Tafakkur
Seri ke 17 Belajar Tasawuf
Oleh : Ferry Djajaprana


Dalam memahami beberapa istilah dalam ilmu tasawuf kita sering dibingungkan dengan istilah dzikir dan tafakur. Adakah perbedaan dari ke dua istilah tersebut?

Tafakkur 1) merupakan bentuk kata benda verbal yang berasal dari kata kerja tafakkara yang artinya mempertimbangkan atau memikirkan. Istilah ini biasanya digunakan untuk menggambarkan sebuah perenungan atau meditasi, seharusnya ia tidak dikacaukan dengan arti zikir yang berarti mengingat. Zikr Allah atau mengingat kepada Allah, dengan cara menyebut Allah. Al Quran sering menyebut dzikir sebagai amal ibadah "Fazkuruni azkurukum" yang artinya "Ingatlah kepada-Ku niscaya Aku ingat kepadamu" (Q.S. 2: 152).

Jadi, bedanya tafakur dengan dzikir adalah pada tafakur kita merenungkan terhadap sesuatu, artinya ada proses berfikir, analisis dan introspeksi. Pada tafakur hanya berkaitan dengan nama-nama Allah saja bukan dzat. Sementara dzikir maknanya hanya mengingat (Jawa : Eling).

Di dalam metodenya tafakur berbeda dengan ta'allum 2). Ta'allum berlangsung secara ekstrim melalui belajar secara lahiriah, sedangkan tafakur berlangsung secara intern dengan proses pembelajaran dari dalam diri manusia melalui aktivitas berfikir yang menggunakan perangkat batiniah atau jiwa manusia.

Mudah-mudahan  melalui kedua nash berikut bisa dipahami perbedaannya :

"Dan apakah mereka tidak memperhatikan kerajaan langit dan bumi dan segala yang diciptakan Allah?.. " (QS. Al Araf[7]:185)

"Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan silih bergantinya malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi orang yang berakal. Yaitu orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri, duduk atau dalam keadaan berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi..." (Ali Imran [3]: 190-191)

Nah, dari nash ke dua dapat dipahami bahwa kesempurnaan akal tidak akan tercapai kecuali dengan pertemuan dzikir dan pikir manusia. Apabila kita telah mengetahui bahwa kesempurnaan hati merupakan kesempurnaan manusia, maka kita mengetahui pula bahwa kedudukan pikir dan dzikir dalam penyucian jiwa. Oleh karena itu para salik yang menuju Allah senantiasa berusaha dengan keras agar dzikir dan pikir terhimpun dalam diri penempuh jalan spiritual sejak awal perjalanannya. Contohnya, memikirkan segala sesuatu seraya bertasbih. Cobalah praktekkan dengan merenungkan sesuatu ciptaan-Nya seraya bertasbih, tahmid dan takbir, menurut Al Ghazali dalam Ihya' 3) niscaya ia akan menyaksikan dampak hal ini secara langsung di dalam hatinya, sehingga mengetahui pengaruh tafakur terhadap hati dan jiwa.

Bibliography :
1) Glasse, Cyril. Ensiklopedi Islam, PT. Raja Grafindo Persada, Jakarta, 2002
2) ) Jumantoro, Totok. Amin, Samsul Munir. Kamus Ilmu Tasawuf, Penerbit Amzah, Wonosobo, 2005 3) Hawwa, Said. Tazkiyatun nafs Intisari Ihya Ulumuddin, Penerbit Darussalam, 2002 (P.113)

Salam,
http://ferrydjajaprana.multiply.com
http://tasawuf.multiply.com



Kirim email ke