Arca-arca Buddha Bersejarah Ditelantarkan

Jumat, 18 Juli 2008 | 00:26 WIB 

Palembang, Kompas - Sedikitnya empat arca Buddha dalam berbagai 
wujud dan puluhan benda purbakala lainnya dibiarkan telantar tanpa 
perawatan. Bahkan, sebuah prasasti tentang peperangan pada masa 
Sriwijaya digeletakkan begitu saja di sudut halaman bangunan museum 
di kompleks Taman Purbakala Kerajaan Sriwijaya di kawasan 
Karangayar, Palembang.

Menyaksikan kondisi artefak dan benda-benda purbakala yang tidak 
ditangani dengan baik tersebut, Hari Untoro Drajat selaku Direktur 
Jenderal Sejarah dan Purbakala Departemen Kebudayaan dan Pariwisata, 
Kamis (17/7) sore, mengaku terkejut. Ia segera meminta Kepala Balai 
Pelestarian Peninggalan Purbakala Wilayah Jambi, Sumatera Selatan, 
dan Bengkulu agar berkoordinasi dengan instansi terkait di daerah 
ini untuk mengambil langkah penyelamatan.

"Kalau tidak segera ditangani, kita akan kehilangan warisan budaya 
yang sangat berharga," kata Hari Untoro.

Meninjau pameran

Kamis sore itu, Hari bersama Direktur Purbakala Soeroso MP, Direktur 
Arkeologi Bawah Air Surya Helmy, dan Direktur Permuseuman Intan 
Mardiana meninjau pameran kepurbakalaan bertemakan "Sriwijaya: Bumi 
Bahari, Solusi untuk Negeri".

Begitu Hari keluar dari museum, arkeolog Bambang Budi Utomo dari 
Puslitbang Arkeologi Nasional menginformasikan adanya puluhan benda 
bersejarah digeletakkan begitu saja di satu bangunan yang tak jauh 
dari tempat pameran.

Di selasar tengah yang berada di jalan menuju menara pandang Taman 
Purbakala Kerajaan Sriwijaya (TPKS), satu arca dalam sikap duduk di 
atas hpadmah dengan kaki kiri dilipat seperti orang bersila 
dibiarkan berada di ruang terbuka tanpa pengamanan sedikit pun. Dua 
artefak bersejarah lainnya juga digeletakkan di sana.

Di dalam bangunan yang sudah tak terurus, yang hanya dipisahkan oleh 
jalan umum dan kanal buatan dari kompleks utama TPKS, puluhan benda 
purbakala ditumpuk di salah satu sudut ruangan. Meski dalam posisi 
terkunci, dengan jendela dikelilingi teralis, kondisi sekelilingnya 
sangat memprihatinkan. Potongan- potongan tripleks yang jatuh dari 
plafon ruang berserakan di lantai, diselimuti debu tebal dan sarang 
laba-laba.

Selain artefak dan simbar yang merupakan bagian dari bangunan candi, 
juga fragmen-fragmen batu dan benda-benda purbakala lain 
bergeletakan di antara tiga arca yang terbuat dari batu peninggalan 
abad VII-VIII tersebut. Dua di antaranya adalah arca Buddha, yang 
juga sudah rusak. Arca pertama dalam sikap berdiri (tetapi di ruang 
itu) hanya digeletakkan.

Seperti halnya arca di luar ruangan, arca ini pun tanpa kepala. 
Kedua tangannya pun sudah hilang. Kain yang melilit bagian pinggang 
hingga ke bawah tidak simetris karena pada bagian kaki kiri hanya 
sampai sebatas lutut, sedangkan di bagian kanan hingga menyentuh 
pergelangan kaki. Adapun arca Buddha kedua yang juga dalam sikap 
berdiri rusak pada bagian kepala dan tangan, sementara kedua bagian 
telapak kaki telah hilang.

Yang tak kalah menyedihkan, sebuah batu prasasti yang ditemukan pada 
tahun 1928 di Bukit Siguntang, Palembang, selama bertahun-tahun 
dibiarkan seperti batu kali yang tak berharga. Akibatnya, sebagian 
aksara Pallawa berbahasa Melayu kuno mengalami keausan dan semakin 
sulit dibaca oleh para epigraf. Padahal, menurut Bambang Budi Utomo, 
prasasti ini merupakan satu-satunya peninggalan Sriwijaya yang 
menceritakan tentang peperangan. (wad/boy/ken)


Sumber: kompas

Kirim email ke