Ke bulan? Kuno! Ke Mars? Bosah ah. Itu mungkin jawaban dari orang NASA. Tak 
heran, pada Mei 2015 mendatang mereka berencana untuk menggapai Matahari - 
obyek di langit pujaan bangsa Jepang  dan Mesir Kuno. 



------------------------------------------------------------------------

Misi 'Berani Mati' Menuju Matahari 


Matahari yang berada 150 juta kilometer dari Bumi, panasnya sangat menyengat. 
Bagaimana rasanya panas Matahari itu jika didekati hingga jarak tujuh juta 
kilometer saja?

Itulah yang kini sedang dirancang Badan Antariksa Nasional Amerika Serikat 
(NASA). Lebih dari 400 tahun, astronom mempelajari perilaku Matahari dari jarak 
jauh. Sekarang, saat bagi NASA mengamati Matahari langsung ke sumbernya. Buat 
apa mengamati Matahari dari Bumi kalau memang bisa mendekat, begitulah mungkin 
yang dipikirkan NASA.

''Kami akan mengunjungi bintang yang bernapas itu untuk kali pertama, langsung 
ke pusatnya,'' kata ilmuwan NASA, Lika Guhathakurta, pekan lalu. Bagi astronom, 
Matahari merupakan wilayah yang relatif belum terjamah dibanding anggota tata 
surya yang lain. Bulan, satelit Bumi, sudah sejak 1969 didarati manusia. Dan, 
tak terhitung banyaknya didarati misi tak berawak.

Terakhir, wahana antariksa tak berawak milik NASA, Phoenix, mendarat di kutub 
utara Mars, 25 Mei 2008. Wahana itu akan memulai tiga bulan masa penelitian 
terhadap planet terdekat dengan Bumi itu.

Seolah ingin mengulang kesuksesan Phoenix, wahana antariksa tak berawak yang 
diberi nama Solar Probe+ (baca Solar Probe Plus) akan diluncurkan. Misinya tak 
tanggung-tanggung, menyentuh atmosfer Matahari. Sebuah misi 'berani mati', 
sekali datang, tak akan kembali.

Bagaimana bisa pesawat mendarat di Matahari? Apakah materialnya tidak menyusut 
diisap panasnya sang bintang? Tampaknya, semua pertanyaan itu sudah disiapkan 
jawabannya oleh NASA.

Karena diskenariokan nyemplung ke dalam atmosfer Matahari --di mana jilatan 
angin Matahari (solar wind) dan badai magnet bakal mengancam-- pesawat Solar 
Probe+ yang merupakan pengembangan dari wahana sebelumnya, Solar Probe, akan 
didesain tahan panas.

NASA akan menyiapkan material pesawat yang bisa bertahan terhadap panas hingga 
jarak tertentu dari Matahari. Memang, persiapannya tidak ujug-ujug.

Adalah John Hopkins' Applied Physics Lab (APL) yang menyiapkan rancangan 
pesawat tersebut. APL punya riset pendahuluan atas kebutuhan pesawat model yang 
didesain tahan panas Matahari.

Pada Januari 2008, pesawat APL bernama MESSENGER telah menyelesaikan misinya 
mengitari Merkurius, planet terdekat dengan Matahari. Berkaca dari MESSENGER, 
Solar Probe+ pun akan dibentengi dengan teknologi tahan panas serupa. Untuk 
diketahui, siang hari di sana panasnya 467 derajat Celcius.

Solar Probe+ akan dijaga supaya jarak maksimal terdekatnya tujuh juta km dari 
Matahari atau sembilan kali radius Matahari. Matahari akan terlihat 23 kali 
lebih lebar dibanding dipandang dari Bumi.

Di ketinggian itu, material pesawat harus tahan panas lebih dari 1.400 derajat 
Celcius. Tak hanya itu, pesawat juga mesti kebal terpaan radiasi pada tingkatan 
yang belum pernah dibuat sebelumnya. ''Kami punya banyak pekerjaan yang harus 
dipikirkan. Kendati demikian, ini sangat menyenangkan,'' kata Guhathakurta.

Diharapkan, pesawat sudah dapat diluncurkan pada 2015. Misi pesawat ditargetkan 
berakhir tujuh tahun kemudian, dengan sasaran memecahkan dua misteri besar 
astrofisika serta menemukan hal-hal baru sepanjang perjalanan.

Dua misteri itu, pertama, mengetahui suhu korona Matahari. Korona merupakan 
lapisan terluar atmosfer Matahari. Paling dalam disebut fotosfer, berikutnya 
kromosfer.

Bila termometer ditaruh di permukaan Matahari, jarum penunjuk akan mengarah ke 
6.000 derajat Celcius. Anehnya, makin keluar, suhu lapisan atmosfer bertambah 
panas.

Sejauh ini, suhu korona diperkirakan mencapai satu juta derajat Celcius, lebih 
panas ratusan kali daripada suhu di lapisan dalam atmosfer Matahari. Tingginya 
temperatur ini menyisakan misteri selama 60 tahun terakhir. Misteri kedua, 
angin Matahari (solar wind). Ledakan akibat reaksi berantai di pusat Matahari, 
mengakibatkan terlontarnya partikel bermuatan dengan kecepatan jutaan meter per 
detik (mph).

Partikel ini terlontar hingga dirasakan planet-planet, asteroid, dan komet. 
Perhatikan, ekor komet terbentuk karena adanya angin Matahari itu. Yang menarik 
perhatian, bagaimana angin itu terbentuk hingga dapat mementalkan partikel 
menuju ke seluruh sistem tata surya?

''Untuk menyingkap misteri ini, Solar Probe+ benar-benar akan memasuki korona. 
Tempat di mana aksi itu terjadi,'' kata Guhathakurta. Guna membuka tabir itu, 
sejumlah peralatan turut dibawa serta. Semisal, magnetometer, sensor gelombang 
plasma, pendeteksi debu angkasa, penganalisis elektron dan ion, serta 
hemispheric imager (HI). ''Perlengkapan itu akan membantu mengurai fisik 
pemanasan korona dan kecepatan solar wind.''

Sementara itu, HI merupakan teleskop yang dipakai untuk membuat gambaran tiga 
dimensi korona. Tekniknya dikenal dengan coronal tomography.

Diluncurkan pada Mei 2015, Solar Probe+ akan memulai misi utamanya ketika akhir 
solar cycle 24 dan selesai ketika maksimum solar cycle 25 pada 2022. Solar 
cycle adalah aktivitas maksimum-minimum energi Matahari dengan rata-rata 
kejadian 11 tahun sekali.

Efek solar cycle bisa dilihat pada lapisan kambium pohon yang bisa menjadi 
parameter usia tanaman. Solar Probe+ juga akan meneliti sejumlah badai Matahari 
di akhir misinya. Solar energetic particle yang menjadi ancaman bagi kesehatan 
dan keamanan astronot juga akan diselidiki Solar Probe+.

Sebelum mencapai korona, Solar Probe+ akan dilempar dengan menggunakan gaya 
gravitasi planet Venus. Pesawat tak berawak ini akan mengitari Venus tujuh kali 
dalam enam tahun untuk mendapatkan gaya lempar, sehingga mendekat ke atmosfer 
Matahari.

Bayangkan permainan lempar cakram. Sang atlet akan berputar untuk memperoleh 
gaya lontar maksimal. Di Venus, kendati bukan misi primer, astronom akan 
mempelajari hal-hal baru dari planet tersebut ketika sebuah alat dilemparkan 
menggunakan efek gravitasi Venus. ''Solar Probe+ adalah misi eksplorasi luar 
biasa, penemuan, dan pemahaman. Kami tak sabar menunggu untuk segera 
memulainya,'' kata Guhathakurta. 

(has )

Republika - Selasa, 17 Juni 2008


mediacare
http://www.mediacare.biz

Kirim email ke