Mungkinkah Kekuasaan Syariah Itu Diperintah Oleh Kafir ???
                                       *              *
Marilah, saya mengajak semua orang Aceh, juga ulama2, juga umat Islam,
untuk kita sama2 ber-bincang2 dengan penuh kejujuran, keterbukaan yang
benar2 berdasarkan realitas yang ada untuk kita cocokan seperti apa
seharusnya Hukum Syariah itu diterapkan.

Perbedaan2 pandangan maupun akidah sesama umat Islam jelas tidak bisa
kita singkirkan, namun saya sama sekali tidak ingin mempermasalahkan
per-bedaan2 ini untuk dijadikan debat kusir yang tidak ada ujung akhirnya.

Mari, kita lihat Syariah di Arab Saudia, maka begitulah bentuk hukum
dari negara Syariah, mau dikritik jelek atau dikritik bagus terserah
kepada pandangan anda2 saja.  Namun ada satu hal disini yang sangat
menarik untuk anda semuanya memperhatikannya.  Yaitu, Raja Arab Saudia
adalah Khilafah, adalah Caliph yang berkuasa penuh.  Apapun yang mau
anda kritik, tetap sang Caliph itu yang benar karena dia memang berkuasa.

Buktinya, Syariah itu melarang bahkan anti pelacuran yang artinya kalo
ada yang tertangkap terlibat pelacuran maka pelaku2nya akan ditangkap
dan dihukum mati dan ini betul2 dibuktikannya tidak bisa main2. 
Secara moral Islam, mungkin banyak umat yang setuju dan memuji bahwa
cara ini sangat baik untuk mendidik moral umat.  Tapi ada juga yang
mengkritiknya, bahwa cara2 ini membuat turis takut dan devisa
terhambat masuk sehingga merugikan pariwisata.  Kedua pendapat ini
meskipun saling bertentangan, tetap mempunyai kebenarannya masing2,
mempunyai kebaikannya masing2.  Setelah sang Caliph ini mempelajarinya
dalam jangka waktu yang lama, maka dibuatlah keputusan oleh sang maha
Caliph yang berkuasa ini dimana kedua kota suci yaitu Mekah dan
Madinah diatur sedemikian rupa sehingga betul2 sesuai dengan ajaran2
Quran yang paling fundamentalist dan orthodox.

Dilain pihak, sang Caliph menjadikan kota Ryadh berkembang secara
seculer dan betul2 menjadi kota turis dimana pelacuran atau minuman
keras atau segala apapun yang dilarang dalam Syariah bisa anda temukan
disini.

Naaah......  Apa yang bisa anda simpulkan dengan kenyataan ini????
Gampang sekali, bahwa kebebasan seculer yang terjadi disini berada
dibawah otonomi perlindungan Syariah.  Beginilah sesungguhnya bentuk
hukum syariah yang di-cita2kan dalam Quran sehingga ada kalanya umat
Islam menggunakannya untuk sebagai propaganda dakwah bahwa Syariah ini
juga melindungi umat agama lain, melindungi berhala, dsb, dsb, padahal
kesemuanya ini bukanlah membolehkan melainkan atas pertimbangan untung
rugi penguasa syariah itu sendiri dalam mengambil keputusan.  Tapi
apapun pendapat anda, begitulah Syariah yang di-cita2kan dalam Islam

Sebaliknya, apa yang terjadi di Aceh, SAMA SEKALI BERTOLAK BELAKANG
DARI KEKUASAAN SYARIAH DI ARAB SAUDIA KARENA OTONOMI SYARIAH INI
JUSTRU DIBAWAH DAN DICIPTAKAN OLEH PENGUASA SECULER, padahal di Saudia
Arabia otonomi seculer itu justru dibawah dan diciptakan oleh penguasa
Syariah.

Dengan kata lain untuk to the point, OTONOMI SYARIAH DI ACEH BUKANLAH
SYARIAH, malah bisa disamakan dengan kamp pengungsi, yang disini lebih
cocok kita namakan kamp syariah.

Kedudukan kamp syariah, bisa disamakan dengan tawanan2 di Guantanamo
yang diizinkan atau diperbolehkan beribadah Islam maupun bershalat
secara Islam yang fasilitasnya disediakan oleh orang2 kafir yang jadi
penguasa penjara itu.

Tentu kita semua umat Islam tidak akan memahami penjara GUANTANAMO
SEBAGAI PENJARA SYARIAH, begitulah sama halnya, TIDAK MUNGKIN KITA
BISA MEMAHAMI BAHWA OTONOMI SYARIAH SEBAGAI WILAYAH NEGARA YANG
BERSYARIAH.

Ny. Muslim binti Muskitawati.







Kirim email ke