Amar Ma'ruf Nahi Mungkar Jangan Menciptakan Kekerasan
Ditulis Oleh KH Ahsin Sakho Muhammad
Tuesday, 08 July 2008
Saat ini, kita menjumpai bermacam-macam kemaksiatan. Narkoba atau
minum-minuman memabukan, pelacuran, pengambilan hak orang lain, korupsi, dan
hal-hal lain yang tidak dibenarkan oleh agama telah menyebar luas. Apakah
kita akan membiarkan persoalan-persoalan ini berlalu dengan sendirinya
ataukah harus ada tindakan-tindakan yang bisa menghentikan berbagai macam
kemaksiatan ini? Bila kita biarkan maka akan terjadi hal-hal buruk yang
menimpa mereka yang melakukan perbuatan mungkar itu ataupun orang-orang yang
tidak mengetahui perbuatan mungkar ini. Sebagai contoh, kita dapat melihat
berapa banyak hutan-hutan yang digunduli oleh beberapa orang sehingga
mengakibatkan bencana banjir dan longsor bagi orang banyak yang tidak
melakukan penggundulan hutan itu.

Salah satu hadis yang diriwayatkan oleh Nu'man Ibnu Basir mengatakan bahwa
orang-orang yang melawan perkara-perkara mungkar diibaratkan seperti
sekelompok kaum yang diundi untuk menaiki perahu atau kapal. Setelah diundi,
ada orang yang mendapat tempat di atas atau di bawah. Orang yang mendapat
tempat di bawah, jika membutuhkan air mereka akan naik ke atas. Hal itu
terus berlangsung sampai pada suatu saat orang yang berada di bawah
berpikir, "Daripada kita terus-menerus naik ke atas dan menyakiti
orang-orang yang ada di atas maka lebih baik kita lubangi saja perahu dari
bawah sehingga kami bisa mendapat air secara langsung". Nabi berkata, bila
orang seperti ini dibiarkan maka akan terjadi bencana yang dapat melukai
semua orang yang ada di perahu itu. Perahu akan karam dan mereka yang tidak
bersalah pun akan menanggung akibat dari perbuatan orang yang tidak
bertanggung jawab ini.

Setiap agama selalu menghimbau untuk bertindak amar ma'ruf nahi munkar,
seperti  disebutkan dalam surah Lukman. Dari ayat ini, Lukman, salah seorang
ahli pendidik pada masa lalu pernah memberikan nasehat pada anaknya. "Wahai
anakku, dirikanlah shalat dan suruhlah orang lain untuk berbuat baik dan
laranglah mereka melakukan perbuatan-perbuatan munkar." Melalui ayat ini,
anak-anak kecil sudah mulai dibiasakan untuk melakukan perbuatan amar ma'ruf
nahi munkar. Jika sudah terbiasa maka hal itu akan menjadi karakter pada
dirinya sehingga dia akan hidup dengan amar ma'ruf nahi munkar. Dia akan
senang jika ada orang lain yang melakukan perbuatan baik dan akan merasa
tidak senang jika ada orang yang melakukan perkara-perkara munkar di
hadapannya. Dia akan berusaha menghentikan perbuatan munkar itu.

Yahudi dan Nashrani
Juga Menyerukan Amar Ma'ruf Nahi Mungkar

Pada ayat lain kita temukan bahwa para ahli kitab baik Yahudi dan Nasrani
pernah dipuji. Di antara mereka ada orang-orang yang selalu mengamalkan amar
ma'ruf nahi mungkar. Allah pernah berfirman tentang Ahlul Kitab dalam Al
Quran. Hal ini menjelaskan bahwa tidak semua ahli kitab itu buruk. Di antara
ahli kitab yang terdiri dari orang Yahudi dan Nasrani ada saja orang yang
bersikap baik dan selalu tekun membaca ayat-ayat Allah pada malam hari dan
selalu bersimpuh di hadapan Allah. Mereka melakukan amar ma'ruf dan mereka
juga melarang orang lain melakukan kemunkaran. Ini adalah suatu indikasi
bahwa amar ma'ruf nahi munkar tidak khusus bagi agama Islam. Hampir semua
ajaran agama mengajarkan amar ma'ruf nahi munkar. Karena ajaran agama tidak
akan keluar dari dua hal, yaitu perintah untuk melakukan kebaikan dan
larangan untuk melakukan perbuatan mungkar.

Oleh karena itu, dalam Al Quran Allah memerintahkan kepada umat Islam secara
keseluruhan agar mereka bergerak untuk melaksanakan amar ma'ruf nahi munkar.
Allah berfirman, "Hendaklah di antara kamu ada umat yang selalu melakukan
amar ma'ruf nahi munkar." Mereka yang melakukan hal-hal tersebut akan sukses
di dalam kehidupannya. Baik kehidupan di dunia maupun di akhirat.

Pada ayat yang lain Allah berfirman, "Wahai umat Muhammad, kamu adalah
sebaik-baiknya umat yang terlahirkan di atas dunia ini. Kamu melakukan amar
ma'ruf dan nahi munkar dan kamu beriman kepada Allah SWT." Dengan demikian,
amar ma'ruf nahi munkar adalah salah satu indikator kebaikan dari umat Nabi
Muhammad. Dengan kata lain, apabila umat Nabi Muhammad ini tidak melakukan
amar ma'ruf nahi munkar maka predikat sebagai umat terbaik bisa dicopot dari
umat Nabi Muhammad. Akan berakibat fatal bagi kita semua jika kita
memperlihatkan atau membiarkan orang lain melakukan perbuatan-perbuatan
munkar tanpa ada satu orang pun tergerak hatinya untuk melarang orang-orang
tersebut maka kita akan mendapat cobaan-cobaan dari Allah SWT.

Oleh karena itu, Nabi menegaskan dalam salah satu sabdanya, "Apabila salah
satu di antara kamu sekalian melihat kemunkaran maka hendaklah dia mengubah
kemunkaran itu dengan tangannya. Seandainya dia tidak mampu melakukannya
maka hendaklah dia berusaha untuk mengubah kemunkaran itu dengan lisannya.
Jika sampai taraf itu dia tidak mampu melakukannya maka hendaklah hatinya
tergerak dan merasa perih melihat berbagai kemunkaran yang ada di hadapannya
itu. Hal itu merupakan iman seseorang yang paling rendah derajatnya." Paling
tidak jika ada orang yang tergerak hatinya dalam melihat kemungkaran, dia
akan dapat membisikkan pada orang lain. Dan bisikan dari satu orang kepada
orang yang lain dapat membentuk suatu opini publik dalam masyarakat sehingga
mereka dapat bersatu untuk memerangi kemungkaran tersebut.

Amar Ma'ruf Nahi Mungkar
Jangan Menciptakan Kekerasan

Etika di dalam amar ma'ruf nahi munkar juga harus diperhatikan. Orang yang
menyuruh orang lain untuk berbuat amar ma'ruf atau menyuruh orang berbuat
baik hendaklah caranya menyampaikan dengan cara yang bijaksana dan baik.
Jangan sampai kebaikan disampaikan dengan cara yang tidak baik sehingga
dapat menuai protes. Menyampaikan kebaikan dengan cara yang kasar maka akan
menimbulkan efek yang tidak baik.

Begitu juga dalam melarang orang melakukan kemunkaran ada cara tersendiri.
Paling tidak, orang yang melarang orang lain berbuat kemunkaran akan
menghasilkan 4 hal. Pertama, setelah dia melarang kemunkaran akhirnya
berhenti. Kedua, kemunkaran bisa diminimalisir. Ketiga, tidak ada perubahan
dari sebelum dan sesudah dia melarang perbuatan munkar itu. Keempat, justru
menciptakan kemunkaran-kemunkaran yang baru.

Jika setelah kita melarang, maka perbuatan munkar itu dapat dihentikan atau
setidaknya dapat diminimalisir, itu adalah hal yang baik. Namun, jika
kemungkaran itu masih tetap berlangsung maka setidaknya kita sudah melakukan
tugas keagamaan kita dengan baik. Jika kita menyingkirkan kemunkaran namun
pada akhirnya malah menciptakan kemunkaran-kemunkaran baru, mereka berbalik
melawan dan terjadilah peperangan maka hal inilah yang tidak diperbolehkan.

*Naskah ini merupakan transkrip khutbah Jumat, 12 Januari 2006 di Masjid
Agung Sunda Kelapa, Jakarta.
**KH. Ahsin Sakho Muhammad adalah rektor IIQ Jakarta dan pengasuh pesantren
Darul Qur'an dan Dar Al-Tauhid Arjawinangun Cirebon
Sumber: Buletin Dakwah Sunda Kelapa Diterbitkan Dua Minggu Sekali Setiah
Hari Jum'at

Kirim email ke