Siapa menanam, dialah yang akan memetik hasilnya, sepertinya karma bisa 
diartikan seperti peribahasa itu.

Tuhan sudah menciptakan kebaikan dan kejahatan, pilihan diserahkan sepenuhnya 
oleh Tuhan kepada manusia. Yang memilih pada kebaikan maka dia akan memetik 
dari kebaikan itu kebahagiaan dan kemuliaan dan yang memilih kejahatan, maka 
dia akan memetik dari kejahatannya itu kesengsaraan dan kehinaan.

Banjir, gempa dan segala bencana yang terjadi di muka bumi ini adalah akibat 
dari ulah manusia sendiri yang tidak bisa memelihara alam dan lingkungan. Itu 
adalah peringatan dari Tuhan untuk manusia yang mulai melalaikan tugas mulia 
yang diembankan Tuhan kepada mereka manusia.

Dalam Islampun diajarkan bahwa setiap manusia akan menanggung sendiri dosa-dosa 
yang mereka lakukan. BAhkan lebih rinci dikatakan bahwa setiap anggota badan 
kita akan mempertanggungjawabkan perbuatan mereka, tanpa kita bisa membantahnya.

Jadi, hukum karma itu pasti ada, hanya saja mungkin waktunya kita tidak bisa 
memastikannya. Karena hanya Tuhan yang punya wewenang untuk menentukannya.. 
Bisa jadi ketika seseorang melakakun suatu kejahatan, namun kemudian orang itu 
bertobat, maka hukum karma itu tidak akan dikenakan pada diri orang itu.

Karena itu, marilah berlomba-lomba dalam kebaikan.

salam
mp

--- On Mon, 8/4/08, Ketut <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
From: Ketut <[EMAIL PROTECTED]>
Subject: Re: [zamanku] Re: Bingung dengan diskusi soal agama
To: zamanku@yahoogroups.com
Date: Monday, August 4, 2008, 3:06 AM










    
            


He.. he.. memang sebaiknya mbah tawang jangan 
percaya hukum karma, mbah. Nanti menyimpang dari ajaran agamanya mbah tawang. 
Tapi percaya atau tidak terhadap hukum karma, kalau mbah menanam jagung ya 
mestinya yang numbuh jagung juga, bukan kedelai, apalagi keledai :). 

Memang banyak pertanyaan seputar kehidupan, mbah. 
Kenapa orang dilahirkan cacat, jelek, miskin, sementara yang lain dilahirkan 
ganteng, kaya pula ? Apakah itu product reject tuhan ? kedengarannya 
kontradiktif, karena agama2 percaya tuhan itu maha pencipta dan maha sempurna, 
pengasih dan penyayang. Kenapa di dunia yang dikuasai Tuhan yang maha penyayang 
ini begitu banyak penderitaan, kesedihan dan bencana ? Kemana tuhan saat itu 
?
Orang lain mungkin punya jawaban sendiri2, 
sebagaimana orang Hindu (dan Budha) punya jawaban dengan percaya bahwa 
penderitaan, kesedihan di satu sisi dan kegemilangan, kesuksesan dan keceriaan 
di sisi lain adalah karena karma individu itu sendiri. Sebagaimana mbah tawang 
mungkin percaya bahwa kejahatan dan kebaikan akan diganjar nanti setelah 
kehidupan berakhir, kami percaya bahwa kehidupan ini bukanlah sekali. Bhagavad 
gita jelas mengatakan bahwa badan ini hanyalah sebagaimana "pakaian" yang 
dikenakan atman (roh). Saat badan mati, atman tetap eksis dan berganti ke badan 
yang lain. Badan lamanya dibuang, dia memasuki badan baru, kehidupan 
baru, dengan membawa karma dari kehidupan lamanya. Jadi kalau mbah percaya 
kejahatan (dan kebaikan) akan diadili di suatu tempat oleh tuhan, kami percaya 
kami akan menanggung sendiri akibat dari kejahatan atau kebaikan yang kami 
lakukan itu di kemudian hari, dalam kehidupan ini atau dalam kehidupan nanti. 
Dengan begitu, saya meyakini bahwa kehidupan ini adalah anugerah, sebuah 
kesempatan dari tuhan, agar saya memperbaiki diri, melakukan evolusi mental dan 
spiritual, agar dapat kembali kepadaNYA. Kalau saya lahir seperti ini, dengan 
segala kondisi ini, itu adalah buah karma saya sendiri. Demikian juga orang 
lain. Tuhan tidak campur tangan, dia hanya membuat hukum dan menjaga agar 
hukumnya berjalan. Sebagaimana programmer, dia hanya membuat program yang 
memastikan semua data yang di input agar diproses sesuai instruksi 
penginputnya. 
Kalau penginput mengetik 2 * 2, maka yang keluar 4. Penginput tak dapat 
berharap keluar angka 5. Di telinga dan otak saya, fungsi tuhan yang terbatas 
seperti itu kedengaran lebih adil dan memuliakan tuhan, daripada 
menyeret-nyeret 
namanya dalam setiap hal. Banjir, tuhan. Wabah, tuhan. Bahkan ngebompun, bawa2 
nama tuhan.
Terlepas dari keyakinan itu benar atau tidak (toh 
kita tidak bisa membuktikan kebenaran atau kesalahannya, kan ?), bagi saya yang 
penting adalah spiritnya. Keyakinan akan hukum karma ini mengarahkan saya untuk 
bertanggungjawab pada perbuatan saya sendiri. Saya tak bicara nasib atau 
takdir. 
Kalau saya berbuat baik itu bukan karena saya takut akan tuhan. saya  
berbuat baik karena saya yakin bahwa kalau saya berbuat baik, maka 
kebaikanlah yang akan saya dapatkan. begitu juga sebaliknya. Melakukan sesuatu 
karena takut, apalagi dalam ranah spiritual, adalah kebiasaan dan level 
anak2. Orang dewasa harusnya melakukan sesuatu karena kesadarannya, dan 
dilakukan dalam keadaan merdeka, tanpa tekanan, tanpa paksaan, apalagi tekanan 
dan paksaan dari tuhan. Kalau semua yang terjadi di dunia ini karena suratan 
takdir--tuhan yang menggariskannya begitu--lalu kenapa individu yang sudah 
digariskan untuk melakukan itu semua pada akhirnya diadili ? Seseorang harus 
memiliki kemerdekaan atas tindakannya agar dia dapat diadili secara fair. 
 Begitu keyakinan saya, mbah. Ini tentu bukan dalam rangka "menyebarkan 
agama", tapi hanya menjawab pertanyaan mbah. Kepada mbah yang penganut 
muslim saleh, saya memang tidak berharap, bahkan menyarankan, mbah jangan 
percaya keyakinan saya diatas itu.  Tidak mempercayai, bukan berarti tidak 
bisa menghargai kan, mbah ??
 
Rgrds,
Ketut 
 

  ----- Original Message ----- 
  From: 
  tawangalun 
  To: [EMAIL PROTECTED] .com 
  Sent: Friday, August 01, 2008 8:42 
  PM
  Subject: [zamanku] Re: Bingung dengan 
  diskusi soal agama
  

  
  Tapi karma itu aku sangsi Pak ketut,dulu jaman geger Londo rumah 
ibuku 
  kena bom pesawat Londo,juga banyak sekali kurban westerling 
yang 40000 
  orang.Tapi saya lihat kok Londo jaya2 saja .kemana ini 
karmanya kok gak 
  bekerja.Idem konglomerat hitam yang bisa nggondol 
ber M M itu bisa kipas2 
  di L.N.semua ki Pak.

Shalom,
tawangalun.

- In [EMAIL PROTECTED] .com, 
  "Ketut" <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
>
> 
> Dear Meylan,
> 
  
> Meski saya tidak pernah berdiskusi agama di milis ini, tapi karena 
  
anda menyebut Hindu diantaranya, maka izinkan saya menjelaskan. Bagi 
  
saya, anda mau beragama atau tidak, itu adalah hak privat anda. 
Apakah 
  anda berdosa ? Menurut saya, beragama--atau memeluk salah satu 
  
agama--bukanlah prasyarat mendapat gelar "tak berdosa", dan saya 
  
percaya ini juga berlaku sebaliknya : tidak beragama lalu menjadi 
  
serta merta "berdosa". Bhagavad Gita mengatakan "dengan cara apapun 
  
kau datang, dengan cara itu pula kau kuterima". Anda datang sebagai 
  
pencuri, anda akan diperlakukan sebagai pencuri. Anda datang dengan 
  
cara munafik, anda diterima di ruang tamu munafik dan mendapat 
  
perlakuan sebagaimana yang layak bagi orang munafik. Anda berbudi 
  
luhur maka anda akan disambut sebagai orang yang berbudi luhur. 
Tuhan, 
  adalah sebuah hukum abadi dan maha adil. Anda tak bisa 
mengharapkan 
  memetik padi kalau anda hanya menanam jagung. Hindu 
menyebutnya hukum 
  karma. as so simple. Sebagai penganut agama Hindu, 
kalau saya menemukan 
  Tuhan yang pemarah, egois, pencemburu dan 
memaksa manusia menyembahnya, 
  maka menurut saya Tuhan itu telah 
menempatkan dirinya lebih rendah dari 
  manusia sehingga ia tak layak 
dipuja. Jika anda merasa tuhan demikian 
  bengis, saran saya, 
tinggalkan dia. Banyak manusia yang lebih berbudi 
  luhur dari tuhan 
seperti itu.
> Tapi bagi penganut agama yang baik 
  dan saleh, agama menyediakan 
ruang bagi kesejukan bathin. Cara2 yang 
  diekspolari oleh para maha 
resi Hindu ribuan tahun yang lalu--saat manusia 
  masih lebih dekat ke 
dunia spiritual dibanding material--tentang bagaimna 
  "menemukan dan 
marasakan" suasana spiritual, bagi yang menekuninya, akan 
  mendapatkan 
manfaatnya. Tapi itu hanya satu jalan. Bila anda dapat 
  menemukan 
jalan lain bagi tujuan itu, ya itupun sebuah prestasi, dan saya 
  yakin 
tuhan tidak akan menghukum anda karenanya. Ataupun kalau anda merasa 
  
tidak butuh dengan spiritualitas, juga tidak apa2. kebutuhan manusia 
  
memang beragam. Yang saya percaya akan menjadikan anda "berdosa" 
  
adalah : kalau anda mencuri, memfitnah, menyakiti, merampok dan 
  
sederet perbuatan jahat lainnya. Untuk perbuatan-perbuatan itu, entah 
  
anda beragama atau tidak, entah anda melaksanakannya atas nama agama 
  
atau atas nama hal lain, saya sangat percaya, anda akan "berdosa".
> 
  Jadi, jalani saja hari-hari anda, lakukan hal-hal baik, lakukan 
  
improvement agar anda menjadi semakin baik setiap hari, semoga anda 
  
akan bahagia. Energi kebaikan yang anda pancarkan akan memberi respon 
  
balik, dan anda layak menerima kebaikan pula. Percayalah, tuhan cukup 
  
bahagia melihat anda berbuat baik. Ia tak butuh puja puji. Kalau 
orang 
  Hindu gemar berdoa, itu hanyalah cara mereka melatih diri agar 
bisa dekat 
  dengan tuhannnya. Bukan karena tuhan yang gila puja puji.
> 
> 
  Rgrds,
> 
> 
> ----- Original Message ----- 
> From: 
  Mei LaN 
> To: religionspiritualit [EMAIL PROTECTED] com 
  ; fai ; fanny por ; 
fei ; zan ; DOMBA2 KAFIR ; zebo ; chi ; cak ; 1stPrime 
  ; sang_candu ; 
bog ; budi sulistiyo ; bag ; tawangalun ; [EMAIL PROTECTED] s.com ; 
  
DOMBA2 KAFIR ; H. M. ; mediacare ; mur ; Jemmy ; joe ; halley 
witheart 
  ; roni Wijaya ; wirajhana eka ; RASIDAH SALIMON ; ratna 
sarumpaet ; RM 
  Danardono HADINOTO ; Roslina Podico ; Gabriella 
Rantau ; abadi teuku ; 
  yahoo2teguh ; Ibrahim Y. Syihab ; Ulil Abshar-
Abdalla ; utusan.allah ; 
  [EMAIL PROTECTED] 
> Sent: Friday, August 01, 2008 6:55 AM
> Subject: 
  [zamanku] Bingung dengan diskusi soal agama
> 
> 
> Dear For 
  all of you,
> 
> Semua yang anda anda diskusikan disini membuat 
  kami bingung, 
untuk mengikuti agama yang kalian anggap benar. Mungkin kali 
  ini aku 
lebih baik pilih untuk tidak beragama dulu, tapi masih percaya 
  Tuhan 
itu ada [allah, Auwloh, yahwe, yesus or yang paliiing 
  hebbbat].
> 
> Apakah hal ini menurut pandangan kalian [muslim, 
  kristiani, 
budhis or hindu] sikap yang kami ambil ini 
  salah..[berdosa? ].
> 
> Kami tunggu pencerahan dari kalian 
  smua..
> 
> tq,
> 
> Meylan
> 
> 
> 
  
> 
> 
> 
> 
  ------------ --------- --------- --------- --------- --------- -
----------
> 
  
> 
> No virus found in this incoming message.
> Checked by 
  AVG. 
> Version: 7.5.524 / Virus Database: 270.5.8/1582 - Release Date: 
  
7/30/2008 6:37 PM
>


  
  

  No virus found in this incoming message.
Checked by AVG. 
  
Version: 7.5.524 / Virus Database: 270.5.12/1589 - Release Date: 8/3/2008 
  1:00 PM


      

    
    
        
         
        
        








        


        
        


      

Kirim email ke