Sekilas tentang Watak Muslim
Author: Amil Imani on Saturday, August 19, 2006 

Penyelesaian konfrontasi yang berbahaya saat ini antara Islam dan Barat 
menuntut pikiran yang rasional, tidak berat sebelah dan kepala yang dingin 
untuk menguraikan yang mana fakta dan yang mana mithos/isapan jempol, mengerti 
watak Muslim, dan peduli pada keluhan2 dari kedua belah pihak. 

Keluhan Muslim yang abadi adalah bahwa Barat yang imperialis – semua kekuasaan 
colonial dari masa silam, termasuk juga USA – terus mengiritasi mereka selama 
berpuluh tahun bahkan berabad-abad dan terus-menerus melakukan hal ini dalam 
segala cara yang mungkin. Daftar dari tuduhan kejahatan Barat menggunung 
bagaikan tumpukan ensiklopedia. Sebagai permulaan, Barat telah menunjukkan 
kebencian yang blak-blakan terhadap hak-hak negara Muslim dengan cara seenaknya 
memecah-belah bumi Islami menjadi pecahan-pecahan, merampoki sumber dayanya, 
dan berada pada puncak kejahatan ini adalah dengan memasang langsung di 
tengah-tengah mereka sang tiri haram-jadah mereka yaitu Israel - sebuah duri 
yang terbesar dalam daging mereka, karena itulah Muslim mengeluh-kesah. 

"Setitik kebenaran diperlukan untuk membuat segunung dusta bisa dipercaya," 
merupakan pepatah kuno. Supaya adil terhadap para Muslim, memang ada beberapa 
hal yang berdasar dalam tuduhan mereka terhadap Barat. Untuk saat ini, marilah 
kita fokus pada mindset/watak umum Muslim yang demikian sangat condong kepada 
permusuhan terhadap Barat -- sebuah permusuhan yang dapat menimbulkan suatu 
Armageddon yang amat ditakutkan. 

* Patriarchy (k.l. = Kebapak2an/Maskulin/Machoisme) dan Otoriterisme 
(~diktatorisme). 
Jiwa seorang Muslim telah dicetak dengan patriarki yang bermula dengan sang 
maha kuasa, Allah, melalui nabinya, Muhammad, para Kalifah atau Imamnya, dan 
para kyai alim-ulama kelas tinggi terus akhirnya sampai ulama dan khotib 
pedesaan. Mentalitas patriarki otoriter ini melingkupi seluruh aspek kehidupan 
Muslim. 

Sultan dan wilayahnya sebagai wali Allah, Amir dan hak mutlaknya, para Khan dgn 
pemerintahannya atas suku-suku yang tidak boleh dibantah, para kepala suku dgn 
kekuasan mereka, sampai akhirnya seorang ayah dengan kegalakannya di rumah 
mengatur para bini dan anak-anaknya. Semua figur pemerintahan ini adalah 
pejantan (laki-laki). 

Tipe 'otoriterian' ini membawa banyak masalah dan menghadirkan banyak kerumitan 
- kerumitan2 yang terlalu penting dan kompleks untuk dapat dibenahi secara 
menyeluruh di sini. Untuk sekarang, penting utk. dimengerti bahwa seseorang 
dengan kepribadian yang otoriter adalah seorang ekstrimis. Dia dapat menjadi 
jinak sendiri dalam keadaan2 tertentu dan dapat menjadi pembunuh sadis gelap 
mata dalam keadaan2 yang lain. Dia adalah type yang dengan segala senang hati 
membunuh atau mati/dibunuh, ketika dia diarahkan ke sana. Dia akan, sebagai 
contoh, dengan senang hati memasang jaket berbahan peledak, dalam kepatuhannya 
terhadap perintah atasan, dan meledakkannya di kerumunan orang2 sipil tanpa 
rasa ragu sedikitpun. 

* Kepatuhan Buta (Total). 
Sebuah sifat berbahaya dari watak yang otoriter adalah relatif hilangnya 
kemampuan berpikir yang independen. Kekurangmampuan ini membuat sang manusia 
gampang sekali dimanipulasi. Islam, dengan cara-cara otoriternya yang kaku, 
menghilangkan kemampuan berpikir independen Muslim begitu rupa sampai ke 
tingkat di mana si penganut secara buta mengadopsi Islam sebagai sistem 
kepercayaan yang tidak mungkin bisa salah sama sekali. Sebab itu, agama Islam 
bertanggung jawab dalam pembentukan begitu banyak orang yang dengan demikian 
mudahnya menjadi instrumen2 yang dimanipulasi di tangan para penampuk kuasa. 

Studi2 menunjukkan bahwa sifat otoriter dapat ditemukan dalam segala macam 
bangsa, termasuk bangsa Amerika. Perbedaan yang penting adalah dalam hal 
tingkat-derajad dan kekerapan kondisinya. Islam menghasilkan jumlah ekstrimis 
yang demikian besar, sementara di Amerika, sebagai contoh, kekerapannya secara 
perbandingan jauh lebih rendah dan tidak demikian parah. 

* Fokus ke arah target. 
Bagi Muslim, gol/target adalah segalanya. Sebagai fasisme beragama, Islam 
meridhoi segala upaya dan cara untuk mencapai targetnya. Target akhir Islam 
adalah penguasaan seantero dunia di bawah satu Ummah Islami - tidak masalah 
bagaimana tentara-tentara Allah yang pasrah ini berbeda pendapat satu dengan 
yang lainnya mengenai Ummah itu sendiri dan tentang siapa yang harus bertahta. 
Itu hanya sebuah "pertengkaran dalam keluarga" yang akan diselesaikan mereka 
lewat cara favorit mereka yang seperti biasa adalah - kekuatan fisik. 

Masing2 sekte Islam percaya bahwa ialah yang memiliki sang Nabi dan Allah ada 
di sisi mereka dan ia akan mengungguli yang lainnya. Untuk saat ini mereka 
harus bekerja rajin untuk mencapai target pertengahan yakni mengalahkan semua 
al-kafirun. Ada begitu banyak contoh tidak terhingga yang menonjolkan prinsip 
pedoman Muslim yang "Tidak peduli bagaimana caranya yang penting Hasilnya". 

Kebijakan ini berawal dari Muhammad sendiri. Muhammad berulang2 kali membuat 
perjanjian damai dengan lawan-lawannya, hanya untuk dikhianati oleh dirinya 
sendiri segera setelah ia faham bahwa ia berada pada posisi di atas angin. 
Pengkhianatan, penipuan, dan dusta-dusta yang blak-blakan secara penuh diridhoi 
demi kemajuan Islam. 

Dalam dunia masa kini, ikhtiar2 Islam disalurkan melalui para alim-ulama yang 
sangat disegani dan berpengaruh di masyarakat mereka, mereka mengeluarkan 
fatwa2- aturan2- yang menjadi arah kebijakan dan hukum bagi para mukminin. 

Khomeini, pendiri negara Islam Iran, misalnya, mempergunakan fatwa secara 
extensive. Yang terkenal di Barat adalah fatwa matinya terhadap Salman Rushdie 
karena bukunya (Ayat Setan). Satu fatwa oleh Khomeini yang kurang dikenal 
semasa perang Iran-Iraq membuahkan pembantaian atas ribuan anak2 Iran. 
Anak-anak, hampir semua di bawah 15 tahun, diberikan kunci-kunci plastik ke 
sorga sesuai perintah fatwa sang imam bahwa mereka harus terjun membersihkan 
ranjau supaya jalan2 bisa dilewati tank-tank Iran. 

Para pembunuh Islamis, dalam kepatuhannya terhadap fatwa dari wakil Allah yang 
haus-darah, tidak punya masalah sedikitpun untuk mengkadali anak-anak yang 
polos dengan kunci-kunci plastik pembuka surga yang 'made in China'. 

Demikianlah kenyataan eksintensi ancaman Islam. Sebuah system otoriter kaku 
bergaya zaman-batu dengan cekikannya mengatur banyak dari hampir satu setengah 
milyar jiwa dibawah perintahnya. 

* Fatalisme. 
Salah satu perbedaan terbesar dan begitu penting antara watak Muslim dan watak 
orang2 di Barat adalah kekhasan Muslim yang fatalistik. Hampir-hampir tidak 
pernah terdengar sebuah pernyataan Muslim yang tanpai embel-embel bersyarat - 
bersyarat dengan izin Allah. "Kita jumpa lagi esok hari, Insya Allah", "Semua 
beres, deh, jika Allah mengizinkan," dan seterusnya, dst. dst. Bagi Muslim 
Allah itu lagi bekerja - mengerjakan semuanya. Allah, dengan tangan maha 
perkasanya yang tidak kelihatan secara harafiah mengerjakan dan menjalankan 
segala sesuatu. "Tangan Allah ada di atas segala macam tangan2 lainnya," 
menghiasi semua ruangan dalam wilayah2 Islam - sebuah pernyataan tentang 
fatalisme Muslim dan ketundukannya kepada sang tangan yang maha kuasa, maha 
ada. Jika sesuatu terjadi, itu adalah kehendak Allah. Jika tidak, itu juga 
kehendak Allah. 

Kehendak pribadi Muslim dalam urutannya adalah sangat kecil. Hal ini 
membebaskannya dari segala kewajiban. Mentalitas ini sangat kontras jika 
dibandingkan dengan karakter mentalitas "ambil kendali" dan "saya bisa" dari 
orang2 Amerika dan lain-lainnya. 

* Keunikan Psychologis. 
Orang2 sebagai sebuah kelompok atau sebagai individu berbeda satu sama lain dan 
tidak ada yang betul2 sehat secara rohani. Kita semua pasti punya masalah dalam 
melalui jalan hidup yang penuh rintangan. Namun, kebanyakan orang berhasil 
mengupayakan dirinya supaya tetap waras, dengan mungkin sekali-dua kali jatuh 
dan dirawat oleh psykiater/rumah sakit jiwa. 

Kebanyakan gangguan2 kejiwaan adalah pembesar-besaran, pengecil-ngecilan, atau 
perlebih-lebihan dari norma2 yang umumnya diterima - apapun norma itu. Sewaktu 
keberhati-hatian, sebagai contoh, dipraktekkan melalui kecurigaan, maka kita 
pun mengalami paranoia; sewaktu rasa takut yang beralasan dijalankan melampaui 
batas, maka di situlah terjadi phobia. Derajat dan keparahan dari sebuah 
kondisi seringkali menentukan kehadiran atau tidak adanya sebuah penyakit 
kejiwaan. 

Para Muslim menderita keadaan psikologis Islamis yang sama di mana-mana, mereka 
melakukan "diet" Islami, tidak masalah mereka tinggal dalam masyarakat Islami 
atau di tengah2 masyarakat yang umumnya non-Islam. Kondisi psikologis dari 
sebuah kelompok Muslim atau individu Muslim sangat berhubungan langsung dengan 
jenis dan jumlah diet Islami yang mereka konsumsi. Diet Islami memiliki banyak 
kandungan - beberapa berguna, beberapa beracun sangat berbahaya, dan beberapa 
lagi ada di antara kedua ekstrim tersebut. 

Selama bertahun-tahun, para pemimpin Islam menemukan hal ini sangat pantas dan 
berguna untuk mensuapi massa mereka dengan kandungan2 beracun untuk mencapai 
keinginan2 mereka. Para individu dan kelompok, contohnya, telah menggunakan 
kekuatan kebencian yang sangat mendalam dan ber-enerji tinggi untuk menghimpun 
kaum mukminin; kekuatan cohesive polarisasi untuk menciptakan solidaritas 
sesama dalam group; dan, jurus ampuh yaitu menyalahkan orang lain jika mereka 
tertimpa kemalangan baik yang sungguhan maupun yang mereka anggap kemalangan. 
Yahudi telah menjadi favorite kambing hitam mereka sejak awal mereka. Sampai 
hari ini, sebagai mana juga fasis yang sejati, seperti kaum Nazi, Muslim pun 
menyalahkan segala sesuatu kepada kaum Yahudi. 

Uraian rinci tentang profil psikologis Muslim adalah di luar lingkupan artikel 
ini. Namun, tidak tersanggahkan lagi bahwa pembentukan psikologis dari seorang 
Muslim, tergantung bagaimana taraf kemuslimannya, adalah berbeda dari 
non-Muslim. Perbedaan ini, yang sering kali tidak dapat dipisahkan sebagai 
hal-hal yang kelihatan sekarang adalah sesungguhnya berada di jantung dari 
perbenturan Islam dengan Barat. 

* Kesimpulan. 
Diakui, kultur non-Islami bukanlah obat termanjur. Namun, memiliki sebuah 
karakter menonjol yang tidak dimiliki Islam - yaitu kebebasan dengan apa pun 
itu bentuknya - baik, buruk, ataupun tidak-peduli. Mereka yang telah mengalami 
kebebasan, tidak ada tawaran yang kelihatannya bisa membujuk mereka untuk 
melepas kebebasan itu lagi - khususnya bukan dari janji-janji semu Islam yang 
telah gagal di masa silam dan akan makin gagal dengan mengenaskan di masa yang 
akan datang. 

Penyelesaian dari konflik ini yang terbaik, namun juga sulit, adalah melakukan 
apa yang ratusan ribu Muslim telah lakukan. Mereka meninggalkan unsur2 
perbudakan pada Islam: mereka telah terbebaskan dari belenggu alim-ulama yang 
meng-exploitasi, membuang Islamofasisme, membersihkan diri dari ajaran2 
diskriminatif dan aneh/menggelikan dari Quran dan Hadith, dan meninggalkan 
aqidah Islam yang menyesakkan demi kelegaan berkebebasan yang memberikan hidup 
sesungguhnya. 

Di dalam ruang kebebasan yang beremansipasi dan mengakomodir, mereka2 yang 
masih ingin terus menjadi Muslim boleh saja tetap mempraktekkan ajaran-ajaran 
baik Islam namun menolak ketidaktoleransian, kebencian, dan kekerasan (apa 
mungkin?). 
Diperlukan usaha besar dan keberanian untuk naik dari jurang perbudakan yang 
rendah ke bukit emansipasi. Namun, keduanya mungkin, karena banyak yang telah 
melakukan hal serupa dan berhasil dengan sukses. Selagi banyak dan banyak lagi 
orang meninggalkan rantai perbudakan agama, banyak dan banyak lagi mengikuti 
dan para Muslim yang lama-menderita, dijadikan korban oleh Islam sendiri 
demikian lamanya, akan menjadi orang2 yang bebas menentukan kehidupan dan nasib 
mereka sendiri. 

Pertumbuhan adalah proses yang menyakitkan, menyatakan kesiapan untuk menjadi 
dewasa, dan berbaris sejajar dengan anggota-anggota golongan manusia bebas 
lainnya. 

Slavery of the mind is as evil as the slavery of the body. Islamofacism 
enslaves them both. 
Perbudakan pemikiran adalah sama jahatnya dengan perbudakan tubuh. 
Islamofasisme memperbudak baik pikiran maupun tubuh. 

 
Dasar kepercayaan iman muslim dibangun diatas dusta,kebohongan dan teror 
pembunuhan yang biadab dimana saat zaman dan waktu sudah berubah kebenaran yang 
ada diungkapkan dan tidak bisa dihalangi ataupun dibendung serta kejahatan 
pembunuhan sudah dapat diantisipasi dan diminimalkan maka saat itu juga ambang 
kehancuran islam akan terjadi dan pada saatnya islam akan lenyap dan ini pasti 
terwujud. 
Feifei_fairy


      Find great new restaurants - Yahoo! Singapore Search.
http://sg.search.yahoo.com/search?p=restaurant+reviews&cs=bz&fr=fp-top

Kirim email ke