI lain memukuli peserta serta kaum
ibu, salah seorang dari mereka mulai membanting bongo dan alat percusi
milik kami. Saya menghanginya dengan mengatakan "jangan begitu, jangan
pakai kekerasan". Dengan kasar dia menghardik "kamu Ahmadiyah" saya
bilang "saya orang NU". Ia bilang "NU apa, kamu kafir". 

Orang
itu lalu memukul kepala saya dengan tongkatnya, saya berhasil
menangkisnya, dan terus memukul saya, saya bisa mempertahankan diri.
Saya sempat melihat teman saya dari PARAS (Mansur) mencoba melawan FPI
yang memukulinya, saya tahan dia untuk tidak melawan. Saat itu, saya
pikir kami tidak mungkin melawan, karena kedua anak saya ada di dekat
saya, dan saya hawatir jika melawan korban akan semakin banyak, karena
sebagian besar dari kami adalah ibu-ibu. Buru-buru saya teriak ke
keponakan saya (Ninik, relawan PARAS) untuk membawa pergi anak-anak
saya. Selanjutnya saya dikeroyok ramai-ramai, tidak hanya dengan bambu
tetapi juga dengan besi (alat musik milik kami, High Head) saya hanya
bisa menangkis yang dari depan, sementara yang dari belakang dan dari
samping tak bisa dibendung. Saya terus dikeroyok. Saat itu saya
merasakan sakit yang luar biasa di beberapa bagian dari kepala saya.
Saya merasa menghadapi kematian. Saya bergumam Allahu Akbar
berkali-kali. Para penyerang saya juga berteriak "kafir", "bunuh",
"Allahu Akbar". 

Pada
saat genting demikian, naluri saya mengatakan harus lari. Saya kemudian
lari, dan terus dipukuli oleh anggota FPI yang lain. Saya tersandung
dan jatuh, pada saat itu saya merasakan pelipis kiri saya ditendang dan
kepala bagian belakang saya dipukul dengan pentungan. Saya bangkit dan
terus berlari, saya dikejar, saya berhasil menjauh dari kerumunan FPI. 

Saya merasa kepala saya sakit semua. Semula saya belum sadar kalo
saya luka-luka. Mula-mula leher saya terasa dingin, ternyata darah saya
mengalir deras dari bagian belakang kepala saya. Kaos saya basah oleh
darah. Lalu saya merasa pelipis saya perih, yang teranyata mengeluarkan
darah. 

Namun kemudian saya merasa lega ternyata saya ketemu dengan ponakan
dan 2 anak saya yang menangis ketakutan di pinggir sebelah timur Monas.
Saya juga ketemu Hamami dan Sahal (LAKPESDAM NU) beserta
teman-temannya. Saya peluk anak-anak saya dan darah saya dibersihkan
oleh keponakan saya. Kaos PARAS yang saya pakai penuh darah dan saya
lepas agar tidak ditandai dan diserang lagi oleh FPI. Kemudian saya
beristirahat di pinggir Monas, karena kepala saya mulai pusing-pusing. 

Saya tidak mungkin terus ke rumah sakit karena saya masih
meninggalkan tanggung jawab di sana. Saya belum tahu bagaimana nasip
teman-teman saya, khususnya teman-teman relawan pemusik, yang menjadi
sasaran penyerangan pertama dari FPI. Tiga mobil kami yang masih
terparkir di tempat penyerangan juga masih di sana. Sebab, setelah
menurunkan relawan musik berikut alat-alat musiknya, kami belum sempat
memindahkannya di tempat parkir stasiun Gambir, seperti yang kami
rencanakan. Alat-alat musik kami juga masih ada di sana, dan kami belum
tahu nasip alat-alat kami seperti apa. Saya dihantui ketakutan jika
mobil-mobil kami turut dirusak atau dibakar. 

Dalam kekalutan itu, saya telephon Masdar Mas'udi, mengabarkan apa
yang menimpa kami. Dia tak percaya, heran dan marah. Dia meminta saya
tabah dan segera ke rumah sakit. Saya merasa didoakan oleh kiai NU..
Saya merasa lebih tenang. Saya segera teringat beliau karena sehari
sebelumnya, saya diundang oleh beliau di PBNU untuk mempresentasikan
buku saya tentang Islam Radikal pada acara konsolidasi imam dan khotib
NU dalam mengantisipasi "direbutnya" mesjid dan musholla NU oleh
kalangan Islam radikal. 

Saya terus kontak teman-teman saya untuk mencari tahu apa yang
menimpa mereka. Ternyata banyak korban luka-luka. Saya ketemu Mas
Suaedy yang dagunya bengkak dan berdarah, saya ketemu Pak Syafii Anwar
yang kepalanya memar-memar, dan saya sangat marah dan sedih ketika
mendengar Guntur terluka parah, juga Kiai Maman Ainul Haq. Kalau
seandainya Gus Dur, Gus Mus, Amin Rais, Buya Syafi'i Ma'arif telah
hadir di sana mungkin beliau-beliau akan menjadi korban pula. 

Ketika
pusing kepala saya makin parah, saya putuskan untuk segera ke rumah
sakit. Saya khawatir saya kehilangan banyak darah. Saya kesampingkan
semua urusan mobil dan peralatan musik. Yang penting saya selamat. Anak
saya yang kecil saya titipkan ke teman-teman PARAS, saya bersama anak
pertama saya menuju Gedung Kebudayaan seperti disarankan teman-teman,
untuk mendapatkan penanganan medis. Dari situ kami diantar Ibu Amanda
menuju rumah sakit Bakti Waluyo, Menteng. Luka di kepala saya dijahit,
luka-luka di dahi saya diobati dan diperban, memar-memar di kepala saya
diolesi krim anti bengkak. Dan saya disuntik dan minum obat. 

Alhamdulillah, teman-teman PARAS tidak ada yang terluka serius.
Mansur luka memar di beberapa bagian kepalanya, dan rusuknya sakit,
karena dikeroyok. Edy kepalanya memar kena pentungan. Ais kepalanya
memar-memar dan punggungnya bengkak. Amo tangannya berdarah kena kawat
berduri waktu lari dikejar FPI. Dila kakinya bengkak karena keseleo
ketika menyelamatkan diri. Mobil saya, mobil PARAS dan mobil relawan
PARAS (dr. Elvy), tidak mengalami kerusakan apa-apa. Tiga gitar dan
satu bass bisa diselamatkan (dibawa lari oleh personil musik). Yang
membuat saya gusar, tiga amplyfier rusak (mudah-mudahan bisa diservis),
dan satu hilang. Alat-alat percusi saya rusak parah (gak bisa dipake
lagi), hard cover gitar rusak parah dan sound effek hilang. Kabel-kabel
juga raib entah kemana.. Mungkin FPI juga doyan kabel. Total kerugian
peralatan musik sekitar 9 juta. Yang meresahkan saya hingga hari ini
adalah kondisi psikologis anak saya. Semoga ia tidak mengalami phobia
atau bahkan trauma, naudzubillah min dzalik. Mereka berdua akan
menjalani terapi psikologis setelah selesai ujian semesteran. Ahh..,
memang kebangetan FPI. 

Bagi saya kejadian ini merupakan bukti bahwa di negeri kita tidak
ada jaminan bagi kebebasan berfikir, berpendapat dan berkeyakinan.
Bayangkan, di siang bolong, di pusat Ibu Kota negara, di hari yang
sakral (hari lahirnya Pancasila—ideologi negara) ada sekelompok orang
dengan leluasa dan sewenang-wenang menyerang dan menganiaya orang-orang
yang berkumpul untuk merayakan hari lahir Pancasila. Orang-orang yang
diserang itu adalah kumpulan dari para aktivis dan tokoh penyeru
kebangsaan, pro-demokrasi, pro-pluralisme dan datang dari berbagai
agama dan kepercayaan. Negara ada di posisi mana sih? Bingung gue...

Selain itu, peristiwa ini membuktikan bahwa keberagamaan kita ada
dalam masalah besar. Bagaimana ada sekelompok orang dengan nama Islam,
berbaju taqwa, meneriakkan kalam suci Allahu Akbar dengan beringas
menganiaya orang-orang yang tidak melawan, tidak berdaya dan tidak
bersalah, hanya karena dianggap berbeda dengan mereka. Dan yang
memprihatinkan, ada banyak orang yang mendukung dan membenarkan
penyerangan itu. Kata teman saya "jangankan penyerangan, penganiayaan,
pengeboman yang membunuh ratusan orang tak berdosa juga mereka benarkan
kok".. Memang benar sih, sebagian besar kalangan yang mendukung
penyerangan adalah pula orang-orang yang mendukung terorisme selama
ini.. Yah mau bagaimana lagi, yang radikal-radikal dipiara... 

Pengalaman
ini adalah pengalaman batin, bahwa Islam yang benar adalah Islam yang
rahmatan lil 'alamin. Saya hanya beriman kepada Islam yang hanif, yang
tawassuth, yang damai, yang tidak membenci. Semakin jelas bukti di mata
saya bahwa yang dicontohkan para guru saya di pesantren adalah Islam
yang benar. Amar ma'ruf nahi munkar yang dilakukan para kiai saya
adalah perjuangan membimbing ummat, mengajari mereka siang malam untuk
menjadi muslim yang soleh, bertaqwa dan kuat iman. Mereka bekerja
secara tulus, ikhlas, tanpa mengharap bayaran. "Benteng keimanan adalah
nomor satu" kata mereka. Itu pula yang dicontohkan ibu dan keluargaku.
Semangat membela Islam tidak didasari oleh kebencian kepada orang lain.
Apalagi membela Islam dengan menjadi preman... Naudzubillah min
dzalik...


      

Kirim email ke