Ketika Islam Hancur
Dari Faithfreedompedia
Langsung ke: navigasi, cari
http://www.city-journal.org/html/14_2_when_islam.html
When Islam Breaks Down/Saat Islam Hancur
Theodore Dalrymple
Muslim paling suka mengritik aspek2 budaya Barat. Mereka hanya memandang Barat 
dari satu segi saja : sbg sumber budaya sex bebas (Barat versi Hollywood). 
Namun Muslim menolak utk mengakui bahwa ada juga aspek lain dari budaya Barat 
ini, bahwa kebebasan juga mengantar pada kebebasan utk bertanya, berpikir dan 
berkreasi, yg pada akhirnya hanya menghasilkan kekuatan.
Pemikiran picik ini pada dasarnya mengakibatkan sikap reaksioner negatif Muslim 
di jaman sekarang ini. Muslim tulen takut bahwa kalau ia mengijinkan kebebasan 
satu incipun, pada akhirnya Muslim akan kehilangan kontrol.
Ketakutan ala Muslim ini sangat nampak di masyarakat2 Muslim yg semakin 
membengkak jumlahnya di kota saya, Birmingham, England. Hanya sebagian kecil 
Muslim, dari golongan menengah atas yg terdidik dan spt orang2 Barat layaknya, 
menganggap agama sbg masalah pribadi. Tidak perlu digembar-gemborkan. Tapi 
Muslim2 tulen itu emoh integrasi dan lebih suka utk bergerombol di satu daerah, 
melanjutkan tradisi mereka yg dibawa dari pedalaman Punjab.
Mereka tidak pernah mengantisipasi ataupun menerima transisi budaya yg tidak 
bisa dielakkan. Mereka hanya interes utk menjaga keutuhan agama, tradisi dan 
budaya mereka, walau generasi tua mereka kini sadar bahwa cara berbusana ala 
Muslim tidak menjamin penerimaan Islam dlm hati. Sex bebas, narkoba, 
kemurtadan, juga rawan dlm masyarakat mereka. Inilah membuat mereka semakin 
frustrasi dan semakin fanatik.
Belum lama ini saya berdiri diluar halaman rumah sakit tempat saya kerja, 
menunggu taxi bersama2 dgn dua Muslimah yg mengenakan abaya hitam penuh, hanya 
mata mereka yg kelihatan. Yg satu mengatakan pada temannya, “Minta rokok dong, 
Say ; gua gerah nih !” Nah, cabutlah tekanan budaya dari anak2 muda ini, dan 
mereka akan membuang kostum mereka dalam sekejap.
Siapapun yg hidup di kota spt kota saya ini pasti akan heran, dari mana 
datangnya frustrasi Muslim ini. Apakah ini memang intrinsik dlm Islam yg 
membuat Islam tidak mampu mengadaptasi kpd dunia modern ? Apakah memang ada 
elemen esensial yg menjebak Darul-Islam kpd keterbelakangan abadi yg 
mengakibatkan Muslim terus menerus merasa terhina ? Muslim tahu bahwa seluruh 
dunia Arab MINUS MINYAKNYA sama sekali tidak berpengaruh pada dunia secara 
ekonomis, dibandingkan dgn perusahaan telpon Nokia dari Finlandia.
Problema Islam adalah kegagalannya memisahkan urusan agama dari urusan negara. 
Berbeda dgn agama Kristen, yg menghabiskan abad2 pertamanya mengembangkan 
institusi2 yg pada akhirnya mengakui pemisahan antara gereja dan negara. Islam 
dari permulaannya memang merupakan negara dan agama, satu dan tidak terpisah, 
dgn tidak ada pembedaan antara otoritas negara dan agama.
Kekuasaan Muhamad mencakup spiritual dan kenegaraan, dan inilah model yg 
diwariskan pada pengikutnya. Karena menurut Islam, ia nabi terakhir, yg 
kesempurnaannya tidak boleh ditantang ataupun dipertanyakan karena ini hanya 
akan membawa kelemahan bagi agamanya.
Namun modelnya ini mengakibatkan dua problema.
Yang pertama, adalah politis. Muhamad tidak menginstitusikan cara2 yg dpt 
digunakan pengikutnya utk memilih penerus. Akibatnya terjadilah perpecahan 
antara Sunni-yg mengikuti bapak mertuanya (Abu Bakr) dan Shiah (yg mengikuti 
menantunya, Ali).
Belum lagi legitimasi pemimpin negara yg selalu bisa ditantang pemimpin 
spiritual, yg selalu mengikuti contoh Muhamad, yg selalu menganggap diri lebih 
tinggi secara spiritual ataupun otoritas; mereka yg lebih fanatik dalam Islam 
jelas jauh lebih kuat dlm soal agama ketimbang mereka yg moderat. Karena 
tantangan kaum beragama ini, TIRANIlah menjadi jaminan stabilitas dan 
pembunuhan adalah satu2nya cara utk reformasi. Oleh karena itu kita tinggal 
nantikan The Saudi Time Bomb : cepat atau lambat, kaum agama akan mengadakan 
revolusi religius utk mendepak dinasti Saud yg dianggap korup dan hedonis.
Problema kedua adalah segi intelektual. Di Barat, Reformasi membawa kebebasan 
bagi individu utk dapat berpikir sendiri yg pada akhirnya mengakibatkan 
kemajuan pesat yg terbendung. Islam, tanpa adanya ruang terpisah dan sekuler 
dimana pemikiran bebas dapat mengalir dgn tenang tanpa dirantai agama, 
ketinggalan secara menyedihkan: selama 1400 tahun, sampai sekarang.
Budaya dimana semua gerak gerik dan adat harus mendapat pengesahan agama, akan 
menganggap setiap perubahan sbg suatu ancaman atas seluruh sistim kepercayaan.
Cara hidup mereka yg dibayang2i oleh ketakutan dihajar Allah-- baik secara 
intelektual dan politik—akan runtuh kalau diutak-atik. Oleh karean itu, 
kepatuhan adalah pertahanan terhdp segala bentuk keraguan dan tidak 
memungkinkan ko-eksistensi secara sederajad dgn mereka 2yg tidak sama 
kepercayaannya.
Bukan kebetulan bahwa hukuman bagi murtad dlm Islam adalah MATI. Ini cara Islam 
menghindari pertanyaan mantan pengikutnya akan ke-ilahian sang nabi.
Dlm pengalaman saya, Muslim2 tulen menuntut kebebasan utk mengritik doktrin dan 
adat orang lain, sering dgn semangat meluap2. Saya ingat pengalaman saya 
tinggal dgn Muslim Pakistan di Afrika Timur, orang sangat soleh dan baik, yg 
namun demikian menghabiskan beberapa malam mengecam absurditas Kristen : 
Trinitaslah, Resureksi yg tidak mungkinlah dsb dsb. Walau saya sendiri bukan 
Kristen, saya membalasnya dgn menyebut absurditas dlm Islam spt adat berhala 
hijrah ke Mekah ataupun kepercayaan Muhamad pada jin dsb dsb. Tidak heran kalau 
persahabatan kami tidak berlangsung lama.
Status Quran yg tidak boleh dipertanyakan menghasilkan pendidikan, pemikiran 
dan masyarakat Islam yg mandeg dan lemah. Sebelum Muslim didalam negerinya 
sendiri, bebas mengecam Quran sbg buku amburadul yg inferior yg penuh 
kontradiksi —atau spt apa yg dikatakan Carlyle, bahwa Qu’ran adalah “kumpulan 
kata2 yg membingungkan dan melelahkan dan tidak ada habis2nya....” Sebelum 
Muslim dibebaskan utk menyusun kembali dan memodernisasi Qu’ran dng 
interpretasi kreatif, mereka jangan heran kalau mereka hanya bisa puas dgn 
status terbelakang mereka.

Sbg ilustrasi, saya berikan contoh buku karangan Sir Arthur Conan Doyle, yg 
pertama terbit thn 1898, yg sebenarnya fiksi tapi sangat mirip dgn fakta. Buku 
ini bercerita ttg seorang pemimpin karismatik dan fundamentalis, Muhamad 
al-Mahdi, yg mencoba mendirikan teokrasi di Sudan dgn memberontak melawan 
kekuasaan Inggris-Mesir. Buku yg disebut dgn 'The Tragedy of the Korosko' ini 
adalah cerita ttg sekelompok turis di Mesir yg disandera oleh kelompok Mahdi 
dan lalu dibebaskan oleh Korps Onta Mesir. Seorang mullah Mahdi yg menyekap 
para turis mencoba memaksakan Islam kpd para turis Eropa & AS itu, menghina 
peradaban maju sbg tidak penting dan tidak berguna.
“ 'Ttg ajaran [sains] yg kalian sebutkan . . . ’ kata sang Mullah . . . ‘Saya 
sendiri belajar di Universitas Al Azhar di Kairo, dan saya tahu apa yg anda 
maksudkan. Tapi ajaran orang2 beriman tidak spt ajaran para kafir, dan tidak 
pantas utk terlalu memata-matai cara2 Allah. Ada bintang yg memiliki buntut . . 
. dan ada yg tidak; apa gunanya utk mengetahui mana yg punya dan mana yg 
tidak ? Karena Tuhan juga yg menciptakan mereka, dan mereka semua selamat di 
tanganNya. Oleh karena itu jangan anda besar kepala karena ajaran dari Barat, 
dan mengertilah bahwa hanya ada SATU kebijakan, yaitu ketakwaan pada keinginan 
Allah yg oleh nabi terpilihnya sudah dipaparkan utk kami dalam Buku ini.' "

Dan inilah problema dgn Muslim ! Mereka terbentur dan mandeg pada Quran, sambil 
juga menginginkan kemajuan. Muslim ingin penyempurnaan ajaran abad ke 7 
mendominasi abad ke 21 ! Muslim ingin kemajuan yg dibawa oleh kemerdekaan 
berpikir, tapi mereka tidak suka dgn kemerdekaan berpikir.

Oleh karena itulah Muslim dihadapkan pada dilemma : tinggalkan agama mereka 
atau selama2nya ketinggalan dgn kemajuan teknis manusia lainnya. Dan orang yg 
menghadapi dilemma yg pelik, selalu akan MARAH : mereka akan histeris. Tetapi 
kemarahan ini, tuntutan mereka agar lebih dihormati dari non-Muslim bukan 
merupakan tanda kekuatan. Ini tanda KELEMAHAN —atau persisnya, KERAPUHAN — 
Islam dlm dunia modern, yg frustrasinya suatu saat akan meluap.

Kontrol yg dimiliki Islam atas pengikutnya dlm era globalisasi ini mengingatkan 
saya pada cengkraman Ceausescu terhdp rakyat Romania: sebuah cengkraman 
absolut, sampai suatu hari Ceausescu tampil di balkon istananya dan diteriaki 
oleh massa yg sudah imun pada ketakutan. Nah, mulai detik itu tamatlah riwayat 
sang tiran.
Salah satu tanda semakin melemahnya cengkraman Islam terhdp pengikutnya di 
Inggris saya lihat sendiri dari pemuda2 Muslim yg semakin banyak membanjiri 
penjara2 di Inggris. Ternyata Muslim2 ini sama sekali tidak memiliki interes 
kpd Islam sama sekali. Mereka tidak solat, tidak menuntut makanan halal, tidak 
baca Quran, tidak mau menemui ustadz dsb. ‘Penyebaran’ Islam dlm penjara hanya 
diarahkan kpd orang2 Jamaica, kelompok lain yg juga mengalami ‘inferiority 
complex.’ Mereka masuk Islam hanya sbg protes atau balas dendam terhdp 
masyarakat yg menghukum mereka. Tidak kurang, tidak lebih�!
Tetapi Islam tidak sedikitpun memperbaiki tingkah laku pemuda2 Muslim di 
penjara. Sebagian besar mengkonsumsi & berdagang heroin, sebuah kebiasaan yg 
sama sekali tidak dikenal oleh rekan2 mereka di penjara yg Sikh ataupun Hindu.

Yg ditunjukkan oleh pemuda2 ini adalah kekakuan tradisi orang tua mereka yg 
dari luar nampak soleh. Tapi kalau topeng itu diangkat, isinya kosong 
melompong. Muslim2 muda ini tahu benar fakta ini.
Islam dlm dunia modern sangat lemah dan rapuh. Islam tidak kuat : itulah alasan 
Muslim sering berteriak dan mengaum. Para pengungsi Iran yg membanjiri Barat 
sudah lari dari Islam. Ini saya lihat dari kota ke kota. Islam akan sangat 
bahaya utk waktu yg pendek, tapi pada akhirnya akan mati. Kelompok fanatic dan 
para suicide bombers bukan tanda bangunnya Islam, tetapi tanda gemercing 
kematiannya.
________________________________

Theodore Dalrymple adalah psikiater dan dokter penjara dgn spesialisasi 
pencandu narkoba. Ia juga kolumnis the London Spectator, the Daily Telegraph, 
dan editor pembantu the Manhattan Institute’s City Journal. Karena 
pengalamannya di penjara (yg jumlah penghuni Muslimnya semakin meningkat), ia 
sering menulis ttg remaja Muslim di Inggris. Ia tinggal di Birmingham, England.

Diperoleh dari
"http://faithfreedom.frihost.net/wiki/Ketika_Islam_Hancur";

Kirim email ke