Pembunuhan Sesuai Sunnah Nabi Muhammad
 

Ketika Muhammad hijrah dan tinggal di Medina (Yathrib) perlahan-lahan dia 
memperkuat kekuasaannya dengan terlebih dahulu mencari dukungan dari 
orang-orang Yahudi dan Nasrani yang sudah terlebih dahulu menetap di Medina. 
Sampai-sampai Muhammad juga memindahkan arah kiblat ke Yerusalem untuk 
mendapatkan dukungan penduduk setempat. Tetapi dalam proses perjalanan dan 
sepak terjang Muhammad, perbutaan dan klaim kenabiannya tidak sepenuhnya 
diterima dengan oleh penduduk Medina dan sekitarnya. Cara-cara yang digunakan 
oleh Muhammad dan para sahabat terhadap orang-orang yang bernani melawan, 
walaupun sebatas vocal, tidak bebeda jauh seperti yang digunakan oleh para 
Mafia, yaitu pembunuhan, penyiksaan, dan intimidasi. 

Salah satu korbannya adalah Ka`b bin al-Ashraf seperti yang diceritakan dalam 
Hadist Sahih Bukhari Volume 5 # 369. Pembunuh yang diperintahkan oleh Muhammad 
untuk membunuh Ka`b bin al-Ashraf adalah Muhammad bin Maslama. 

Sahih Bukhari Volume 5 # 369 

Narrated Jabir Abdullah: 
Rasulullah bersabda, “Siapa yang bersedia membunuh Ka`b bin al-Ashraf yang 
telah menyakiti Allah dan Rasulnya?” Dari situ Maslama berdiri dan berkata, 
“Oh, Rasulullah! Apakah kamu suka kalo saya membunuhnya?” Nabi bersabda, “Ya”. 
Maslama berkata, “Kalo begitu biarkan saya memfitnah (dengan kata lain menipu 
Ka`b). Nabi bersaba, “Anda boleh mengatakan demikian.” 

Maslama pergi ke Ka`b dan berkata, “Orang itu (i.e Muhammad) meminta Sadakah 
(i.e Zakat, pajak) dari kita, dan dia menyebabkan masalah pada kita, dan saya 
dating untuk meminjam sesuatu dari mu.” Untuk itu, Ka`b berkata, “Oleh Allah, 
kamu akan cape (bosan) menghadapi dia (Muhammad)!” Maslama berkata, “Sekarang 
sejak kami sudah mengikutinya, kami tidak mau meninggalkan dia dan sampai kami 
melihat bagaimana dia akhirnya. Sekarang kami mau kamu meminjamkan kepada kami 
satu atau dua truk onta penuh dengan makanan.” Ka`b berkata, “Ya, tapi kamu 
mesti memberikan jamiman pada saya.” Maslama dan temannya berkata, “Apa yang 
kamu mau?” Ka`b menjawab, “Jaminkan perempuan anda pada saya”. Mereka berkata, 
“Bagaimana mungkin kami menjaminkan perempuan kami pada anda dan anda adalah 
yang terganteng daripada semua orang Arab?” Ka`b berkata, “Kalau begitu 
jaminkan anak anda kepada saya.” Mereka berkata, “Bagaimana mungkin kami 
menjaminkan
 anak-anak kami kepada mu? Di waktu yang akan datang, mereka akan dihina oleh 
orang-orang bahwa si anu telah dijaminkan untuk satu truk onta penuh makanan. 
Hal itu akan membuat kami malu, tapi kami akan menjaminkan senjata kami 
kepadamu.” 

Maslama dan temannya menjanjikan pada Ka`b bahwa Maslama akan kembali padanya. 
Dia datang ke Ka`b pada malam harinya bersama dengan saudara lelaki angkat 
Ka`b, Abu Na`ila. Ka`b mengundang mereak untuk masuk kedalam rumahnya dan pergi 
bersama dengan mereka. Isterinya menanyakan padanya, “Kemana engkau akan pergi 
di waktu malam demikian?” Ka`b menjawab, “Tidak lain tetepai Maslama dan 
saudara angakat saya abu Na`ila yang datang.” Isterinya berkata, “Saya 
mendengar suara seakan-akan darah bercucuran darinya.” Ka`b berkata, “Mereka 
tidak lain tetapi saudara saya Maslama dan saudara angkat saya Abu Na`la. 
Seorang yang murah hati selayaknya memenuhi undangan untuk melewatakan malam 
hari walaupun jika diundang untuk dibunuh.” 

Maslama pergi dengan kedua lelaki tersebut. Jadi Maslama masuk bersama dengan 
dua orang, dan berkata kepada mereka, “Ketika Ka`b datang, saya akan menyentuh 
rambutnya dan menciumnya, dan ketika kamu melihat bahwa saya telah memegang 
kepalanya, pukulah dia. Saya akan membiarkan anda mencium kepalanya.” 

Ka`b bin al-Ashraf turun dan menghampiri mereka dalam pakaiannya, dan 
menyebarkan bau parfum. Maslama berkata, “Saya belum pernah mencium wangi yang 
lebih baik dari pada ini.” Ka`b menjawab, “Saya mempunyai wanita Arab terbaik 
yang mengetahui cara penggunaan parfum kelas tinggi.” Maslaam meminta Ka`b, 
“Bolehkan saya mencium kepala anda?” Ka`b berkata, “Boleh.” Maslama menciumnya 
dan membuat temanya menciumnya juga. Kemudian dia meminta Ka`b lagi, “Apakah 
saya boleh (mencium kepala anda)?” Ka`b berkata, “Boleh.” Ketika Maslama 
berhasil memegangnya erat, dai berkata (kepada teman-temannya), “Tankap dia!” 
Kemudian mereka membunuhnya dan pergi kepada nabi untuk memberitahukan 
kepadanya. 

Dari Ibn Sa'd, vol 1, halaman 37: 
Mereka (Maslama dan teman-temannya) memotong kepalanya (Ka`b) dan membawanya …. 
mereka menyuguhkan kepala Ka`b dihadapan Muhammad. Dia (nabi) memuji Allah atas 
kematiannya (Ka`b). 

Pertanyaan: 


Muhmmad ingin membunuh Ka`b karena menurut Muhammad dia telah menyakiti “Allah 
dan Rasulullah”. Bagaimana mungkin seorang Ka`b menyakiti Allah? Apakah 
Muhammad bisa seenaknya membunuh orang-orang yang tidak sepaham dengannya? 


Muhammad memerintahkan orang lain untuk melakukan pekerjaan kotor ini. Muhammad 
mau dirinya bersih dari pembunuhan orang yang telah menyakiti Allah dan 
dirinya. Bukankah ini suatu tindakan yang pengecut? 


Muhammad merestui Maslama untuk berbohong, memfitnah, dan menipu Ka’b agar dia 
bisa keluar rumah dan dibunuh. Apakah perbutaan pengecut dengan menghalalkan 
segara cara beginikah yang diajarkan oleh Muhammad? Bukankah hal ini sama 
dengan tingkah laku para Mafia? 

Muhammad rupanya tidak pilih bulu dalam hal memerintahkan pembunuhan terhadap 
orang-orang yang menentang dia. Satu persatu dibungkam dengan pembunuhan keji 
dan pengecut. Tidak peduli apakah itu pria muda, kakek tua renta, atau 
perempuan yang masih menyusui. Perintah pembunuhan lainnya yang dikeluarkan 
Muhammad saat di Madinah adalah terhadap seorang tua berumur 120 tahun bernama 
Abu Afak. 

Dari Sirat Rasul Allah (Kehidupan Rasul Allah) Oleh Ibn Ishaq, hal 675: 

EXPEDISI SALIM B. UMAYR'S EXPEDITION UNTUK MEMBUNUH ABU AFAK 

Abu Afak adalah salah satu dari B. Amr b, Auf dari klan B. Ubayda. Dia 
menunjukkan ketidakpuasannya keitka Rasulullah membunuh al-Harith b. Suwayd b. 
Samit dan berkata: 

“Lama sudah saya hidup tapi tidak pernah saya melihat 
Suatu kumpulan orang-orang 
Yang lebih setia terhadap tanggung jawab mereka 
Dan sekutu mereka ketika diperintahkan 
Daripada anak-akan Qayla ketika mereka berkumpul, 
Orang yang menaklukkan gunung dan tidak pernah menyerah, 
Seorang penunggang yang datang kepada mereka memisahkan mereka menjadi dua 
(mengatakan) 
“Diperbolehkan”, “Dilarang”, dari semua macam hal. 
Jika seandainya anda percaya dalam kemuliaan atau martabat 
Anda pasti akan mengikuti Tubba. 

[Catatan: Tubba adalah pemimpin dari Yemen yang menyerbu yang merupakan bagian 
dari Saudi Arabia sekarang ini. Qaylite menentang mereka] 

Rasulullah bersabda, “Siapa yang akan berurusan dengan bajingan ini untuk 
saya?” Kemudian Salim b. Umayr saudara laki-laki B. Amr b. Auf, salah satu dari 
“yang berduka”, pergi dan membunuhnya. Umama b. Muzayriya berkata mengenai hal 
itu: 

Kamu memberikan kepada agama Allah dan orang yang bernama Ahmad! (Muhamad) 
Melalui dia yang adalah ayahmu, kejahatan adalah anak yang dia hasilkan! 
“Hanif” memberikanmu dorongan di waktu malam dengan perkataan 
“Ambilah Abu Afak itu terlepas dari umurnya!” 
Walaupun saya tahu apakah itu perbuatan orang atau jin 
Yang membunuhmua di kegelapan malam (Saya tidak akan memberi tahu). 


Dari Kitab Al Tabaqat Al Kabir Volume 2, Oleh Ibn Sa`d, halam 32: 
Kemudian terjadi serangan (“sariyyah”) oleh Salim Ibn Umayr al-Amri terhadap 
Abu Adak, orang Yahudi pada (bulan) Shawwal dipermulaan dari bulan ke duapuluh 
dari hijrah Rasulullah. Abu Afak adalah dari Bani Amr Ibn Awf dan seorang yang 
sudah tua yang telah mencapai umur 120 tahun. Dia seorang Yahudi, dan dulunya 
pernah menghasut orang-orang untuk menentang Rasulullah, dan menyusun bait-bait 
puisi yang bersifat menyindir (Muhammad). 

Salim Ibn Umayr yang adalah salah seorang yang paling berduka yang 
berpartisipasi dalam perang Badr berkata, “Saya bersumpah bahwa saya harus 
membunuh abu Afak atau mati dihadapannya.” Dia menunggu kesempatannya sampai 
suata malam yang panas datang, dan Abu Afak tidur di ruang terbuka. Salim Ibn 
Umayr mengetahui hal ini, sehingga dia menusukkan pedangnya pada hati Abu Afak 
dan menekannya sampai tembus ke kasurnya. Musuh Allah berteriak dan orang-orang 
yang menjadi pengikutnya segera datang kepadanya, membawa dia ke rumahnya dan 
menguburkannya. 


Abu Afak yang sudah tua renta yang sudah tinggal di Medina sebelum Muhammad 
hijrah dari Mekkah mendorong orang-orang yang tinggal di Medina untuk meragukan 
dan meniggalkan Muhammad. Afak merasa bahwa ajaran dan perkataan Muhammad 
sangat aneh dan diktatorial. Dia mempertanyakan orang-orang Arab yang percaya 
dengan Muhammad. Dia suka membuat puisi-puisi yang bersifat satire untuk 
menynidir Muhammad. Kelihatannya Muhammad tidak senang (baca: kebakaran 
jenggot) sehingga memerintahkan pengikutnya untuk menghabisi “bajingan” 
(“rascal”) yang sudah tua renta ini. Abu Afak sama sekali tidak mengacam atau 
menyakiti Muhammad secara fisik. Hanya dengan kata-kata yang tidak pas di 
telinga Muhammad, maka melayanglah nyawanya. 

Apakah pembunuhan yang dilakukan oleh Salim atas perintah Muhammad bisa 
dibernarkan? 

Apakah hanya karena sindrian dari puisi dan kata-kata Abu Afak yang tidak 
berkenan dihati Muhammad, nyawanya bisa diambil oleh Muhammad begitu saja? 
Apakah ini standard moral Muhammad sebagai seorang utusan Allah? 

Tidakakah Anda melihat bahwa pembunuhan terhadap Abu Afak seorang tua renta 
oleh Salim seorang pejuang Muslim dengan cara mencuri-curi pada saat Abu Afak 
tertidur lelap sebagai perbutaan yang sangat pegecut? 


Apakah ada yang berani mempertanyakan kediktatoran Muhmmad dan para sahabat? 
Adakah yang berani vokal pada jaman Orba? Adakah rakyat Irak yang berani 
menentang Saddam Hussein sebelum jatuh? Apakah yang akan terjadi pada mereka 
yang berani menentang para diktator? Jawabnya, jelas akan dibunuh dengan keji. 
Begitulah yang terjadi sesudah pembunuhan Abu Afak yang tua renta yang sudah 
tidak bergigi itu. Asma bint Marwan menyuarakan ketidakpuasan atas kekejaman 
dan ketidakadilan Muhammad dalam memerintahkan pembunuhan Abu Afak. Karena 
berani mempertanyakan perbuatan keji Muhammad, nyawa Asma bint Marwan pun 
melayang sia-sia tanpa bekas. Kambing pun tidak akan peduli, begitulah 
kira-kira pernyataan Muhammad setelah Asma dibunuh. 

Dari Sirat Rasul Allah (Terjemahan A. Guilaume, “The Life of Muhammad”) halaman 
675 – 676: 

PERJALANAN UMAYR B. ADIYY UNTUK MEMBUNUH ASMA B. MARWAN. 

Dia (Asma) berasal dari B. Umayya b. Zayd. Ketika Abu Afak telah dibunuh, dia 
memperlihatakan ketidakpuasannya. Abdullah b. al-Harith b. Al-Fudayl dari 
ayahnya berkata bahwa dia kawin dengan seorang pria dari B. Khatma yang bernama 
Yazid b. Zayd. Menyalahkan Islam dan para pengikutnya dia (Asma) berkata: 

“Saya memandang rendah B. Malik dan al-Nabit dan Auf dan B. al-Khazraj. Kalian 
mematuhi seorang asing yang bukan dari antara kamu. Yang bukan “Murad” atau 
“Madhhij” (dua suku berasal dari Yaman). Apakah kalian mengharapkan kebaikan 
dari dia setelah pembunuhan atas pemimpin kalian, seperti orang lapar yang 
menunggu kaldu dari tukang masak? Apakah tidak ada orang yang dapat dibanggakan 
yang akan menyerangnya dengan tiba-tiba dan memutuskan harapan mereka yang 
mengharapkan segala hal dari dia?” 

Hassan b. Thabit menjawabnya: 

“Bani Wa`il dan B. Waqif dan Khatma lebih rendah tingkatnya dari B. 
al-Khazrahj. Ketika dia (Asma) memanggil kesengsaraan yang bodoh dalam dukanya. 
Karena kematian sudah tiba. Dia membangkitan amarah seorang lelaki dari asal 
yang mulia. Mulia dalam kepergian dan kedatangannya. Sebelum tengah malam dia 
mencelupkanya dalam darahnya. Dan tidak menyebabkan rasa bersalah karenanya.” 

Ketika Rusulullah mendengar apa yang telah diucapkan oleh nya (Asma) dia 
bersabda, “Siapa yang akan melenyapkan dari saya anak perempuan Marwan?” Umayr 
b. Adiy al-Khatmi yang bersamanya mendengarnya, dan malam itu juga dia pergi ke 
rumahnya (Asma) dan membunuhnya. Pada pagi harinya dia mendatangi Rasulullah 
dan memberitahukan padanya apa yang telah dia lakukan dan dia (Muhammad) 
bersabda, “Kamu telah membantu Allah dan Rasulnya, Oh Umayr!” Ketika dia 
bertanya apakah dia harus menanggung konsekwensi jahat atas perbuatannya, 
Rasulullah bersabda, “Dua ekor kambingpun tidak akan beradu kepala mengenainya 
(Asma)”, jadi Umayr kembali ke orang-orangnya. 

Kemudian terjadi kebingungan diantara B. Khatma pada hari itu mengenai masalah 
bint Marwan. Dia mempunyai lima anak laki-laki, dan ketika Umayr datang kepada 
mereka setelah dari Muhammad dia berkata, “Saya telah membunuh bint Marwan, Oh 
orang-orang Khatma. Hadapilah saya jika kamu bisa; jangan biarkan saya 
menunggu.” Itulah hari permulaan Islam menjadi sangat kuat diantara B. Khatma; 
sebelum itu mereka yang Muslim menyembunyikan kenyataan. Yang pertama kali 
menerima Islam adalah Umayr b. Adiy yang dijuluki “Pembaca”, dan Abdullah b. 
Aus dan Khuzayma b. Thabit. Hari sesudah bint Marwan dibunuh, orang-orang B. 
Khatma menjadi Muslim karena mereka melihat kekuatan Islam. 


Dari Ibn Sa`d, Kitab al-Tabaqat al-Kabir, terjemahan S. Moinul Haq, Vol. 2, 
hal. 31 

SERANGAN (SARIYYAH) UMAYR IBN ADI 

Kemudian terjadilah serangan (sariyyah) Umayr ibn Adi Ibn Kharashah al-Khatmi 
terhadap Asma Bint Marwan dari Bani Umayyah Ibn Zayd, ketika lima malam sebelum 
bulan suci Ramadhan, dipermulaan bulan keduapuluh sejak hijrah Rasulullah. Asma 
adalah isteri Yazid Ibn Zayd Ibn Hisn al-Khatmi. Dia sebelumnya pernah mencerca 
Islam, menyakiti hati nabi (Muhammad) dan mempengaruhi orang-orang menentang 
dia. Dia membuat bait-bait puisi. Umayr Ibn Adi mendatanginya pada malam hari 
dan masuk ke rumahnya. Anak-anaknya sedang tidur di sekitarnya. Ada satu yang 
sedang dia susui. Dia (Umayr) mencarinya dengan tanganya karena dia buta, dan 
memisahkan anak itu darinya. Dia menghujamkan pedangnya di dadanya hingga 
tembus ke punggungnya. Kemudian dia melakukan sholat pagi bersama dengan nabi 
(Muhammad) di al-Madina. Rasulullah bersabda padanya: “Apakah kamu sudah 
membantai anak perempuan Marwan?” Dia berkata: “Sudah. Apakah adalah hal lain 
yang perlu saya lakukan?”
 Dia (Muhammad) bersabda: “Tidak ada. Dua kambing tidak akan mengadu kepala 
mengenai dia (Asma).” Inilah adalah kata-kata yang pertama kali didengar dari 
Rasulullah. Rasulullah memberi julukan kepadanya Umayr, “basir” (yang melihat). 


Lagi-lagi suatu pembunuhan keji dan pengecut yang dilakukan oleh pengikut setia 
Muhammad. Pembunuhan terhadap Abu Afak dan Asma bint Marwan dilakukan dengan 
sangat pengecut secara diam-diam pada malam hari saat korban sedang tidur 
lelap. Pembunuhan Asma seorang wanita yang sedang menyusui anaknya yang masih 
balita adalah sangat kejam. Hanya karena puisinya dan pembelaannya atas 
kematian Abu Afak yang tua renta, Asma dihabisi oleh Muhammad secara kejam dan 
keji. Begitu teganya Muhammad menghabisi nyawa seorang perempuan tak berdaya 
yang mempunyai lima anak dan satu diantaranya masih menyusui. Bisa dibayangkan 
penderitaan keluarga Asma. 
Yang lebih parah lagi, Muhammad mengatakan bahwa kambingpun tidak akan beradu 
kepala mengenai hal ini. Yang artinya tidak akan ada yang peduli. Memang 
Muhammad dan pengiktunya tidaklah akan peduli, tapi lima anak Asma yang masih 
kecil dan keluraganya tentunya sangat peduli. 

Pertanyaannya: 

Inikah moral yang dicontohkan dan disunnahkan oleh Muhammad dan yang anda 
junjung tinggi? 

Begitukah caranya Islam merekut umatnya dengan mendatangkan terror? Bukankah 
setelah pembunuhan Asma orang-orang B. Khatma masuk Islam karena takut dan 
melihat Islam yang begitu kejam? Lebih aman masuk Islam daripada dibunuh? 

Apa bedanya cara-cara pembungkaman dan pembantaian ini dengan cara para Mafia 
atau rezim-rezim diktator? 

Mengapa Muhammad begitu pengecut sehingga harus selalu menggunakan tangan orang 
lain untuk membunuh orang-orang yang tidak sepaham dengan dia, dan kemudian 
mengatakan bahwa kambingpun tidak peduli alias tidak ada yang peduli atau tidak 
berdosa sama sekali? 

Inikah tawaran istimewa dari Islam bahwa membunuh ibu lima anak yang sedang 
menyusui yang sekedar membuat puisi satire adalah hal yang tidak berdosa karena 
perintah Muhammad dan Allah, sehingga orang-orang berbondong-bondong masuk 
Islam? 






Dasar kepercayaan iman muslim dibangun diatas dusta,kebohongan dan teror 
pembunuhan yang biadab dimana saat zaman dan waktu sudah berubah kebenaran yang 
ada diungkapkan dan tidak bisa dihalangi ataupun dibendung serta kejahatan 
pembunuhan sudah dapat diantisipasi dan diminimalkan maka saat itu juga ambang 
kehancuran islam akan terjadi dan pada saatnya islam akan lenyap dan ini pasti 
terwujud. 
Feifei_fairy
http://profiles.friendster.com/fairyfeifei 


      ______________________________________________________________________
Search, browse and book your hotels and flights through Yahoo! Travel.
http://sg.travel.yahoo.com

Kirim email ke