sepertinya kalau kita cermati dari kisah sidharta gautama dalam menjalankan 
laku tirakatnya dan penyiksaan dirinya, sangatlah berlebihan, dan itu dia 
lakukan sebagai bentuk kesadaran dan pada saat itu, sidharta sebenarnya memang 
ingin sekali dan sedang dalam tahap pencarian kehidupan sesudah mati, namun 
tidak dengan bimbingan yang benar. 
laku tirakat sidharta dipinggir sebuah sungai dengan tidak makan dan minum 
dalam kurun waktu yang lama saat itu juga diiringi oleh sikap "menantang 
kekuatan alam" itu tentu tidak dianjuran dalam hindu. agama hindu setahu saya 
adalah agama yang mengajarkan agar manusia senantiasa bersahabat dengan alam, 
baik dengan makhluknya maupun hukum alamnya. jadi dengan kata lain apa yang 
dilakukan sidharta untuk mencari kesadaran dengan penyiksaan dirinya adalah 
bentuk kekecewaan sidharta ketika dia putus asa karena tidak memahami dan tidak 
mendapatkan kesadaran yang dia maksud. dan ketika dia tidak lagi berusaha 
memaksakan diri untuk menentang kekuatan alam, maka saat itulah sidharta 
mendapatkan kesadaran akan siapa dirinya dan bagaimana harus memperlakukan 
alam. disaat itu pulalah dia memahami hakekat hidup dan kehidupan, serta tidak 
lagi berusaha mengendalikan dunia dengan caranya sendiri.



----- Pesan Asli ----
Dari: Kaisar Langit <[EMAIL PROTECTED]>
Kepada: [EMAIL PROTECTED]; zamanku@yahoogroups.com; [EMAIL PROTECTED]; [EMAIL 
PROTECTED]; [EMAIL PROTECTED]; [EMAIL PROTECTED]; [EMAIL PROTECTED]
Terkirim: Sabtu, 5 Juli, 2008 19:56:23
Topik: [zamanku] The Force, Sarana Untuk Menjadi Yang Tak Terkalahkan


Gara-gara salah pengajaran oleh orang hindu, siddharta hampir mati kelaparan 
dalam puasanya. Sampai ia mendengar suara nyanyian dari seberang sungai: "senar 
jika ditarik terlalu kencang akan putus, dan jika ditarik terlalu longgar tak 
akan menimbulkan suara."
 
Mendengar itu, Buddha menghentikan cara latihannya, dan mulai makan. melihat 
hal itu, 5 teman hindunya mulai meninggalkannya. karena hindu menilai kehebatan 
seseorang dari banyaknya laku ascestik yang dilakukan. kelak mereka kembali 
ditemui sidharta dan menjadi 5 muridnya yang pertama.
 
Sejak peristiwa itu, "Jalan Tengah" sudah menjadi prinsip yang mewarnai agama 
Buddha, dimana segala sesuatunya selalu menghindari dua jenis ekstrem.. Tak 
terlalu bersenang-senang dan tak terlalu menyusah-nyusahkan diri.
 
Tenaga dalam Perguruan Teratai Emas disebut The Force, Kekuatan Jhana 8.
 
Ada 3 nama untuk jhana 8:
1. "Bukan persepsi dan bukan pula non-persepsi".
2. "Kesadaran atas kekosongan".
3. "Jalan Tengah".
 
Pilihlah nama yang membangkitkan kesadaran Anda akan tahap ke-8 meditasi ini.
 
Dulu Saya bingung memikirkan apa sebetulnya yang dimaksud "bukan persepsi dan 
bukan pula non-persepsi" akhirnya saya jalan-jalan ke situs buddhist indonesia 
dan menemukan nama lain dari jhana 8, yaitu "kesadaran atas kekosongan". Ini 
sebenarnya sudah cukup memuaskan rasa penasaran Saya. Tapi karena Saya sedang 
bermeditasi untuk menemukan satu bentuk tenaga dalam tak terkalahkan untuk 
perguruan Saya, maka Saya terus bervipassana dengan obyek "arti lebih dalam 
dari Jalan Tengah", maka Saya temukanlah nama ketiga dari Jhana/meditasi 8, 
yaitu "Jalan Tengah".
 
Sering kita mendengar seorang pesilat tua berkata, "saya sudah tua, kaki saya 
sudah tak sekuat sewaktu masih muda dulu" ataupun seorang ahli tenaga dalam 
Satria Nusantara berkata, "wah saya sudah lama gak latihan nih, perlu isi 
tenaga dalam lagi" ataupun seorang praktisi hatha yoga berkata "aku perlu yoga 
sedikit hari ini agar fisik dan mentalku tetap stabil"
 
Tapi di Perguruan Teratai Emas hal itu tak terjadi, seseorang bisa selalu kuat 
meski tak pernah olah fisik seperti hatha yoga ataupun senam pagi. Bahkan ia 
tak perlu lagi diterapi pijat refleksi, totok darah, ataupun bekam.
 
Juga ilmu-ilmu yang dilancarkan dengan The Force tak bisa turun-turun 
kekuatannya. Sedang ilmu dari perguruan lain, jika dipukul terus-menerus, meski 
sakti akan turun juga level kekuatannya. Bahkan rusak.
 
Saya bisa duduk tenang dalam Perisai Genta Emas tahap 8 selama 84000 maha 
kappa, tanpa perlu makan, minum, dan tidur. Sementara yang memukuli Saya 
mungkin sudah capek dalam sehari.
 
Sesudah semuanya selesai, kekuatan Saya masih sama.
Inilah hebatnya The Force, kekuatan Tuhan.
 
Dalam The Force, tak berlaku lagi istilah "di atas langit masih ada langit", 
karena di atas Jhana 8 sudah tak ada lagi.
Yang kalah adalah yang salah. 
 
Kini Saya sudah menguasai:
1. Ilmu Sembilan Mentari.
2. Ilmu Sembilan Bulan.
3. Ilmu Ulat Sutra.
 
Saya sudah tak melakukan lagi kungfu 7 penjuru yang saya sebut dulu, karena 
Saya sudah temukan yang lebih hebat, yaitu Ilmu Sembilan Bulan, dengan menambah 
dua bait mantra lagi pada bait-bait yang Saya sebut dulu.
 
Ilmu Tapak Buddha didapat dari 8 tahap meditasi. Jadi semuanya ada 8 tahap 
Tapak Buddha. Jhana 8 kan tak terkalahkan, karena itulah jurus terakhir Tapak 
Buddha namanya "Seribu Buddha".
 
Saya perlu kuasai Ilmu Pedang Kosmos dan Ilmu Tapak Buddha dulu, barulah Saya 
bisa jadi kaisar.
Soal kebuddhaan, sudah 99,7%. 3% lagi.
 
Soal Bikkhu Dhamma yang mengajar kungfu pada shaolin, itu bukan dari ajaran 
buddha, tapi karena bikkhu dhamma pernah belajar vajramusti di India dulu, satu 
jenis beladiri india kuno.
 
Jika Sang Buddha melihat para bhikku shaolin yang lemah, Ia tak akan mengajar 
kungfu, tapi akan mengajar meditasi seperti biasa, karena seperti katanya: 
"Pikiran adalah Pemimpin. Jika pikiran baik, baiklah semuanya" - Dhammapada.
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
________________________________
 Dapatkan nama yang Anda sukai!  
Sekarang Anda dapat memiliki email di @ymail.com dan @rocketmail. com.    


      
___________________________________________________________________________
Dapatkan nama yang Anda sukai!
Sekarang Anda dapat memiliki email di @ymail.com dan @rocketmail.com.
http://mail.promotions.yahoo.com/newdomains/id/

Kirim email ke