SIAPA YG MEMBAKAR PERPUSTAKAAN PALING TERMASYUR DUNIA DI ALEXANDRIA?
Written by Fanous, The Free Copts
Thursday, 05 October 2006
Volume 1 Issue 4 October 2006


Ada yg mengatakan bahwa Bibliotheca Alexandrina atau the Royal Library 
bersejarah itu diluluh-lantahkan Kaisar Romawi Julius Caesar (100-44 SM). Salah 
satu dasar tuduhan ini adalah bahwa Caesar sendiri menulis dlm bukunya 
'Alexandrian Wars' (Perang2 Alexandria) bahwa api yg dibakar pasukannya utk 
membakar angkatan laut Mesir di pelabuhan Alexandria juga melahap sebuah 
'gudang/tempat penyimpanan penuh dgn papirus dan berlokasi didekat pelabuhan.' 
TETAPI, lokasi Bibliotheca Alexandrina ini berada di Bruchion, bukan di 
pelabuhan. Jadi, 'gudang/tempat penyimpanan' itu bukan perpustakaan yg dimaksud.

Tuduhan ini juga dibantah dlm buku Geography yg ditulis oleh Strabo. Ia 
mengunjungi Alexandria th 25 SM dan bukunya menggunakan referensi yg berada dlm 
Perpustakaan Alexandria, yg berarti bahwa Bibliotheca itu masih EKSIS pada saat 
itu. Belum lagi, Cicero, sejarawan Romawi yg paling terkenal di jamannya, dan 
sangat membenci Julius Caesar, bahkan sama sekali tidak menyebut peristiwa 
pembakaran itu dlm bukunya Philippics. Ini saja membuktukan bahwa Caesar bebas 
dari tuduhan ini.

Yg setuju bahwa Julius Caesar membakar sang Bibliotheca bisa dilihat dari :

-sejarawan Plutarch, yg menyebutnya dlm bukunya Life of Caesar, yg ditulis pada 
akhir abad 1M, bahwa Caesar membakar perpustakaan Alexandria saat ia membakar 
angkatan laut Mesir.

- di abad 2M, sejarawan Aulus Gellius menulis dlm Attic Nights bahwa 
perpustakaan itu dibakar secara tidak sengaja oleh tentara Romawi Caesar.

- di abad 4M, sejarawan pagan, Ammianus Marcellinus dan Orosius (Kristen) 
setuju bahwa perpustakaan itu dibakar secara tidak sengaja, menyusul api yg 
dimulai Caesar. Namun kemungkinan besar sejarawan2 ini mencampur-adukkan dua 
kata Yunani ini : bibliothekas, yg berarti “kumpulan buku2” dgn bibliotheka, yg 
berarti Perpustakaan.

Akibatnya, mereka menyangka bahwa 'pembakaran buku2 yg disimpan didekat 
pelabuhan' adalah pembakaran Perpustakaan termasyur Alexandria.

Mencari jalan tengah dari kesimpulan2 diatas, kemungkinan besar the Royal 
Alexandrian Library itu dibakar setelah kunjungan Strabo ke kota itu (25SM) 
tapi sebelum permulaan abad 2M. Kemungkinan juga bahwa perpustakaan itu dibakar 
oleh pihak selain Caesar.

Yang jelas adalah bahwa the Royal Alexandrian Library, atau yg juga dijuluki 
sang Museum, yg mencakup versi2 orisinal buku2 yg paling penting didunia, BUKAN 
satu2nya perpustakaan dlm kota itu. Paling tidak ada DUA perpustakaan lain di 
kota itu : perpustakaan milik Kuil Serapeum dan perpustakaan Kuil Cesarion. 
Kontinuitas kehidupan sastra dan saintifik di Alexandria setelah penghancuran 
the Royal Library itu, dan berkembangnya kota itu sbg pusat dunia bagi sains 
dan sastra antara abad 1 dan 6M, sebagian besar juga tergantung pada kehadiran 
kedua perpustakaan lain itu.



Quote:
Inscription regarding Tiberius Claudius Balbilus of Rome (d. c. 79 CE) which 
confirms that the Library of Alexandria must have existed in some form in the 
First century.

The Royal Library merupakan sebuah perpustakaan privat keluarga kerajaan Mesir, 
para saintis dan periset, sementara perpustakaan2 kuil2 Serapeum & Cesarion 
adalah perpustakaan2 yg terbuka bagi rakyat umum. Perpustakaan megah itu 
didirikan oleh Kaisar Ptolemy II Philadelphus di kompleks kerajaan Bruchion 
didekat istana2 dan taman2 kerajaan, sementara puteranya, Ptolemy III, 
mendirikan perpustakaan Serapeum dikawasan populer, Rhakotis. Kemudian, 
Serapeum dikenal sbg Perpustakaan Cabang Puteri (the Daughter Library), karena 
mengandung versi2 orisinal buku2 dlm perpustakaan induk, the Royal Library.

Setelah pembakaran the Royal Library, Serapeum, yg lebih besar dari Cesarion, 
menjadi perpustakaan utama kota itu. Rujukan sejarah pertama ttg perpustakaan 
ini ditemukan dlm buku The Apology oleh penulis Kristen, Tertullian (155-230M). 
Dlm bukunya, Tertullian menyebut bahwa perpustakaan raja2 Ptolemi itu disimpan 
dlm perpustakaan Serapeum, dan diantaranya termasuk copy Perjanjian Lama yg 
dikunjungi Yahudi2 Alexandria yg ingin mendengarkan pembacaannya. Jadi, kalau 
kita mengasumsi bahwa 'perpustakaan raja2 Ptolemi' ini sbg the Royal Library, 
kita bisa simpulkan bahwa versi2 orisinal dari the
Royal Library telah dipindahkan ke perpustakaan Serapeum.

Analisa ini didukung oleh Surat2 Aristeas (penulis Yahudi Alexandria) pada 
akhir abad 1M dan menyatakan bahwa manuskrip2 the Royal Library dipindahkan 
dari perpustakaan induk ke Serapeum. Akhirnya, thn 379M, Santo Yohanes 
Chrysostom merujuk pada perpustakaan Serapeum dlm pidatonya kpd rakyat 
Antiochian, bahwa perpustakaan itu mengandung versi orisinal Perjanjian Lama 
(Septuagint) shg Ptolemy II
Philadelphus memerintahkannya agar diterjemahkan dari bhs Yahudi ke ke bhs 
Yunani.

Th 391M, Paus Theophilus dari Alexandria memerintahkan bagi dihancurkannya kuil 
pagan Serapeum dan mendirikan gereja diatas puing2nya. Tapi penghancuran kuil 
itu TIDAK mempengaruhi perpustakaan disebelahnya, kemungkinan besar karena 
mengandung buku2 Yahudi dan Kristen, selain buku2 sains yg penting bagi 
ilmuwan2 pagan maupun Kristen. Jadi, sampai akhir abad 6M, kita masih bisa 
menemukan referensi sejarah ttg eksistensi perpustakaan Serapeum di Alexandria. 
Salah satu referensi itu adalah deskripsi
filsuf Alexandria, Ammonius, ttg perpustakaan itu dan buku2 yg dikandungnya, 
termasuk dua copy dari the Categories'nya Aristotel.

NAH, ketika pasukan2 ARAB menginvasi Alexandria dibawah komando Amr Ibn Al Aas 
bln Desember 22, 640M, mereka menghancurkan tembok2 Alexandria dan menjarah 
kota itu. Lalu Ibn Al Aas berkenalan dgn seorang teolog Kristen tua atas nama 
John Philoponus (atau John Grammaticus). Philoponus, pengikut Ammonius, dikenal 
Arab sbg Yehia Al Nahawi. Tulisan2nya sangat penting bagi transfer budaya 
Yunani kpd kaum Arab.

Setelah berbagai diskusi religous antara Philoponus dan Ibn Al Aas ttg sifat 
ilahi Kristus dan Trinitas, Philoponus meminta Ibn Al Aas utk menjamin 
keselamatan buku2 dlm Perpustakaan Alexandria, karena “lain dari toko2, istana 
dan taman2 kota itu, buku2 itu tidak ada gunanya bagi Amr dan gerombolannya.” 
TAPI kemudian, Ibn Al Aas bertanya ttg asal usul buku2 itu dan apa guna mereka. 
Philoponus mulai meriwayahkan cerita the Bibliotheca Alexandrina sejak 
pendiriannya oleh Ptolemy II Philadelphus.

TAPI jawaban Amr Ibn Al Aas adalah, keputusan ada ditangan kalifnya, Umar Ibn 
Al Khattab. Ibn Al Aas lalu menulis kpd Umar dan meminta nasehatnya ttg apa yg 
harus dilakukan terhdp perpustakaan dan buku2nya. sambil menunggu jawabannya, 
Ibn Al Aas memberi ijin kpd Philoponus utk mengunjungi perpustakaan itu, 
ditemani pengikut Yahudi Philoponus, Philaretes si ahli fisikia (Philaretes 
adalah penulis buku medis ttg detak jantung).

Beberapa hari kemudian jawaban Umar datang. Isinya : “[…] sehubungan dgn buku2 
yg anda sebut, jika mereka mengandung hal2 yg sesuai dgn buku Allah (Quran), 
maka buku Allah sudah cukup (tidak diperlukan buku2 lain). Dan jika mereka 
mengandung buku2 yg mengkontradiksi buku Allah, maka kita tidak memerlukannya.”

Ibn Al Aas serta merta memerintahkan buku2 itu dilemparkan ke ribuan sumur2 
tempat pemandian di Alexandria dan dibakar. Apinya masih berguna utk keperluan 
menghangatkan tentara2 Muslim.



Dlm bukunya, History of the Wise Men, sejarawan Muslim, Al Qifti, menyebut ttg 
pembakaran buku2 ini yg berlangsung sampai ENAM BULAN, dan buku2 yg 
diselamatkan hanya buku2 Aristotel, Euclid -sang pakar matematika dan 
Ptolemy-sang geografer.

Cerita pembakaran perpustakaan Serapeum di tangan Muslim juga didukung oleh 
kesaksian sejarawan Muslim dan Arab spt bapak sejarawan Mesir, Al Makrizi, dlm 
Sermons and Lessons in the Mention of Plans and Monuments, The Index-nya Ibn Al 
Nadim, dan buku Georgy Zeidan, History of Islamic Urbanization.

Dlm bukunya, Prolegomena, sejarawan Muslim Ibn Khaldun mendukung cerita 
pembakaran Bibliotheca Alexandrina oleh Muslim mengingat sikap Arab jaman itu 
terhadap buku2 pada umumnya, spt membuang buku2 Persia dlm air dna api oleh 
pemimpin Arab, Saad Ibn Abi Waqqas, lagi2 menyusul perintah Kalif Umar yg 
mengatakan kpd Ibn Abi Waqqas dlm sebuah surat :“Jika [buku2 ini] mencakup 
pengarahan, [ketahuilah bahwa] Allah memberikan kami pengarahan yg lebih baik. 
Dan kalau mereka mengandung pembelokan, maka semoga Allah melindungi kami.”


ENAM bulan dan 1000 kolam renang diperlukan utk membakar koleksi buku 
perpustakaan Alexandria !


Persis MUSLIM di abad 7M: Berlin, Mei 10, 1933 - saat siswa2 Jerman dari 
universitas yg dianggap paling jitu didunia, berkumpul di Berlin dan kota2 
lainnya utk membakar buku2 yg mengandung ide2 yg 'tidak Jermani' yg ditulis 
musuh2 Allah mereka (Hitler), yi Freud, Einstein, Thomas Mann, Jack London, 
H.G. Wells sambil meneriakkan versi Allahu Akbar mereka :'SIEG HEIL, SIEG HEIL' 
!! Hanya ucapan, filosofi dan ajaran2 sang allah merangkap kalif, HITLER, yg 
boleh beredar.
http://www.historyplace.com/worldwar2/timeline/bookburn.htm
Perpustakaan itu terbuka bagi ilmuwan dari bagian dunia. Thn 642M, Amr Ibn Al 
Aas, jendral yg memimpin pasukan tentara Kalifat Umar mengepung Alexandria, 
ibukota Mesir saat itu dan atas perintah sang kalif MENGHANCURKAN SELURUH 
KOLEKSI perpustakaan tsb, sampai harus menggunakan bahan bakar yg bisa 
menghangatkan 4000 tempat pemandian umum kota itu. Hancurnya perpustakaan itu 
merupakan tamparan keras bagi ilmuwan2 dan jenius2 literatur serta sejarawan 
Romawi. Umar membenarkan tindakan barbarnya itu dgn mengatakan, "Kalau tulisan2 
orang2 Yunani ini sesuai dgn Quran, maka mereka tidak ada gunanya dan tidak 
perlu disimpan. Kalau mereka tidak sesuai dgn Quran, maka mereka menghujad dan 
perlu dihancurkan. " (Trifkovic, 2002, p. 196). 6 bulan diperlukan utk membakar 
semua manuskrip.

Memang banyak Muslim jaman sekarang menganggap tuduhan insiden pembakaran ini 
sbg sentiment antiIslam. Tapi berapa dari Muslim2 apologis ini yg tahu bahwa 
SEMUA penerus Umar abad 12-PUN sering memuja2 insiden ini (Trifkovic, 2002, p. 
196) ?

Di INDIA pun terjadi insiden serupa pada salah satu universitasnya yg paling 
tua, Nalanda Mahavidyalaya. Dijaman itu, Nalanda sejajar dgn universitas2 
Harvard, Yale, Oxford, Cambridge, Berkeley & Stanford jaman ini. Pada masa 
kejayaannya, Nalanda menjadi tuan rumah 10.000 siswa dan 2000 guru. Siswa2 dari 
negara2 sejauh Arabia, China, Korea, Jepang, Myanmar, Indonesia, Persia, Turki 
& Sri Lanka sampai mendaftarkan diri di Nalanda (Oak, 1996, p. 101). Semua 
subyek2 Budhis dan semua "Darshanas" (sistim filosofi Hindu), fonetik, tata 
bahasa, nyaya/ retorik, bahasa, medisin, astronomi, kimia dan kesenian, 
kesemuanya bisa dicari di Nalanda. TAPI kini tidak ada lagi bekasnya, gara2 
siapa kalau bukan karena INVASI ISLAM thn 1193M.

Bhaktiyar Khilji, kepala invasi Muslim Turki itu bertanya terlebih dahulu 
apakah ada sebuah Qu'ran dlm perpustakaan itu sebelum ia MENJARAH dan MEMBAKAR 
seluruh kompleks universitas. Pembunuhan massal brutal terhdp siswa dan para 
dosen dianggap sebagai "membawa kejayaan islam".

Islam menghancurkan dlm beberapa bulan saja, apa yg dibangun Hindu & Budhis 
selama berabad2. Destruksi patung Budha di Bamiyan hanyalah sebuah insiden 
kecil dibandingkan dgn insiden pembantaian massal dan pemberangusan Nalanda .


Kirim email ke