Assalamualaikum WW,
 
Feifei_Fairy yang dimuliakan Allah, postingan anda yang ini saya FWD ke Milis 
Spiritual-Indonesia http://groups.yahoo.com/group/spiritual-indonesia, bukan 
karena saya setuju dengan pemilihan kata2 anda seperti "murtad", "kebohongan", 
dsb... yang menurut selera saya terlalu VULGAR, melainkan karena artikel yang 
ditulis oleh Rekan Luthfi Assyaukanie itu memang berbobot. 
 
Kami lebih dari 1,240 orang di Milis Spiritual-Indonesia pada umumnya TIDAK 
PERDULI dengan agama orang. We know that religions are MADE, buatan manusia 
belaka, yang penting adalah spiritualitas: how we connect to the source of all 
sources, yang BISA melalui cara agama, dan BISA juga melalui tanpa agama. 
 
Agama cuma metode belaka, banyak rekayasa dan segala macam di dalam agama2 itu 
(Kristen, Islam, Buddha, Hindu, bahkan Kejawen). Namanya juga hasil pemikiran 
manusia, tentu saja TIDAK SEMPURNA. Kita tahu segala kitab2 yang disucikan itu 
MEMANG tidak sempurna, so what gitu lho !
 
Tidak ada yang sempurna, nothing is perfect, tidak ada kitab suci yang jatuh 
gedebuk dari atas langit, yang ada cuma MANUSIA BIASA yang mengalami halusinasi 
merasa didatengin oleh Jibril yang nama aslinya adalah Gabri El yang KONON 
merupakan malaikat pelindung Bangsa Yahudi.
 
It's ok for me kalau Gabri El yang asalnya dari Yahudi akhirnya di Arab-kan, 
dan itu bukan karena nenek buyut saya keturunan Arab juga, melainkan karena 
saya mengerti bahwa memang seperti itulah caranya agama dibuat. Religion is 
made, segala macam mitos dan rekayasa itu VALID bagi pemeluknya yang masih 
"bodoh". Kalau sudah lebih pintar seperti anda dan saya, ya kita tinggalkan 
saja. 
 
Dan meninggalkan agama2 TIDAK BERARTI bahwa spiritualitas kita akan berkurang. 
Malahan kita akan lebih menjadi diri kita sendiri, menjadi lebih spiritual, 
lebih konek dengan the source of all sources as well as sesama yang menapaki 
jalan spiritual juga, apapun background agamanya, walaupun terkadang saya 
dimaki juga oleh Muslim fanatik sebagai antek Amerika, Ahmadiya lover, 
whatever. I don't care lah, suka2 lah ! Kita lahir TANPA agama, dan akan mati 
TANPA agama, so what gitu lho !
 
Last but not least, kalau anda mau melepaskan retorika anda yang VULGAR itu, 
anda bisa join lagi di Milis Spiritual-Indonesia 
http://groups.yahoo.com/group/spiritual-indonesia yang sebenarnya 
UNMODERATED. Please understand, saya ini menganut FREE SPEECH, tetapi maki2an 
anda itu terlalu vulgar, it's BAD TASTE. Itulah alasannya kenapa secara spontan 
saya BAN anda dari Milis SI beberapa minggu lalu walaupun anda itu telah 
menjadi member selama hampir setahun. Siapa yang nggak kaget dibombardir dengan 
postingan2 yang isinya maki2an vulgar ???
 
Tapi saya akui bahwa banyak dari postingan anda itu juga bersifat INFOMATIF, so 
I really hope that you could change sehingga bisa lebih diterima dengan kepala 
dingin oleh banyak orang. Maybe dengan nama baru ???
 
Wassalam,
Leo
 

--- On Mon, 21/7/08, [EMAIL PROTECTED] <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
From: [EMAIL PROTECTED] <[EMAIL PROTECTED]>
Subject: Kesaksian Luthfi Assyoukanie
To: "Ulil Abshar-Abdalla" <[EMAIL PROTECTED]>, "Luthfi Assyaukanie" <[EMAIL 
PROTECTED]>, [EMAIL PROTECTED], [EMAIL PROTECTED], [EMAIL PROTECTED], [EMAIL 
PROTECTED], [EMAIL PROTECTED], [EMAIL PROTECTED], "Agus Hamonangan" <[EMAIL 
PROTECTED]>, "Hudzaifah Ibnul" <[EMAIL PROTECTED]>, [EMAIL PROTECTED], "Jemmy" 
<[EMAIL PROTECTED]>, [EMAIL PROTECTED], "DOMBA2 KAFIR" <[EMAIL PROTECTED]>, 
"DOMBA2 KAFIR" <[EMAIL PROTECTED]>, "DOMBA2 KAFIR" <[EMAIL PROTECTED]>, "DOMBA2 
KAFIR" <[EMAIL PROTECTED]>, "DOMBA2 KAFIR" <[EMAIL PROTECTED]>, [EMAIL 
PROTECTED], "H. M." <[EMAIL PROTECTED]>, "mediacare" <[EMAIL PROTECTED]>, 
[EMAIL PROTECTED], [EMAIL PROTECTED], [EMAIL PROTECTED], [EMAIL PROTECTED], 
"Samuel Sam" <[EMAIL PROTECTED]>, "sang_candu"
 <[EMAIL PROTECTED]>, "budi sulistiyo" <[EMAIL PROTECTED]>, "yahoo2teguh" 
<[EMAIL PROTECTED]>, zamanku@yahoogroups.com
Date: Monday, 21 July, 2008, 8:03 AM







Kesaksian Luthfi Assyoukanie

Berikut ini satu lagi contoh cendikiawan muslim yang murtad dari Islam. Karena 
hati nuraninya yang jujur telah sadar akan kebusukan Islam. 

======================== 

Minggu, 20 Juni 2004 
Fenomena Destruktif Ibn Warraq 

OLEH: LUTHFI ASSYAUKANIE* 
SEJAK beberapa tahun belakangan, studi keislaman dihebohkan oleh hadirnya 
seorang penulis yang menamakan diri Ibn Warraq. Ini adalah nama samaran sang 
penulis yang mengaku berasal dari India, melewati masa kecilnya sebagai muslim, 
dan kemudian belajar Islam di sebuah universitas ternama di Inggris. Seperti 
ditulis dalam otobiografinya, Why I am not a Muslim? (1995), Ibn Warraq mengaku 
telah keluar dari Islam dan memilih jalan agnostis, jika bukan ateis. 
Kekecewaannya terhadap Islam diekspresikan lewat tulisan-tulisannya yang 
mengandung semangat kebencian terhadap agama ini. 

Kehadiran Ibn Warraq bukan hanya meresahkan kalangan muslim "konservatif," tapi 
juga para intelektual dan kalangan muslim liberal yang selama ini memiliki 
pandangan kritis terhadap (beberapa doktrin) Islam. Ibn Warraq dianggap telah 
merusak proyek pembaruan keagamaan yang dilakukan oleh para intelektual muslim. 
Apa yang dilakukannya lebih sebagai agenda destruksi ketimbang reformasi. 

Abdullah Saeed, seorang sarjana muslim asal Australia menganggap Ibn Warraq 
memiliki pandangan yang keliru (distorted) tentang Islam. Hal inilah yang 
agaknya membuatnya begitu antipati terhadap agama ini. Sikapnya yang begitu 
membenci Islam bahkan tak mencerminkan dirinya sebagai murid Montgomery Watt, 
orientalis yang selalu berusaha bersikap simpatik terhadap Islam. 

Ibn Warraq sangat produktif menulis buku yang sebagian besar merupakan kumpulan 
tulisan dari beberapa karya orientalis abad ke-19 dan ke-20. Kendati ada 
beberapa tulisan orientalis yang simpatik terhadap Islam, tetapi untuk bukunya 
Ibn Warraq lebih memilih tulisan-tulisan mereka yang antagonis dan antipati 
terhadap agama ini. 

Dalam karyanya tentang Nabi Muhammad (The Quest for the Historical Muhammad, 
2000), Ibn Warraq misalnya mengumpulkan tulisan-tulisan para orientalis yang 
dikenal sebagai "pencemar dan pembunuh karakter" Muhammad, seperti Henri 
Lammens, C.H. Becker, Joseph Schacht, dan Lawrence I. Conrad. Pesan yang ingin 
disampaikan Ibn Warraq sangat jelas, yakni bahwa Rasulullah Muhammad adalah 
seorang nabi palsu, penipu, tukang kawin, dan seorang pemimpin yang haus darah. 

Dalam karyanya yang lain tentang Alquran (The Origins of the Koran: Classic 
Essays on Islam’s Holy Book, 1998; dan What the Koran Really Says: Language, 
Text, and Commentary, 2002), Ibn Warraq juga mengumpulkan tulisan-tulisan 
orientalis ternama seperti Theodor Noldeke, Leone Caetani, Alphonse Mingana, 
Arthur Jeffery, David Margoliouth, and Andrew Rippin. Sayangnya, dia menyeleksi 
tulisan-tulisan mereka semaunya sehingga kerap menghilangkan konteks 
keseluruhan tulisan-tulisan aslinya. Tujuan dia lagi-lagi untuk menunjukkan 
sikapnya yang antipati terhadap Alquran. Mengutip Gibbon dan Carlyle, Ibn 
Warraq meyakini bahwa Alquran adalah "incoherent rhapsody of fable," dan 
"insupportable stupidity." 

Karya terbarunya, Leaving Islam (2003), juga merupakan kumpulan artikel dan 
laporan wawancara dia dengan beberapa orang (yang sayangnya semuanya anonim) 
dari Pakistan dan Bangladesh yang mengklaim telah keluar dari Islam alias 
murtad. Tujuan Ibn Warraq sangatlah jelas, yakni ia ingin memperlihatkan kepada 
pembacanya bahwa banyak orang Islam yang tidak tahan memeluk agama ini dan 
menyatakan diri keluar (murtad). Pokoknya, baginya, menjadi bukan Islam itu 
lebih baik daripada harus tetap memeluk Islam. 

Membaca dan mengikuti karya-karya Ibn Warraq, saya semakin yakin bahwa apa yang 
sedang dia lakukan sangat berbeda dari apa yang telah dan sedang dilakukan oleh 
para pembaru muslim selama ini yang berusaha melakukan kritik-kritik terhadap 
(beberapa doktrin) Islam tapi dengan tujuan memperbaiki agama ini. Para pembaru 
muslim seperti Muhammad Abduh, Fazlur Rahman, Mohammad Arkoun, dan Nurcholish 
Madjid, jelas tidak akan menganjurkan kaum muslim untuk membenci Islam, apalagi 
mengajak mereka keluar dari agamanya. 

Kekeliruan Ibn Warraq adalah bahwa ia tidak melihat sedikitpun sisi baik dari 
Islam dan bahkan berusaha mengabaikan bahwa agama ini pernah punya peran 
positif bagi peradaban manusia. Dia juga tampaknya tidak mengerti bahwa nama 
"warraq" merupakan salah satu simbol masa kejayaan peradaban Islam. Di masa 
silam, "warraq" berarti pedagang atau distributor buku yang bertugas menyalin 
karya-karya para ulama. Buku merupakan ikon peradaban Islam yang sangat 
penting. Salah seorang warraq ternama adalah Ibn Nadiem, seorang muslim yang 
taat dan pengarang kitab terkenal, Al-Fihrist. 

Ibn Warraq tampaknya juga tak menyadari bahwa semangat "kritisisme" dalam 
Islam, seperti yang tampak pada para "pemikir bebas" muslim seperti Ibn 
Rawindi, Abu Bakar al-Razi, Al-Ma’arri, dan Ibn Sina bukanlah para penulis yang 
seenaknya mencaci-maki Islam, apalagi menyatakan diri telah keluar dari Islam. 
Kritik-kritik mereka adalah kritik membangun sebagai bagian dari tradisi 
intelektualisme Islam. Karenanya, tak heran jika mereka sendiri kemudian 
menjadi bagian dari mosaik yang memperindah peradaban Islam. 

Beberapa peresensi bukunya, seperti Fred M. Donner, menilai Ibn Warraq "tak 
jujur." Saya kira Ibn Warraq bukan cuma tak jujur, tapi kerap tampak naif. 
Misalnya dia sangat berapi-api mengajak seluruh kaum muslim keluar dari Islam, 
tapi sayangnya tak memberikan alternatif apa-apa setelah itu. Buku terbarunya, 
Leaving Islam, merupakan ikrarnya yang sangat gamblang yang tak lagi membuat 
para pembacanya ragu-ragu bahwa dia memang membenci Islam dan berusaha 
menghancurkan citra agama ini dengan segenap kemampuannya. 

Bagi saya, jelas ada perbedaan besar antara orang yang ingin mereformasi sebuah 
tradisi dengan orang yang ingin menghancurkan sama sekali tradisi itu (kendati 
kedua-duanya kerap memiliki kemiripan dalam hal kekritisan). Reformasi agama 
hanya mungkin dilakukan oleh orang yang benar-benar tumbuh dan hidup dalam 
tradisi agama, bukan orang yang menjauh dan berusaha keluar dari tradisi itu, 
apalagi dilakukan dengan cara-cara yang destruktif. 

*Luthfi Assyaukanie, kontributor Jaringan Islam Liberal (JIL)



Dasar kepercayaan iman muslim dibangun diatas dusta,kebohongan dan teror 
pembunuhan yang biadab dimana saat zaman dan waktu sudah berubah kebenaran yang 
ada diungkapkan dan tidak bisa dihalangi ataupun 



Search. browse and book your hotels and flights through Yahoo! Travel

Send instant messages to your online friends http://uk.messenger.yahoo.com 

Kirim email ke