Adam dan Hawa[11] 

Islam mencontek legenda Adam dan Hawa dari Perjanjian Lama dan mengadaptasinya 
menurut versi mereka sendiri. Penciptaan manusia dari satu orang disebutkan 
dalam surah berikut ini: 

[4.1] Hai sekalian manusia, bertakwalah kepada Tuhan-mu yang telah menciptakan 
kamu dari diri yang satu, dan daripadanya Allah menciptakan istrinya; dan 
daripada keduanya Allah memperkembang biakkan laki-laki dan perempuan yang 
banyak. Dan bertakwalah kepada Allah yang dengan (mempergunakan) nama-Nya kamu 
saling meminta satu sama lain, dan (peliharalah) hubungan silaturahmi. 
Sesungguhnya Allah selalu menjaga dan mengawasi kamu. 

[39.6] Dia menciptakan kamu dari seorang diri kemudian Dia jadikan daripadanya 
istrinya 

[7.189] Dialah Yang menciptakan kamu dari diri yang satu dan daripadanya Dia 
menciptakan istrinya, agar dia merasa senang kepadanya. 

Dari kisah singkat ini, teolog muslim menyimpulkan bahwa manusia adalah 
penciptaan khusus, orisinil – wanita diciptakan sekunder hanya bagi kenikmatan 
lelaki. Legenda tsb lalu berkembang utk menguatkan rendahnya wanita. Terakhir, 
legenda tsb diberikan karakter suci hingga jika dikritik sama saja dengan 
mengkritik perkataan Tuhan sendiri, yg mana perkataannya kekal dan mutlak. 
Inilah cara Muhammad menjelaskan wanita secara umum:“baik-baiklah pada wanita 
karena wanita diciptakan dari tulang rusuk, tapi dari bagian tulang yang 
melengkung, hingga jika kau mencoba meluruskannya, ia akan patah; jika tidak 
melakukan apa-apa ia akan terus melengkung.” 

Kisah Adam Hawa lebih jauh ada dalam: 

[2.35] Dan Kami berfirman: "Hai Adam diamilah oleh kamu dan istrimu surga ini, 
dan makanlah makanan-makanannya yang banyak lagi baik di mana saja yang kamu 
sukai, dan janganlah kamu dekati pohon ini, yang menyebabkan kamu termasuk 
orang-orang yang lalim. 

[2.36] Lalu keduanya digelincirkan oleh setan dari surga itu dan dikeluarkan 
dari keadaan semula dan Kami berfirman: "Turunlah kamu! sebagian kamu menjadi 
musuh bagi yang lain, dan bagi kamu ada tempat kediaman di bumi, dan kesenangan 
hidup sampai waktu yang ditentukan". 

[7.19] (Dan Allah berfirman): "Hai Adam bertempat tinggallah kamu dan istrimu 
di surga serta makanlah olehmu berdua (buah-buahan) di mana saja yang kamu 
sukai, dan janganlah kamu berdua mendekati pohon ini, lalu menjadilah kamu 
berdua termasuk orang-orang yang lalim". 

[7.20] Maka setan membisikkan pikiran jahat kepada keduanya untuk menampakkan 
kepada keduanya apa yang tertutup dari mereka yaitu auratnya dan setan berkata: 
"Tuhan kamu tidak melarangmu dari mendekati pohon ini, melainkan supaya kamu 
berdua tidak menjadi malaikat atau tidak menjadi orang yang kekal (dalam 
surga)". 

[20.120] Kemudian setan membisikkan pikiran jahat kepadanya, dengan berkata: 
"Hai Adam, maukah saya tunjukkan kepada kamu pohon khuldi dan kerajaan yang 
tidak akan binasa?" 

[20.121] Maka keduanya memakan dari buah pohon itu, lalu nampaklah bagi 
keduanya aurat-auratnya dan mulailah keduanya menutupinya dengan daun-daun 
(yang ada di) surga, dan durhakalah Adam kepada Tuhan dan sesatlah ia. 

Tuhan menghukum Adam dan Hawa karena melanggar perintahNya. Tapi tidak ada 
dalam ayat ini disebutkan bahwa Hawa-lah (seperti dalam Perjanjian Lama) yang 
menyebabkan Adam sesat. Tapi para juru tafsir dan ulama menciptakan mitos 
Hawa-lah sang penggodanya dan sejak itu menjadi bagian tak terpisahkan dalam 
kisah muslim. Muhammad sendiri mengatakan:“Kalau bukan karena Hawa, wanita 
tidak akan tidak setia pada suaminya.” 

Hadis islam juga menuduh wanita tidak jujur dan penuh tipu muslihat dan 
mendapat dukungan dari ayat Quran berikut: 

[12.22-34] Dan tatkala dia cukup dewasa, Kami berikan kepadanya hikmah dan 
ilmu. Demikianlah Kami memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat baik. 

Dan wanita (Zulaikha) yang Yusuf tinggal di rumahnya menggoda Yusuf untuk 
menundukkan dirinya (kepadanya) dan dia menutup pintu-pintu, seraya berkata: 
"Marilah ke sini." Yusuf berkata: "Aku berlindung kepada Allah, sungguh tuanku 
telah memperlakukan aku dengan baik." Sesungguhnya orang-orang yang zalim tiada 
akan beruntung. 

Sesungguhnya wanita itu telah bermaksud (melakukan perbuatan itu) dengan Yusuf, 
dan Yusuf pun bermaksud (melakukan pula) dengan wanita itu andaikata dia tiada 
melihat tanda (dari) Tuhannya. Demikianlah, agar Kami memalingkan daripadanya 
kemungkaran dan kekejian. Sesungguhnya Yusuf itu termasuk hamba-hamba Kami yang 
terpilih. 

Dan keduanya berlomba-lomba menuju pintu dan wanita itu menarik baju gamis 
Yusuf dari belakang hingga koyak dan kedua-duanya mendapati suami wanita itu di 
muka pintu. Wanita itu berkata: "Apakah pembalasan terhadap orang yang 
bermaksud berbuat serong dengan istrimu, selain dipenjarakan atau (dihukum) 
dengan azab yang pedih?" 

Yusuf berkata: "Dia menggodaku untuk menundukkan diriku (kepadanya)", dan 
seorang saksi dari keluarga wanita itu memberikan kesaksiannya: "Jika baju 
gamisnya koyak di muka, maka wanita itu benar dan Yusuf termasuk orang-orang 
yang dusta. 

Dan jika baju gamisnya koyak di belakang, maka wanita itulah yang dusta, dan 
Yusuf termasuk orang-orang yang benar." 

Maka tatkala suami wanita itu melihat baju gamis Yusuf koyak di belakang 
berkatalah dia: "Sesungguhnya (kejadian) itu adalah di antara tipu daya kamu, 
sesungguhnya tipu daya kamu adalah besar." 

(Hai) Yusuf: "Berpalinglah dari ini dan (kamu hai istriku) mohon ampunlah atas 
dosamu itu, karena kamu sesungguhnya termasuk orang-orang yang berbuat salah." 

Dan wanita-wanita di kota berkata: "Istri Al Aziz menggoda bujangnya untuk 
menundukkan dirinya (kepadanya), sesungguhnya cintanya kepada bujangnya itu 
adalah sangat mendalam. Sesungguhnya kami memandangnya dalam kesesatan yang 
nyata." 

Maka tatkala wanita itu (Zulaikha) mendengar cercaan mereka, diundangnyalah 
wanita-wanita itu dan disediakannya bagi mereka tempat duduk, dan diberikannya 
kepada masing-masing mereka sebuah pisau (untuk memotong jamuan), kemudian dia 
berkata (kepada Yusuf): "Keluarlah (nampakkanlah dirimu) kepada mereka." Maka 
tatkala wanita-wanita itu melihatnya, mereka kagum kepada (keelokan rupa) nya 
dan mereka melukai (jari) tangannya dan berkata: "Maha sempurna Allah, ini 
bukanlah manusia. Sesungguhnya ini tidak lain hanyalah malaikat yang mulia." 

Wanita itu berkata: "Itulah dia orang yang kamu cela aku karena (tertarik) 
kepadanya, dan sesungguhnya aku telah menggoda dia untuk menundukkan dirinya 
(kepadaku) akan tetapi dia menolak. Dan sesungguhnya jika dia tidak menaati apa 
yang aku perintahkan kepadanya, niscaya dia akan dipenjarakan dan dia akan 
termasuk golongan orang-orang yang hina." 

Yusuf berkata: "Wahai Tuhanku, penjara lebih aku sukai daripada memenuhi ajakan 
mereka kepadaku. Dan jika tidak Engkau hindarkan dari padakutipu daya mereka, 
tentu aku akan cenderung untuk (memenuhi keinginan mereka) dan tentulah aku 
termasuk orang-orang yang bodoh." 

Maka Tuhannya memperkenankan doa Yusuf, dan Dia menghindarkan Yusuf dari tipu 
daya mereka. Sesungguhnya Dia-lah Yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui. 

Komentator muslim modern menafsirkan ayat2 ini utk menunjukkan bahwa kelicikan, 
tipu-tipu dan penghianatan hakekatnya alami ada dalam diri wanita. Bukan saja 
wanita tidak rela utk berubah, tapi dia memang tidak dapat berubah – wanita 
tidak punya pilihan.[12] 

Dalam menyerang dewi2 kaum politeis, Quran mengambil kesempatan ini utk 
memfitnah gender wanita lebih jauh lagi. 

[4.117] Yang mereka sembah selain Allah itu, tidak lain hanyalah berhala 
(wanita dalam bahasa arabnya), dan (dengan menyembah berhala itu) mereka tidak 
lain hanyalah menyembah setan yang durhaka, 

[43.15-19] Dan mereka menjadikan sebahagian dari hamba-hamba-Nya sebagai 
bahagian daripada-Nya. Sesungguhnya manusia itu benar-benar pengingkar yang 
nyata (terhadap rahmat Allah). 

Patutkah Dia mengambil anak perempuan dari yang diciptakan-Nya dan Dia 
mengkhususkan buat kamu anak laki-laki. 

Padahal apabila salah seorang di antara mereka diberi kabar gembira dengan apa 
yang dijadikan sebagai misal bagi Allah Yang Maha Pemurah; jadilah mukanya 
hitam pekat sedang dia amat menahan sedih. 

Dan apakah patut (menjadi anak Allah) orang yang dibesarkan dalam keadaan 
berperhiasan sedang dia tidak dapat memberi alasan yang terang dalam 
pertengkaran. 

Dan mereka menjadikan malaikat-malaikat yang mereka itu adalah hamba-hamba 
Allah Yang Maha Pemurah sebagai orang-orang perempuan. Apakah mereka 
menyaksikan penciptaan malaikat-malaikat itu? Kelak akan dituliskan persaksian 
mereka dan mereka akan dimintai pertanggungjawaban. 

[52.39] Ataukah untuk Allah anak-anak perempuan dan untuk kamu anak-anak 
laki-laki? 

[37.149-150] Tanyakanlah (ya Muhammad) kepada mereka (orang-orang kafir Mekah): 
"Apakah untuk Tuhanmu anak-anak perempuan dan untuk mereka anak laki-laki, atau 
apakah Kami menciptakan malaikat-malaikat berupa perempuan dan mereka 
menyaksikan (nya)? 

[53.21-22] Apakah (patut) untuk kamu (anak) laki-laki dan untuk Allah (anak) 
perempuan? Yang demikian itu tentulah suatu pembagian yang tidak adil. 

[53.27] Sesungguhnya orang-orang yang tiada beriman kepada kehidupan akhirat, 
mereka benar-benar menamakan malaikat itu dengan nama perempuan. 

Jika Mr. Bouhdiba masih belum yakin akan ini, ada lagi ayat2 Quran lain yang 
benci terhadap wanita: 

[2.178] Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu qishaash (hukum 
balasan) berkenaan dengan orang-orang yang dibunuh; orang merdeka dengan orang 
merdeka, hamba dengan hamba dan wanita dengan wanita. 

[2.228] Wanita-wanita yang ditalak hendaklah menahan diri (menunggu) tiga kali 
quru. Tidak boleh mereka menyembunyikan apa yang diciptakan Allah dalam 
rahimnya, jika mereka beriman kepada Allah dan hari akhirat. Dan suami-suaminya 
berhak merujukinya dalam masa menanti itu, jika mereka (para suami) itu 
menghendaki ishlah. Dan para wanita mempunyai hak yang seimbang dengan 
kewajibannya menurut cara yang makruf. Akan tetapi para suami mempunyai satu 
tingkatan kelebihan daripada istrinya. Dan Allah Maha Perkasa lagi Maha 
Bijaksana. 

[2.282] Jika yang berutang itu orang yang lemah akalnya atau lemah (keadaannya) 
atau dia sendiri tidak mampu mengimlakan, maka hendaklah walinya mengimlakan 
dengan jujur. Dan persaksikanlah dengan dua orang saksi dari orang-orang lelaki 
di antaramu). Jika tak ada dua orang lelaki, maka (boleh) seorang lelaki dan 
dua orang perempuan dari saksi-saksi yang kamu ridai, supaya jika seorang lupa 
maka seorang lagi mengingatkannya. 

[4.3] Dan jika kamu takut tidak akan dapat berlaku adil terhadap (hak-hak) 
perempuan yatim (bilamana kamu mengawininya), maka kawinilah wanita-wanita 
(lain) yang kamu senangi: dua, tiga atau empat. Kemudian jika kamu takut tidak 
akan dapat berlaku adil, maka (kawinilah) seorang saja, atau budak-budak yang 
kamu miliki. Yang demikian itu adalah lebih dekat kepada tidak berbuat aniaya. 

[4.11] Allah mensyariatkan bagimu tentang (pembagian pusaka untuk) anak-anakmu. 
Yaitu: bahagian seorang anak lelaki sama dengan bahagian dua orang anak 
perempuan; 

[4.34] Kaum laki-laki itu adalah pemimpin bagi kaum wanita, oleh karena Allah 
telah melebihkan sebahagian mereka (laki-laki) atas sebahagian yang lain 
(wanita), dan karena mereka (laki-laki) telah menafkahkan sebagian dari harta 
mereka. Sebab itu maka wanita yang saleh, ialah yang taat kepada Allah lagi 
memelihara diri ketika suaminya tidak ada, oleh karena Allah telah memelihara 
(mereka). Wanita-wanita yang kamu khawatirkan nusyuznya, maka nasihatilah 
mereka dan pisahkanlah mereka di tempat tidur mereka, dan pukullahmereka. 
Kemudian jika mereka menaatimu, maka janganlah kamu mencari-cari jalan untuk 
menyusahkannya. Sesungguhnya Allah Maha Tinggi lagi Maha Besar. 

[4.43] Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu salat, sedang kamu dalam 
keadaan mabuk, sehingga kamu mengerti apa yang kamu ucapkan, (jangan pula 
hampiri mesjid) sedang kamu dalam keadaan junub, terkecuali sekedar berlalu 
saja, hingga kamu mandi. Dan jika kamu sakit atau sedang dalam musafir atau 
kembali dari tempat buang air atau kamu telah menyentuh perempuan, kemudian 
kamu tidak mendapat air, maka bertayamumlah kamu dengan tanah yang baik (suci); 
sapulah mukamu dan tanganmu. Sesungguhnya Allah Maha Pemaaf lagi Maha 
Pengampun. 

[5.6] Hai orang-orang yang beriman, apabila kamu hendak mengerjakan salat, maka 
basuhlah mukamu dan tanganmu sampai dengan siku, dan sapulah kepalamu dan 
(basuh) kakimu sampai dengan kedua mata kaki, dan jika kamu junub maka 
mandilah, dan jika kamu sakit atau dalam perjalanan atau kembali dari tempat 
buang air (kakus) atau menyentuh perempuan, lalu kamu tidak memperoleh air, 
maka bertayamumlah dengan tanah yang baik (bersih); sapulah mukamu dan tanganmu 
dengan tanah itu. 

[33.32-33] Hai istri-istri Nabi, kamu sekalian tidaklah seperti wanita yang 
lain, jika kamu bertakwa. Maka janganlah kamu tunduk dalam berbicara sehingga 
berkeinginanlah orang yang ada penyakit dalam hatinya, dan ucapkanlah perkataan 
yang baik, 

dan hendaklah kamutetap di rumahmu dan janganlah kamu berhias dan bertingkah 
laku seperti orang-orang Jahiliyah yang dahulu dan dirikanlah salat, 
tunaikanlah zakat dan taatilah Allah dan Rasul-Nya. Sesungguhnya Allah 
bermaksud hendak menghilangkan dosa dari kamu, hai ahlul bait dan membersihkan 
kamu sebersih-bersihnya. 

[33.53] Apabila kamu meminta sesuatu (keperluan) kepada mereka (istri-istri 
Nabi), maka mintalah dari belakang tabir. Cara yang demikian itu lebih suci 
bagi hatimu dan hati mereka. 

[33.59] Hai Nabi katakanlah kepada istri-istrimu, anak-anak perempuanmu dan 
istri-istri orang mukmin: "Hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya ke seluruh 
tubuh mereka". Yang demikian itu supaya mereka lebih mudah untuk dikenal, 
karena itu mereka tidak diganggu. Dan Allah adalah Maha pengampun lagi Maha 
penyayang.

--------------- 
[1] Pengaruh dari Ascha harusnya terlihat dalam tiap halaman bab ini meski saya 
jarang mengutipnya secara langsung. 
[2] Burton, Richard. The Book of the Thousand Nights and a Night. 17 vols. 
London, n.d. Vol.x, hal.195 
[3] Nefzawi, Shaykh. The Glory of the Perfumed Garden. London, 1978. 
Hal.203-204 
[4] Bousquet, G.H. L’Ethique sexuelle de l’Islam. Paris, 1966. Hal.49 
[5] Artikel “Wania,” dalam Dictionary of Islam. 
[6] Shacht, Joseph. The Origins of Muhammada Jurisprudence. Oxford, 1974. 
hal.545 
[7] Artikel “Women” dalam Dictionary of Islam” 
[8] Dikutip dalam Ascha, Ghassan. Du Status inferieur de la Femme en Islam. 
Paris, 1989, hal.13 
[9] Mimouni, Rachid. De la barbarie en general et de l’integrisme en 
particulier. Paris, 1992. Hal.156 
[10] Ascha, Ghassan. Du Status inferieur de la Femme en Islam. Paris, 1989, 
hal.11 
[11] Ibid., hal.23f 
[12] Ibid., hal.29f
 
Dasar kepercayaan iman muslim dibangun diatas dusta,kebohongan dan teror 
pembunuhan yang biadab dimana saat zaman dan waktu sudah berubah kebenaran yang 
ada diungkapkan dan tidak bisa dihalangi ataupun dibendung serta kejahatan 
pembunuhan sudah dapat diantisipasi dan diminimalkan maka saat itu juga ambang 
kehancuran islam akan terjadi dan pada saatnya islam akan lenyap dan ini pasti 
terwujud. 
Feifei_fairy


      Expand your social network today - Yahoo! Singapore Search.
http://sg.search.yahoo.com/search?p=social+networking+sites&cs=bz&fr=fp-top

Kirim email ke