Jadilah Pemenang, Karena Pecundang Tak Punya Harga Diri

                  ******************
Aceh berjuang lebih lama dari Timor Leste.
Aceh berjuang dengan dukungan Internasional lebih banyak dari Timor Leste.
Aceh berjuang dengan dukungan dana yang lebih banyak dari Timor Leste.
Aceh berjuang dengan korban yang lebih banyak dari Timor Leste.
Aceh berjuang dengan dukungan didalam negeri lebih banyak dari Timor
Leste.

Segalanya ternyata Aceh lebih dari segalanya, cuma hasilnya, nihil dan
Timor Leste berhasil merdeka.

Kalo kita bandingkan Ramos Horta yang mengemis keliling dunia tidak
punya tempat tinggal cuma numpang disatu tempat ketempat lainnya,
sebaliknya Sultan Aceh Hasan Tiro berhasil menjadi warganegara
terhormat dan dihormati di Swedia, harta kekayaannya tidak akan habis
untuk membeli Indonesia, dan ditanamkan dalam bentuk berbagai saham2
dibenua Eropah, Amerika maupun Australia.

Kalo Ramos Horta berhasil memerdekakan Timor Leste, sebaliknya, Hasan
Tiro dipaksa bertekuk lutut karena dikhianati semua pengikutnya sendiri.

Jadi kalo mau menganalisa sumber kekalahan, maka sumbernya itu adalah
latar belakang budaya, asal usul orang Aceh, maupun agamanya.

Latar belakang budayanya campur aduk karena asal usul orang Aceh
hanyalah kebetulan lahir dari persinggahan berbagai bangsa pelaut2
yang berlabuh menumpahkan syahwat yang lama tertahan selama pelayaran.
 Akibatnya mereka dilahirkan sebagai sianak haram yang tak punya
bentuk budaya, pendidikan dan identitas bangsa maupun suku bangsa. 
Akibat kesemuanya inilah telah menciptakan kelompok orang2 Aceh yang
biasa saling mengkhianati sesamanya, gampang menjual cita2 kelompoknya.


> abadi teuku <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
> itu kata lo,kata gua beda lagi.....ham ama gua apa 
> pungsinya...ngak ada,gua ngak pernah melanggar ham,
> 

Saya enggak pernah menuduh, mencaci ataupun mengkritik pribadi, semua
tulisan dan kritik2 saya cuma ditujukan kepada kelompok besar.

Secara pribadi tentu saja masih cukup banyak orang Aceh yang baik,
berkualitas, dan mengabdi kepada bangsanya.

Tetapi yang menjadi topik dan target tulisan saya bukan mereka, justru
kebiasaan dalam masyarakatnya yang suka saling mengkhianati itulah
yang menyebabkan Aceh gagal tidak seberhasil Timor Leste dalam merebut
kemerdekaannya.

Mulanya saya mengira perjanjian Helsinski dan lain2nya telah berhasil
memenangkan perjuangan GAM, ternyata saya salah, justru semuanya itu
merupakan pengkhianat2 Aceh kepada tujuan dan cita2 bangsanya sendiri.

Coba deh bayangin, berapa milyard dollar dikeluarkan oleh RI untuk
menumpas GAM, dan berapa banyak korban yang jatuh dari perang yang
dilakukan GAM, dan bayangin berapa banyak bantuan negara2 Barat kepada
GAM, tapi hasilnya apa ???  Cuma otonomi Syariah Islam yang justru
membelenggu perjuangan Aceh yang malah menambah penderitaan orang2
Aceh itu sendiri.  Sebabnya, cuma budaya saling mengkhianati.

Silahkan anda bandingkan dengan Timor Leste, sudah 20 tahun mereka
dijajah, dibrainwash, disiksa, tapi karena para pemimpinnya setia
kepada perjuangan mereka, hasilnya mereka berhasil merdeka dan dunia
luar cuma memberi dukungan suara saja.

Aceh justru lebih lama berjuang, lebih lama berperang, lebih banyak
sumber dana untuk menang, lebih banyak dukungan dunia luar dan
dukungan dalam negeri, dan hasilnya, para panglimanya yang berperang
mati sial, mati sia2, semuanya karena dikhianati oleh orang2 Aceh
sendiri yang menjual pemimpinnya, menjual saudaranya, dan menjual anak
bininya.

INGAT, PECUNDANG TIDAK PUNYA HARGA DIRI.  JADILAH PEMENANG BUKAN
PECUNDANG.

Ny. Muslim binti Muskitawati.




Kirim email ke