What is God? 
Oleh Ali Sina 

Dear Hammad; 

Saya tidak akan mempublikasikan email anda, karena anda minta demikian. Ini 
jawaban saya. 

Dari jaman baheula manusia sudah mencoba mencari jawaban akan pertanyaan 
tentang apa itu Tuhan. Banyak jawaban muncul, jatuh bangun, datang satu-hilang 
kemudian. Tuhan terwujud dalam binatang, fenomena alam, planet, bintang, 
makhluk khayalan dan hukum alam. 

Dgn bertambahnya kepandaian kita, jawaban2 ini berubah juga. Tapi, meski kita 
maju dalam bidang sains, tetap saja kita belum mendapat jawaban memuaskan dan 
pasti akan pertanyaan tua ini. Apa Tuhan itu, belum ada yang tahu. TAPI yang 
pasti adalah : apa yang BUKAN Tuhan. 

Tuhan tidak mungkin berupa binatang, matahari, bulan atau bintang. Tuhan tidak 
mungkin banyak. Dan terakhir, tidak mungkin berupa makhluk/dzat. Semuanya ini 
bisa dijelaskan secara logika. Yang tidak bisa dijelaskan adalah bahwa Tuhan 
itu ada. 

Sepanjang sejarah, tuhan selalu menjadi pengejawantahan sifat2 manusia. Tuhan 
telah jadi inkarnasi rasa takut dan harapan. Telah jadi kesempurnaan yang 
diinginkan manusia. Karena manusia itu beda, pemikiran, rasa takut dan 
aspirasinya berbeda, maka begitu juga tuhan2 mereka masing2. 

Orang Aztek percaya pada Huitzilopochtli, dewa perang. Diperkirakan sekitar 
20.000 orang pertahun dikorbankan oleh kerajaan Aztec. Tawanan dibawa kepuncak 
pyramid, dimana ada meja batu utk ritual, dadanya disobek dan jantungnya 
dicabut. Lalu tubuh korban dilempar kebawah tangga pyramid. [Lihat 
APOCALYPTOnya Mel Gibson nggak ?] 

 

 

Pengertian bagi motivasi dibelakang pengorbanan ritual ini adalah konsep 
“tonalli”, artinya “roh yang menghidupkan”. Tonalli didalam diri manusia 
dipercaya ada dalam darah, yang berpusat di jantung saat orang merasa takut. 
Ini menjelaskan kenapa tuhan mereka menginginkan jantung. Tanpa pengorbanan 
ini, semua gerak akan berhenti, bahkan gerak matahari juga. Jadi sejauh 
pengertian Aztec, mereka melakukan ritual pengorbanan utk menahan agar matahari 
tetap berada pada orbitnya. [1] 

 

Nah, tuhannya orang israel memang pilih kasih. Dia memilih orang yahudi sebagai 
bangsa pilihannya. Rasionalitas dibelakang ini adalah bahwa orang Yahudi 
sepanjang masa selalu jadi tawanan bangsa lain. Penawan mereka memperlakukan 
bangsa ini dengan buruk. Dimasa lalu manusia kejam pada manusia lain, lebih 
dari jaman sekarang. Utk mengimbangi itu, tuhannya Yahudi lebih menyukai mereka 
daripada bangsa lain. Dia menjanjikan mereka kemenangan akhir dan menghukum 
berat para penawan dan penganiaya mereka. Dia meyakinkan mereka bahwa 
kesengsaraan2 tsb hanya utk mensucikan mereka dari dosa. Dengan khayalan ini 
orang Yahudi mampu memikul kesengsaraan yang berat dan tidak melepaskan 
harapan2 mereka. Keselamatan dan kejayaan sudah sampai belokan jalan. 

Bagi Yesus, Tuhan itu cinta. Yesus adalah manusia cinta damai. Dia ajarkan 
orang utk memaafkan dosa orang lain, menemukan balok dimata sendiri sebelum 
mencari noda dimata orang lain, jangan melempar batu jika berdosa, mencintai 
tetangga dan bahkan memberi pipi kanan jika ditampar yang kiri. Tuhannya Yesus 
sangat mirip dengan Yesus itu sendiri. Ini adalah Tuhan kebaikan yang 
dijelaskan Yesus. 

Bagi seorang narsisis seperti Muhammad, tuhan adalah segala sesuatu yang 
diinginkan oleh orang narsisis juga. Dia maha segala, makhluk lalim yang 
menakutkan, yang menuntut utk dihormati dan disembah, memerintah utk dipuja dan 
menyuruh utk dipuji. Tuhannya Muhammad adalah tuhan gila yang melakukan apa 
saja sesukanya. Dia bisa membuat aturan dan segera melanggar aturan itu 
seenaknya dan tak seorangpun boleh mempertanyakannya. Kalau dia maupun, dia 
bisa saja mengirim orang saleh keneraka dan memberi pahala orang maha jahat. 
Manusia tidak bisa yakin pada nasib mereka dan tidak bisa mendapat keselamatan 
lewat perbuatan baik belaka. Mereka juga harus tunduk padanya, menyembahnya 
demi mendapat persetujuannya. Tuhannya Muhammad adalah diktator lalim. Benak 
tuhan ini mirip dengan benaknya Saddam Hussein, Hitler dan Stalin. Dia kejam 
pada mereka yang menentangnya dan baik sekali pada mereka yang memujanya, 
sangat ingin menjadi pusat perhatian dan jika diacuhkan,
 ia akan jadi sangat cepat tersinggung dan membalas dgn sangat keji. Bagi 
Muhammad, kualitas2 demikian ini adalah ciri kemahaan. Tuhannya tidak lain 
hanya alter ego – proyeksi dari dirinya sendiri. 

Tuhannya Einstein adalah tuhan hukum Alam. Einstein adalah orang sains. Dia 
percaya ada keteraturan dijagat raya. Ketika dia bilang bahwa “Tuhan tidak 
bermain dadu”, yang dia maksud adalah ‘keteraturan’ ini. 

Tuhannya Einstein tidak ada hubungannya dengan tuhan agama. Orang se-intelek 
dia tidak mungkinlah percaya pada tuhan yang ikut campur urusan manusia, 
melanggar hukumnya sendiri utk melakukan keajaiban, mengirim nabi dan menjawab 
doa2, seakan manusia bisa mempengaruhi kehendak yang Maha Kuasa dan mengubah 
hukum alam dengan memohon-mohon. Dia menjelaskan kepercayaannya pada Tuhan 
sebagai: 

Sebuah pengetahuan akan keberadaan sesuatu yang tidak bisa kita masuki, 
perwujudan dari sebab/akibat yang sangat dalam dan keindahan yang paling 
bersinar – pengetahuan dan emosi inilah yang membuat sikap religius sejati; 
dalam pengertian demikian, dan pengertian itu sajalah, saya sungguh2 seorang 
yang sangat religius. 

Dia tidak suka pendapat religiusnya itu disalah tafsirkan dan dia menjelaskan: 

Tentu saja bohong apa yang anda baca tentang kereligiusan saya, kebohongan yang 
selalu diulang-ulang. Saya tidak percaya akan tuhan pribadi dan saya tidak 
pernah menyangkal ini tapi menjelaskannya dengan jelas. Jika sesuatu didalam 
saya bisa disebut religius maka itu adalah kekaguman tak terbatas akan struktur 
dunia sejauh sains bisa menjelaskannya. 

Pikiran2 besar itu religius tapi kereligiusannya berbeda dari religiusitas 
orang2 biasa. Kosmologis dan matematikawan, Stephen Hawking, yang membicarakan 
tentang “the Mind of God,” ketika ditanya oleh Larry King dari CNN, apa dia 
percaya pada Tuhan, menjawab: “Ya, jika tuhan itu artinya perwujudan hukum2 
dijagat raya.” 

Apa Tuhan itu ada atau tidak, sepenuhnya masalah lain lagi. Bahkan jika adapun, 
tidak akan pernah bisa dimengerti manusia. Kita manusia menganggap diri kita 
sebagai ciptaanNya. Ciptaan ini bisa baik atau jahat tergantung kitanya 
sendiri. Tuhannya Yesus itu baik karena Yesus baik. Tuhannya Muhammad jahat, 
karena Muhammad jahat. Tapi Tuhan keduanya tidaklah nyata. Seperti Santa Klaus 
dan Drakula. Tapi, seperti yang dipraktekkan oleh orang Aztec dan para muslim, 
kepercayaan pada Tuhan yang Jahat bisa sangat menghancurkan. 

Tidak semua Kristen percaya pada tuhannya Yesus. Gereja abad pertengahan 
percaya pada tuhan yang berbeda, tuhan mereka banyak dipengaruhi oleh tuhannya 
islam. Itu sebabnya gereja itu menyimpang dari ajaran Kristus. Sekarang, tidak 
semua Kristen percaya tuhan yang sama juga. Bagi beberapa orang, tuhan itu 
toleran, mencintai dan inklusif. Bagi yang lainnya Tuhan itu pencemburu, 
posesif dan eksklusif. 

Ada banyak tuhan. Kebanyakan sudah dilupakan. Tak seorangpun ingat lagi pada 
Huitzilopochtli atau pasangannya yang lebih murah hati Quetzalcoatl, yang hanya 
minta korban binatang seperti ular dan kupu-kupu. Tak seorangpun berdoa lagi 
pada Mars, dewa Perang; Venus, dewi cinta; Pluto dewa maut. Tuhan2 ini pernah 
berjaya, dimana mereka memerintah dengan gagah. “Forgotten lie the martyrs in 
their dusty catacombs, and the faiths, for which they died, are cold and 
dead.”[2] 

Menurut perkiraan ada 240 tuhan/dewa. Kecuali kita asumsikan tuhan itu 
penderita MPD (Multiple Personality Disorder), kita harus mengakui bahwa 
Yahweh, tuhannya Musa dan “Father” dari Yesus tidaklah sama. Jika diperhatikan, 
sifatnya masing2 berbeda. Aulloh lebih2 lagi tidak mirip salah satu dari 
mereka. Dia kejam, sadis dan haus darah. Lagian, Auloh ini ketika mewujud ke 
Baha’ullah jadi sama sekali berbeda, dia segera bicara tentang cinta universal 
dan persaudaraan umat manusia. Transformasi yang luar biasa. Bunglon aja ngga 
bisa gitu. 

Semua tuhan adalah ciptaan manusia. Kita yang menciptakan, kita sembah sendiri 
dan kita cuekkan sendiri dan kita lupakan sendiri. Sekarang giliran Aulloh yang 
kita liburkan. Makhluk jahat ini telah habis masa pakainya. Dia tidak cocok 
lagi utk jaman ini. Aulloh, sama seperti Huitzilopochtli, makhluk haus darah 
yang haus akan korban manusia. Kita harus bunuh Auloh dan menusuk jantungnya 
pake pasak kayu agar tidak bangun lagi mengisap darah orang tak bersalah. 

 
Satu lagi korban Allahu Akbar yg selalu menuntut darah 

Tidak ada kebenaran dalam Auloh. Makhluk ini murni jahat, karena penciptanya 
(Muhammad) juga jahat. Dia (Allah) hanya ciptaan psikopat (Muhammad). 

 
Muslim yang berada dibawah pengaruh islam menurunkan harkat mereka menjadi 
binatang buas. Lihat saja contoh2 kejahatan lain yang mampu mereka lakukan. 
(lihat foto pengikut2 agama 'damai') 

Jika anda memang merasa perlu percaya pada sosok Tuhan, ada banyak tuhan lain 
yang pantas dipilih. Jika tidak suka dgn yang ada, bikin aja tuhanmu sendiri. 
Saya bikin sendiri. Saya percaya pada prinsip tunggal yang menaungi keberadaan 
ini. Ini tuhan yang sama dengan tuhannya Einstein, Espinosa dan Hawking. Saya 
percaya pada Dao, prinsip abadi yg tak terubahkan. Ya, saya orang yang percaya. 
Saya percaya keindahan, harmoni, keteraturan dan cinta. Saya percaya pada 
potensi tak terbatas yang ada dalam diri kita. Tuhan saya bukan makhluk/dzat. 
Non makhluk/dzat yang menjadi ibu segala sesuatu. Saya tidak menyembahnya 
ataupun berdoa padanya. Saya cukup mengerti tentangnya dan menerapkannya 
disetiap tarikan nafas saya. 

Anda tanya kenapa Auloh tidak menolong kita. Jawabannya adalah, dia tidak bisa, 
karena dia tidak ada. Dia sama bohongnya dengan Huitzilopochtli. Dia hanya ada 
dalam imajinasi muslim. Jika anda mengerti Tuhan sejati, yakni hukum abadi yang 
mengatur jagat raya, anda akan mampu menolong diri anda dengan menerapkan 
prinsip2 tsb dalam kehidupan anda. Pertolongan ada bagi mereka yang mengulurkan 
tangan utk merangkulnya. Anda menjelaskan bagaimana anda merubah hidup anda 
lewat berpikir positif, secara fanatis berhasil dan menanggulangi masalah2 
anda. Jadi anda sudah mengenal Tuhan dan dikarunianya. 

Krishna berkata, orang berdoa pada tuhan yang berbeda sesuai dengan pengertian 
mereka masing2, tapi pada siapapun anda berdoa, sayalah yang menjawab doa2 itu. 
Apa anda menyebut krishna, Yahweh atau tuhan lain, terserah. Prinsip adalah, 
apapun yang anda fokuskan, itulah yg akan jadi nyata. Mereka yang memfokuskan 
diri agar sukses, sehat, kaya dan bahagia, akan mendapatkannya. Mereka yang 
fokus pada kegagalan dan diliputi rasa takut, kalah. 

Anda bertanya kenapa Tuhan mempermainkan kita. Bukan tuhan yang mempermainkan 
kita. Kitalah yang mempermainkan Tuhan. Kita memberi nama bagi tuhan, padahal 
nama itu membedakan benda dari persamaannya. Tuhan bukan benda dan tidak punya 
persamaan. Dg begitu dia tidak bernama. Kita menjelaskan tuhan dalam banyak 
bentuk, ketika tuhan itu tidak bisa dijelaskan dan tidak punya bentuk. Kita 
menerapkan sifat2 manusia utk menjelaskan tuhan, menyebutnya penyayang, maha 
tahu, bijaksana dan maha ada, padahal tuhan itu diatas itu semua. 

Jika tuhan itu bukan makhluk/dzat, kok bisa punya sifat? Tuhan tidak baik 
ataupun jahat. Tuhan bukan penguasa lalim ataupun baik. Tuhan bukan pencipta 
karena ciptaan adalah sebuah tindakan dan tindakan mengambil tempat suatu 
waktu. Tuhan tidak berwaktu dan dg demikian tidak bertindak. Kita pura2 
melayani Tuhan, sementara Tuhan dinafikan dari segala kebutuhan. Jika saya 
haus, anda bisa memberi saya air. Tapi jika saya tidak haus, apa gunanya 
dikasih air juga? Tuhan tidak punya kebutuhan, jadi gimana bisa kita melayani 
Tuhan? 

Tuhan itu Hukum Alam. Anda bisa menerapkan hukumnya tapi tidak bisa melayani 
hukum tsb. Yang bisa anda lakukan hanya mengerti Tuhan dan mengikutinya. Anda 
mengerti Tuhan lewat sains – sains dari dunia dalam dan sains dari dunia luar. 
Ini bisa dilakukan lewat introspeksi kedunia dalam dan observasi kedunia luar. 

Tak seorangpun bisa menceritakan tentang Tuhan. Tak seorangpun bisa mengajar 
tuhan itu apa. Anda harus mengertinya sendiri. Jika warna tidak bisa dijelaskan 
pada orang yang lahirnya buta warna, gimana bisa menjelaskan Tuhan pada orang 
yang tidak pernah merasakan Tuhan? Itu sebabnya tak seorangpun bisa mengatakan 
padamu tentang Tuhan. Kebenaran itu tiada berjalan. Anda tidak bisa pergi ke 
suatu tempat atau mengikuti seseorang utk menemukan kebenaran. Sama seperti 
anda tidak perlu pergi kemana-mana utk menemukan matahari karena sinarnya ada 
dimana-mana, anda tidak perlu mengikuti sesuatu utk menemukan Tuhan karena 
Tuhan ada didalam anda. Berhentilah mendengarkan si anu dan sianu yang mengaku 
sebagai utusan Tuhan. Tuhan tidak mengirim pesan lewat orang ketiga. Pesan2 
tuhan ada disekitar anda. Pada setiap helai daun, setiap nafas anda, setiap 
atom yang membangun jagat raya ini. Lihat bayi dan anda akan melihat tuhan. 
Tuhan ada pada setiap manusia, anda
 sendiri adalah pesan terbesar dari Tuhan. Dengarkan nurani anda dan anda akan 
mendengar tuhan bicara kencang dan jelas. 

Tuhan tidak punya pribadi atau kesadaran. Bukan makhluk atau dzat. Tidak 
seperti kesadaran anda dan saya didunia ini. Tidak mengirim kita bencana 
ataupun menyelamatkan kita dari bencana. Ia ada disana sebagai hukum bagi kita 
utk dipatuhi dan utk memperkaya hidup kita dengannya. 

Tuhan tidak menghukum atau memberi pahala. Anda melakukan itu sendiri dengan 
melanggar hukum atau mematuhinya. Jika tangan anda dibakar, akan panas. Tak 
seorangpun menghukum anda. Karena tidak ada yang akan menghukum anda, percuma 
minta ampun. Sekali anda melanggar hukum, kerusakan itu sudah terjadi. 

Tuhan itu segalanya. Kenyataanlah yang ada dan hidup terus. Sebagai 
perbandingan, dunia ini sama seperti chimera. Membangikan makhluk dan non 
makhluk itu juga sebenarnya omong kosong. Anda bisa membandingkan apel dengan 
motor karena keduanya itu benda, tapi anda tidak bisa membandingkan Tuhan 
dengan apapun yang bukan Tuhan. Tuhan itu nyata dan abadi, segala sesuatu itu 
kebetulan dan bisa musnah. Anda tidak bisa membandingkan sesuatu yang tidak 
terbatas dengan yang terbatas. Non makhluk itu nyata dan absolut, makhluk itu 
relatif. Ini paradoks terbesar. 

Jagat ini hanya satu pikiran dalam benak Tuhan. Itu jika anda ingin secara 
puitis memikirkannya demikian. Tuhan ada, tanpa menjadi sesuatu. Sekaligus yang 
paling mewujud dan tidak berwujud. Gimana bisa? Pikirkan saja tentang 
kehidupan! Tidakkah kehidupan itu ada wujudnya tapi sekaligus tidak berwujud? 
Kehidupan hanya satu ekspresi dari Tuhan. 

Tuhan meliputi segala dan setiap orang. Anda tidak bisa lolos darinya, 
sepersekian detikpun. Sesaan anda berhenti mematuhi tuhan, anda langsung tiada. 
Ini karena Tuhan bukan pemberi hukum tapi hukum itu sendiri. Bahkan jika sbg 
manusia anda tidak patuh dan melanggar hukum, tubuh anda tahu bagaimana 
mematuhinya. Itu sebabnya anda masih hidup. Itu sebabnya anda punya wujud 
manusia. Ini karena setiap sel dan atom dalam tubuh anda patuh pada hukum dan 
secara metafora bicara, “aku orang percaya.” 

Kita manusia sudah berjalan jauh utk mencoba mengerti tuhan, tapi meski sudah 
sejauh itu ternyata yang kita mengerti hanya bahwa kita tidak mengerti. Kita 
dulu percaya pada binatang, figur mitos, planet dan bintang, pada hantu2, pada 
dewa2 dan tuhan yang esa. Ada tuhan yang penyayang ada yang jahat dan kejam. 
Semuanya adalah hasil khayalan kita. Pemikir2 terbesar kita, tidak lagi 
berpikir tuhan sebagai makhluk/dzat tapi sebagai hukum impersonal dari jagat 
raya. Pengertian kita akan tuhan berkembang, seperti otak kita. Tuhan2 dari 
kakek moyang kita, tidak lagi memuaskan petualangan kita tentang pengetahuan. 
Sudah saatnya kita tinggalkan tuhan2 ini dan mencari tuhan yang masuk akal utk 
pemikiran maju kita. 

----------------------------------------- 
[1] http://nv.essortment.com/aztecsacrifice_raif.htm

[2] Margaret A Murray in The Genesis of Religion 
_________________
Para Muslim tidaklah bodoh. Mereka bisa melihat bahwa Islam adalah salah. 
Mereka tahu ayat2 Quran bertentangan satu sama lain. Mereka tahu Islam 
bertentangan dengan kecerdasan manusia dan tidak masuk akal, tapi mereka begitu 
terjebak di dalamnya sehingga mereka tidak bisa meninggalkannya. Mereka memaksa 
diri mereka untuk percaya, karena tanpa itu, mereka bagaikan tersesat. 
- Ali Sina 
 
Dasar kepercayaan iman muslim dibangun diatas dusta,kebohongan dan teror 
pembunuhan yang biadab dimana saat zaman dan waktu sudah berubah kebenaran yang 
ada diungkapkan dan tidak bisa dihalangi ataupun dibendung serta kejahatan 
pembunuhan sudah dapat diantisipasi dan diminimalkan maka saat itu juga ambang 
kehancuran islam akan terjadi dan pada saatnya islam akan lenyap dan ini pasti 
terwujud. 
Feifei_fairy


      Get your preferred Email name!
Now you can @ymail.com and @rocketmail.com
http://mail.promotions.yahoo.com/newdomains/sg/

Kirim email ke