Buat  FeuFei, gimana kalau tulisan2 Anda itu Anda rangkum dan buat
buku yang runut .., mungkin bisa jadi bahan renungan untuk semua ?



2008/7/21 leonardo rimba <[EMAIL PROTECTED]>:
> Assalamualaikum WW,
>
>
>
> Feifei_Fairy yang dimuliakan Allah, postingan anda yang ini saya FWD ke
> Milis Spiritual-Indonesia http://groups.yahoo.com/group/spiritual-indonesia,
> bukan karena saya setuju dengan pemilihan kata2 anda seperti "murtad",
> "kebohongan", dsb... yang menurut selera saya terlalu VULGAR, melainkan
> karena artikel yang ditulis oleh Rekan Luthfi Assyaukanie itu memang
> berbobot.
>
>
>
> Kami lebih dari 1,240 orang di Milis Spiritual-Indonesia pada umumnya TIDAK
> PERDULI dengan agama orang. We know that religions are MADE, buatan manusia
> belaka, yang penting adalah spiritualitas: how we connect to the source of
> all sources, yang BISA melalui cara agama, dan BISA juga melalui tanpa
> agama.
>
>
>
> Agama cuma metode belaka, banyak rekayasa dan segala macam di dalam agama2
> itu (Kristen, Islam, Buddha, Hindu, bahkan Kejawen). Namanya juga hasil
> pemikiran manusia, tentu saja TIDAK SEMPURNA. Kita tahu segala kitab2 yang
> disucikan itu MEMANG tidak sempurna, so what gitu lho !
>
>
>
> Tidak ada yang sempurna, nothing is perfect, tidak ada kitab suci yang jatuh
> gedebuk dari atas langit, yang ada cuma MANUSIA BIASA yang mengalami
> halusinasi merasa didatengin oleh Jibril yang nama aslinya adalah Gabri El
> yang KONON merupakan malaikat pelindung Bangsa Yahudi.
>
>
>
> It's ok for me kalau Gabri El yang asalnya dari Yahudi akhirnya di Arab-kan,
> dan itu bukan karena nenek buyut saya keturunan Arab juga, melainkan karena
> saya mengerti bahwa memang seperti itulah caranya agama dibuat. Religion is
> made, segala macam mitos dan rekayasa itu VALID bagi pemeluknya yang masih
> "bodoh". Kalau sudah lebih pintar seperti anda dan saya, ya kita tinggalkan
> saja.
>
>
>
> Dan meninggalkan agama2 TIDAK BERARTI bahwa spiritualitas kita akan
> berkurang. Malahan kita akan lebih menjadi diri kita sendiri, menjadi lebih
> spiritual, lebih konek dengan the source of all sources as well as sesama
> yang menapaki jalan spiritual juga, apapun background agamanya, walaupun
> terkadang saya dimaki juga oleh Muslim fanatik sebagai antek Amerika,
> Ahmadiya lover, whatever. I don't care lah, suka2 lah ! Kita lahir TANPA
> agama, dan akan mati TANPA agama, so what gitu lho !
>
>
>
> Last but not least, kalau anda mau melepaskan retorika anda yang VULGAR itu,
> anda bisa join lagi di Milis Spiritual-Indonesia
> http://groups.yahoo.com/group/spiritual-indonesia yang sebenarnya
> UNMODERATED. Please understand, saya ini menganut FREE SPEECH, tetapi
> maki2an anda itu terlalu vulgar, it's BAD TASTE. Itulah alasannya kenapa
> secara spontan saya BAN anda dari Milis SI beberapa minggu lalu walaupun
> anda itu telah menjadi member selama hampir setahun. Siapa yang nggak kaget
> dibombardir dengan postingan2 yang isinya maki2an vulgar ???
>
>
>
> Tapi saya akui bahwa banyak dari postingan anda itu juga bersifat INFOMATIF,
> so I really hope that you could change sehingga bisa lebih diterima dengan
> kepala dingin oleh banyak orang. Maybe dengan nama baru ???
>
>
>
> Wassalam,
>
> Leo
>
>
>
> --- On Mon, 21/7/08, [EMAIL PROTECTED] <[EMAIL PROTECTED]>
> wrote:
>
> From: [EMAIL PROTECTED] <[EMAIL PROTECTED]>
> Subject: Kesaksian Luthfi Assyoukanie
> To: "Ulil Abshar-Abdalla" <[EMAIL PROTECTED]>, "Luthfi Assyaukanie"
> <[EMAIL PROTECTED]>, [EMAIL PROTECTED], [EMAIL PROTECTED],
> [EMAIL PROTECTED], [EMAIL PROTECTED],
> [EMAIL PROTECTED],
> [EMAIL PROTECTED], "Agus Hamonangan"
> <[EMAIL PROTECTED]>, "Hudzaifah Ibnul"
> <[EMAIL PROTECTED]>, [EMAIL PROTECTED], "Jemmy"
> <[EMAIL PROTECTED]>, [EMAIL PROTECTED], "DOMBA2 KAFIR"
> <[EMAIL PROTECTED]>, "DOMBA2 KAFIR" <[EMAIL PROTECTED]>, "DOMBA2
> KAFIR" <[EMAIL PROTECTED]>, "DOMBA2 KAFIR" <[EMAIL PROTECTED]>, "DOMBA2
> KAFIR" <[EMAIL PROTECTED]>, [EMAIL PROTECTED], "H. M."
> <[EMAIL PROTECTED]>, "mediacare" <[EMAIL PROTECTED]>,
> [EMAIL PROTECTED], [EMAIL PROTECTED],
> [EMAIL PROTECTED], [EMAIL PROTECTED], "Samuel Sam"
> <[EMAIL PROTECTED]>, "sang_candu" <[EMAIL PROTECTED]>, "budi
> sulistiyo" <[EMAIL PROTECTED]>, "yahoo2teguh" <[EMAIL PROTECTED]>,
> zamanku@yahoogroups.com
> Date: Monday, 21 July, 2008, 8:03 AM
>
> Kesaksian Luthfi Assyoukanie
>
> Berikut ini satu lagi contoh cendikiawan muslim yang murtad dari Islam.
> Karena hati nuraninya yang jujur telah sadar akan kebusukan Islam.
>
> ========================
>
> Minggu, 20 Juni 2004
> Fenomena Destruktif Ibn Warraq
>
> OLEH: LUTHFI ASSYAUKANIE*
> SEJAK beberapa tahun belakangan, studi keislaman dihebohkan oleh hadirnya
> seorang penulis yang menamakan diri Ibn Warraq. Ini adalah nama samaran sang
> penulis yang mengaku berasal dari India, melewati masa kecilnya sebagai
> muslim, dan kemudian belajar Islam di sebuah universitas ternama di Inggris.
> Seperti ditulis dalam otobiografinya, Why I am not a Muslim? (1995), Ibn
> Warraq mengaku telah keluar dari Islam dan memilih jalan agnostis, jika
> bukan ateis. Kekecewaannya terhadap Islam diekspresikan lewat
> tulisan-tulisannya yang mengandung semangat kebencian terhadap agama ini.
>
> Kehadiran Ibn Warraq bukan hanya meresahkan kalangan muslim "konservatif,"
> tapi juga para intelektual dan kalangan muslim liberal yang selama ini
> memiliki pandangan kritis terhadap (beberapa doktrin) Islam. Ibn Warraq
> dianggap telah merusak proyek pembaruan keagamaan yang dilakukan oleh para
> intelektual muslim. Apa yang dilakukannya lebih sebagai agenda destruksi
> ketimbang reformasi.
>
> Abdullah Saeed, seorang sarjana muslim asal Australia menganggap Ibn Warraq
> memiliki pandangan yang keliru (distorted) tentang Islam. Hal inilah yang
> agaknya membuatnya begitu antipati terhadap agama ini. Sikapnya yang begitu
> membenci Islam bahkan tak mencerminkan dirinya sebagai murid Montgomery
> Watt, orientalis yang selalu berusaha bersikap simpatik terhadap Islam.
>
> Ibn Warraq sangat produktif menulis buku yang sebagian besar merupakan
> kumpulan tulisan dari beberapa karya orientalis abad ke-19 dan ke-20.
> Kendati ada beberapa tulisan orientalis yang simpatik terhadap Islam, tetapi
> untuk bukunya Ibn Warraq lebih memilih tulisan-tulisan mereka yang antagonis
> dan antipati terhadap agama ini.
>
> Dalam karyanya tentang Nabi Muhammad (The Quest for the Historical Muhammad,
> 2000), Ibn Warraq misalnya mengumpulkan tulisan-tulisan para orientalis yang
> dikenal sebagai "pencemar dan pembunuh karakter" Muhammad, seperti Henri
> Lammens, C.H. Becker, Joseph Schacht, dan Lawrence I. Conrad. Pesan yang
> ingin disampaikan Ibn Warraq sangat jelas, yakni bahwa Rasulullah Muhammad
> adalah seorang nabi palsu, penipu, tukang kawin, dan seorang pemimpin yang
> haus darah.
>
> Dalam karyanya yang lain tentang Alquran (The Origins of the Koran: Classic
> Essays on Islam's Holy Book, 1998; dan What the Koran Really Says: Language,
> Text, and Commentary, 2002), Ibn Warraq juga mengumpulkan tulisan-tulisan
> orientalis ternama seperti Theodor Noldeke, Leone Caetani, Alphonse Mingana,
> Arthur Jeffery, David Margoliouth, and Andrew Rippin. Sayangnya, dia
> menyeleksi tulisan-tulisan mereka semaunya sehingga kerap menghilangkan
> konteks keseluruhan tulisan-tulisan aslinya. Tujuan dia lagi-lagi untuk
> menunjukkan sikapnya yang antipati terhadap Alquran. Mengutip Gibbon dan
> Carlyle, Ibn Warraq meyakini bahwa Alquran adalah "incoherent rhapsody of
> fable," dan "insupportable stupidity."
>
> Karya terbarunya, Leaving Islam (2003), juga merupakan kumpulan artikel dan
> laporan wawancara dia dengan beberapa orang (yang sayangnya semuanya anonim)
> dari Pakistan dan Bangladesh yang mengklaim telah keluar dari Islam alias
> murtad. Tujuan Ibn Warraq sangatlah jelas, yakni ia ingin memperlihatkan
> kepada pembacanya bahwa banyak orang Islam yang tidak tahan memeluk agama
> ini dan menyatakan diri keluar (murtad). Pokoknya, baginya, menjadi bukan
> Islam itu lebih baik daripada harus tetap memeluk Islam.
>
> Membaca dan mengikuti karya-karya Ibn Warraq, saya semakin yakin bahwa apa
> yang sedang dia lakukan sangat berbeda dari apa yang telah dan sedang
> dilakukan oleh para pembaru muslim selama ini yang berusaha melakukan
> kritik-kritik terhadap (beberapa doktrin) Islam tapi dengan tujuan
> memperbaiki agama ini. Para pembaru muslim seperti Muhammad Abduh, Fazlur
> Rahman, Mohammad Arkoun, dan Nurcholish Madjid, jelas tidak akan
> menganjurkan kaum muslim untuk membenci Islam, apalagi mengajak mereka
> keluar dari agamanya.
>
> Kekeliruan Ibn Warraq adalah bahwa ia tidak melihat sedikitpun sisi baik
> dari Islam dan bahkan berusaha mengabaikan bahwa agama ini pernah punya
> peran positif bagi peradaban manusia. Dia juga tampaknya tidak mengerti
> bahwa nama "warraq" merupakan salah satu simbol masa kejayaan peradaban
> Islam. Di masa silam, "warraq" berarti pedagang atau distributor buku yang
> bertugas menyalin karya-karya para ulama. Buku merupakan ikon peradaban
> Islam yang sangat penting. Salah seorang warraq ternama adalah Ibn Nadiem,
> seorang muslim yang taat dan pengarang kitab terkenal, Al-Fihrist.
>
> Ibn Warraq tampaknya juga tak menyadari bahwa semangat "kritisisme" dalam
> Islam, seperti yang tampak pada para "pemikir bebas" muslim seperti Ibn
> Rawindi, Abu Bakar al-Razi, Al-Ma'arri, dan Ibn Sina bukanlah para penulis
> yang seenaknya mencaci-maki Islam, apalagi menyatakan diri telah keluar dari
> Islam. Kritik-kritik mereka adalah kritik membangun sebagai bagian dari
> tradisi intelektualisme Islam. Karenanya, tak heran jika mereka sendiri
> kemudian menjadi bagian dari mosaik yang memperindah peradaban Islam.
>
> Beberapa peresensi bukunya, seperti Fred M. Donner, menilai Ibn Warraq "tak
> jujur." Saya kira Ibn Warraq bukan cuma tak jujur, tapi kerap tampak naif.
> Misalnya dia sangat berapi-api mengajak seluruh kaum muslim keluar dari
> Islam, tapi sayangnya tak memberikan alternatif apa-apa setelah itu. Buku
> terbarunya, Leaving Islam, merupakan ikrarnya yang sangat gamblang yang tak
> lagi membuat para pembacanya ragu-ragu bahwa dia memang membenci Islam dan
> berusaha menghancurkan citra agama ini dengan segenap kemampuannya.
>
> Bagi saya, jelas ada perbedaan besar antara orang yang ingin mereformasi
> sebuah tradisi dengan orang yang ingin menghancurkan sama sekali tradisi itu
> (kendati kedua-duanya kerap memiliki kemiripan dalam hal kekritisan).
> Reformasi agama hanya mungkin dilakukan oleh orang yang benar-benar tumbuh
> dan hidup dalam tradisi agama, bukan orang yang menjauh dan berusaha keluar
> dari tradisi itu, apalagi dilakukan dengan cara-cara yang destruktif.
>
> *Luthfi Assyaukanie, kontributor Jaringan Islam Liberal (JIL)
>
> Dasar kepercayaan iman muslim dibangun diatas dusta,kebohongan dan teror
> pembunuhan yang biadab dimana saat zaman dan waktu sudah berubah kebenaran
> yang ada diungkapkan dan tidak bisa dihalangi ataupun
>
> ________________________________
>
> Search. browse and book your hotels and flights through Yahoo! Travel
>
> Send instant messages to your online friends http://uk.messenger.yahoo.com
> 



-- 
---
>> 08568585961
Y! : hawking_123

Kirim email ke