Pengamat Intelijen: 
Dana Teroris Dicurigai Masuk Lewat Infak dan Zakat

Oleh
Rafael Sebayang



Jakarta - Pengamat intelijen Wawan Purwanto mensinyalir dana teroris masuk 
melalui infak dan zakat. Untuk itu diperlukan pengawasan terhadap 
sumbangan-sumbangan dalam bentuk infak dan zakat itu.

"Yang sangat kita khawatirkan adalah pengawasan terhadap sumbangan-sumbangan 
dalam bentuk infak dan zakat menjadi sumber dana baru mereka. Dana-dana 
tersebut sebenarnya halal namun digunakan oleh kelompok-kelompok mereka yang 
berkamuflase atas nama agama untuk melanggar hukum. Bagi teroris itu, dana itu 
ibarat darah. Kalau darahnya dibekukan, aktivitas-aktivitas mereka secara 
otomatis juga akan berhenti," katanya ketika dihubungi SH, Sabtu (5/7) siang 
ini. Dia menyebutkan, terungkapnya kasus bom rakitan di Palembang, Sumatera 
Selatan, mengindikasikan adanya sumber pendanaan baru dalam upaya aksi teror di 
Indonesia. 

Tertangkapnya sejumlah bendahara Jemaah Islamiyah (JI) di berbagai negara 
menjadikan sumber dana yang datang di bawah tangan dalam bentuk infak dan zakat 
memberikan darah segar bagi pelaku terorisme dalam menjalankan aksinya.Dia 
menyatakan keberadaan peluru-peluru tajam yang menjadi satu kesatuan dalam satu 
rakitan bom merupakan hal yang baru dalam teknik perakitan bom anggota JI, 
khususnya bom-bom rakitan yang selama ini ditemukan atau meledak di wilayah 
Indonesia. Terkait pendanaan, Wawan juga mengindikasikan adanya keterkaitan 
aksi-aksi perampokan, khususnya perampokan toko-toko emas yang terjadi di 
beberapa tempat akhir-akhir ini mengarah pada kelompok-kelompok terorisme. "Itu 
memang arahnya ke sana," katanya.


Menanggapi fakta baru di luar penangkapan sepuluh tersangka teroris di Sumatera 
Selatan yang menyangkut pelarian salah satu petinggi JI berkewarganegaraan 
Singapura, Mas Slamet Kastari, yang diinformasikan saat ini berada di 
Indonesia, Wawan masih mempertanyakan validitas informasi tersebut. Pasalnya, 
Kastari yang saat itu ditahan di penjara Singapura dalam kondisi diborgol 
tangan dan kakinya. 
Di samping itu, ketika itu Kastari tidak mungkin meloloskan diri dari penjara 
yang ketat tersebut, karena mengalami patah kaki pada saat melarikan diri dari 
Polda Riau beberapa waktu lalu. "Fakta-fakta ini memunculkan pertanyaan apakah 
Kastari benar sudah melarikan diri ke wilayah Indonesia atau mungkin masih 
berada di penjara Singapura atau bahkan sudah mati di sana," katanya.
Pada kesempatan ini pula, Wawan mengingatkan agar masyarakat maupun penegak 
hukum, khususnya Polri, mewaspadai adanya politisasi dalam kasus ini. 

Pindahkan Basis Jaringan


Kapolri Jenderal Sutanto di Mabes Polri, Jumat (4/7) siang, mengatakan fakta 
pengungkapan jaringan teroris di Malaysia mengindikasikan bahwa buron teroris 
nomor satu Noordin M Top telah memindahkan baris jaringannya dari Jawa ke 
Sumatera. Di samping itu, ada pengembangan teknik perakitan bom dari kelompok 
JI yang saat ini mengembangkan teknik perakitan bom dengan menggunakan 
peluru-peluru tajam.
Tentang keberadaan Slamet Kastari, Sutanto mengatakan pihaknya saat ini telah 
menyebar foto-foto Kastari ke seluruh Polda di Indonesia. "Tujuannya agar 
masyarakat mengenali dan mengetahui ciri-ciri fisik yang bersangkutan," 
katanya. Pihaknya telah memperketat penjagaan di wilayah-wilayah perbatasan di 
seluruh Indonesia khususnya wilayah Sumatera yang saat ini diduga menjadi salah 
satu basis pergerakan pelaku teror.


Wawan Purwanto juga mengingatkan, sasaran teroris saat ini sudah bergeser dari 
perjuangan demi jihad, beralih pada kehancuran ekonomi dan ideologi kekerasan. 
Indikasi ini terlihat dari penangkapan sepuluh tersangka teroris di Sumatera 
Selatan baru-baru ini yang mengaku akan meledakkan Kafe Bedudel di Bukit 
Tinggi, Sumatera Barat, karena banyak dikunjungi turis asing.
Hal ini sangat disayangkan, apalagi kondisi perekonomian dunia saat ini sedang 
kacau, harga minyak mentah dunia terus melonjak sehingga semua harga kebutuhan 
pokok ikut terkerek naik. "Jadi dimana letak jihadnya? Sasaran mereka sudah 
bukan lagi jihad, tapi kehancuran ekonomi negara," ungkap pengamat intelijen 
itu. Para teroris itu hanya ingin mengesankan bahwa mereka tetap eksis, 
sehingga tidak memperhitungkan korbannya, yang penting menyerang, kata Wawan. 
Bukit Tinggi, terutama di kawasan jam gadang, memang menjadi tempat turis dan 
terdapat kafe yang banyak orang bulenya. Meskipun kelompok teroris yang 
ditangkap Densus 88 Antiteror di Palembang baru-baru ini mengaku batal 
meledakkan bom di Kafe Bedudel, Bukit Tinggi, karena belakangan menyadari bahwa 
para calon korban adalah warga setempat yang umumnya muslim dan bukan orang 
asing.  Menurut seorang perwira Polri yang menolak disebut namanya, di tempat 
itu sudah sempat dipasang tiga buah bom waktu, tetapi kemudian dibatalkan pada 
detik-detik terakhir dan teroris memutuskan akan memindahkan serangan ke Ibu 
Kota Jakarta. Namun menurut Wawan Purwanto, sepuluh tersangka itu ditangkap 
sekitar 20 Juni lalu, namun baru dipublikasikan Polri pada HUT ke-62 Polri, 
sebab untuk keperluan penyidikan.


Wawan mengingatkan pula bahwa dalam kondisi kemiskinan, teroris mudah masuk. 
"Daripada melarat, sengsara, ya mendingan sahid saja," lanjutnya sambil 
mengingatkan, masyarakat harus peduli pada lingkungannya agar tak mudah 
disusupi teroris. Wawan juga menjelaskan, para teroris itu pindah ke Sumatera 
setelah diuber dari Poso, Jawa Tengah, dan Yogyakarta. Mereka membutuhkan rumah 
tempat pengamanan sehingga hidup berpindah-pindah. Penyamaran yang paling 
efektif menjadi guru dan santri, sambil melakukan perekrutan baru pada pemuda 
berusia rata-rata 20 tahun, tapi masih dari kelompok yang bisa dialihkan ke 
jihad. 

Bali Dijaga Ketat
Aparat kepolisian di jajaran Polda Bali juga memperketat penjagaan di sejumlah 
pintu masuk Bali, seperti pelabuhan penyeberangan Gilimanuk, Padangbai, dan 
Bandara Ngurah Rai, guna mencegah masuknya kelompok teroris. Berdasarkan 
pemantauan SH, petugas dari Gegana, Densus 88/Antiteror Polda Bali dan Reskrim, 
serta Intel Polres Jembrana diterjunkan untuk pengamanan pelabuhan Gilimanuk 
yang menghubungkan Jawa-Bali ini. (wahyu dramastuti/cinta malem ginting) 



http://www.sinarharapan.co.id/berita/0807/05/sh01.html

Kirim email ke