Serial Kasur
(Kasih dan Ruang)

 

Pendahuluan

 

Selamat datang
di serial Kasur (Kasih dan Ruang). 

 

Awalnya adalah
ketiadaan. Dari ketiadaan muncullah keberadaan. Dan dari keberadaan muncullah 
ilusi ruang antar keberadaan. Akhirnya
melalui ruang, ketiadaan dapat hadir di antara celah-celah keberadaan.
Ketiadaan yang ingin hadir melalui
celah keberadaan inilah yang disebut sebagai kasih.

 

Itulah latar
belakang filosofis label Kasur (Kasih dan Ruang) dari serial terbaru saya.
Serial Kasur adalah sebentuk keramaian pikiran saya yang akhirnya ingin
dituangkan menjadi artikel-artikel rutin. Sungguh, saya sangat menikmati
keramaian pikiran saya sendiri. Anda bisa ikut merasakan keramaian pikiran saya
dengan mengikuti artikel-artikel saya ini. Terimakasih telah menemani.

 

Sebagai makanan
pembuka saya akan berikan paradoks lama yang sudah sangat sering diutarakan
oleh orang lain, “Sanggupkah Tuhan menciptakan batu yang tidak sanggup Ia
angkat sendiri?” Jawaban standarnya, “Apapun jawabannya mengisyaratkan
keterbatasan Tuhan.” Tapi di serial kasur ini, saya akan berangkat dari
pertanyaan paradoks ini untuk memulai keasyikan saya menulis keramaian pikiran
saya. Dan tentu saja saya tidak lupa untuk istirahat menikmati kasur yang empuk
(artinya yang empuk sebenarnya enggak hanya kasur…tapi saya harus tetap puas
dengan kasur empuk...;)).

 

Salam,

Adhi Purwono. 

 

 

 

 

Serial Kasur
(Kasih dan Ruang) 


Artikel 1 :


 

Sanggupkah
 Ia Mencintai Mantan Pacar Yang Tidak
Sanggup Ia Pacari?

 

Judul di atas
tentu bukan sebuah pertanyaan berparadoks. Jawabannya cukup mudah. Mencintai
bisa dilepaskan dari faktor memiliki/memacari. Jadi sisi kritisnya adalah
apakah sang kekasih masih tetap mencintai walaupun berstatus mantan pacar?
Walaupun misalnya sudah milik orang?
Wah bisa berabe…! Dari sini kita bisa menyadari mencintai tidak hanya ada untuk 
berpacaran saja.

 

Lalu bisakah
pertanyaan di atas tersebut dijadikan alat bantu analogi untuk mencari jawaban
yang lebih baik atas pertanyaan paradoks yang sebenarnya yaitu, “Sanggupkah
Tuhan menciptakan batu yang tidak sanggup Ia angkat sendiri?” Dengan bantuan
analogi di atas kita bisa mempararelkan logikanya mencintai dan memacari dengan
hubungan logika antara menciptakan dan mengangkat batu. Benarkah makna kata
kerja ‘menciptakan’ sejajar dengan makna kata kerja ‘mengangkat batu’ sehingga
ketidaksanggupan mengangkat batu bisa disejajarkan dengan ketidaksanggupan
menciptakan? Jelas dalam makna ‘mencintai’ dan ‘memacari’, kedua kata kerja itu
tidak sejajar dalam arti ketidaksanggupan memacari belum tentu menyejajarkan 
dengan
ketidaksanggupan mencintai. Seorang kekasih tidak sanggup lagi memacari orang
yang tentu pernah dicintainya tapi masih ada kemungkinan dia masih tetap
sanggup mencintai mantan pacarnya tersebut. Namun bila Tuhan tidak sanggup
mengangkat batu yang diciptakannya sendiri, maka apakah Dia juga tidak sanggup
menciptakan batu tersebut? 

 

Memacari
seseorang dan mengangkat batu merupakan kegiatan yang menambahkan predikat atau
status pada suatu kata benda (objek penderita). Memacari seseorang berarti
orang itu berstatus pacar oleh sang subyek. Demikian pula mengangkat batu
berarti batu itu berstatus terangkat oleh sang subyek. Ini menyiratkan
interaksi terhadap sesuatu yang telah ada. Tanpa sesuatu yang telah ada atau
objek apapun, maka status tersebut tidak bermakna. Dalam ‘memacari’, tanpa
objek maka akan ada selalu pertanyaan, memacari siapa? Begitu pula dengan
‘mengangkat’, tanpa objek juga akan ada selalu pertanyaan, apakah yang
diangkat? Kalau tidak, kata kerja tersebut tidak memiliki makna.

 

Kemudian, apakah
kata ‘menciptakan’ dan kata ‘mencintai’ harus juga memiliki objek tersurat
maupun tersirat? Sekilas tampak demikian. Pertanyaan ‘apakah atau siapakah yang
diciptakan atau dicintai’ itu tetap mengumandang. Namun dalam hal kata
‘mencintai’ sepertinya sang kekasih tetap masih
(bila mau) bisa mencintai apapun situasi
atau status yang dialaminya bersama objek pasangannya, bilapun sampai 
kehilangan sang objek atau pasangannya tersebut.
Suami yang ditinggal mati istrinya kemungkinan besar masih sangat mencintai
istrinya walaupun bisa saja statusnya berubah menjadi mantan istri (yang pasti
berstatus almarhumah) terutama bila sang suami kawin lagi. Begitu pula dengan
seseorang yang secara tragis ditinggal mati karena kecelakaan oleh pacarnya,
maka ini lebih jelas lagi, orang tersebut hampir dipastikan setelah masa
berkabung lewat orang tersebut akan pacaran lagi dengan yang lain. Yang artinya
kalau hanya dilihat dari status, kekasih sebelumnya yang telah meninggal
tersebut telah berstatus mantan pacar. Tapi tak ada halangan untuk orang itu
tetap mencintai kekasih yang telah meninggal tersebut. 

 

Menciptakan?
Siapa yang bisa menciptakan? Dalam hal ini pengertian menciptakan adalah 
tercipta dari ketiadaan, dan ini dipercaya
bukanlah oleh manusia melainkan oleh Sang Pencipta yang biasa dilabelkan dengan
sebutan Tuhan. 

 

Ada
juga pengertian menciptakan yang bahannya berasal dari yang sudah ada, dalam
hal ini manusia melalui daya kreasinya. Manusia dengan demikian bisa saja
disebut sebagai pencipta juga. Tapi dalam pengertian ini, manusia sebagai
pencipta mutlak membutuhkan bahan
dasar untuk dapat menciptakan hal yang baru. Sedangkan dalam pengertian Sang
Pencipta, bahkan mutlak tidak boleh berasal dari bahan dasar atau keberadaan
apapun! Penciptaan harus berasal dari
ketiadaan!

 

Mari kita tarik
sedikit ke pengertian ‘mencintai’. Kita sudah mengetahui tak ada yang menutup
kemungkinan untuk tetap mencintai apapun situasi dan status yang dialami oleh
seseorang pasangan. Kemampuan mencintai bahkan sepertinya tidak membutuhkan
objek. Namun tetap diperhatikan, kebanyakan dari kita harus sangat mewaspadai
apakah benar cinta yang muncul ataukah hanya ego yang menjerit membutuhkan
candu kasih sayang dari orang lain? Ego yang sangat ingin mememenuhi
kebutuhannya seringkali segera menyamar dengan mengatasnamakan cinta sehingga 
harapan
akan cinta bisa dijadikan kail untuk memanipulasi orang lain memberikan candu
kasih-sayangnya. 

 

Manusia sangat
mencari cinta, juga sangat kecanduan kasih-sayang dari orang lain. Kedua hal
ini memiliki penyebab yang sangat-sangat berbeda. Penyebab mencari cinta karena
manusia dari fitrahnya mengetahui cinta itu adalah sesuatu yang sejatinya
kehidupan, sesuatu yang agung, suci dan tulus. Sesuatu yang sulit atau mungkin
tidak pernah dapat diungkapkan oleh definisi manapun. Sedangkan candu
kasih-sayang dari orang lain disebabkan oleh manusia yang tidak pernah puas
dengan rasa kasih-sayang terhadap dirinya sendiri. Olehnya manusia merasa
terancam kehilangan cinta atau kasih-sayang. Mereka harus mengamankan cinta
dari orang lain melalui antisipasi untuk masa depan atau kenangan masa lalu. 

 

Waktu Adalah Kata Benda

 

Balik lagi, jadi
jawaban yang lebih baik untuk pertanyaan paradoks bisa disederhanakan menjadi,
“Bahwa Penciptaan harus berasal dari ketiadaan, maka batu itu berasal dari
ketiadaan. Karena batu berasal dari ketiadaan, maka batu adalah hasil ciptaan
yang berasal dari kemauan Tuhan. Jika tidak, tidak mungkin batu tercipta dari
ketiadaan  karena berasal dari ketiadaan
adalah sifat kemampuan dan kemauan menciptaNya.
Maka ini bukanlah keterbatasan Tuhan bilamana Tuhan ternyata menginginkan ada 
batu yang tidak bisa
diangkatNya.”

 

Artinya kita
juga harus menyadari, Tuhan mengangkat batu memakai apa? TanganNya? TanganNya
yang mana? CiptaanNya yang manalagi?
TanganNyapun juga ciptaanNya bukan?
Itu hanyalah masalah desain untuk interaksi antar ciptaan. 

 

Justru mungkin
masalah ‘mencintai’ itulah masalah paradoks sebenarnya yang lebih ruwet untuk
menemukan, merasakan cinta yang benar-benar sejati. Dengan mempertimbangkan
kenyataan, begitu banyak fenomena mencintai yang seringkali disertai dengan 
pengalaman sakit hati yang berat.
Sehingga sampai ada pujangga yang mengatakan butuh keberanian dan kepasrahan 
untuk
memeluk duri-duri mawar cinta. Dan sampai-sampai begitu lumrahnya cinta yang
berubah menjadi rasa benci hanya dalam waktu relatif singkat saja. Benarkah
bila cinta sanggup berubah menjadi rasa benci kita masih bisa mengatakan itulah
cinta sejati? Bukankah cinta yang sejati tidak sanggup berubah menjadi rasa 
benci?
Ada juga yang mengatakan, cinta
adalah segala pernak-pernik kehidupan itu sendiri, artinya cinta juga termasuk
rasa benci di dalamnya. Tapi masalahnya harapan dan apa yang sesungguhnya
sedang dirasakan ketika seorang manusia sedang jatuh cinta, sama-sekali selalu 
lupa untuk mengantisipasi
kemungkinan terasakan juga rasa benci di masa mendatang, karena memang yang 
dirasakan oleh pencinta adalah
ketiadaan ruang untuk rasa benci.

 

Namun bisa jadi
itu hanyalah penyamaran ego yang begitu berhasil. Sudah terlalu banyak bukti
yang menunjukkan ujung-ujungnya selalu timbul rasa pahit, ironi dan kalau sudah
stabil atau matang (atau dewasa) adalah sebentuk kompromi dan sering disebut
sebagai kematangan pengalaman hidup. Walaupun demikian rasa penasaran yang
sangat itu tetaplah ada. Dimanakah cinta sejati? Sampai-sampai kalangan
industri begitu tertariknya dengan urusan cinta dikarenakan dramanya yang
sangat mudah menarik milyaran orang yang masih mencari-cari cinta sejati. Film,
lagu, konser, drama, sinetron, pokoknya apapun yang memproduksi rasa penasaran
cinta laku keras dan menuai milyaran dolar di seluruh penjuru dunia.
Ironisnya…begitu pula produk kekerasan, sama lakunya dengan produk rasa cinta…

 

Samar-samar
mungkin kita merasakan bahwa cinta itu suci dan murni. Namun kita selalu
mengejarnya sebagai antisipasi di masa depan dan kita telah memiguranya sebagai
kenangan dari masa lalu. Sehingga sesungguhnya yang kita kejar-kejar sebagai
harapan cinta dan yang kita kira sebagai kenangan cinta bukanlah cinta melainkan
waktu sebagai kata benda. 

 

Saat kita sedang
berada dalam hubungan cinta, apa yang sesungguhnya yang paling kita pentingkan? 
Apa yang paling kita pentingkan
tergambarkan dengan sangat baik pada saat kita mengucapkan janji pernikahan,
yaitu janji untuk setia. Sengaja saya
garis miringkan untuk kata ‘janji’, karena pada kata tersebutlah asal-mula
segala harapan dan potensi sakit hati bila harapan itu tidak terpenuhi. Bukan
berarti saya tidak mementingkan kesetiaan dalam hubungan, tapi yang ingin saya
bahas adalah antisipasi/harapan akan masa
depan yang disiratkan dari kata ‘janji’ tersebut. Jadi apa yang paling kita
pastikan/kita kejar sebenarnya? Yaitu memastikan kita mendapatkan selang waktu
dari saat ini sampai mati dalam hal keterjaminan hubungan perkawinan bukan?
Kepastian mendapatkan jaminan pada selang waktu inilah yang paling penting.
Dalam hal ini kita telah menganggap waktu sebagai kata benda yang bisa kita 
miliki/jaminkan/pastikan melalu ‘janji’.

 

Itu untuk
antisipasi di masa depannya. Untuk masa lalu akan pengalaman cintapun secara
psikologis kita pungut sebagai kenangan cinta yang sayangnya sering kita
gunakan sebagai sumber rasa sakit hati kita (atau bentuk lunaknya adalah rindu).
Sungguh, memungut kenangan cinta seperti memungut potongan waktu masa lalu yang
kita jadikan pisau yang mengarah ke hati kita untuk mengancam diri kita sendiri
ataupun pasangan kita bilamana kebutuhan cinta kita gagal terpenuhi. Mungkin
analoginya terdengar cukup mengerikan. Mengancam menggunakan pisau kenangan
cinta masa lalu untuk menyakiti hati diri sendiri dan mungkin sekaligus hati
pasangannya untuk menjamin agar selang waktu dari saat sekarang sampai mati
tetap bisa dijamin cinta pasangannya
hanya untuk dirinya seorang. Tak ada orang yang sadar mau melakukan hal seperti
itu. Dan benar memang ini dilakukan secara tidak sadar. Tanpa sadar kita
ternyata lebih mementingkan keterjaminan waktu di muka (seperti mempertahankan
keterjaminan obat candu semua di muka) dan bertransaksi dengan penuh
ancam-mengancam yang akhirnya memunculkan kompromi. 

 

Tidak terasa
seperti itu? Memang bahasanya sudah diubah sedemikian rupa oleh ego menjadi
demi cinta, demi kasih, demi anak, pengorbanan, kepasrahan, tapi tetap saja 
hati terasa sesak, panas,
kemarahan dan kebencian memang ada di situ. Kita lebih sering marah karena
kehilangan keterjaminan waktu-cinta ketika pasangan kita mulai mengancam
menarik komitmennya, dan rasa marah yang terasa sakit itu datang dari kenangan
masa lalu yang bertubi-tubi dan antisipasi untuk masa depan yang penuh frustasi.
Lalu pada akhirnya kitapun menemukan jalan keluar dengan mencari keterjaminan
yang lebih baik. Tetapi tetap bukan dirasakan sebagai cinta sejati. 

 

Kesimpulan

 

Sang Pencipta
menciptakan dari ketiadaan, sedangkan kita manusia malah memungut waktu benda
dan mengiranya sebagai cinta tulus tanpa syarat. Seharusnya kita bisa melihat
mengapa Sang Pencipta terasa agung dan suci dan sejajar dengan cinta yang 
sejatinya
terasa agung dan suci? Karena yang terasa agung dan suci adalah yang terasa 
hidup. Kehidupan pada dasarnya
adalah kehadiran yang mengakibatkan
eksistensi, bukan eksistensi itu sendiri. Eksistensi atau kebendaan
hanyalah hasil dari kehadiran, sama seperti gedung bertingkat hasil dari daya
kreasi yang harus mensyaratkan kehadiran kita sebagai manusia. Kehadiran terus
menciptakan bentuk melalui daya kreasinya. Kehadiran sebagai Tuhan menciptakan
bentuk dari ketiadaan, kehadiran kita sebagai manusia menciptakan bentuk
sebagai daya kreatif. Hidup itu sendiri bukanlah bentuk, namun keagungan dari 
kehadiran
kita sendiri. Jadi bisa dipahami bila cinta selalu terasa agung dan suci
berarti satu-satunya kemungkinan adalah cinta bukanlah ciptaan atau bentukan. 

 

Beranikah kita
mengobati sakit hati kita tanpa memungut lagi candu-candu 
keterjaminan-waktu-benda
tersebut? Pasrahkah kita menerima sakit hati tersebut? Sehingga kita sampai
berhenti menggali-gali masa lalu dan masa depan dan akhirnya membiarkan diri
terdampar pasrah di saat ini bersama sakit hati tersebut? Jika kita sanggup
bertahan, maka kita akan mulai hadir di saat ini karena kehadiran membutuhkan
saat ini, bukan masa lalu ataupun masa depan. Dan analogi terakhir…, kehadiran
adalah cinta.

 

Sakit hatinya? Dengan
kehadiran kita pada akhirnya, maka kita akan menyadari satu hal. Kehadiran itu
sendiri berasal dari ketiadaan. Dengan begitu cinta berasal dari ketiadaan
bukan berasal dari sesuatu yang telah ada. So, mau diutak-atik apapun sakit
hati kita, tak akan muncul cinta dari sesuatu yang sudah ada itu (sakit hati).
Cinta harus muncul dari ketiadaan bersama kehadiran. Sakit hati akan tetap
tersisa momentumnya, tapi yang jelas kita tidak memberi makan energi kepadanya
lagi karena kita sudah tidak mencari cinta lagi di situ.

 

Salam,

Adhi Purwono.

 

  

 

 

 

 




      

Kirim email ke