Bencana dan kemunafikan di antara kita

Oleh
Tom S Saptaatmaja


ENTAH kenapa, tiba-tiba negeri kita menjadi negeri yang terus-menerus dilanda 
bencana. Litani gempa, tsunami, dan banjir bandang kian panjang deretnya, entah 
sampai kapan akan berakhir. 

Menurut Charles E Fritz, bencana alam memang menimbulkan banyak kesan mental. 
Tidak heran jika setiap orang bisa punya beragam respons, reaksi, atau 
pandangan terhadap bencana ini. Tapi jika diadakan survei, khususnya dari para 
korban bencana maupun "para pemerhati bencana" rata-rata ada beberapa respons, 
reaksi, atau pandangan yang nyaris sama, yakni mengaitkan bencana alam dengan 
Tuhan.

Pertama-tama Tuhan ditempatkan sebagai penyebab dari semua bencana itu. Bencana 
adalah cobaan, hukuman atau azab dari Tuhan atas berbagai kesalahan manusia. 
Kita tentu sering mendengar ucapan dari tokoh masyarakat atau bahkan korban 
bencana sekalipun yang mengatakan:"Itu (Bencana) sudah kehendak Allah! Kita 
manusia tinggal menjalani". 

Jadi ada sikap pasrah, meskipun agak fatalistis. Dalam kisah air bah Nabi Nuh, 
Tuhan memang dikesankan sebagai penyebab dari air bah itu. Rata-rata mayoritas 
warga kita memang punya pandangan seperti ini.
Kedua, melihat dahsyatnya bencana, orang kadang justru bertanya-tanya "Mengapa 
Tuhan Maha Kuasa dan Maha Pengasih dan Penyayang harus mendatangkan gempa dan 
tsunami yang menimbulkan banyak korban jiwa dan kerusakan yang tiada terkira? 

Tuhan sebenarnya mau apa? Jangan-jangan Tuhan sebenarnya tidak sepenyayang dan 
sepengasih seperti yang selama ini kita yakini?" 

Terkait ini, pertanyaan-pertanyaan yang lebih menusuk pernah dilontarkan oleh 
Epikuros, pemikir Yunani kuno (342-270 SM). Adapun pertanyaan Epikuros 
adalah,"Apakah Allah ingin mencegah penderitaan (akibat bencana) tapi Ia tak 
mampu? Kalau demikian, Ia tak berdaya dan tak layak disebut sebagai Yang 
Mahakuasa. Atau Allah mampu mencegah penderitaan tapi tidak melakukannya? Kalau 
demikian, Dia Mahajahat dan bukan Mahabaik. Atau juga Allah tidak mampu dan 
tidak mau mencegah penderitaan? Jika begitu, apa gunanya disebut Allah?" 
(Bandingkan dengan Kenneth Surin, The Turning of Darkness and Light: Essay in 
Philosophical and Systematic Theology, 1989, halaman 73). 

Menolak SBY-JK 

Akibat dari pertanyaan-pertanyaan yang tak terjawab seperti itu, biasanya orang 
lalu memilih tidak percaya pada Tuhan dan memilih menjadi atheis. Atau di 
ekstrem lain, orang lebih percaya pada tahyul dan klenik. 
Tahyul terbesar saat ini adalah bahwa alam Indonesia menolak kepemimpinan 
SBY-JK. Bagi orang-orang yang percaya klenik itu, SBY-JK merupakan kepanjangan 
dari Semakin Banyak Yang Jadi Korban. Entah benar entah salah, yang jelas 
menurut berbagai survei, legitimasi, dan popularitas SBY-JK kian merosot akibat 
banyaknya bencana yang terjadi selama masa kepemimpinan mereka. 

Kepercayaan rakyat juga kian susut, seiring dengan habisnya dana pemerintah 
yang diperuntukkan bagi penanggulangan bencana. Anehnya dana yang rawan untuk 
dikorupsi selalu tersedia. 

Cuma yang mungkin lebih mengejutkan dari klenik alam menolak SBY-JK, belakangan 
ini juga muncul pandangan bahwa bencana Aceh, Yogya, atau Pangandaran adalah 
refleksi dari kemurkaan Tuhan atas dosa para warga di ketiga kawasan tersebut. 

Terkait ini, yang agak menggelikan dan menjadi bahan diskusi di berbagai milis 
(yang paling ramai adalah milis Mediacare yang punya anggota 7.000 lebih) 
justru bencana di Pangandaran memang diyakini sebagai azab Tuhan untuk 
membersihkan kawasan itu dari para Pekerja Seks Komersial (PSK). 

Memang para PSK merupakan objek yang paling gampang dijadikan kambing hitam di 
sepanjang sejarah umat manusia. Untuk kerusakan moral di negeri ini misalnya, 
para PSK adalah biang kerok yang disasar berbagai ormas, bahkan Perda di 
berbagai daerah sudah membatasi sepak terjang mereka, seperti Perda Nomor 
8/2005 tentang Pelarangan Pelacuran di Tangerang. Di televisi-televisi dan 
berbagai media lainnya, kita juga sering melihat para PSK jalanan di tangkap 
oleh para polisi satpol PP dan diperlakukan seolah seperti hewan saja. 

Boleh jadi, para PSK memang bersalah atas apa yang dikerjakan. Namun menjadikan 
PSK sebagai kambing hitam untuk semua permasalahan, termasuk bencana merupakan 
ekspresi dari pendekatan hitam putih atas praktik prostitusi. 

Kemunafikan 

Tentang pendekatan hitam-putih ini, kita bisa membaca kata-kata Trisnadi, 
fotografer Surabaya dalam bukunya Dolly, Hitam Putih Prostitusi: "Ada kalanya 
kita tidak bisa menentukan pilihan tentang nasib dan kehidupan. Pada saat 
itulah, kita akan bisa memahami bahwa prostitusi tidak bisa dipandang secara 
hitam putih". 

Dorothea Rosa Herliany juga menambahkan: "Masuklah lebih dalam ke lubuk hati 
orang-orang yang kalah dan dikalahkan. Masuklah tanpa hasrat menudingkan 
telunjukmu tepat ke matanya yang menggenangkan luka".(Dolly, Hitam Putih 
Prostitusi, Sketsa Foto dan Puisi oleh Trisnadi dan Dorothea Rosa Herliany, 
Gagas Media, Jakarta, 2004).

Selain hitam-putih, pandangan yang menyalahkan PSK sebagai biang bencana jelas 
terkesan sangat simplistis dan terlalu arogan serta menghakimi orang lain. 
Orang yang punya pandangan ini seolah berdiri di samping Tuhan dan menganggap 
diri mereka lebih baik daripada PSK. 

Sikap arogan inilah yang perlu dikoreksi, karena harap dicamkan bahwa 
prostitusi atau pelacuran yang dilakukan para PSK itu belum seberapa jika 
dibandingkan dengan berbagai pelacuran politik dan korupsi yang dilakukan oleh 
para politisi dan birokrat kita.

Menurut Transperancy International pada tahun 2005, peringkat korupsi Indonesia 
menempati peringkat 137 (25 besar) dari 159 negara di dunia. Apakah para PSK di 
Pangandaran punya andil dalam korupsi ini? Siapa sesungguhnya yang menyebabkan 
kerusakan moral di negri ini? Jadi sebenarnya ada hipokrisi atau kemunafikan di 
balik sikap menyalahkan PSK ini.

Maka mari kita berhenti mengambinghitamkan PSK untuk bencana ini. Penulis 
ingat, ketika para ahli agama Yahudi menyodorkan wanita yang tertangkap basah 
melakukan prostitusi, Yesus hanya mengatakan: "Barangsiapa yang merasa tidak 
berdosa, lemparkanlah batu pertama pada wanita ini". 

Jadi daripada menyalahkan PSK sebagai penyebab bencana, lebih baik kita belajar 
dari Bangsa Mesir kuno atau Jepang modern bagaimana mereka memiliki respons 
tepat terhadap bencana, yakni dengan kerja ilmiah sehingga setiap bencana yang 
bakal datang bisa diantisipasi atau minimal jumlah korban bisa ditekan serendah 
mungkin. 

Orang Mesir kuno melahirkan ilmu ukur ketika merespons luapan Sungai Nil 
sehingga dilakukan. Pemetaan kawasan yang rawan bencana Bangsa Jepang membuat 
rumah yang anti gempa, ketika gempa bumi selalu mengancam mereka hampir setiap 
hari. (*)

Penulis adalah Teolog, tinggal di Surabaya


http://www.sinarharapan.co.id/berita/0607/25/sh04.html

Kirim email ke