He.. he.. memang sebaiknya mbah tawang jangan percaya hukum karma, mbah. Nanti 
menyimpang dari ajaran agamanya mbah tawang. Tapi percaya atau tidak terhadap 
hukum karma, kalau mbah menanam jagung ya mestinya yang numbuh jagung juga, 
bukan kedelai, apalagi keledai :). 
Memang banyak pertanyaan seputar kehidupan, mbah. Kenapa orang dilahirkan 
cacat, jelek, miskin, sementara yang lain dilahirkan ganteng, kaya pula ? 
Apakah itu product reject tuhan ? kedengarannya kontradiktif, karena agama2 
percaya tuhan itu maha pencipta dan maha sempurna, pengasih dan penyayang. 
Kenapa di dunia yang dikuasai Tuhan yang maha penyayang ini begitu banyak 
penderitaan, kesedihan dan bencana ? Kemana tuhan saat itu ?
Orang lain mungkin punya jawaban sendiri2, sebagaimana orang Hindu (dan Budha) 
punya jawaban dengan percaya bahwa penderitaan, kesedihan di satu sisi dan 
kegemilangan, kesuksesan dan keceriaan di sisi lain adalah karena karma 
individu itu sendiri. Sebagaimana mbah tawang mungkin percaya bahwa kejahatan 
dan kebaikan akan diganjar nanti setelah kehidupan berakhir, kami percaya bahwa 
kehidupan ini bukanlah sekali. Bhagavad gita jelas mengatakan bahwa badan ini 
hanyalah sebagaimana "pakaian" yang dikenakan atman (roh). Saat badan mati, 
atman tetap eksis dan berganti ke badan yang lain. Badan lamanya dibuang, dia 
memasuki badan baru, kehidupan baru, dengan membawa karma dari kehidupan 
lamanya. Jadi kalau mbah percaya kejahatan (dan kebaikan) akan diadili di suatu 
tempat oleh tuhan, kami percaya kami akan menanggung sendiri akibat dari 
kejahatan atau kebaikan yang kami lakukan itu di kemudian hari, dalam kehidupan 
ini atau dalam kehidupan nanti. Dengan begitu, saya meyakini bahwa kehidupan 
ini adalah anugerah, sebuah kesempatan dari tuhan, agar saya memperbaiki diri, 
melakukan evolusi mental dan spiritual, agar dapat kembali kepadaNYA. Kalau 
saya lahir seperti ini, dengan segala kondisi ini, itu adalah buah karma saya 
sendiri. Demikian juga orang lain. Tuhan tidak campur tangan, dia hanya membuat 
hukum dan menjaga agar hukumnya berjalan. Sebagaimana programmer, dia hanya 
membuat program yang memastikan semua data yang di input agar diproses sesuai 
instruksi penginputnya. Kalau penginput mengetik 2 * 2, maka yang keluar 4. 
Penginput tak dapat berharap keluar angka 5. Di telinga dan otak saya, fungsi 
tuhan yang terbatas seperti itu kedengaran lebih adil dan memuliakan tuhan, 
daripada menyeret-nyeret namanya dalam setiap hal. Banjir, tuhan. Wabah, tuhan. 
Bahkan ngebompun, bawa2 nama tuhan.
Terlepas dari keyakinan itu benar atau tidak (toh kita tidak bisa membuktikan 
kebenaran atau kesalahannya, kan ?), bagi saya yang penting adalah spiritnya. 
Keyakinan akan hukum karma ini mengarahkan saya untuk bertanggungjawab pada 
perbuatan saya sendiri. Saya tak bicara nasib atau takdir. Kalau saya berbuat 
baik itu bukan karena saya takut akan tuhan. saya  berbuat baik karena saya 
yakin bahwa kalau saya berbuat baik, maka kebaikanlah yang akan saya dapatkan. 
begitu juga sebaliknya. Melakukan sesuatu karena takut, apalagi dalam ranah 
spiritual, adalah kebiasaan dan level anak2. Orang dewasa harusnya melakukan 
sesuatu karena kesadarannya, dan dilakukan dalam keadaan merdeka, tanpa 
tekanan, tanpa paksaan, apalagi tekanan dan paksaan dari tuhan. Kalau semua 
yang terjadi di dunia ini karena suratan takdir--tuhan yang menggariskannya 
begitu--lalu kenapa individu yang sudah digariskan untuk melakukan itu semua 
pada akhirnya diadili ? Seseorang harus memiliki kemerdekaan atas tindakannya 
agar dia dapat diadili secara fair.  Begitu keyakinan saya, mbah. Ini tentu 
bukan dalam rangka "menyebarkan agama", tapi hanya menjawab pertanyaan mbah. 
Kepada mbah yang penganut muslim saleh, saya memang tidak berharap, bahkan 
menyarankan, mbah jangan percaya keyakinan saya diatas itu.  Tidak mempercayai, 
bukan berarti tidak bisa menghargai kan, mbah ??

Rgrds,
Ketut 

  ----- Original Message ----- 
  From: tawangalun 
  To: zamanku@yahoogroups.com 
  Sent: Friday, August 01, 2008 8:42 PM
  Subject: [zamanku] Re: Bingung dengan diskusi soal agama


  Tapi karma itu aku sangsi Pak ketut,dulu jaman geger Londo rumah 
  ibuku kena bom pesawat Londo,juga banyak sekali kurban westerling 
  yang 40000 orang.Tapi saya lihat kok Londo jaya2 saja .kemana ini 
  karmanya kok gak bekerja.Idem konglomerat hitam yang bisa nggondol 
  ber M M itu bisa kipas2 di L.N.semua ki Pak.

  Shalom,
  tawangalun.

  - In zamanku@yahoogroups.com, "Ketut" <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
  >
  > 
  > Dear Meylan,
  > 
  > Meski saya tidak pernah berdiskusi agama di milis ini, tapi karena 
  anda menyebut Hindu diantaranya, maka izinkan saya menjelaskan. Bagi 
  saya, anda mau beragama atau tidak, itu adalah hak privat anda. 
  Apakah anda berdosa ? Menurut saya, beragama--atau memeluk salah satu 
  agama--bukanlah prasyarat mendapat gelar "tak berdosa", dan saya 
  percaya ini juga berlaku sebaliknya : tidak beragama lalu menjadi 
  serta merta "berdosa". Bhagavad Gita mengatakan "dengan cara apapun 
  kau datang, dengan cara itu pula kau kuterima". Anda datang sebagai 
  pencuri, anda akan diperlakukan sebagai pencuri. Anda datang dengan 
  cara munafik, anda diterima di ruang tamu munafik dan mendapat 
  perlakuan sebagaimana yang layak bagi orang munafik. Anda berbudi 
  luhur maka anda akan disambut sebagai orang yang berbudi luhur. 
  Tuhan, adalah sebuah hukum abadi dan maha adil. Anda tak bisa 
  mengharapkan memetik padi kalau anda hanya menanam jagung. Hindu 
  menyebutnya hukum karma. as so simple. Sebagai penganut agama Hindu, 
  kalau saya menemukan Tuhan yang pemarah, egois, pencemburu dan 
  memaksa manusia menyembahnya, maka menurut saya Tuhan itu telah 
  menempatkan dirinya lebih rendah dari manusia sehingga ia tak layak 
  dipuja. Jika anda merasa tuhan demikian bengis, saran saya, 
  tinggalkan dia. Banyak manusia yang lebih berbudi luhur dari tuhan 
  seperti itu.
  > Tapi bagi penganut agama yang baik dan saleh, agama menyediakan 
  ruang bagi kesejukan bathin. Cara2 yang diekspolari oleh para maha 
  resi Hindu ribuan tahun yang lalu--saat manusia masih lebih dekat ke 
  dunia spiritual dibanding material--tentang bagaimna "menemukan dan 
  marasakan" suasana spiritual, bagi yang menekuninya, akan mendapatkan 
  manfaatnya. Tapi itu hanya satu jalan. Bila anda dapat menemukan 
  jalan lain bagi tujuan itu, ya itupun sebuah prestasi, dan saya yakin 
  tuhan tidak akan menghukum anda karenanya. Ataupun kalau anda merasa 
  tidak butuh dengan spiritualitas, juga tidak apa2. kebutuhan manusia 
  memang beragam. Yang saya percaya akan menjadikan anda "berdosa" 
  adalah : kalau anda mencuri, memfitnah, menyakiti, merampok dan 
  sederet perbuatan jahat lainnya. Untuk perbuatan-perbuatan itu, entah 
  anda beragama atau tidak, entah anda melaksanakannya atas nama agama 
  atau atas nama hal lain, saya sangat percaya, anda akan "berdosa".
  > Jadi, jalani saja hari-hari anda, lakukan hal-hal baik, lakukan 
  improvement agar anda menjadi semakin baik setiap hari, semoga anda 
  akan bahagia. Energi kebaikan yang anda pancarkan akan memberi respon 
  balik, dan anda layak menerima kebaikan pula. Percayalah, tuhan cukup 
  bahagia melihat anda berbuat baik. Ia tak butuh puja puji. Kalau 
  orang Hindu gemar berdoa, itu hanyalah cara mereka melatih diri agar 
  bisa dekat dengan tuhannnya. Bukan karena tuhan yang gila puja puji.
  > 
  > Rgrds,
  > 
  > 
  > ----- Original Message ----- 
  > From: Mei LaN 
  > To: [EMAIL PROTECTED] ; fai ; fanny por ; 
  fei ; zan ; DOMBA2 KAFIR ; zebo ; chi ; cak ; 1stPrime ; sang_candu ; 
  bog ; budi sulistiyo ; bag ; tawangalun ; [EMAIL PROTECTED] ; 
  DOMBA2 KAFIR ; H. M. ; mediacare ; mur ; Jemmy ; joe ; halley 
  witheart ; roni Wijaya ; wirajhana eka ; RASIDAH SALIMON ; ratna 
  sarumpaet ; RM Danardono HADINOTO ; Roslina Podico ; Gabriella 
  Rantau ; abadi teuku ; yahoo2teguh ; Ibrahim Y. Syihab ; Ulil Abshar-
  Abdalla ; utusan.allah ; [EMAIL PROTECTED] 
  > Sent: Friday, August 01, 2008 6:55 AM
  > Subject: [zamanku] Bingung dengan diskusi soal agama
  > 
  > 
  > Dear For all of you,
  > 
  > Semua yang anda anda diskusikan disini membuat kami bingung, 
  untuk mengikuti agama yang kalian anggap benar. Mungkin kali ini aku 
  lebih baik pilih untuk tidak beragama dulu, tapi masih percaya Tuhan 
  itu ada [allah, Auwloh, yahwe, yesus or yang paliiing hebbbat].
  > 
  > Apakah hal ini menurut pandangan kalian [muslim, kristiani, 
  budhis or hindu] sikap yang kami ambil ini salah..[berdosa?].
  > 
  > Kami tunggu pencerahan dari kalian smua..
  > 
  > tq,
  > 
  > Meylan
  > 
  > 
  > 
  > 
  > 
  > 
  > ----------------------------------------------------------
  ----------
  > 
  > 
  > No virus found in this incoming message.
  > Checked by AVG. 
  > Version: 7.5.524 / Virus Database: 270.5.8/1582 - Release Date: 
  7/30/2008 6:37 PM
  >



   


------------------------------------------------------------------------------


  No virus found in this incoming message.
  Checked by AVG. 
  Version: 7.5.524 / Virus Database: 270.5.12/1589 - Release Date: 8/3/2008 
1:00 PM

Kirim email ke