Jihad Islam Lawan Hindu
 

 


 Jihad yang Lain: Perang Islam Melawan Hindu 
oleh Janel Levy 
04 Jan, 2008 

Ulasan dari buku: 
The Art of War on Terror: Triumphing over Political Islam and the Axis of Jihad 
oleh Moorthy Muthuswamy 
Paperback, 2007, tebal: 236 halaman, harga $21.95 

Ada kemungkinan bahwa Pakistan dan senjata nuklirnya akan jatuh ke tangan para 
jihadis. Jihad di Asia Selatan tidak begitu dikenal di dunia, meskipun tidak 
kurang kejamnya dibandingkan jenis perang lain yang dirancang Setan Besar 
Amerika dan Setan Kecil Israel. 

Umat Hindu berjumlah sekitar satu milyar di dunia, dan kebanyakan hidup di anak 
benua India. Hindu merupakan agama ketiga terbesar di dunia setelah Kristen (2 
milyar) dan Islam (1,5 milyar). Tapi jumlah besar umat Hindu ini tidak 
menghindarkan mereka dari serangan Muslim yang terus-menerus berlangsung di 
India, Pakistan, dan Bangladesh. 

Sudah nyata bahwa jihad terhadap non-Muslim India semakin meningkat di beberapa 
dekade terakhir ini. Pemerintah India dan organisasi2 kemanusiaan tidak berbuat 
banyak atau malah diam saja melihat serangan demi serangan terhadap umat Hindu. 
Media juga jarang mengisahkan penghancuran tempat2 ibadah Hindu dan intimidasi 
tak berkeputusan terhadap umat Hindu. Pemerintah India memberi hak2 istimewa 
pada Muslim di India, tapi Pemerintah Pakistan dan Bangladesh, yang menerapkan 
UU berdasarkan Sharia, tetap saja menerapkan diskriminasi agama terhadap 
non-Muslim. Masyarakat Hindu di Pakistan dan Bangladesh tidak bisa mendapatkan 
kedudukan penting dalam Pemerintahan, sukar mendapatkan pinjaman untuk buka 
bisnis, dituduh menghujat Muhammad dan di KTP-nya juga ditulis sebagai 
non-Muslim (ini mengakibatkan perlakuan diskriminatif dari mayoritas Muslim). 

Di bukunya yang terakhir yang berjudul The Art of War on Terror: Triumphing 
over Political Islam and the Axis of Jihad (Seni Perang Teror: Mengatasi 
Politik Islam dan Poros Jihad), Moorthy Muthuswamy mengungkapkan kampanye 
Muslim melawan Hindu yang jarang diketahui dan dikabarkan. Muthuswamy 
menerangkan metodologi dan basis ideologi politik Islam, lengkap dengan catatan 
sejarah 60 tahun jihad di India, terutama peranan2 yang dimainkan oleh negara2 
yang dia sebut sebagai “poros jihad”, dan dia juga menawarkan pemecahan2 
masalah dalam menghadapi ancaman jihad. 

Akar jihad di anak benua India dimulai di tahun 1947, tatkala Inggris 
meninggalkan Asia Selatan dan memberikan kemerdekaan pada negara2 India dan 
Pakistan. India memilih mendirikan Pemerintahan demokrasi sekuler dan sistem 
hukum berdasarkan Commonwealth Inggris dan Hukum Parlemen. Hal ini berbeda 
dengan Pakistan yang dibentuk oleh Liga Muslim yang menamakan negara itu 
Republik Islam Pakistan. Pakistan memilih dasar hukum Islam. Saat itu, 
minoritas Hindu di Pakistan Barat berjumlah 29% dari seluruh populasi dan 23% 
dari seluruh populasi Pakistan Barat. Tapi sejak dimulainya perang India – 
Pakistan di tahun 1971, sekitar 2,5 juta warga Hindu Pakistan dibantai. Tak 
lama kemudian, Pakistan Timur mendirikan Republik Rakyat Bangladesh, dan 10 
juta masyarakat Hindu melarikan diri ke India. 

Dalam laporan tahun 1971 pada komite hukum Senat AS yang meneliti masalah 
pengungsi dan penduduk di Asia Selatan, Senator AS Edward Kennedy menulis 
keadaan sebagai berikut, 
“Laporan keadaan pada Pemerintah AS, saksi mata jurnalis yang tak terhingga 
banyaknya, laporan2 dari badan2 Internasional seperti World Bank dan informasi 
tambahan yang ada untuk dokumen sub komite tentang teror yang terjadi di Bengal 
Timur (Pakistan Timur). Yang paling jadi korban adalah masyarakat Hindu yang 
dirampok tanah dan toko2nya, dibantai secara sistematis, dan di beberapa 
tempat, dicat kuning dengan tulisan ‘H’. Semua ini telah ditetapkan, 
diperintahkan, dan dilakukan secara resmi di bawah UU darurat dari Pemerintah 
di Islamabad.” [1] 

Pada tanggal 23 April, 1977, Bangladesh mengubah UU-nya dan menolak sekulerisme 
dan membaktikan dirinya pada solidaritas Islam. Di tahun 1988, Islam menjadi 
agama resmi negara dan Sharia jadi hukum negara. Di tempat lain di Lembah 
Kashmir, India, dalam jangka waktu 20 tahun Muslim telah melakukan berbagai 
teror untuk mengIslamkan daerah itu dan memperluas daerah kekuasaan Pakistan 
dengan memasukkan Kashmir. Pada akhirnya, Muslim telah mengenyahkan 350.000 
penduduk Hindu Kashmir dan telah membunuh, memperkosa, dan menculik mereka. 

Di bukunya, Muthuswamy menjelaskan bagaimana agama dan sistem Islam telah 
berfungsi untuk menyulut dan bahkan menuntut usaha terus-menerus untuk 
memusnahkan seluruh populasi non-Muslim. Mesjid2 dan madrasah2 menjadi pusat 
kekuatan dan pilar utama kehidupan Islam, dengan menerapkan dan membentuk 
kehidupan Islam sehari-hari. Kontrol total diterapkan dengan cara mencegah 
kemajuan dan kesehatan dan memaksakan trilogi Islami: Qur’an, hadis dan Sira. 
Imam2 Muslim menolak pendidikan modern dan hanya mengajarkan Qur’an saja dan 
melakukan tujuan suci jihad. Hasilnya adalah masyarakat yang bodoh, 
terbelakang, miskin, dan mudah diindoktrinasi. Sistem ini bergantung pada para 
pemimpin agama dan organisasi2 Islam yang hanya bisa menyediakan pelayanan yang 
sangat terbatas bagi kebutuhan masyarakat. Hal ini membuat Muslim mudah 
dimanipulasi dan selalu merasa jadi korban dan cenderung bermusuhan, dan semua 
ketidak puasan ini dengan mudah lalu diarahkan dan
 dilampiaskan kepada non-Muslim. 

Doktrin Islam juga berperan besar dalam pembentukan dan penyebaran ideologi 
politik yang menuntut dilakukannya perang agama dengan tujuan mendirikan 
kekalifahan Islam di seluruh dunia, di bawah Sharia Islam, begitu tulis 
Muthuswamy. Ideologi ini berdasar pada trilogi Islam, yakni Qur’an yang berisi 
firman Allah, biografi Muhammad (Sirat Rasul Allah), dan sunnah nabi (ahadis). 
Konsep Hukum Emas, “Perlakukan orang lain seperti kau sendiri ingin 
diperlakukan” yang merupakan pesan utama agama2 umumnya, tidak ada dalam Islam. 
Dunia Muslim secara sederhana dibagi dalam dua pihak: Muslim dan kafir. Aturan2 
Islam yang paling dekat dengan Hukum Emas adalah jangan zinah, jangan bohong, 
atau membunuh Muslim lainnya. Akan tetapi, hal ini boleh2 saja dilakukan 
terhadap non-Muslim karena memang Muslim diharuskan untuk menaklukkan 
Dar-al-Harb (tanah kafir yang harus diperangi), dan mengubahnya menjadi 
Dar-al-Islam (tanah atau dunia Islam). 

Muthuswamy mengutip penelitian akan Qur’an yand dilalukan oleh badan Pusat 
Politik Islam. Menurut badan ini, dari seluruh trilogi Islam (Qur’an, Sirat 
Rasul Allah, dan Hadis) hanya 17% yang berhubungan dengan Allah. Sisanya 83% 
berhubungan dengan kata2 dan perbuatan Muhammad. Di seluruh trilogi tentang 
“neraka”, 6% adalah tentang dosa moral, sedangkan 94% adalah tentang hukuman 
bagi mereka yang tidak setuju dengan Muhammad. Analisa statistik trilogi Islam 
mengungkapkan bahwa 97% isinya adalah tentang perang jihad dan hanya 3% tentang 
jihad “pengorbanan jiwa.” [2] 

Memang sudah direncanakan Muslim agar tiada bentuk Islam moderat di India, 
negara demokrasi sekuler non-kulit putih, non-Kristen, yang sedang berkembang. 
Di India, masalah2 masyarakat Muslim yang diakibatkan oleh Muslim sendiri 
selalu diarahkan untuk menyerang “penindas” non-Muslim. Hal ini persis sama 
dengan yang dilakukan oleh Palestina Arab dalam usahanya melakukan jihad dan 
bukannya mengembangkan pendidikan dan usaha ekonomi. Sama seperti India Muslim, 
Palestina Arab pun menyalahkan Israel karena kegagalan mereka sendiri. Karena 
itulah, dalam enam dekade terakhir, sejarah India dipenuhi dengan usaha2 
pemusnahan non-Muslim melalui serangan2 teroris, juga dengan hak2 istimewa bagi 
Muslim dan sikap tak bertoleransi terhadap Hindu. 

Muslim India menuntut kekuasaan yang lebih besar dengan cara menerapkan status 
korban pada diri sendiri dan mengancam untuk melakukan kekerasan membabi-buta. 
Di India Selatan, Muslim tidak mampu bersaing di bidang pendidikan dan 
pekerjaan. Penelitian Pemerintah menunjukkan bahwa Muslim tidak memiliki 
kemampuan yang memadai untuk mendapatkan pekerjaan dan pendidikan yang layak. 
Undang2 Aksi Pencegah Terorisme 2002 ditiadakan di tahun 2006 karena Muslim 
menganggap UU itu sebagai anti-Muslim. Baru2 ini di Kashmir, Undang2 India 
dibatalkan dan Sharia diterapkan sebagai hukum daerah itu. Sudah jadi taktik 
Muslim untuk merasa menjadi korban terlebih dahulu, padahal di saat yang 
bersamaan mereka membunuhi non-Muslim India melalui serangan2 teroris. Sikap 
Muslim India ini sama dengan Palestina Arab yang menuduh Israel menerapkan 
apartheid karena Israel mendirikan tembok pengaman dan pusat pemeriksaan untuk 
mencegah pembom bunuh diri Islam yang ingin masuk ke
 Israel. Muslim meraih kekuasaan politik dengan cara menjadi mayoritas di tanah 
itu; lalu menuntut hak2, hukum, dan kondisi spesial; sambil tak lupa 
mengenyahkan non-Muslim dari tanah tersebut. 

Perseteruan dengan Muslim di India yang terus berlangsung menunjukkan bahwa 
tidak mungkin tercapai kedamaian dalam hidup bersama Muslim dan Muslim tidak 
akan pernah terpuaskan. Usaha Muslim untuk menaklukkan non-Muslim memang sudah 
ditulis dalam ajaran agamanya. Kekuasaan Islam bertambah besar dengan cara 
mengambil tanah non-Muslim dan secara etnis memusnahkan non-Muslim dari tanah 
miliknya sendiri. Pembantaian massal terhadap kafir secara bertahap terjadi di 
seluruh Pakistan, Bangladesh dan segala pelosok India. Populasi Muslim tumbuh 
pesat 1,5 kali lipat dibandingkan non-Muslim dan ancaman2 fisik dan keputusan2 
politik dilakukan untuk menyempurnakan kekuasaan mutlak Muslim. 

Hanya ada sedikit harapan bagi terciptanya reformasi Islam. Agama2 lain memang 
sudah mengalami reformasi dengan mengurangi kekuasaan pemimpin2 agama. Yang 
terjadi pada Islam saat ini malah sebaliknya. Islam sekarang jadi semakin 
menindas, pengadilan2 sharia dan Wahabisme semakin berkembang, dan sikap anti 
agama lain telah ditegakkan. Tiada versi Islam moderat karena mesjid2 yang 
berani mengajukan paham ini akan diancam dan tidak akan didanai. Fokus Islam 
ada pada indoktrinasi, pertumbuhan jumlah Muslim yang pesat, memerangi pihak 
yang menentangnya, dan melakukan infiltrasi sebagai bagian dari jihad global, 
yakni perang agama total melawan negara2 kafir dengan tujuan mengIslamkan 
dunia. 

Muthuswamy melanjutkan bahwa fokus Amerika akan poros kejahatan (Iran, Korea 
Utara, dan Irak) tidaklah tepat karena Amerika harus mengalihkan perhatian 
terhadap poros jihad: Saudi Arabia, Pakistan, dan Iran. Dia menulis bahwa baik 
Saudi Arabia maupun Pakistan mengakui keabsahan Pemerintah Taliban di 
Afghanistan. Uang minyak Saudi telah mendanai pertumbuhan fanatisme Islam dunia 
dan menyebarkan paham Wahabi melalui mesjid2 dan madrasah2 di seluruh dunia 
sambil tak lupa melatih imam2 radikal. Keluarga kerajaan Saudi juga mendanai 
kelompok teroris dunia, Jamaat-e-Islami, partai mayoritas Pakistan dan kekuatan 
politik utama di Bangladesh. Baik Saudi Arabia dan Iran telah mendanai pusat2 
latihan teroris, dan Riyadh membantu mendirikan basis2 teror untuk jihad di 
India dan usaha kekuasaan Islam di Turki. Uang dari Saudi Arabia dan Iran 
mendanai mesjid, sekolah, jaringan sosial dan jihad dalam masyarakat Muslim, 
termasuk kekuatan teroris terkemuka seperti Al
 Qaeda, Hezbollah, dan Taliban. 

Amerika Serikat salah mengerti tentang Islam karena menganggap Islam sebagai 
agama biasa dan bukanlah ideologi politik, begitu tulis Muthuswamy. Anggapan 
ini merupakan hasil dari azas bebas beragama, katanya lagi. Muthuswamy yakin 
bahwa Amerika Serikat jadi lemah karena azas bebas beragama ini dan AS perlu 
fokus kembali kepada pengembangan sains dan teknologi. “Masyarakat yang 
berdasarkan informasi” seperti India dan China jauh lebih kuat daripada 
masyarakat yang berdasarkan agama, tulis Muthuswamy. Dia menambahkan bahwa 
agama menghalangi fungsi masyarakat di dunia modern dan agama perlu diganti 
dengan kesadaran nurani dan ilmu pengetahuan. 

Di bagian akhir bukunya yakni bab “Policy Response” (Kebijaksanaan untuk 
Penanggulangan Masalah), Muthuswamy menganjurkan beberapa tindakan bagi 
Amerika. Dia menunjukkan cara memperlemah politik Islam melalui pembantahan 
dasar theologi Islam dan membuat Muslim jadi gundah. Dia menganjurkan perubahan 
fokus untuk tidak lagi terpusat pada kelompok2 teroris dan poros kejahatan, 
tapi fokus kepada poros jihad, bahkan kalau perlu menuntut Saudi Arabia, 
Pakistan, dan Iran sebagai pelaku tindakan kriminal atas humanitas. Muthuswamy 
lebih jauh menganjurkan agar India memperkuat diri dengan cara menjalin 
hubungan dengan Israel, sebagai cara melawan politik Islam dan poros jihad. 
Untuk menghadapi ancaman fisik jihad global, dia merasa perlu dikembangkan 
strategi pembalasan dengan senjata nuklir melawan negara2 yang melakukan perang 
jihad.. 
----------------------- 
[1] "Crisis of South Asia" report by Senator Edward Kennedy to the Subcommittee 
investigating the Problem of Refugees and Their Settlement, Submitted to U.S. 
Senate Judiciary Committee, November 1, 1971, U.S. Govt. Press, pp.66. 
[2] William Warner, "The Study of Political Islam," FrontPage Magazine, 
February 5, 2007.

 




Wahai warga Hindu, terutama yang ada di Bali, waspadalah dan belajarlah dengan 
apa yang dialami masyarakat Hindu di India, Pakistan, dan Bangladesh. 
Jika kalian membiarkan mesjid2 dibangun di Bali, apakah kalian pikir mereka 
hanya puas dengan punya mesjid saja? Apakah kalian pikir mereka akan mendiamkan 
kuil2 kalian? 
Pesan Muhammad sudah tertulis di atas Qur'an bahwa Muslim harus melakukan jihad 
dengan memerangi umat non-Muslim sampai Islam berkuasa di tanah kafir dan Islam 
menjadi agama yang dominan, yang utama! 
Islam dicampur Pancasila akan menjadi sekuler Islami seperti Soekarno dan 
Hatta. 
Islam dicampur Kejawen akan menjadi seperti Soeharto. 
Islam dicampur Kejawen dan Nasrani akan menjadi seperti Gus Dur. 
Tapi Islam murni tanpa campuran apapun akan menjadi seperti Imam Bonjol, Imam 
Samudra, Nurdin M Top, Ayatollah Khomeini, Osama bin Laden, dan jihadis2 
lainnya.

_________________


Dasar kepercayaan iman muslim dibangun diatas dusta,kebohongan dan teror 
pembunuhan yang biadab dimana saat zaman dan waktu sudah berubah kebenaran yang 
ada diungkapkan dan tidak bisa dihalangi ataupun dibendung serta kejahatan 
pembunuhan sudah dapat diantisipasi dan diminimalkan maka saat itu juga ambang 
kehancuran islam akan terjadi dan pada saatnya islam akan lenyap dan ini pasti 
terwujud. 
Feifei_fairy
 


      New Email names for you! 
Get the Email name you've always wanted on the new @ymail and @rocketmail. 
Hurry before someone else does!
http://mail.promotions.yahoo.com/newdomains/sg/

Kirim email ke