Fei Fei sering mempermasalahkan wong Islam kok solat menghadap Bait
Allah (Ka'bah),padahal dulunya Kristen juga memuliakan bait
Allah.Berhubung sudah gak punya lagi lantaran Bait Allah Yerusalem tsb
sudah dihancurkan oleh Jendral Titus ,maka diledeklah wong Islam yang
masih punya bangunan tsb.Padahal kalau disimak dari parable kebun
anggur.Hancurnya bait Allah Yerusalem dan diangkatnya paraclete dari
non Yahudi itu sudah dikatakan Yesus dlm parable kebun anggur.
Kerajaan Allah akan diambil darimu (Yahudi) dan dialihkana kebangsa
lain (non Yahudi) yang bisa menghasilkan buah.Kemarin juga ada posting
saya bahwa Yerusalem diramalkan bakal sepi.Judul posting
saya:Yerusalem dinubuatkan sepi,ramai Makah.
Jadi wong Kristen ingatlah bahwa wong Kristen dulu juga memuliakan
Bait Allah,kemudian sekarang gak lagi soalnya wis hancur.Beda dg Islam
masih kokoh berdiri .
Galo Petrus wayah Asar pergi ke Bait Allah.

Shalom,
Tawangalun.

Pembebasan di Gerbang Rumah Allah

Kotbah Minggu Letare 02 Maret 2008 :

gereja-dan-pemukiman-miskin.JPG

Dasar: Kisah Rasul 3:1-10

Ini adalah salah satu kisah penyembuhan yang sangat indah yang dicatat
di Alkitab. Suatu hari menjelang waktu sembahyang Petrus dan Yohanes
pergi ke Bait Allah. Di pintu masuk Bait Allah yang dinamakan Gerbang
Indah (peristiwa yang kelak membuat gerbang itu sesuai namanya) duduk
seorang pengemis. Dia lumpuh sejak lahirnya, dan tiap-tiap hari dia
diusung (tidak dikatakan oleh siapa, mungkin oleh keluarganya, mungkin
juga oleh sesama pengemis) lantas diletakkan di gerbang itu untuk
memohon belas kasihan dari para pengunjung Rumah Allah tersebut.
Ketika ia melihat Petrus dan Yohanes maka ia pun menengadahkan tangan
meminta sedekah. Petrus dan Yohanes berhenti berjalan dan menatap
seksama pengemis lumpuh itu. Petrus meminta orang lumpuh mengangkat
wajahnya dan menatap mereka. "Lihatlah kepada kami". Lalu si lumpuh
itu pun menatap mereka dengan penuh harap mendapatkan sesuatu.

Petrus berkata: Kami tidak punya emas atau perak. Tetapi kami punya
sesuatu yang dapat kuberikan padamu: Demi nama Yesus, orang Nazareth
itu, berjalanlah! Lalu ia memegang tangan kanan orang itu dan membantu
dia berdiri. Seketika itu juga kuatlah kaki dan mata kaki orang itu.
Lantas apa yang terjadi?

Orang yang tadinya lumpuh itu melonjak berdiri lalu berjalan ke sana
dan kemari dengan girangnya. Lalu ia mengikuti Petrus dan Yohanes ke
dalam Bait Allah. Penuh sukacita dia melompat-lompat memuji dan
memuliakan Allah. Orang banyak yang melihat dia berjalan sambil
memuji-muji Allah, mengenal dia sebagai orang yang biasanya duduk
meminta sedekah di Gerbang Indah Bait Allah itu, sehingga mereka
takjub dan tercengang tentang apa yang telah terjadi padanya.

PERTAMA: TUHAN MENGAJAK KITA PEKA MELIHAT REALITAS KEHIDUPAN.

Realitas hidup, dulu atau sekarang, tidak seluruhnya dan selamanya
baik. Salah satu contoh kenyataan hidup yang buruk itu kita temukan di
Gerbang Indah Bait Allah. Yaitu hidup seorang pengemis atau
peminta-minta, yang duduk sepanjang hari memohon belas kasihan orang
agar dapat meneruskan hidupnya. Dikatakan setiap hari dia harus
diusung (!) dan diletakkan di gerbang itu agar dapat meminta-minta.
Itu adalah suatu kondisi yang benar-benar buruk, yang menunjukkan
betapa si lumpuh ini sangat tergantung (dependen) kepada orang-orang
yang mau mencecerkan belas kasihan kepadanya. Namun bukan hanya itu:
dia disebutkan lumpuh sejak lahir. Pemahaman umum saat itu (juga kini)
menganggap orang lumpuh sejak lahir adalah orang berdosa atau atau
menanggung dosa orangtuanya. Lengkaplah penderitaannya sebagai
manusia: miskin, lumpuh, dan dicap berdosa. Mungkin juga masih
ditambah dengan kondisi sakit-sakitan dan kumuh.

Realitas kehidupan yang sangat mengenaskan ini saban hari menghadang
orang-orang saleh yang ingin sembahyang di Rumah Allah, termasuk Rasul
Petrus dan Yohanes. Mungkin bagi banyak pengunjung Rumah Allah (dulu
dan juga sekarang) ini sudah menjadi pemandangan biasa dan karenanya
bukan saja tidak perlu dipusingkan tetapi juga dianggap wajar dan
normal. Sebagian orang lagi mungkin beranggapan kemiskinan atau cacat
fisik sebagai nasib yang bersangkutan atau kehendak Ilahi yang tidak
terubahkan. Sebagian mungkin tidak melihat atau pura-pura tidak
melihat realitas itu sebab tujuannya hanya satu: beribadah. Yang lain
lagi mungkin berpikir itu bukan urusannya. Atau cukuplah dia
menjatuhkan beberapa keping uang sebagai tanda iba.

Namun kisah di atas menuturkan Rasul Petrus dan Yohanes menghentikan
langkahnya dan menunda masuk ke dalam Bait Allah itu. Padahal waktu
sembahyang sudah menjelang. Sembahyang atau ibadah itu sangat penting.
Namun rupanya ada yang sama pentingnya dengan ibadah dan sembahyang
itu: menyapa seorang anak manusia yang terpuruk di realitas hidup.
Hati saya terusik bertanya: mengapa Petrus dan Yohanes mendahulukan
menolong orang lumpuh itu daripada beribadah? Kenapa penyembuhan itu
tidak dilakukan nanti saja sesudah mereka selesai beribadah?

Kisah ini adalah suatu renungan yang benar-benar mengusik hati
orang-orang beragama dan saleh sepanjang jaman. Dalam perjalanan kita
menuju gereja, retret, ibadah, atau kebangunan rohani sering kali kita
juga dicegat dan dihadang oleh realitas kehidupan yang sama atau lebih
buruk daripada si lumpuh di Gerbang Bait Allah itu: anak-anak yang
bunuh diri karena tidak punya makanan, pembantu rumah tangga yang
mencari peruntungan ke luar negeri dan pulang lebam-lebam atau jadi
mayat karena disiksa majikannya, ibu yang tertangkap mencuri susu di
toko karena tidak sanggup membeli susu untuk bayinya, petani-petani
yang dicengkeram tengkulak, anak-anak jalanan yang setiap saat bisa
korban sodomi, remaja-remaja putri yang menjual diri atau dijual
orangtuanya demi mendapatkan uang, dan seterusnya. Dan seterusnya.

Apakah kita melihat mereka dan meminta mereka memandang mata kita
seperti yang dilakukan dua murid Yesus itu? menatap kita? Apakah yang
lantas kita katakan: Emang gue pikirin? Itu bukan urusanku? Salah
mereka sendiri? Itu sudah nasibnya? Aku sedang ingin beribadah dan tak
mau diganggu?

Menurut saya gereja-gereja dan kekristenan kita di Indonesia
benar-benar sedang diuji. Ya, iman kita, kesalehan dan kasih kita
sedang diuji oleh realitas kehidupan yang buruk yang sedang terjadi di
kehidupan di luar pintu indah gereja kita. Kini sedang berkembang di
tengah-tengah kita suatu bentuk dan gaya kekristenan yang justru
sangat jauh dari pola hidup Yesus dan murid-muridNya. Yaitu suatu
kekristenan yang cenderung hanya ingin "fun" atau bersenang-senang
sendiri dan sama sekali tidak memiliki sensitifitas bahkan keperdulian
terhadap persoalan-persoalan real kehidupan.

Dengan dukungan dana, teknologi, organisasi dan jaringan kepada kita -
dan terutama anak-anak muda kita - sedang dicekoki dan didesakkan
suatu ajaran kekristenan yang sangat egoistis dan hedonistik. Yaitu
kekristenan minus keperdulian dan keterlibatan sosial, yang
sesungguhnya sangat bertolak belakang dengan Injil dan Roh Yesus.
Lebih konkrit: gaya kekristenan yang hanya sibuk dengan ibadah atau
pembangunan rumah ibadah, namun sama sekali tidak ambil pusing
terhadap realitas kehidupan: ketidakadilan, pemiskinan, kebangkrutan
hukum, pengerusakan lingkungan, kriminalitas, konflik sosial dan
ancaman terhadap demokrasi.

KEDUA: TUHAN MEMANGGIL KITA MENJADI ALAT PEMBEBASAN DAN PEMBERDAYAAN

Si lumpuh di Gerbang Indah Rumah Allah mengharapkan sekadar belas
kasihan dari kedua rasul ini. Tidak lebih dari itu. Namun dia justru
mendapatkan apa yang tidak mampu dibayangkan dan diharapkannya lagi.
Yaitu: pembebasan hidupnya. Dalam nama Yesus, orang Nazareth, yang
menderita dan mati tersalib, serta dibangkitkan oleh Allah itu, Petrus
membebaskan peminta-minta itu dari kelumpuhannya, ketergantungannya
kepada belas kasihan orang lain, dan juga stigma yang ditempelkan
kepadanya sebagai pendosa besar yang dikutuk Allah.

Di sini kita menemukan makna sebenarnya diakonia sekaligus ibadah
gereja, yaitu: pemutusan rantai atau belenggu kemiskinan,
ketidakberdayaan, ketergantungan dan nasib. Diakonia gereja bukanlah
sekadar pemberian belas kasihan (pemberian sekardus mi instan dan
biskuit saat banjir, sumbangan pakaian bekas ke panti asuhan, atau
selembar-dua lembar uang pembeli makanan) tetapi pembebasan,
pemberdayaan dan pemandirian hidup. Si lumpuh, si buta dan si miskin
harus dimampukan bergerak dan berkarya serta bertanggungjawab atas
dirinya dan bagi sesamanya. Itulah yang dilakukan oleh Petrus di
Gerbang Indah Bait Allah justru menjelang waktu sembahyang.

Kita orang-orang Kristen yang hidup di jaman moderen tidak perlu
berambisi dan bernafsu membuat hal-hal ajaib, spektakuler, dan besar
mencengangkan dalam waktu seketika, persis seperti yang dikerjakan
Yesus dan kedua muridNya Petrus dan Yohanes itu. Pekerjaan
penyembuhan, pembebasan dan pemberdayaan (secara fisik, sosial,
intelektual, dan spiritual) seringkali membutuhkan waktu yang lama dan
proses yang panjang, juga tahapan demi tahapan. Kita, gereja dan
orang-orang Kristen, jangan bermimpi hendak mengubah realitas
kehidupan dalam semalaman berdoa, satu kebangunan rohani, atau satu
kunjungan kasih. Namun kita diajak untuk mengikut Yesus dan
murid-muridNya melakukan upaya-upaya pembebasan dan penguatan
masyarakat itu dengan sungguh-sungguh, bersemangat, tekun dan sabar,
serta beriman.

Petrus dan Yohanes jujur ketika mengatakan "emas dan perak tidak ada
padaku" (Anda jangan katakan hal itu jika memang emas dan perak itu
ada dan banyak pada Anda!). Pertanyaan: apakah yang kita miliki yang
dapat kita sumbangkan sebagai gereja dan orang-orang Kristen di
Indonesia bagi kehidupan, bagi pembebasan dan pemberdayaan orang-orang
miskin dan lemah? Maukah kita menyumbangkan tanpa pamrih waktu,
tenaga, dana, kepintaran, organisasi, jaringan, semangat dan
persekutuan kita untuk membuat orang-orang miskin dan tak berdaya
dapat bangkit, hidup mandiri dan menjadi manusia seutuhnya? Ataukah
semua itu hanya untuk diri kita sendiri saja? (Jika ya, ingatlah saat
menerima Perjamuan Kudus besok bahwa yang Saudara makan dan minum itu
adalah tubuh dan darah orang egois dan hedonis, tetapi Orang yang
justru rela menderita dan mati demi kasihNya kepada banyak orang).

KETIGA: TUHAN MENGAJAK KITA MENJADI SUMBER SUKACITA

Minggu ini, menurut kalender ibadah, adalah minggu Letare atau minggu
sukacita. Petrus dan Yohanes - dalam nama Yesus - membuat orang yang
lumpuh sejak lahirnya itu benar-benar bergirang dan bersukacita.
Alkitab mengatakan: sesudah ditolong oleh Petrus dan Yohanes bangkit
berdiri, orang itu berjalan kesana-kemari, melompat-lompat,
bersorak-sorai memuji Allah.

Pertanyaan: siapakah yang telah Saudara dan saya bantu untuk bangkit
berdiri? Siapakah yang telah Saudara bantu sehingga dia begitu
girangnya dan bersukacita memuji-muji kebaikan Allah?

Tuhan Allah menempatkan dan memberkati kita orang-orang Kristen di
Indonesia agar kita juga bisa menjadi sumber kegirangan dan
kebahagiaan banyak orang. Bukan sukacita sesaat atau semu, tetapi
sukacita kebahagiaan sejati yang keluar dari jiwa dan tubuh yang telah
dibebaskan, diberdayakan dan dimandirikan.

Kisah penyembuhan di gerbang indah Bait Allah ini mengajak kita
merenungkan ulang tentang makna Injil atau Kabar Baik. Injil yang
dibawa oleh Yesus, dan diteruskan oleh Petrus dan Yohanes, bukanlah
sekadar kata-kata, apalagi kata-kata kosong dan hampa. Injil adalah
sebuah aksi atau tindakan pembebasan dan pemberdayaan yang secara
spontan melahirkan sukacita dan pujian kepada Allah dalam diri
orang-orang yang menerimanya dan mengalaminya. Dan pada saat yang sama
menambahkan lagi sukacita bagi yang memberikannya.

Saya tidak mengatakan hidup Saudara apalagi saya sempurna, tidak
bermasalah atau jauh dari segala kekurangan. Saya juga tidak
mengatakan gereja-gereja dan orang-orang Kristen semua kebutuhan
hidupnya sudah tercukupi dan bahkan berlimpah-limpah. Namun baiklah
kita ingat bahwa kekurangan, masalah, kebutuhan dan kepentingan,
bahkan ibadah sekali pun, tidak pernah diijinkan Tuhan jadi alasan
bersikap egoistis dan tidak memperdulikan realitas kehidupan di
sekitar kita. Sebab itu dalam kenyataan hidup marilah kita mengikut
Tuhan dan rasul-rasulnya menatap seksama orang-orang yang jauh lebih
miskin, kecil, lemah dan sakit dibanding kita sambil berkata:
pandanglah mataku, apakah yang dapat kuberikan kepadamu?

AMIN.

Pdt Daniel Taruli Asi Harahap



Kirim email ke